Suatu Hari di Kota Singa

si ghamdan in singapore

(Sang penulis dengan latar belakang pusat Kota Singapura)

*mulai hari ini, ada cerita bersambung

November 2012. Hari Minggu, di pusat kota Jakarta, jalanan seperti biasa cukup ramai.

Motor dan mobil pribadi saling berpacu di atas aspal ibukota, begitu juga dengan berbagai angkutan umum seperti kopaja dan busway.

Langit pun mulai gelap, padahal masih siang.

Cuaca kembali kurang bersahabat.

Maklumlah, bulan November memang sedang musim penghujan.

Setetes demi setetes air hujan mulai turun hingga deras.

Namun, hal itu tidak menghalangi sang penulis bersama keluarga untuk menghadiri sebuah pameran wisata tahunan yang diselerenggarakan oleh maskapai plat merah di Jakarta Convention Center (JCC). Tujuan kami ke JCC tidak lain dan tidak bukan adalah mencari tiket murah ke sebuah destinasi. Apalagi setelah mendengar bahwa diskon yang ditawarkan cukup gila.

Satu hal yang menjadi pertanyaan utama sebelum membeli tiket: Akan ke manakah sang penulis berkelana kali ini?

Pulang kampung ke Semarang dan menyantap hidangan khasnya? Bukan.

Jalan-jalan ke Yogyakarta sambil menelusuri Jalan Malioboro? Bukan.

Menikmati keindahan Pulau Dewata, Bali? Juga bukan.

Sebenarnya ada satu destinasi yang sudah kami semua impikan dan rencanakan.

Sebuah kota sekaligus negara yang menjadi negara tetangga kita. Kalau di peta dunia, negara ini nyaris tidak terlihat.

Ya!

Singapura.

Merlion!

Alhamdulillah….

Dalam kesempatan kali ini, sang penulis akan berkunjung ke Singapura yang sesungguhnya.

Lho kok ‘sesungguhnya’, Ndan?

Sebenarnya, sang penulis sudah 2 kali berkunjung ke kota singa, namun hanya mampir di Bandara Changi saja alias transit. Yang pertama transit setelah sang penulis melakukan perjalanan dari Jeddah dan yang kedua transit saat akan melaksanakan sebuah misi di Hong Kong.

Setelah memasuki ruangan di JCC, saatnya mencari booth yang dituju.

Tanggal pun dipilih, tentunya pada saat hari kerja.

Awalnya kami akan memilih tanggal keberangkatan di bulan Februari. Namun hal itu urung dilakukan dikarenakan kami berpikir jika bulan Februari dimungkinkan masih dalam suasana liburan, apalagi mendekati Imlek. Setelah menimbang-nimbang, pilihan tanggal keberangkatan jatuh pada bulan April, lebih tepatnya tanggal 8 – 10 April. Benar-benar weekday. Sang penulis pun kebetulan di tanggal itu juga kosong dari jadwal kuliah.

Eh engga kosong juga sih, hari Senin tanggal 8 April itu masih kuliah, tapi sampai siang.

Wow! 5 months again? It’s okay~

Kunjungan sang penulis ke kota singa tentunya juga digunakan sang penulis untuk mengusir kegalauan yang sudah melanda sang penulis beberapa bulan menjelang pelaksanaan program Goes to Singapore sekaligus untuk move on.

Engga usah ditulis ya galaunya kenapa, soalnya galau masalah percintaan #ups #eaa

Pembayaran pun mulai dilakukan dan tiket mulai dicetak. Alangkah kagetnya saat sang penulis melihat harga yang tertera pada tiket.

Wah, nek ora diskon, rak mungkin numpak maskapai iki ning singgapur pulang pergi (Wah, kalau tidak diskon, tidak mungkin naik pulang-pergi menggunakan maskapai ini ke Singapura)…

Setelah membeli tiket, persiapan untuk ke kota singa dimulai, mulai mencari hotel hingga mencari info mengenai tiket masuk ke dalam berbagai tempat wisata. Bahkan, sang penulis sudah membeli buku panduan berwisata ke kota singa sebelum Idul Fitri.

——————

Kalo mendengar kata Singapura, entah mengapa pikiran langsung tertuju ke sebuah patung berbentuk singa laut, Merlion.

Negara yang merdeka pada tahun 1963 dari kolonial Inggris ini dulunya dikenal sebagai kota yang bernama Temasek, yang juga merupakan wilayah bagian dari kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan.

Destinasi ini (Singapura, red.) sudah sering kita dengar dan bahkan sudah sering dikunjungi masyarakat kita, baik untuk sekedar jalan-jalan hingga urusan penting seperti menuntut ilmu atau berobat. Tidak mengherankan jika arus penumpang yang keluar-masuk dari Bandara Changi paling banyak berasal dari Jakarta.

Singapura benar-benar mainstream bagi masyarakat kita, seperti halnya Pulau Dewata.

Negara yang luasnya tidak lebih luas dari Provinsi Jawa Tengah ini kalo boleh sang penulis akui, peradaban dan budayanya selangkah lebih maju di berbagai bidang seperti bidang kebersihan dan transportasi umum.

Ada beberapa fakta yang harus kita ketahui mengenai Singapura.

Bahasa yang digunakan di Singapura adalah bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil.  Meskipun begitu, logat bahasa inggris yang digunakan umumnya Singlish (Singapore English), pencampuran dari 4 bahasa resmi tersebut.

Selama program, awak akan cakap pakai melayu kalo orang yang kita ajak bicara tak faham inggis tapi mengerti malay. *ndak yo bener boso malaysiane ngene? -_-

Colokannya kaki tiga, seperti di Hong Kong dan negara penjajahnya, Inggris.

Siap-siap bawa charger universal dan tentu saja terminal!

Mencari makanan halal di Singapura terbilang cukup mudah, tinggal kita saja yang harus teliti untuk mencari makanan atau restoran yang sudah bersertifikasi halal dan melihat logo halal. Kalau sang penulis menyarankan, supaya mudah, makanlah di fast food semacam McD atau Popeyes.

Gapapa ya, makan junk food untuk sementara waktu ._.v

Mata uangnya? Tentu saja Dollar Singapura (SGD). Kurs 1 SGD berkisar 7800 IDR (April 2013).

Engga mau repot-repot nukerin SGD di money changer? Langsung ambil aja dari ATM setibanya di Changi. Mengambil uang dari ATM langsung mengikuti kurs, tetapi siap-siap kena biaya administrasi ya.

Yang paling penting dari semuanya, walau kita sebagai tamu di negeri orang, taatilah seluruh peraturan dan adat istiadat yang ada.

Singapura terkenal dengan negara denda. Makan dan minum di MRT saja bisa didenda.

——————

Saatnya kembali ke cerita.

Senin, 8 April 2013

Setelah menanti selama kurang lebih 5 bulan lamanya, saat yang dinantikan akhirnya tiba.

Waktu di jam menunjukkan pukul 5.00. Ibadah Shalat Subuh baru saja sang penulis laksanakan. Perbekalan yang akan dibawa menuju kota singa sudah siap.

Saatnya membuka jendela dan menghirup udara pagi masih segar.

Di telepon genggam sang penulis, sudah mulai ada mention twitter yang berisi ucapan selamat jalan untuk sang penulis dari salah satu rekan sang penulis semasa SMA yang kini melanjutkan studi di Yogyakarta. Jauh-jauh hari, sang penulis berpamitan dengan rekan-rekannya jika pada hari ini (tanggal 8) sang penulis akan berkelana ke suatu tempat dan menanyakan apakah ingin dibawakan buah tangan. Bahkan, sang penulis berkata kepada rekan-rekannya bahwa akan pergi ke luar kota. Iya. Luar kota.

Habisnya bingung sih, itu kota sekaligus negara, ya sudah ngomongnya pergi ke luar kota… kelakar sang penulis

Meskipun pada siang harinya sang penulis sudah harus siap di bandara, sang penulis harus tetap menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan. Kegiatan perkuliahan yang sang penulis ikuti di hari Senin dimulai pukul 7.20 dan berakhir pukul 13.00. Namun, sang penulis akan pamit dengan rekan-rekannya pada pukul 11.00.

Seperti biasa, sang penulis menggunakan angkutan umum untuk menuju ke kampus.

Mata kuliah praktikum pengembangan sistem informasi dan english in focus sang penulis ikuti pada pagi hari itu.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Saatnya sang penulis berpamitan dengan rekan-rekannya untuk pergi ke ‘luar kota’. Sang penulis yang sudah dijemput oleh orang tua dan adik sang penulis kemudian langsung bergegas untuk mengejar penerbangan 832 yang akan boarding pada pukul 14.25 WIB.

Di dalam perjalanan, sang penulis berbincang bersama orang tua sang penulis mengenai hal yang harus dilakukan setibanya di Changi.

“1 jam 20 menit itu kayaknya lama ya,”gumam sang penulis.

Sang bapak pun kemudian membalas:“Lebih lama ke Sudirman daripada ke Singapura itu sendiri”.

Ah iya, benar juga kalau dipikir-pikir. Kalau menuju ke Sudirman pada saat peak hour bisa membutuhkan waktu perjalanan lebih dari satu jam.

Bahkan, sang penulis membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan angkutan umum untuk mengunjungi rekan sang penulis yang kini menuntut ilmu di sebuah sekolah tinggi di bilangan Otista.

Kalau dari Semarang, mungkin bisa sampai Bawen atau Magelang kali ya.

soekarno_hatta_airport

(Suasana di depan terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng)

Pukul 12.10, kami pun akhirnya tiba di terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Sembari sang bapak menaruh mobil di area inap mobil, sang penulis mulai menurunkan perbekalan dan meminta bantuan seorang porter untuk membantu membawakan barang bawaan.

Setelah sang bapak selesai menginapkan mobil, saatnya memasuki ruangan terminal. Sesampainya di kounter check in, kami hanya menaruh bagasi dan membayar airport tax karena sehari sebelumnya sudah melakukan city check in dan sekaligus mendapat boarding pass.

Saat akan drop baggage, sang penulis melihat boarding pass-nya sekali lagi. Kemudian, sang penulis teringat sesuatu.

Ouch. Kursinya di barisan nomor 9 ABC. Ini kursi tembok derita alias engga ada jendelanya.

Wuaduh.

Berharap pesawatnya sepi, bisa pindah kursi.

Setelah beres dengan segala urusan tetek bengek untuk memasukkan bagasi, kini saatnya menuju ke pemeriksaan imigrasi.

Awalnya, sang penulis dan orang tua sang penulis beserta adik ingin mencicipi pemeriksaan imigrasi dengan fasilitas autogate. Fasilitas ini memungkinkan pemegang paspor biasa dan elektronik untuk diperiksa paspornya secara otomatis, meminimalisir interaksi petugas bandara dan tentu saja menghemat waktu. Untuk pemegang paspor biasa diwajibkan melakukan registrasi terlebih dahulu dengan men-scan paspor dan sidik jari di tempat yang sudah ditentukan. Fasilitas pemeriksaan imigrasi autogate ini sementara hanya terdapat di Bandara Soekarno Hatta

Info mengenai autogate bisa dibaca selengkapnya di sini

Berhubung petugas registrasinya sedang tidak ada di tempat, ya sudah mengiklaskan diri diperiksa secara konvensional alias dicap.

Antrian imigrasi awalnya tidak begitu ramai namun mendadak penuh karena ada rombongan dari sebuah sekolah yang jumlahnya minta ampun.

Lolos pemeriksaan imigrasi, saatnya sang penulis dan keluarga melangkah menuju ke gate. Entah mengapa, suasana di dalam terminal 2E  tampak kosong melompong. Masuk ke dalam gate saja sepinya bukan main.

Sembari menunggu panggilan boarding, sang penulis berbincang dengan beberapa rekannya melalui fasilitas BlackBerry Messenger serta mencoba untuk memfoto dan difoto iseng di dalam gate.

the thousand miles of journeys begins with a single step

(Hasil jepretan foto di dalam gate setelah diedit)

Ting tong.

Sekitar pukul 15.00, panggilan boarding untuk penerbangan 832 mulai berkumandang. Agak telat dari jadwal yang telah ditentukan.

Seperti biasa, para petugas mengarahkan agar penumpang yang membawa orang usia lanjut yang berkursi roda dan anak kecil dipersilahkan masuk terlebih dahulu, kemudian disusul penumpang kelas bisnis dan ekonomi. Memasuki kabin, sang penulis bersama keluarga disambut dengan salam khas oleh para pramugari. Selangkah demi selangkah, kami mencari barisan kursi sesuai yang tertera di boarding pas.

Waah ini dia, barisan kursi nomor 9! Tembok derita! Yo wis, pakai sabuk pengamannya dulu.

Tak lama setelah sang penulis duduk di kursinya, pintu pun kemudian ditutup.

Hue? Cuma segini penumpangnya? Tidak ada separuhnya. Serasa pesawat pribadi…

Komposisi penumpang yang ada di dalam penerbangan 832 baik yang ada di kelas ekonomi maupun bisnis pada umumnya adalah WNI dan ekspatriat yang akan berbisnis dan yang akan melakukan pengobatan.

Yang mau liburan kayaknya hanya sang penulis dan keluarga. Antimainstream!

Pesawat mulai ditarik mundur, mesin mulai dinyalakan, prosedur keselamatan mulai ditayangkan di layar televisi yang ada di belakang kursi. Perlahan, pesawat mulai bergerak ke landasan pacu.

Indonesia 832, clear for take off…

IMG_4322

(Sang penulis saat berada di dalam penerbangan 832)

IMG_4308

(Pemandangan langit dalam perjalanan menuju Singapura)

Sepanjang perjalanan, sang penulis mencoba untuk mengutak-atik fasilitas AVOD (Audio Video On Demand) yang disediakan dan menikmati keindahan pemandangan langit yang cukup cerah dengan berpindah-pindah kursi karena suasana penerbangan 832 yang cukup sepi.

Kalau nonton di layar tivi-nya, pada akhirnya tetep nonton kartun Tom and Jerry..

Makanan yang ditawarkan pada penerbangan 832 saat itu ada dua pilihan, lontong ayam atau spaghetti daging saus bolognaise. Karena ingin sesuatu yang dapat mengenyangkan, maka sang penulis memilih spaghetti.

Rasanya lucu ya kalau naik pesawat flag carrier tapi makannya bukan makanan khasnya.

Adik sang penulis yang sudah sang penulis pesankan child meal justru tertidur pulas begitu masuk ke dalam kabin. Padahal menu child mealnya menggiurkan lho. Karena adik sang penulis tidur, sang penulis diijinkan oleh orang tua sang penulis untuk memakan makanan penutup yang ada di dalam child meal tersebut.

IMG_4329

(Pemandangan menjelang pesawat mendarat di Bandara Changi)

IMG_4333

(Memastikan mendarat di bandara yang benar, Bandara Changi, Singapura)

Satu jam dua puluh menit sudah kami menempuh penerbangan.

Pukul 17.40 waktu setempat, atau pukul 16.40 WIB, roda pesawat mulai menyentuh landasan.

Akhirnya, tibalah kami di terminal 3 Bandara Changi, Singapura.

Lagu ‘Tanah Airku’ dan berbagai musik daerah yang diaransemen oleh komposer kondang kemudian mengalun melalui speaker.

Maskapai ini kalau sang penulis akui sukses untuk membuat penumpangnya homesick dan selalu teringat akan tanah air. Bagaimana tidak, sebelum memulai penjelajahan di negeri orang, begitu pesawat landing, sudah diputarkan lagu Tanah Airku dan beberapa lagu lainnya.

Begitu sang penulis melangkahkan kaki ke dalam Bandara Changi, seperti saat sang penulis transit sebelum melakukan misi di HK, sang penulis selalu berkata di dalam hati:

”Iki bandara opo kebun ya, akeh wit-witane.” (Ini bandara atau kebun? Banyak tumbuhannya).

Oh ya,  jangan lupa mengambil peta Singapura yang tersedia di rak sesaat sebelum memasuki pemeriksaan imigrasi,

Petanya bener-bener berguna saat jalan-jalan.

imigrasi changi

(Suasana menjelang memasuki pemeriksaan imigrasi di Terminal 3 Bandara Changi)

Pemeriksaan imigrasi di Bandara Changi tanpa basa basi. Petugas mulai langsung men-scan paspor berikut kartu kedatangan dan menginput sejumlah data ke dalam komputer. Sembari menunggu, sang penulis mengambil permen yang disediakan di meja pemeriksaan imigrasi.

Tidak sampai 5 menit, paspor sang penulis akhirnya dicap sebagai tanda resmi masuk ke kota singa.

Selamat datang di Singapura!

(FYI: Masuk ke Singapura, cukup bermodalkan paspor. Masa tinggal maksimal di Singapura bagi WNI adalah 30 hari)

IMG_4340

(Mari ambil bagasi..)

Saatnya sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju hotel yang berada di bilangan Bugis, lebih tepatnya Fragrance Hotel yang beralamatkan di 33 Middle Road.

Memasuki lorong menuju peron stasiun MRT, petualangan di kota singa secara resmi dimulai.

Begitu sampai di peron, awalnya sang penulis akan membeli tiket MRT dengan menggunakan uang tunai, namun urung dilakukan karena mesin tiket hanya dapat menerima tunai maksimal 5 SGD.

Masukin duitnya kegedian sih, 50 SGD…*kemudian hening

Kemudian, sang penulis teringat dengan idenya untuk membeli kartu Singapore Tourist Pass (STP).

Kartu STP memungkinkan kita untuk menggunakan moda transportasi umum tanpa batas selama jangka waktu pemakaian yang telah ditetapkan.

Ternyata, harga kartu STP untuk pemakaian 3 hari sebesar 30 SGD per kartu (sudah termasuk deposit 10 SGD).

Keblondrok ndaa pandaaaa….Weleeeeh, entek 90 SGD. iso nggo mangaan ndes. (Waaaah tekoor iniii, habis 90 SGD, bisa buat makan ini)

Jangan lupa untuk me-refund deposit yang ada di dalam kartu STP maksimal 5 hari setelah pembelian. Lewat dari 5 hari setelah tanggal pembelian, deposit yang ada di dalam kartu STP tidak dapat ditukarkan dan kartu STP  otomatis beralih fungsi menjadi kartu EZ-Link biasa yang bisa di-isi ulang.

Yaa kalau di tanah air anggap saja kartu BCA Flazz, Mandiri e-Money, BRI Brizzi, dll.

Info selengkapnya mengenai STP, cek di sini

Setelah bersusah payah membeli STP karena loket customer officenya jauhnya bukan main dari tempat orang tua dan adik sang penulis menanti, akhirnya kartu STP yang jumlahnya 3 buah bisa digenggam di tangan

Saatnya menempelkan kartu STP pada pintu gerbang masuk peron.

Di Jakarta, lebih tepatnya di koridor 1 transjakarta, kita sudah bisa merasakan fasilitas seperti ini dengan kartu e-money yang disediakan oleh 5 bank terkemuka (BCA, Mandiri, BRI, BNI, Bank DKI).

Oh ya, MRT yang berasal dari stasuin Bandara Changi, yang dimana termasuk dalam jalur East West Line, akan berhenti di stasiun Tanah Merah. Maka dari itu, kita harus berganti kereta setibanya di stasiun Tanah Merah. Stasiun Tanah Merah merupakan stasiun untuk berganti MRT –dari arah Bandara Changi–menuju  stasiun akhir Joo Khon (melewati Bugis, City Hall, Raffles Place, Tanjung Pagar, Outram Park, dsb.) atau menuju ke stasuin akhir Pasir Ris.

Cek rute yang dilayani MRT di sini

Awalnya, MRT yang kami tumpangi dari Bandara Changi suasananya tidak begitu ramai, bisa dikatakan sangat sepi. Begitu berganti MRT dengan rute tujuan stasiun akhir Joo Khon, MRT dipenuhi dengan orang kantoran yang akan pulang ke tempat tinggalnya.

Mantap.

suasana_mrt_di_singapura

(Suasana di dalam MRT)

Sepanjang perjalanan, sang penulis iseng melihat suasana di sekitar tempat duduk sang penulis. Ternyata, kebanyakan warga Singapura dalam berkomunikasi menggunakan smartphone Android atau iPhone.

BlackBerry jebul ora payu ning Singapura ndes…(BlackBerry ternyata tidak laku di Singapura…)

Selain itu, sang penulis juga mengamati perbincangan yang dilakukan oleh beberapa warga Singapura. Ada yang menggunakan bahasa Inggris dengan logat Singlish, Mandarin, bahkan sang penulis sayup-sayup mendengar beberapa orang berbincang Boso Jowo.

Koyo nemu sodara sing ilang wae… (Seperti menemukan saudara yang hilang saja…)

Sekitar pukul 8 malam, sampailah kami di stasiun tujuan kami, Stasiun Bugis. Keluar dari Stasiun Bugis awalnya kami sempat bingung karena kami tidak tahu arah untuk menuju ke Middle Road, walaupun sudah memiliki peta yang sudah dicetak di tanah air maupun peta yang baru saja diambil dari Bandara Changi.

Engga tau mana utara mana selatan soalnya. Bagaikan butiran debu yang tak tau arah jalan pulang…

Kemudian, sang bapak pun berkata:

Daripada pusing, mari makan malam, itu ada McD di seberang jalan. 

Langsung saja, sang bapak memesan paket Big Mac dengan kentang dan cocacola untuk kami sekeluarga.

Sang penulis sempat berkelakar:

Wah, rasanya ternyata sama saja ya seperti yang di tanah air *kemudian hening

Setelah benar-benar kenyang dan siap untuk melanjutkan perjalanan, kami pun mulai bertanya mengenai di manakah arah menuju hotel kepada staf McD dan juga warga setempat yang dari penampilannya merupakan warga yang menetap di daerah tersebut.

Semoga saja benar!

Malam kian larut. Langkah demi langkah kami lalui. Sempat terlintas di pikiran kami bahwa kami nyaris tidak akan sampai ke hotel. Benar-benar kehilangan arah. Langkah yang kami tempuh rasanya semakin jauh.

Sekitar 550 meter dari McD tempat kami makan malam tadi, sampailah juga kami di Fragrance Hotel Bugis.

EEE jebul cedak, koyo ning peta. mung gara-gara mubeng-mubeng ora ngerti arah dadi rasane adoh…Sakjane wis bener metu stasiun ning dalan Victoria Road, terus belok kiwa ning Middle Road.

(Ternyata jaraknya dekat, seperti yang tertera di peta. Hanya gara-gara berputar-putar tak tahu arah, rasanya jadi jauh. Sebenarnya sudah benar, keluar stasiun menuju jalan Victoria Road lalu belok kiri ke arah Middle Road)

Saatnya check-in hotel dan….selamat tidur!

Sepertinya, besok menjadi hari yang benar-benar padat….

Selasa, 9 April 2013

Alarm di telepon genggam sang penulis mulai berbunyi.

Lhah iki subuhe kapan…? Wah, untung wae wis ngeprint jadwal sholat dari website Majlis Ulama Islam Singapura.

Di negeri orang tetap harus menjalankan rukun Islam kedua, yaitu Shalat!

Setelah shalat, sang penulis kemudian merasakan sesuatu yang mengganjal.

Rasanya jadi gimana gitu nginep di hotel tanpa jendela. Seperti masih malam hari. Tapi tak mengapa, yang penting bisa buat tidur.

Dalam penjelajahan menelusuri kota singa yang akan dilakukan pada hari ini, sang penulis pun berpakaian benar-benar layaknya turis, mengenakan celana jins pendek dan topi.

Mari saatnya sarapan.

Karena hotel tempat sang penulis beserta keluarga menginap tidak menyediakan fasilitas sarapan, maka kami semua sarapan dengan membeli sejumlah makanan di 7-Eleven yang terletak persis di sebelah hotel tempat kami menginap. Satu hal yang agak lucu, 7-Eleven di singapura ukuran tokonya mini, sangat lebih mini dari 7-eleven yang ada di Jakarta, bahkan lebih mini dari alfamart dan indomaret pada umumya.

Kalau Sevel (sebutan gaul 7-Eleven) di Jakarta bisa buat nongkrong, tempat duduknya banyak, ada fasilitas toilet bahkan ATM, maka jika Sevel di sini benar-benar sebaliknya. Space ruangan di dalam toko habis hanya untuk rak, kulkas, dan segala macam perlengkapan yang digunakan untuk jualan.

Lha sarapannya di mana? Nongkrong di halte bus.

Sang penulis dan keluarga kemudian sarapan sambil menikmati pemandangan pagi hari Middle Road yang sangat sepi. Iya. Sangat sepi untuk ukuran hari kerja, seperti jalanan di pedesaan.

Yaa kalau suasana jalanan pagi hari di Jakarta mah…jangan ditanya ya.

IMG_4351

IMG_4350

(Atas: Sang penulis menikmati sarapannya berupa roti muffin coklat. Bawah: Situasi Middle Road, depan hotel tempat sang penulis beserta keluarga menginap, yang cukup lengang)

Setelah cukup kenyang, mari saatnya memulai agenda liburan pertama di Singapura. Agenda hari ini adalah mengunjungi tempat pariwisata yang menjadi highlight dan tentu saja mainstream di kota singa, seperti Merlion Park, tempat patung Merlion berdiri.

Untuk menuju ke Merlion Park, sang penulis bersama keluarga terlebih dahulu menaiki MRT dari stasiun Bugis menuju stasiun Raffles Place dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Begitu MRT datang, alangkah terkejutnya sang penulis  jika MRT sangat dipenuhi oleh warga yang akan memulai aktivitasnya. MRT bagaikan kaleng sarden!

Wooo yo bener dalane sepi ndes, lha ramene pindah ning MRT. Pemerintahe sangar iso nggawe masyarakate ngganggo transportasi umum.

(Wah, pantas saja jalanan sepi. Ramainya pindah ke MRT. Pemerintah Singapura ngeri bisa membuat warganya untuk menggunakan transportasi umum)

bugis_mrt_station_platform

IMG_4363

(“Sebelum MRT datang, suasana di peron biasa saja, engga begitu ramai [atas]. Saat MRT datang [bawah], wow! Kaleng sarden berjalan,”gumam sang penulis)

IMG-20130409-01045

(Petunjuk mengenai denda dan arahan agar mendahulukan penumpang yang keluar terlebih dahulu dari MRT yang ditempel di tiang di dalam peron. Benar-benar budaya tertib yang implementasinya dijalankan sungguh-sungguh. Ayo, kita pasti bisa!)

Karena suasana di dalam MRT masih penuh sesak, maka sang penulis bersama keluarga sepakat menunggu menunggu MRT yang lain, dengan asumsi semakin lama, semakin agak siang, semakin sepi. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, ternyata, sama saja, tetap penuh!

Dengan sangat terpaksa dan tentunya agak hati-hati, kami mulai masuk ke dalam MRT. Sesaknya bukan main. Tempat duduk pun sulit didapat.

Tidak ada 10 menit, kami pun akhirnya tiba di stasiun tujuan, Stasiun Raffles Place. Begitu keluar dari dalam MRT, seluruh penumpang yang berhenti di stasiun tersebut langsung berlari dan bergegas keluar stasiun.

Wah iki wong-wong Singapura opo calon atlet olimpiade kabeh yo? Mlakune lhas lhes cepet buanget koyo meh maraton, meh nyaingi Usain Bolt.

(Wah, apakah semua masyarakat Singapura merupakan calon atlet olimpiade ya? Berjalannya cepat, seperti melakukan maraton, seakan-akan menyaingi Usain Bolt-manusia tercepat di dunia).

Keluar dari MRT, saatnya mencari pintu keluar yang mengarah ke Merlion Park. Sebelum keluar dari stasiun, kami mencari kantor customer service terlebih dahulu untuk me-refund STP dikarenakan kami tak memiliki uang tunai yang cukup untuk makan atau sekadar untuk membeli air mineral dan dikhawatirkan kios makanan yang akan kami sambangi tidak menerima credit card.

Lho? Kok pakai kartu kredit? Bia engga repot bawa uang tunai di jalan..

Saat ditanya oleh sang petugas dengan bahasa Melayu mengapa STP-nya ingin di-refund, sang penulis dengan ringan menjawab:

Lumayan, bu…duitnya bisa buat makan…

Seketika petugas customer service tersebut diam seribu bahasa.

Mungkin heran kali ya ada turis yang me-refund STP hanya untuk makan.

*BERSAMBUNG


CSG Photo Story

CSG Photo Story
CSG Photo Story
Mei 2013
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Kumpulan Artikel

Anda Pengunjung Ke:

  • 47,398

Ikuti Jejak Sang Penulis di Twitter

Masukkan alamat e-mail Anda untuk mengikuti perkembangan terkini dari Catatan Si Ghamdan dan Anda akan menerima pemberitahuan melalui e-mail apabila terdapat artikel terbaru dari Catatan Si Ghamdan


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.201 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: