Suatu Hari di Lombok

IMG_0694

(Sang penulis [kiri] bersama kedua sepupunya, Dhira dan Puput, di Pantai Surga, Lombok Timur)

Mulai hari ini ada cerita bersambung…
Halo pembaca yang budiman!

Senang sekali sang penulis dapat menyapa Anda kembali setelah sekian lamanya Catatan Si Ghamdan vakum dalam waktu yang cukup lama. Atas vakumnya CSG, sang penulis memohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Dalam kesempatan kali ini, sang penulis akan menceritakan mengenai liburan sang penulis bersama dua sepupu sang penulis; Dhira dan Puput; di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sebenarnya, rencana ke Lombok sangat mendadak. Bisa dibilang 21 hari sebelum hari H. Wacana pun baru dilontarkan saat silaturahmi pada hari kedua Idul Fitri 1435H.

Untuk merealisasikan wacana, kami pun saling berbagi tugas. Ada yang mencari tiket pesawat, memesan hotel, hingga memesan rentalan mobil. Semuanya kami lalukan melalui instant messaging karena jarak rumah kami cukup berjauhan.

Karena mendadak, kami cukup kesulitan untuk mencari penginapan dan penerbangan dengan harga yang bersahabat. Dalam keterbatasan waktu pula, kami juga menyusun itinerary sedemikian rupa agar dapat menjangkau banyak tempat. Meskipun begitu, Alhamdulillah kami tetap dapat berangkat ke Lombok.

———-

Berikut sekilas mengenai Lombok.

Lombok merupakan salah satu pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pulau inilah Kota Mataram, ibukota Provinsi NTB berada. Selain itu, di Pulau Lombok terdapat Gunung Rinjani, salah satu gunung berapi yang masih aktif dan merupakan gunung tertinggi ke-3 di tanah air.

Pulau Lombok terbagi menjadi 4 kabupaten (Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur) dan satu kota (Kota Mataram).

Di dekat Pulau Lombok terdapat tiga pulau yang cukup tersohor, yaitu trio Gili (Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air). Ketiga gili ini terletak di bagian barat laut Pulau Lombok.

*untuk menuju salah satu dari 3 gili tersebut dari Pulau Lombok, pembaca dapat menggunakan kapal penyeberangan umum yang berangkat dari Pelabuhan Bangsal

———-

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Lombok selain Bahasa Indonesia adalah Bahasa Sasak. Bahasa Sasak mempunyai tingkatan bahasa dalam berkomunikasi berdasarkan usia lawan bicara seperti Bahasa Jawa.

———-

Untuk menuju Pulau Lombok, pembaca dapat menempuh jalur udara dan laut.

Jalur laut dapat pembaca gunakan menggunakan feri yang berangkat dari Pelabuhan Padang Bai.

Untuk jalur udara, penerbangan lansung ke Bandara Internasional Lombok (BIL) dari Jakarta hanya dilayani oleh dua maskapai, yaitu Lion dan Garuda.

Selain dari Jakarta, pembaca dapat menuju BIL dari kota lain di tanah air seperti Yogyakarta (Lion), Surabaya (Citilink, Lion, Garuda), Denpasar (Garuda, Lion, Wings), Bima (Garuda), dan Makassar (Garuda).

Untuk penerbangan internasional, saat ini BIL dapat dijangkau dari Kuala Lumpur (AirAsia / AK) dan Singapura (SilkAir / MI).

Bagi pembaca yang berangkat dari BIL tidak menggunakan Garuda/Citilink, maka biaya airport tax yang harus dibayarkan adalah 45 ribu rupiah (domestik), sedangkan untuk keberangkatan internasional pembaca harus merogoh kocek 150 ribu rupiah.

Jarak dari BIL menuju ke Kota Mataram cukup jauh, sekitar 1 jam-an perjalanan. Jadi, kita harus mempersiapkan itinerary kita sebaik mugkin, jangan dibuat sangat mepet waktunya.

——-

Untuk urusan transportasi darat selama di Lombok, kami menyewa mobil dari Mahardika Tour. Tarifnya berkisar 550rb untuk 12 jam. Untuk tarif dari Bandara menuju Pelabuhan Bangsal berkisar 300 ribu-an. Semua tarif yang sang penulis sebutkan semua tadi sudah termasuk supir dan uang bensin. Supir yang disediakan oleh pihak Mahardika Tour menurut sang penulis sangat berpengalaman dan supel. Mobil yang disediakan pun masih relatif baru.

Jika pembaca tertarik untuk menyewa, pembaca bisa langsung mengubungi Wahyu di 087864867189.

sang penulis menyarankan, lebih enak menyewa mobil untuk berkeliling selama di Lombok. Jauh lebih murah dan nyaman dibanding angkutan umum/taksi mengingat keberadaan angkutan umum di Lombok terbilang masih sedikit dan sulit ditemui. Tentu saja, dengan menyewa mobil, kita dapat menjelajah suatu tempat lebih dalam.

——-

Karena kami mendadak dalam merancang perjalanan ke Lombok, alhasil kami mendapatkan penginapan yang ala kadarnya selama di Gili Trawangan. Penginapan di Gili Trawangan kami pesan melalui situs agoda.com dan memilih menginap di Pondok Twin Garden selama satu malam. Penginapan ini sudah terdapat ac dan memiliki fasilitas sarapan. Rate yang dipatok saat kami menginap adalah sekitar 600 ribu-an.

Urusan penginapan selama di Kota Mataram, kami memilih menginap di Hotel idoop yang dipesan melalui situs booking.com. Untuk rate-nya sekitar 300 ribu-an per malam. Hotel ini juga telah memiliki fasilitas tv kabel, air panas, Wi-Fi di setiap kamarnya, serta sarapan. Hotel yang memiliki total kamar sekitar 96 kamar ini merupakan hotel di bawah pengelolaan Prashanthi Hotels.

——-

Beberapa ATM dari bank terkemuka sudah cukup tersebar di Lombok. Namun, yang paling dominan adalah bank dari trio BUMN yang tergabung dalam jaringan LINK, BRI-BNI-mandiri.

——-

Oh iya, jangan lupa, Lombok sudah termasuk dalam wilayah yang menerapkan zona Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA) / GMT + 8

——-

Ada beberapa tips dari sang penulis untuk persiapan berlibur di Lombok:

  • Buatlah checklist barang bawaan yang akan dibawa. Bawalah barang secukupnya dan tidak melebihi jatah bagasi bagi yang akan berpergian dengan pesawat terbang.

Bagi yang nantinya membawa oleh-oleh, siapkan ruang sisa di koper untuk menaruh oleh-oleh.

Sang penulis tidak menyarankan pembaca membawa kopor jika akan ke Gili Trawangan karena nantinya akan menyulitkan pembaca dalam membawa kopor karena pembaca harus menggotong sendiri kopor saat akan menaiki kapal penyeberangan umum. Lebih baik membawa ransel atau tas kecil selama berada di Gili Trawangan.

  • Lakukanlah web check in saat berangkat dan pulang dari Lombok agar mendapatkan kursi yang diinginkan.
  • Cetaklah bukti pemesanan tiket dan hotel.
  • Bawalah baju ganti yang cukup. Sang penulis menyarankan untuk membawa 3 stel baju, celana, dan daleman per hari karena sebagian besar wisata di Lombok merupakan wisata air.

Jika memungkinkan, bawalah serta baju renang Anda.

  • Untuk hal berpakaian, gunakan baju yang sejuk dan tidak mudah menyerap panas namun tetap sopan dan menjunjung etika. Bawalah serta topi, kacamata hitam, dan sunblock (bila perlu).
  • Selalu membawa serta sarung/mukena/sajadah bagi yang menunaikan shalat. Walau liburan, ibadah tetap hal yang utama.
  • Cetak atau simpan jadwal shalat wilayah setempat agar kita dapat menunaikan shalat on-time.
  • Taruhlah sebagian uang saku di rekening agar nantinya jika kurang cukup mengambil di ATM.
  • Bagi yang tidak ingin komunikasi terputus, bawalah juga powerbank.
  • Bawalah juga rol kabel / terminal bagi yang akan meng-charge lebih dari satu gadget dalam waktu yang bersamaan.
  • Persiapkan kamera berikut charger serta memori dan baterai cadangan (jika memungkinkan).
  • Bawalah vitamin dan obat-obatan pribadi seperlunya
  • Bawalah tas kresek yang cukup untuk menaruh pakaian kotor serta sandal/sepatu. Sang penulis menyarankan selama di Lombok pakailah sandal agar kita nyaman dalam bergerak.
  • Kita tidak tahu seperti apa cuaca yang kita rasakan selama berlibur. Untuk itu, persiapkan juga payung dan jas hujan.
  • Isi pulsa nomor telepon seluler Anda secukupnya.

Semua tips di atas dapat pembaca modifikasi sesuai dengan kebutuhan pembaca yang budiman.

——-

Saatnya kembali ke cerita.

——-

Rabu, 13 Agustus 2014

Langit masih gelap. udara dingin pun masih menusuk.

Waktu di jam menunjukkan pukul 2 pagi

Alarm telepon seluler mulai berbunyi semakin kencang.

Walau masih ngantuk, sang penulis bangun dari tidur lelapnya dan segera mempersiapkan diri. Tak lupa sang penulis berpamitan ke orang tua sang penulis. Taksi yang sang penulis pesan kemarin siang pun sudah siap di depan rumah.

Saatnya meluncur.

Sebelum menuju ke bandara, sang penulis terlebih dahulu menjemput kedua sepupunya, Dhira dan Puput. Kedua sepupu sang penulis tinggal di daerah yang berbeda. Meskipun begitu, perjalanan antar rumah dan ke bandara sangat lancar mengingat kondisi lalu lintas yang masih sangat sepi di dini hari.

Di dalam perjalanan menuju bandara, kami mulai membahas mengenai agenda hari pertama yang akan dilakukan selama di Lombok. Selain itu, kami juga membahas bersama dengan sang supir taksi mengenai peristiwa heboh kecelakaan di bilangan Bintaro yang terjadi kemarin.

Kalau dilihat fotonya seperti film aksi Hollywood….

Sesampainya di bandara, alangkah terkejutnya sang penulis melihat suasana bandara Soeta terminal 1A yang sudah ramai dipenuhi calon penumpang. Padahal, libur lebaran sudah lewat.

Karena sudah check in melalui web resmi maskapai yang bersangkutan, kami tinggal menaruh bagasi dan membayar airport tax meskipun penerbangan yang akan kami tumpangi akan berangkat pada pukul 05.00 WIB.

sebagai informasi, penerbangan yang kami tumpangi merupakan penerbangan pertama dari Jakarta menuju Lombok. Bahkan, maskapai flag carrier jadwal berangkatnya saja masih pukul 5.50 WIB.  Selain itu, sang penulis baru menyadari maskapai yang kami tumpangi memiliki frekuensi terbang 5x sehari menuju BIL. Wow!

Pagi itu, suasana di gate terbilang masih cukup sepi. Sembari menanti panggilan masuk panggilan untuk masuk pesawat, sang penulis bersama para sepupu mulai memantapkan itinerary dan mulai saling iuran untuk biaya yang belum terbayarkan seperti airport tax. Pukul 4.20, 10 menit dari jadwal masuk pesawat,  seluruh penumpang tujuan Lombok dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat.

Setelah seluruh penumpang sudah masuk semua ke dalam kabin pesawat, pesawat belum juga didorong mundur. Ternyata, pesawat sedang melakukan pengisian ulang bahan bakar yang mengakibatkan keberangkatan menjadi molor beberapa menit. Walaupun molor, kedatangan kami di BIL nanti tetap seperti di atas kertas. Sambil menunggu pengisian bahan bakar selesai, kami menyempatkan diri untuk shalat subuh dengan bertayamum.

Sekitar pukul 5.30, pesawat mulai lepas landas meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.

IMG_0002 (Bandara Soekarno-Hatta dari ketinggian sesaat setelah lepas landas)

IMG_0010

(penerangan di dalam kabin pesawat pagi hari itu)

Selama penerbangan, suasana kabin sangat sepi. Sebagian besar penumpang memilih untuk melanjutkan tidurnya yang terpotong. Kecuali sang penulis dan para sepupu. Kami justru mengganjal perut dengan aneka macam cemilan serta air mineral yang telah dibawa sebelumnya.

Setelah satu setengah jam mengudara, akhirnya kami pun tiba di BIL dan menjejakkan kaki di Lombok untuk yang pertama kali.

IMG_0019 (Memastikan mendarat di bandara yang benar, Bandara Internasional Lombok yang terletak di daerah Praya, Lombok Tengah)

IMG_0021

(Pesawat yang membawa sang penulis bersama para sepupu pagi itu, PK-LJT)

Begitu masuk ke dalam ruang baggage claim, sang penulis langsung mengabarkan orang tua sang penulis bahwa sang penulis sudah sampai di Lombok. Tak berapa lama, barang bawaan kami pun sudah keluar dan siap untuk dibawa.

Keluar dari baggage claim, udara di luar cukup dingin, serasa di pegunungan.

Perasaan jauh dari gunung tapi kok hawanya enak adem gini ya…Padahal langit benar-benar cerah tidak ada awan sama sekali.

Sebelum kami melanjutkan perjalanan dan daripada kami nampak seperti orang kesasar, kami pun terlebih dahulu menelepon sang supir yang akan menjemput kami. Tak perlu menunggu waktu lama, kami pun akhirnya bertemu dengan sang supir di tempat yang sudah kami tentukan. Kami pun dipersilakan menuju ke mobil dengan membawa serta barang bawaan kami.

Perjalanan pun dimulai.

Sang supir mulai memperkenalkan diri dan mengeluarkan beberapa dagelan yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Selain itu, kami juga berdiskusi dengan sang supir serta meminta saran terbaik mengenai itinerary yang telah kami buat sebelumnya.

Jadwal hari pertama kami di Lombok adalah bermalam di Gili Trawangan dan jika bisa pada sore harinya melakukan snorkeling. Untuk menuju ke Gili Trawangan, kami harus menuju ke Pelabuhan Bangsal untuk mengejar kapal penyeberangan ke Gili Trawangan.

Sebelum menuju ke Pelabuhan Bangsal, kami meminta sang supir untuk mencari tempat sarapan mengingat kami hanya makan camilan selama penerbangan.

“Kalau bisa yang khas dan tentu saja terjangkau!” pinta kami.

Kebetulan keluar bandara ada makanan khas dari Kabupaten Lombok Tengah, namanya Nasi Balap Puyung.

Kayaknya mantap, ke sana aja mas

Kemudian sang penulis berkata di dalam hati….

Wah ternyata di Lombok tidak hanya Ayam Taliwang dan Pelecing Kangkung saja, tetapi juga ada kuliner lain yang patut dicoba…

Tidak jauh dari akses keluar-masuk BIL, kami pun sampai di Rumah Makan Cahaya. Rumah makan ini menyediakan nasi balap puyung.

Saat tiba di rumah makan nasi balap tersebut, kami pun awalnya mengajak serta sang supir untuk sarapan bersama namun ia menolak dengan halus dengan alasan sudah sarapan sebelum menjemput kami di BIL.

Nasi Balap Puyung RM Cahaya - Jalan Raya BIL

(Penampakan nasi balap puyung RM Cahaya)

Apa itu nasi balap puyung?

Nasi ini sekilas nampak seperti nasi rames. Isi dari nasi balap yang kami temui di rumah makan ini adalah ayam panggang suwir, kering kentang, dan kacang panjang. Ayam panggang suwirnya cukup spicy.

Penamaan nasi balap itu sendiri menurut sang penulis baca ada beberapa versi. Versi pertama adalah bagi yang ingin membeli nasi tersebut harus balapan dengan sang penjual yang menjajakan nasinya dengan sepeda. Ada juga versi di mana cucu sang pembuat nasi balap sering memenangkan kejuaraan balap dan kemudian mentraktir teman-temannya di warung sang nenek.

Terlepas dari berbagai versi yang muncul di masyarakat, rasa nasi balap puyung sangat menggugah selera. Dengan sambal yang tersedia di setiap meja, membuat sang penulis ingin nanduk (nambah) lagi.

Seporsi nasi balap dibanderol 10 ribu rupiah.

Setelah puas menyantap nasi balap puyung, kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal. Selama perjalanan, sang supir bercerita bahwa saat ini Lombok sedang musim honeymoon.

Mungkin masnya mau hunimun di sini silakan….

Aaamiiin…..

Ngomong-ngomong soal honeymoon, saya mau menceritakan mengenai adat nikah di Lmbok. istilahnya itu nyulik

Ha? Nyulik?

Iya mas, jadi sebelum nikah, yang cewek itu diculik sama cowoknya di malam hari. Pastinya tanpa sepengetahuan ortu si ceweknya. Ceweknya juga dibawa ke rumah famili cowoknya. 

Dengan serius kami mendengarkan adat nyulik yang membuat kami semakin penasaran

Kalau udah nyulik tapi gagal, gagal dalam arti ortunya cewek engga setuju, atau ceweknya direbut orang pas nyulik, atau hal yang menyebabkan nyulik ini tidak berujung ke pernikahan ada hukuman adatnya. Takutnya selama nyulik udah ngapa-ngapain

Berhubung sang supir masih bujang, maka kamipun bertanya..

Masnya nanti nyulik?

Iya dong, tapi sedang mempersiapkan mental dulu…

Adat nyulik ini sudah menjadi kewajiban bagi para cowok di Lombok yang akan segera menikah dengan pujaan hatinya.

Kalau engga nyulik gimana mas? Cuma ngelamar aja engga bisa ya?

Kalau cuma ngelamar tapi engga nyulik itu dianggap memalukan, tidak dianggap pejantan…

Kini saatnya kami berganti topik pembicaraan.

Sang supir juga curhat bahwa dia berpendapat lebih enak bandara yang lama yang berada di Ampenan ketimbang di Praya. Karena jika di Ampenan lebih dekat dengan pusat kota.

Jalanan yang mas lewat sekarang ini dibangun lebih dulu sebagai akses untuk ke BIL.

Masih mulus ya….

IMG_0027

IMG_0029

IMG_0031

(Beberapa snapshot saat dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal)

Udah jalannya sepi, supirnya bisa kenceng bawa mobilnya. Coba di Jakarta atau Jalur Pantura….ngimpi….

 Selama di perjalanan kami juga menemui hal yang unik yang membuat kami heran…

Aneh ya kok di sini orang bawa air diangkut di mobil bak terbuka walau airnya tumpah-tumpah kok engga prihatin ya?

Ooo jangan heran mbak di sini air melimpah makanya dihabur-hamburkan….

Di tengah perjalanan, kami melewati Kota Mataram, dan langsung saja kami langsung ditunjukkan hotel tempat kami menginap selama di Mataram nanti oleh sang supir. Hotel tempat kami menginap ini sangat dekat dengan Mal Mataram.

Mungkin kalau di ibukota mallnya melimpah, tapi ini mall yang paling lengkap mas mbak di sini

Kami saja sampai bosen mas di ibukota main ke mall mulu

Keluar Kota Mataram, kami pun mulai disajikan dengan pemandangan hutan dan perbuktian. Kami pun juga melewati Hutan Pusuk, hutan yang terkenal akan banyaknya kera.

Sang supir pun kemudian menepikan mobilnya ke sebuah tempat yang dirasa aman dan mengajak serta kami untuk keluar sambil berinteraksi dengan para kera. Tentu saja, cara berinteraksinya dengan memberikan roti ke kera-kera yang ada di dekat mobil kami.

Ayo mas mbak, jangan takut, keluar aja. Coba dikasih rotinya…

Langsung saja sang penulis mengeluarkan sisa roti bekalnya dan langsung diberikan ke kera-kera yang berkeliaran di dekat mobil.

Puput dan Dhira memilih tidak menyusul sang penulis. Mereka cukup berfoto di dalam mobil meskipun pada akhirnya mereka keluar dari mobil.

IMG_0037

DSC01008

(Atas : Monyet di Hutan Pusuk | Bawah: Sang penulis (hanya tampak tangannya saja, memberikan makan ke monyet yang berada di dekat mobil)

Sayang banget di tempat pemberhentian mobil banyak sekali sampah bungkus makanan berceceran…..

Mas mbak, sebentar lagi kita sampai di Bangsal. Saya sarankan mas mbak beli minum dan cemilan yang cukup buat persediaan karena di Gili harganya cukup mahal. Sebotol air mineral ukuran 600ml dibanderol 5000 rupiah.

Meskipun air mineral yang sang penulis bawa dari ibukota yang awalnya untuk bekal di pesawat tadi masih cukup, kami pun memutuskan mampir ke sebuah toko kelontong untuk menambah stok…

Baik mas kalau begitu, nanti kalau ada toko kita mampir sebentar

Siap mas.

Setibanya di toko kelontong, air mineral yang ada hanyalah air mineral merek lokal. Lucunya, toko kelontong ini tidak menjual air mineral yang sangat populer di tanah air yang kepemilikannya kini sudah dipegang oleh perusahaan asal Perancis.

Setelah dirasa cukup untuk memenuhi stok bekal air mineral, saatnya melanjutkan perjalanan.

Beberapa meter sebelum kami tiba di sebuah pelataran tempat parkir, kami pun langsung diberi nasihat oleh sang supir.

Mas, berhubung mobil cuma boleh sampai di parkiran, maka untuk menuju ke Pelabuhan Bangsal harus menggunakan cidomo. Barang bawaan mas mbak kan banyak tuh sampe 3 koper, mending diringkas aja engga usah banyak-banyak bawanya. Satu koper untuk bertiga sudah lebih dari cukup untuk semalem.

Akhirnya setelah menempun perjalanan darat dari BIL selama kurang lebih dua setengah jam lamanya, kami tiba di sebuah pelataran tempat parkir. Para pengemudi cidomo (sebutan untuk dokar/andhong di NTB) langsung mengerubungi mobil kami. Kami pun tak peduli.

Kami justru mulai meringkas barang bawaan dan memilih barang yang kiranya sangat diperlukan selama berada di Gili nanti. Tidak lupa semua camilan dan air mineral kami bawa untuk perbekalan di Gili.

Sebenarnya jarak dari tempat parkir ke Pelabuhan Bangsa tidak terlalu jauh, kurang dari 1 km. Namun, tarif yang dipatok oleh pengemudi cidomo adalah 30 ribu rupiah sekali jalan.

Ngalahin tarif tukang ojek dari Stasiun Sudirman ke Kuningan City ini…..

Yaa mungkin karena ini adalah tempat turis…jadi harus siap dengan konsekuensi harga yang lumayan mahal…

Setelah kami siap untuk pergi menuju Pelabuhan Bangsal, kami berpamitan dengan sang supir dan mengingatkan kembali untuk menjemput kami esok hari di tempat yang sama.

Saatnya naik dokar, eh cidomo….

IMG_0047

(Sang kusir yang membawa cidomo menuju Pelabuhan Bangsal)

Tidak sampai 10 menit, kami pun akhirnya tiba di Pelabuhan Bangsal…

IMG_0053

(Kantor Pelabuhan Bangsal sekaligus tempat membeli tiket penyeberangan)

IMG_0050

(Inilah wujud tiket penyeberangan umum. Walau rombongan, cukup memakai satu nama dan satu tiket saja)

Di Pelabuhan Bangsal, langsung saja kami ke kantor pelabuhan untuk membeli tiket penyeberangan umum ke Gili Trawangan. Tinggal sebutkan tujuan mau ke Gili apa dan berapa jumlah orangnya serta nama orang yang ditunjuk sebagai perwakilan.

Patut diingat, jika ingin murah naiklah kapal penyeberangan umum. Masyarakat setempat menyebutnya dengan kapal public. Kalau mau yang cepat tanpa menunggu lama, tiketnya cukup mahal….

Ternyata, sistem pemberangkatan kapal penyeberangannya adalah kami menunggu sampai tiket habis terjual sesuai dengan kapasitas penumpang baru kapal mulai diberangkatkan ke tujuan.

Siang itu, kami tak perlu menunggu lama untuk diberangkatkan menuju Gili Trawangan.

Para penumpang yang sudah membeli tiket sebelumnya mulai dipanggil untuk naik ke kapal.

Wah, lain kali kalau ke tempat kayak gini pake celana pendek saja biar nyaman naik-turun dari kapal….apalagi bawa koper yang cukup berat

IMG_0060

(Suasana di dalam kapal penyeberangan umum yang membawa sang penulis bersama para sepupunya menuju Gili Trawangan)

Kapal yang kami tumpangi selain mengangkut para penumpang yang akan ke Gili juga mengangkut komoditi seperti sembako untuk keperluan masyarakat Gili dan juga turis yang menetap. Bahkan tukang servis resmi dari sebuah merek motor ternama dan mesin cuci ternama juga ikut menyeberang.

Perjalanan pun dimulai.

Selama perjalanan, sang penulis justru ngantuk karena hembusan angin laut yang cukup kencang dan kapal bergoyang mengikuti ombak cukup deras.

Tapi rasanya sayang malah tidur di kapal, pemandangannya bagus begini…..

Setelah perjalanan selama 45 menit lamanya, akhirnya kami tiba di Gili Trawangan

Sesampainya di Gili Trawangan, hal pertama yang sang penulis katakan dalam hati adalah…

Wow, ternyata ada ATM-nya! Ada ATM Commonwealth Bank pula!

Keluar dari kapal, kami pun langsung disemuti oleh para penduduk lokal yang menawarkan penginapan.

Karena kami sudah memesan dan tidak tau arah mana yang harus kami ambil, kami pun langsung saja menyerocos bertanya di manakah letak penginapan yang telah kami pesan sebelumnya.

Penduduk yang menawarkan penginapan ke kami pun tiba-tiba saja wajahnya langsung kaget dan dengan ramah menunjukkan arah menuju tempat penginapan yang kami sebutkan tadi.

Itu salah satu cara agar lekas lepas dari jeratan para penawar penginapan yang dirasa agak annoying.

Soalnya mungkin bawa koper sih ya, jadinya ditawarin terus…

Dalam perjalanan menuju penginapan, sang penulis sambil mengamati keadaan di sekitar. Ternyata, orang-orang yang berkeliaran di Gili Trawangan mayoritas adalah turis asing. Turis lokal pun benar-benar sangat jarang.

Pantes aja di Gili Trawangan semua papan ditulis pake bahasa inggris….

Sang penulis sempat berkelakar….

Karena saking banyaknya bule, yang menandakan Gili Trawangan masih berada di wilayah NKRI adalah hiasan pitulasan dan ATM trio BUMN yang berdiri di Gili Trawangan.

Setelah berjalan beberapa meter dari tempat kami turun dari kapal penyeberangan dan setelah bertanya ke beberapa warga setempat, kami pun akhirnya sampai di penginapan kami, Pondok Twin Garden.

Sembari menunggu kamar kami siap untuk digunakan, kami pun beristirahat sejenak melepas lelah setelah perjalanan panjang dari BIL.

DSC01047

DSC01048

(Penampakan kamar yang kami tempati di Pondok Twin Garden)

Setelah kamar sudah siap untuk digunakan, langsung saja kami menaruh semua barang bawaan dan menunaikan shalat dzuhur.

Tak berselang lama, kami melanjutkan misi kami untuk mencari tempat yang menawarkan snorkeling ke 3 gili. Kami pun berencana akan bersnorkeling menelusuri trio gili pada sore hari ini.

Setelah menelusuri hampir seluruh tempat yang menawarkan snorkeling menelusuri trio gili, ternyata tidak ada yang menawarkan snorkeling di sore hari. Mereka baru memulai kegiatan snorkeling pada pukul 10 atau setengah 11 siang dan selesai pada pukul 2 siang.

Harga untuk snorkeling public (public dalam artian  berangkatnya rame-rame sama orang lain yang juga akan bersnorkeling) berkisar 100 hingga 120 ribu rupiah. Biasanya sudah termasuk life vest / pelampung dan kacamata untuk snorkeling.

——-

IMG_0065

(suasana di salah satu sudut di Gili Trawangan. Bersih tanpa ada kendaraan bermotor)

Berikut sekilas mengenai Gili Trawangan

Gili Trawangan dahulu merupakan pulau untuk pembuangan narapidana. Tetapi, sekitar tahun 1970-an, Gili Trawangan dihuni oleh beberapa pendatang dan kemudian berkembang hingga saat ini.

Hal yang menarik di Gili Trawangan dan juga di Gili Meno dan Gili Air adalah adanya peraturan setempat yang tidak memperbolehkan penggunaan kendaraan bermotor untuk mobilitas, baik itu sepeda motor atau bahkan mobil. Sebagai informasi, dari ketiga gili (Trawangan, Meno, dan Air), yang paling ramai adalah Gili Trawangan.

Oh ya, jangan khawatir bagi pembaca yang beragama Islam. Di Lombok tak terkecuali di Gili, masyarakatnya mayoritas beragama Islam. Masjid pun banyak dijumpai seperti halnya di Pulau Jawa.

Penginapan kami sebenarnya dekat sekali dengan masjid. Suara adzan pun cukup keras membahana. Jadi jika ingin berwisata di hari Jumat sekalipun, bagi pria muslim tak perlu khawatir mencari masjid untuk shalat Jumat.

Jika ingin jalan-jalan di Gili selain dengan berjalan kaki, pembaca bisa menyewa sepeda atau naik cidomo.

Namun, bagi pembaca ingin menyewa sepeda, pembaca harus merogoh kocek sekitar 50 ribu rupiah per hari. Jika ingin perjam justru lebih mahal karena dipatok 20 ribu per jamnya.

Karena tidak ada kendaraan bermotor berlalu lalang, suasana di Gili lebih adem dan sunyi.

Akhirnya engga denger klakson…..Tapi awas kalau ada cidomo yang lewat. Jalannya kenceng banget!

Selain itu, di Gili Trawangan juga terdapat beragam restoran dan kafe. Tak ketinggalan, di Gili Trawangan sering ditemui penjual es krim dan minuman dingin.

Yang jualan es krim sama minuman dingin banyak banget, sepertinya bulenya engga tahan panas….

Mungkin kalo jualan eskrim di sini cepet larisnya…dan mungkin juga cepet balik modalnya…

Yang mau scuba diving juga banyak tempat yang menyediakan sertifikasi PADI (Professional Association of Diving Instructor).

——-

Kembali ke cerita…

——-

Dengan sangat terpaksa, kami pun akhirnya memutuskan untuk bersnorkeling ria besok pagi sekaligus check out dari penginapan.

Kami pun juga memutuskan setelah mengikuti program snorkeling langsung kembali ke Lombok tanpa perlu ke Gili Trawangan. Cukup menyeberang dari Gili Air karena program snorkelingnya juga berakhir di Gili Air.

Setelah beres dengan urusan snorkeling dan sambil menanti waktu senja, kami memilih untuk menyewa sepeda sambil mengelilingi Gili Trawangan.

DSC01061

(Sang penulis [kiri] selfie dengan para sepupu)

IMG_0086

(Kedua sepupu sang penulis, Dhira dan Puput, berpose dengan sepeda sewaannya)

 IMG_0093

(suatu sudut di pantai di Gili Trawangan)

DSC01149

IMG_0097

IMG_0118

DSC01133

DSC01143

(beberapa snapshot saat berada di depan Hotel Ombak Sunset)

Langit semakin redup, saatnya kami mencari makan malam.

Menuruti saran sang pemandu snorkeling yang kami temui siang tadi, kami memutuskan mencari makan malam di Pasar Seni. Mengapa di Pasar Seni? Karena di tempat inilah makanan murah ala kaki lima banyak dijajakan.

IMG_0126  IMG_0127

DSC01160

DSC01163

(Beberapa foto suasana di Pasar Seni)

Makanan yang dijajakan di Pasar Seni beragam, mulai dari makanan khas dalam negeri seperti ramesan, nasi goreng, ayam lalap hingga makanan ala barat seperti barbekyu.

Begitu sampai di pasar seni, suasana sekilas seperti memasuki sentra PKL di beberapa daerah. Namun, alangkah terkejutnya jika harganya bukan harga kaki lima…

Harganya standar makan di rumah makan gedongan….

Nasi goreng saja paling murah dibanderol 13 ribu….

Air mineral saja 5 ribu, dan itu merek lokal…bukan brand A*ua atau Ne**le, apalagi Ev*an…..

Puput dan Dhira yang semula akan membeli nasi rames pun kemudian mengurungkan niatnya

Bule aja yang beli ramesan langsung ngeluarin duit 50 ribu segepok, entah diambil berapa lembar…..

Bagi bule mungkin ini adalah surga karena makanannya harganya murah-murah, namun bagi turis domestik terutama yang backpackeran seperti kami, harga makanannya cukup mencekik.

Wah tau gitu bawa bekal aja ya dari rumah…..

IMG_0128

(Penampakan nasi goreng seharga 13 ribu rupiah dan air mineral seharga 5 ribu rupiah. NB: yang bulet itu telur)

Mata mulai perih…

Perih karena sudah lelah dan ngantuk…

Perutpun sudah terisi kembali..

Saatnya kami mengembalikan sepeda sewaan kami dan kembali ke penginapan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk agenda esok hari….

BERSAMBUNG