Suatu Hari di Kota Singa

si ghamdan in singapore

(Sang penulis dengan latar belakang pusat Kota Singapura)

*mulai hari ini, ada cerita bersambung

November 2012. Hari Minggu, di pusat kota Jakarta, jalanan seperti biasa cukup ramai.

Motor dan mobil pribadi saling berpacu di atas aspal ibukota, begitu juga dengan berbagai angkutan umum seperti kopaja dan busway.

Langit pun mulai gelap, padahal masih siang.

Cuaca kembali kurang bersahabat.

Maklumlah, bulan November memang sedang musim penghujan.

Setetes demi setetes air hujan mulai turun hingga deras.

Namun, hal itu tidak menghalangi sang penulis bersama keluarga untuk menghadiri sebuah pameran wisata tahunan yang diselerenggarakan oleh maskapai plat merah di Jakarta Convention Center (JCC). Tujuan kami ke JCC tidak lain dan tidak bukan adalah mencari tiket murah ke sebuah destinasi. Apalagi setelah mendengar bahwa diskon yang ditawarkan cukup gila.

Satu hal yang menjadi pertanyaan utama sebelum membeli tiket: Akan ke manakah sang penulis berkelana kali ini?

Pulang kampung ke Semarang dan menyantap hidangan khasnya? Bukan.

Jalan-jalan ke Yogyakarta sambil menelusuri Jalan Malioboro? Bukan.

Menikmati keindahan Pulau Dewata, Bali? Juga bukan.

Sebenarnya ada satu destinasi yang sudah kami semua impikan dan rencanakan.

Sebuah kota sekaligus negara yang menjadi negara tetangga kita. Kalau di peta dunia, negara ini nyaris tidak terlihat.

Ya!

Singapura.

Merlion!

Alhamdulillah….

Dalam kesempatan kali ini, sang penulis akan berkunjung ke Singapura yang sesungguhnya.

Lho kok ‘sesungguhnya’, Ndan?

Sebenarnya, sang penulis sudah 2 kali berkunjung ke kota singa, namun hanya mampir di Bandara Changi saja alias transit. Yang pertama transit setelah sang penulis melakukan perjalanan dari Jeddah dan yang kedua transit saat akan melaksanakan sebuah misi di Hong Kong.

Setelah memasuki ruangan di JCC, saatnya mencari booth yang dituju.

Tanggal pun dipilih, tentunya pada saat hari kerja.

Awalnya kami akan memilih tanggal keberangkatan di bulan Februari. Namun hal itu urung dilakukan dikarenakan kami berpikir jika bulan Februari dimungkinkan masih dalam suasana liburan, apalagi mendekati Imlek. Setelah menimbang-nimbang, pilihan tanggal keberangkatan jatuh pada bulan April, lebih tepatnya tanggal 8 – 10 April. Benar-benar weekday. Sang penulis pun kebetulan di tanggal itu juga kosong dari jadwal kuliah.

Eh engga kosong juga sih, hari Senin tanggal 8 April itu masih kuliah, tapi sampai siang.

Wow! 5 months again? It’s okay~

Kunjungan sang penulis ke kota singa tentunya juga digunakan sang penulis untuk mengusir kegalauan yang sudah melanda sang penulis beberapa bulan menjelang pelaksanaan program Goes to Singapore sekaligus untuk move on.

Engga usah ditulis ya galaunya kenapa, soalnya galau masalah percintaan #ups #eaa

Pembayaran pun mulai dilakukan dan tiket mulai dicetak. Alangkah kagetnya saat sang penulis melihat harga yang tertera pada tiket.

Wah, nek ora diskon, rak mungkin numpak maskapai iki ning singgapur pulang pergi (Wah, kalau tidak diskon, tidak mungkin naik pulang-pergi menggunakan maskapai ini ke Singapura)…

Setelah membeli tiket, persiapan untuk ke kota singa dimulai, mulai mencari hotel hingga mencari info mengenai tiket masuk ke dalam berbagai tempat wisata. Bahkan, sang penulis sudah membeli buku panduan berwisata ke kota singa sebelum Idul Fitri.

——————

Kalo mendengar kata Singapura, entah mengapa pikiran langsung tertuju ke sebuah patung berbentuk singa laut. Patung Merlion.

Negara yang merdeka pada tahun 1963 dari kolonial Inggris ini dulunya dikenal sebagai kota yang bernama Temasek, yang juga merupakan wilayah bagian dari kerajaan Sriwijaya di Palembang, Sumatera Selatan.

Destinasi ini (Singapura, red.) sudah sering kita dengar dan bahkan sudah sering dikunjungi masyarakat kita, baik untuk sekedar jalan-jalan hingga urusan penting seperti menuntut ilmu atau berobat. Tidak mengherankan jika arus penumpang yang keluar-masuk dari Bandara Changi paling banyak berasal dari Jakarta.

Singapura benar-benar mainstream bagi masyarakat kita, seperti halnya Pulau Dewata.

Negara yang luasnya tidak lebih luas dari Provinsi Jawa Tengah ini kalo boleh sang penulis akui, peradaban dan budayanya selangkah lebih maju di berbagai bidang seperti bidang kebersihan dan transportasi umum.

Ada beberapa fakta yang harus kita ketahui mengenai Singapura.

Bahasa yang digunakan di Singapura adalah bahasa Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil.  Meskipun begitu, logat bahasa inggris yang digunakan umumnya Singlish (Singapore English), pencampuran dari 4 bahasa resmi tersebut.

Selama program, awak akan cakap pakai melayu kalo orang yang kita ajak bicara tak faham inggis tapi mengerti malay. *ndak yo bener boso malaysiane ngene? -_-

Colokannya kaki tiga, seperti di Hong Kong dan negara penjajahnya, Inggris.

Siap-siap bawa charger universal dan tentu saja terminal!

Mencari makanan halal di Singapura terbilang cukup mudah, tinggal kita saja yang harus teliti untuk mencari makanan atau restoran yang sudah bersertifikasi halal dan melihat logo halal. Kalau sang penulis menyarankan, supaya mudah, makanlah di fast food semacam McD atau Popeyes.

Gapapa ya, makan junk food untuk sementara waktu ._.v

Mata uangnya? Tentu saja Dollar Singapura (SGD). Kurs 1 SGD berkisar 8800 IDR (Agustus 2013).

Engga mau repot-repot nukerin SGD di money changer? Langsung ambil aja dari ATM setibanya di Changi. Mengambil uang dari ATM langsung mengikuti kurs, tetapi siap-siap kena biaya administrasi ya.

Yang paling penting dari semuanya, walau kita sebagai tamu di negeri orang, taatilah seluruh peraturan dan adat istiadat yang ada.

Singapura terkenal dengan negara denda. Makan dan minum di MRT saja bisa didenda.

——————

Saatnya kembali ke cerita.

Senin, 8 April 2013

Setelah menanti selama kurang lebih 5 bulan lamanya, saat yang dinantikan akhirnya tiba.

Waktu di jam menunjukkan pukul 5.00. Ibadah Shalat Subuh baru saja sang penulis laksanakan. Perbekalan yang akan dibawa menuju kota singa sudah siap.

Saatnya membuka jendela dan menghirup udara pagi masih segar.

Di telepon genggam sang penulis, sudah mulai ada mention twitter yang berisi ucapan selamat jalan untuk sang penulis dari salah satu rekan sang penulis semasa SMA yang kini melanjutkan studi di Yogyakarta. Jauh-jauh hari, sang penulis berpamitan dengan rekan-rekannya jika pada hari ini (tanggal 8) sang penulis akan berkelana ke suatu tempat dan menanyakan apakah ingin dibawakan buah tangan. Bahkan, sang penulis berkata kepada rekan-rekannya bahwa akan pergi ke luar kota. Iya. Luar kota.

Habisnya bingung sih, itu kota sekaligus negara, ya sudah ngomongnya pergi ke luar kota… kelakar sang penulis

Meskipun pada siang harinya sang penulis sudah harus siap di bandara, sang penulis harus tetap menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan. Kegiatan perkuliahan yang sang penulis ikuti di hari Senin dimulai pukul 7.20 dan berakhir pukul 13.00. Namun, sang penulis akan pamit dengan rekan-rekannya pada pukul 11.00.

Seperti biasa, sang penulis menggunakan angkutan umum untuk menuju ke kampus.

Mata kuliah praktikum pengembangan sistem informasi dan english in focus sang penulis ikuti pada pagi hari itu.

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Saatnya sang penulis berpamitan dengan rekan-rekannya untuk pergi ke ‘luar kota’. Sang penulis yang sudah dijemput oleh orang tua dan adik sang penulis kemudian langsung bergegas untuk mengejar penerbangan 832 yang akan boarding pada pukul 14.25 WIB.

Di dalam perjalanan, sang penulis berbincang bersama orang tua sang penulis mengenai hal yang harus dilakukan setibanya di Changi.

“1 jam 20 menit itu kayaknya lama ya,”gumam sang penulis.

Sang bapak pun kemudian membalas:“Lebih lama ke Sudirman daripada ke Singapura itu sendiri”.

Ah iya, benar juga kalau dipikir-pikir. Kalau menuju ke Sudirman pada saat peak hour bisa membutuhkan waktu perjalanan lebih dari satu jam.

Bahkan, sang penulis membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dengan angkutan umum untuk mengunjungi rekan sang penulis yang kini menuntut ilmu di sebuah sekolah tinggi di bilangan Otista.

Kalau dari Semarang, mungkin bisa sampai Bawen atau Magelang kali ya.

soekarno_hatta_airport

(Suasana di depan terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng)

Pukul 12.10, kami pun akhirnya tiba di terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta. Sembari sang bapak menaruh mobil di area inap mobil, sang penulis mulai menurunkan perbekalan dan meminta bantuan seorang porter untuk membantu membawakan barang bawaan.

Setelah sang bapak selesai menginapkan mobil, saatnya memasuki ruangan terminal. Sesampainya di kounter check in, kami hanya menaruh bagasi dan membayar airport tax karena sehari sebelumnya sudah melakukan city check in dan sekaligus mendapat boarding pass.

Saat akan drop baggage, sang penulis melihat boarding pass-nya sekali lagi. Kemudian, sang penulis teringat sesuatu.

Ouch. Kursinya di barisan nomor 9 ABC. Ini kursi tembok derita alias engga ada jendelanya.

Wuaduh.

Berharap pesawatnya sepi, bisa pindah kursi.

Setelah beres dengan segala urusan tetek bengek untuk memasukkan bagasi, kini saatnya menuju ke pemeriksaan imigrasi.

Awalnya, sang penulis dan orang tua sang penulis beserta adik ingin mencicipi pemeriksaan imigrasi dengan fasilitas autogate. Fasilitas ini memungkinkan pemegang paspor biasa dan elektronik untuk diperiksa paspornya secara otomatis, meminimalisir interaksi petugas bandara dan tentu saja menghemat waktu. Untuk pemegang paspor biasa diwajibkan melakukan registrasi terlebih dahulu dengan men-scan paspor dan sidik jari di tempat yang sudah ditentukan. Fasilitas pemeriksaan imigrasi autogate ini sementara hanya terdapat di Bandara Soekarno Hatta

Info mengenai autogate bisa dibaca selengkapnya di sini

Berhubung petugas registrasinya sedang tidak ada di tempat, ya sudah mengiklaskan diri diperiksa secara konvensional alias dicap.

Antrian imigrasi awalnya tidak begitu ramai namun mendadak penuh karena ada rombongan dari sebuah sekolah yang jumlahnya minta ampun.

Lolos pemeriksaan imigrasi, saatnya sang penulis dan keluarga melangkah menuju ke gate. Entah mengapa, suasana di dalam terminal 2E  tampak kosong melompong. Masuk ke dalam gate saja sepinya bukan main.

Sembari menunggu panggilan boarding, sang penulis berbincang dengan beberapa rekannya melalui fasilitas BlackBerry Messenger serta mencoba untuk memfoto dan difoto iseng di dalam gate.

the thousand miles of journeys begins with a single step

(Hasil jepretan foto di dalam gate setelah diedit)

Ting tong.

Sekitar pukul 15.00, panggilan boarding untuk penerbangan 832 mulai berkumandang. Agak telat dari jadwal yang telah ditentukan.

Seperti biasa, para petugas mengarahkan agar penumpang yang membawa orang usia lanjut yang berkursi roda dan anak kecil dipersilahkan masuk terlebih dahulu, kemudian disusul penumpang kelas bisnis dan ekonomi. Memasuki kabin, sang penulis bersama keluarga disambut dengan salam khas oleh para pramugari. Selangkah demi selangkah, kami mencari barisan kursi sesuai yang tertera di boarding pas.

Waah ini dia, barisan kursi nomor 9! Tembok derita! Yo wis, pakai sabuk pengamannya dulu.

Tak lama setelah sang penulis duduk di kursinya, pintu pun kemudian ditutup.

Hue? Cuma segini penumpangnya? Tidak ada separuhnya. Serasa pesawat pribadi…

Komposisi penumpang yang ada di dalam penerbangan 832 baik yang ada di kelas ekonomi maupun bisnis pada umumnya adalah WNI dan ekspatriat yang akan berbisnis dan yang akan melakukan pengobatan.

Yang mau liburan kayaknya hanya sang penulis dan keluarga. Antimainstream!

Pesawat mulai ditarik mundur, mesin mulai dinyalakan, prosedur keselamatan mulai ditayangkan di layar televisi yang ada di belakang kursi. Perlahan, pesawat mulai bergerak ke landasan pacu.

Indonesia 832, clear for take off…

IMG_4322

(Sang penulis saat berada di dalam penerbangan 832)

IMG_4308

(Pemandangan langit dalam perjalanan menuju Singapura)

Sepanjang perjalanan, sang penulis mencoba untuk mengutak-atik fasilitas AVOD (Audio Video On Demand) yang disediakan dan menikmati keindahan pemandangan langit yang cukup cerah dengan berpindah-pindah kursi karena suasana penerbangan 832 yang cukup sepi.

Kalau nonton di layar tivi-nya, pada akhirnya tetep nonton kartun Tom and Jerry..

Makanan yang ditawarkan pada penerbangan 832 saat itu ada dua pilihan, lontong ayam atau spaghetti daging saus bolognaise. Karena ingin sesuatu yang dapat mengenyangkan, maka sang penulis memilih spaghetti.

Rasanya lucu ya kalau naik maskapai flag carrier tapi makannya bukan makanan khasnya.

Adik sang penulis yang sudah sang penulis pesankan child meal justru tertidur pulas begitu masuk ke dalam kabin. Padahal menu child mealnya menggiurkan lho. Karena adik sang penulis tidur, sang penulis diijinkan oleh orang tua sang penulis untuk memakan makanan penutup yang ada di dalam child meal tersebut.

IMG_4329

(Pemandangan menjelang pesawat mendarat di Bandara Changi)

IMG_4333

(Memastikan mendarat di bandara yang benar, Bandara Changi, Singapura)

Satu jam dua puluh menit sudah kami menempuh penerbangan.

Pukul 17.40 waktu setempat, atau pukul 16.40 WIB, roda pesawat mulai menyentuh landasan.

Akhirnya, tibalah kami di terminal 3 Bandara Changi, Singapura.

Lagu ‘Tanah Airku’ dan berbagai musik daerah yang diaransemen oleh komposer kondang kemudian mengalun melalui speaker.

Maskapai ini kalau sang penulis akui sukses untuk membuat penumpangnya homesick dan selalu teringat akan tanah air. Bagaimana tidak, sebelum memulai penjelajahan di negeri orang, begitu pesawat landing, sudah diputarkan lagu Tanah Airku dan beberapa lagu lainnya.

Begitu sang penulis melangkahkan kaki ke dalam Bandara Changi, seperti saat sang penulis transit sebelum melakukan misi di HK, sang penulis selalu berkata di dalam hati:

”Iki bandara opo kebun ya, akeh wit-witane.” (Ini bandara atau kebun? Banyak tumbuhannya).

Oh ya,  jangan lupa mengambil peta Singapura yang tersedia di rak sesaat sebelum memasuki pemeriksaan imigrasi,

Petanya bener-bener berguna saat jalan-jalan.

imigrasi changi

(Suasana menjelang memasuki pemeriksaan imigrasi di Terminal 3 Bandara Changi)

Pemeriksaan imigrasi di Bandara Changi tanpa basa basi. Petugas mulai langsung men-scan paspor berikut kartu kedatangan dan menginput sejumlah data ke dalam komputer. Sembari menunggu, sang penulis mengambil permen yang disediakan di meja pemeriksaan imigrasi.

Tidak sampai 5 menit, paspor sang penulis akhirnya dicap sebagai tanda resmi masuk ke kota singa.

Selamat datang di Singapura!

(FYI: Masuk ke Singapura, cukup bermodalkan paspor. Masa tinggal maksimal di Singapura bagi WNI adalah 30 hari)

IMG_4340

(Mari ambil bagasi..)

Saatnya sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju hotel yang berada di bilangan Bugis, lebih tepatnya Fragrance Hotel yang beralamatkan di 33 Middle Road.

Memasuki lorong menuju peron stasiun MRT, petualangan di kota singa secara resmi dimulai.

Begitu sampai di peron, awalnya sang penulis akan membeli tiket MRT dengan menggunakan uang tunai, namun urung dilakukan karena mesin tiket hanya dapat menerima tunai maksimal 5 SGD.

Masukin duitnya kegedian sih, 50 SGD…*kemudian hening

Kemudian, sang penulis teringat dengan idenya untuk membeli kartu Singapore Tourist Pass (STP).

Kartu STP memungkinkan kita untuk menggunakan moda transportasi umum tanpa batas selama jangka waktu pemakaian yang telah ditetapkan.

Ternyata, harga kartu STP untuk pemakaian 3 hari sebesar 30 SGD per kartu (sudah termasuk deposit 10 SGD).

Keblondrok ndaa pandaaaa….Weleeeeh, entek 90 SGD. iso nggo mangaan ndes. (Waaaah tekoor iniii, habis 90 SGD, bisa buat makan ini)

Jangan lupa untuk me-refund deposit yang ada di dalam kartu STP maksimal 5 hari setelah pembelian. Lewat dari 5 hari setelah tanggal pembelian, deposit yang ada di dalam kartu STP tidak dapat ditukarkan dan kartu STP  otomatis beralih fungsi menjadi kartu EZ-Link biasa yang bisa di-isi ulang.

Yaa kalau di tanah air anggap saja kartu BCA Flazz, Mandiri e-Money, BRI Brizzi, dll.

Info selengkapnya mengenai STP, cek di sini

Setelah bersusah payah membeli STP karena loket customer officenya jauhnya bukan main dari tempat orang tua dan adik sang penulis menanti, akhirnya kartu STP yang jumlahnya 3 buah bisa digenggam di tangan

Saatnya menempelkan kartu STP pada pintu gerbang masuk peron.

Di Jakarta, lebih tepatnya saat akan menggunakan transjakarta, kita sudah bisa merasakan fasilitas seperti ini dengan kartu e-money yang disediakan oleh 5 bank terkemuka (BCA, Mandiri, BRI, BNI, Bank DKI).

Oh ya, MRT yang berasal dari stasuin Bandara Changi, yang dimana termasuk dalam jalur East West Line, akan berhenti di stasiun Tanah Merah. Maka dari itu, kita harus berganti kereta setibanya di stasiun Tanah Merah. Stasiun Tanah Merah merupakan stasiun untuk berganti MRT –dari arah Bandara Changi–menuju  stasiun akhir Joo Khon (melewati Bugis, City Hall, Raffles Place, Tanjung Pagar, Outram Park, dsb.) atau menuju ke stasuin akhir Pasir Ris.

Cek rute yang dilayani MRT di sini

Awalnya, MRT yang kami tumpangi dari Bandara Changi suasananya tidak begitu ramai, bisa dikatakan sangat sepi. Begitu berganti MRT dengan rute tujuan stasiun akhir Joo Khon, MRT dipenuhi dengan orang kantoran yang akan pulang ke tempat tinggalnya.

Mantap.

suasana_mrt_di_singapura

(Suasana di dalam MRT)

Sepanjang perjalanan, sang penulis iseng melihat suasana di sekitar tempat duduk sang penulis. Ternyata, kebanyakan warga Singapura dalam berkomunikasi menggunakan smartphone Android atau iPhone.

BlackBerry jebul ora payu ning Singapura ndes…(BlackBerry ternyata tidak laku di Singapura…)

Selain itu, sang penulis juga mengamati perbincangan yang dilakukan oleh beberapa warga Singapura. Ada yang menggunakan bahasa Inggris dengan logat Singlish, Mandarin, bahkan sang penulis sayup-sayup mendengar beberapa orang berbincang Boso Jowo.

Koyo nemu sodara sing ilang wae… (Seperti menemukan saudara yang hilang saja…)

Sekitar pukul 8 malam, sampailah kami di stasiun tujuan kami, Stasiun Bugis. Keluar dari Stasiun Bugis awalnya kami sempat bingung karena kami tidak tahu arah untuk menuju ke Middle Road, walaupun sudah memiliki peta yang sudah dicetak di tanah air maupun peta yang baru saja diambil dari Bandara Changi.

Engga tau mana utara mana selatan soalnya. Bagaikan butiran debu yang tak tau arah jalan pulang…

Kemudian, sang bapak pun berkata:

Daripada pusing, mari makan malam, itu ada McD di seberang jalan. 

Langsung saja, sang bapak memesan paket Big Mac dengan kentang dan cocacola untuk kami sekeluarga.

Sang penulis sempat berkelakar:

Wah, rasanya ternyata sama saja ya seperti yang di tanah air *kemudian hening

Setelah benar-benar kenyang dan siap untuk melanjutkan perjalanan, kami pun mulai bertanya mengenai di manakah arah menuju hotel kepada staf McD dan juga warga setempat yang dari penampilannya merupakan warga yang menetap di daerah tersebut.

Semoga saja benar!

Malam kian larut. Langkah demi langkah kami lalui. Sempat terlintas di pikiran kami bahwa kami nyaris tidak akan sampai ke hotel. Benar-benar kehilangan arah. Langkah yang kami tempuh rasanya semakin jauh.

Sekitar 550 meter dari McD tempat kami makan malam tadi, sampailah juga kami di Fragrance Hotel Bugis.

EEE jebul cedak, koyo ning peta. mung gara-gara mubeng-mubeng ora ngerti arah dadi rasane adoh…Sakjane wis bener metu stasiun ning dalan Victoria Road, terus belok kiwa ning Middle Road.

(Ternyata jaraknya dekat, seperti yang tertera di peta. Hanya gara-gara berputar-putar tak tahu arah, rasanya jadi jauh. Sebenarnya sudah benar, keluar stasiun menuju jalan Victoria Road lalu belok kiri ke arah Middle Road)

Saatnya check-in hotel dan….selamat tidur!

Sepertinya, besok menjadi hari yang benar-benar padat….

Selasa, 9 April 2013

Alarm di telepon genggam sang penulis mulai berbunyi.

Lhah iki subuhe kapan…? Wah, untung wae wis ngeprint jadwal sholat dari website Majlis Ulama Islam Singapura.

Di negeri orang tetap harus menjalankan rukun Islam kedua, yaitu Shalat!

Setelah shalat, sang penulis kemudian merasakan sesuatu yang mengganjal.

Rasanya jadi gimana gitu nginep di hotel tanpa jendela. Seperti masih malam hari. Tapi tak mengapa, yang penting bisa buat tidur.

Dalam penjelajahan menelusuri kota singa yang akan dilakukan pada hari ini, sang penulis pun berpakaian benar-benar layaknya turis, mengenakan celana jins pendek dan topi.

Mari saatnya sarapan.

Karena hotel tempat sang penulis beserta keluarga menginap tidak menyediakan fasilitas sarapan, maka kami semua sarapan dengan membeli sejumlah makanan di 7-Eleven yang terletak persis di sebelah hotel tempat kami menginap. Satu hal yang agak lucu, 7-Eleven di singapura ukuran tokonya mini, sangat lebih mini dari 7-eleven yang ada di Jakarta, bahkan lebih mini dari alfamart dan indomaret pada umumya.

Kalau Sevel (sebutan gaul 7-Eleven) di Jakarta bisa buat nongkrong, tempat duduknya banyak, ada fasilitas toilet bahkan ATM, maka jika Sevel di sini benar-benar sebaliknya. Space ruangan di dalam toko habis hanya untuk rak, kulkas, dan segala macam perlengkapan yang digunakan untuk jualan.

Lha sarapannya di mana? Nongkrong di halte bus.

Sang penulis dan keluarga kemudian sarapan sambil menikmati pemandangan pagi hari Middle Road yang sangat sepi. Iya. Sangat sepi untuk ukuran hari kerja, seperti jalanan di pedesaan.

Yaa kalau suasana jalanan pagi hari di Jakarta mah…jangan ditanya ya.

IMG_4351

IMG_4350

(Atas: Sang penulis menikmati sarapannya berupa roti muffin coklat. Bawah: Situasi Middle Road, depan hotel tempat sang penulis beserta keluarga menginap, yang cukup lengang)

Setelah cukup kenyang, mari saatnya memulai agenda liburan pertama di Singapura. Agenda hari ini adalah mengunjungi tempat pariwisata yang menjadi highlight dan tentu saja mainstream di kota singa, seperti Merlion Park, tempat patung Merlion berdiri.

Untuk menuju ke Merlion Park, sang penulis bersama keluarga terlebih dahulu menaiki MRT dari stasiun Bugis menuju stasiun Raffles Place dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Begitu MRT datang, alangkah terkejutnya sang penulis  jika MRT sangat dipenuhi oleh warga yang akan memulai aktivitasnya. MRT bagaikan kaleng sarden!

Wooo yo bener dalane sepi ndes, lha ramene pindah ning MRT. Pemerintahe sangar iso nggawe masyarakate ngganggo transportasi umum.

(Wah, pantas saja jalanan sepi. Ramainya pindah ke MRT. Pemerintah Singapura ngeri bisa membuat warganya untuk menggunakan transportasi umum)

bugis_mrt_station_platform

IMG_4363

(“Sebelum MRT datang, suasana di peron biasa saja, engga begitu ramai [atas]. Saat MRT datang [bawah], wow! Kaleng sarden berjalan,”gumam sang penulis)

IMG-20130409-01045

(Petunjuk mengenai denda dan arahan agar mendahulukan penumpang yang keluar terlebih dahulu dari MRT yang ditempel di tiang di dalam peron. Benar-benar budaya tertib yang implementasinya dijalankan sungguh-sungguh. Ayo, kita pasti bisa!)

Karena suasana di dalam MRT masih penuh sesak, maka sang penulis bersama keluarga sepakat menunggu menunggu MRT yang lain, dengan asumsi semakin lama, semakin agak siang, semakin sepi. Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, ternyata, sama saja, tetap penuh!

Dengan sangat terpaksa dan tentunya agak hati-hati, kami mulai masuk ke dalam MRT. Sesaknya bukan main. Tempat duduk pun sulit didapat.

Tidak ada 10 menit, kami pun akhirnya tiba di stasiun tujuan, Stasiun Raffles Place. Begitu keluar dari dalam MRT, seluruh penumpang yang berhenti di stasiun tersebut langsung berlari dan bergegas keluar stasiun.

Wah iki wong-wong Singapura opo calon atlet olimpiade kabeh yo? Mlakune lhas lhes cepet buanget koyo meh maraton, meh nyaingi Usain Bolt.

(Wah, apakah semua masyarakat Singapura merupakan calon atlet olimpiade ya? Berjalannya cepat, seperti melakukan maraton, seakan-akan menyaingi Usain Bolt-manusia tercepat di dunia).

Keluar dari MRT, saatnya mencari pintu keluar yang mengarah ke Merlion Park. Sebelum keluar dari stasiun, kami mencari kantor customer service terlebih dahulu untuk me-refund STP dikarenakan kami tak memiliki uang tunai yang cukup untuk makan atau sekadar untuk membeli air mineral dan dikhawatirkan kios makanan yang akan kami sambangi tidak menerima credit card.

Lho? Kok pakai kartu kredit? Bia engga repot bawa uang tunai di jalan..

Saat ditanya oleh sang petugas dengan bahasa Melayu mengapa STP-nya ingin di-refund, sang penulis dengan ringan menjawab:

Lumayan, bu…duitnya bisa buat makan…

Seketika petugas customer service tersebut diam seribu bahasa.

Mungkin heran kali ya ada turis yang me-refund STP hanya untuk makan.

Setelah beres dengan urusan me-refund STP, saatnya kami keluar stasiun dan mengarah ke Battery Road.

Melihat ada taman sesaat setelah keluar stasiun, maka kami pun memutuskan untuk istirahat sejenak. Usut punya usut, nama taman yang kami gunakan sebagai tempat istirahat sama seperti nama stasiun tempat kami terakhir turun tadi, Raffles Place.

IMG_4370

(Suasana di Raflles Place Park)

Sang penulis kemudian mengamati keadaan sekeliling. Ternyata, kami berada di tengah-tengah CBD (Central Business District [pusat bisnis])-nya Singapura. Kalau di Jakarta semacam SCBD (Sudirman Central Business District). Tentu saja, banyak perusahaan multinasional yang bermukim di sini.

Wooow………

Tenaga pun mulai terkumpul kembali. Saatnya melanjutkan perjalanan.

Sambil membaca peta, sang penulis  sesaat menoleh ke kiri dan ke kanan. Kemudian…….

Lho, ini udah di depan The Fullerton Hotel, berarti……Wah itu dia, Marina Bay Sands-nya sudah terlihat di seberang. Itu artinya, hampir sampai di Merlion Park!

IMG_4372

(Suasana jalanan di depan One Fullerton, tak jauh dari Merlion Park)

IMG_4376

(The Fullerton Hotel dengan latar belakang pencakar langit di kawasan pusat bisnis Singapura)

Alhamdulillah, wis tekan ning Merlion Park (sudah sampai di Merlion Park).

Setelah penantian panjang, akhirnya impian sang penulis untuk berfoto di Merlion Park, lebih tepatnya di patung Merlion kini dapat tercapai. Mungkin banyak rekan atau bahkan guru sang penulis yang sudah sering ke Merlion, tapi bagi sang penulis, ini merupakan kesempatan yang pertama kali.

Mari saatnya berfoto di Jembatan Esplanade dengan latar belakang gedung Marina Bay Sands sebelum memasuki Merlion Park.

 IMG_4377(Sang penulis berpose dengan latar belakang Marina Bay Sands dan Merlion Park)

IMG_4387

(Boleh dibawa pulang engga ya buat oleh-oleh?)

——————

Seperti yang telah kita ketahui, Merlion merupakan maskot kebanggan Singapura, berbentuk kepala singa dan badannya yang berupa ikan.

Patung Merlion yang berada di Merlion Park ini tingginya sekitar 8,6 meter. Oh ya, patung yang diresmikan oleh PM Lee Kwan Yeuw ini awalnya tidak berada di Merlion Park, namun berada di tepian Singapore River. Sayangnya, bertepatan dengan selesainya Jembatan Esplanade pada tahun 1997, Patung Merlion terhalang oleh jembatan baru tersebut dan sulit untuk dilihat dari Teluk Marina. Maka, pada tahun 2002, Patung Merlion pun dipindah sekitar 120 meter dari tempat asalnya ke Merlion Park yang dapat kita kunjungi saat ini. Di Merlion Park pula ada ‘bayi’ Merlion, patung merlion dengan ukuran mini yang terletak tepat beberapa meter di belakang patung Merlion yang asli.

Badan ikan yang terdapat di Merlion merepresentasikan Singapura yang dulunya dikenal sebagai kampung nelayan saat negara ini masih disebut Temasek. Temasek sendiri berarti kota laut.

Kepala singa yang terdapat di Merlion merepresentasikan nama negara Singapura itu sendiri.

Oh ya, patung merlion sebenarnya tidak hanya terdapat di Merlion Park lho. Kita dapat menjumpai pula patung merlion di Pulau Sentosa. Tinggi patung merlion yang ada di Pulau Sentosa kira-kira 37 meter.

Bentuk Merlion sendiri sering digunakan sebagai cinderamata, salah satunya…..gantungan kunci!

——————

Kini saatnya kami mulai memasuki Merlion Park dengan menuruni anak tangga dari Jembatan Esplade. Saat berada di Merlion Park, sang penulis agak bingung, iya bingung, dikarenakan tak sedikit turis yang berada di Merlion Park meminta bantuan sang penulis untuk diabadikan dirinya dengan kamera milik sang turis tersebut, tak terkecuali turis dari tanah air. Orang tua sang penulis pun juga ikut-ikutan bingung.

Apakah gara-gara sang penulis berjalan menuju patung Merlion sambil mengalungkan kameranya kemudian turis berduyun-duyun meminta bantuan sang penulis? Entahlah..

Lumayan, itung-itung beramal….

Sang penulis tiba-tiba berpikir, satu hal yang pasti, di Merlion Park, turis dari tanah air jumlahnya tak sedikit bahkan mendominasi.

Serasa wisata ke mana gitu…tapi..di sisi lain bersyukur, walau di negeri orang, masih bisa mendengarkan percakapan bahasa negeri sendiri.

Setelah yakin tidak ada turis yang meminta bantuan lagi, maka saatnya sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis untuk melakukan ritual berfoto bersama dengan hati yang lega. Sebelum memulai ritual, sang bapak mengatakan sesuatu:

“Jangan cuma foto suasana di Merlion Park-nya saja, di internet banyak foto seperti begitu, bisa didownload. Yang engga ada di internet itu justru foto kita dengan suasana tersebut.”

Wah tau aja sang bapak jika sang penulis ingin memotret Merlion Park beserta patung Merlion-nya saja.

Kalau di tempat lain boleh ya, pak *pembelaan*

jaket ALSTE 2012 @symphonie2012 mampir merlion

(Sang penulis berpose menggunakan jaket angkatan SMA-nya, ALSTE (Alumni SMA 3 Semarang) 2012 @symphonie2012 dengan latar belakang patung Merlion)

Sesaat, sang penulis ingin meng-share foto ke social media sebagai bukti bahwa sang penulis sedang berkunjung ke Kota Singa. Tetapi, sang penulis baru teringat bahwa semenjak tiba di Bandara Changi, telepon seluler sang penulis tidak dapat digunakan sama sekali. Sinyal pun tidak didapatnya.

Rasanya kayak bawa telepon genggam mainan………Wah, ini namanya liburan betulan, terbebas dari segala macam korespondensi. Mari dinikmati saja, jarang-jarang kayak begini……

Saat melakukan ritual berfoto bersama, sang bapak kemudian berkata

Itu di seberang kayaknya ada kincir raksasa (Kincir raksasa yang dimaksud adalah Singapore Flyer). Yuk, setelah dari  sini kita ke sana…

Kemudian sang penulis menjawab:

Wow, ke kincir raksasa? Boleh…..boleh…. *ekspresi gembira* Maklum, baru pernah naik bianglala di Dufan……

Setelah ritual berfoto bersama dirasa cukup, maka kami pun langsung meluncur ke Singapore Flyer, tentunya dengan melewati Esplanade. Saat kami melewati sisi bagian bawah Jembatan Esplanade, sang penulis melihat ada toko cinderamata dan meminta ijin sejenak untuk membeli oleh-oleh.

Toko cinderamata yang sang penulis sambangi ini cukup unik. Para pramuniaganya mengenakan seragam layaknya seragam pramugari SQ (Singapore Airlines), yang pramugarinya terkenal dengan sebutan Singapore Girls.

Saat sang penulis melihat-lihat barang di toko tersebut, salah seorang pramuniaga berkata:

No bargain, boy…

*dalem hati* Wah ini kayaknya pramuniaganya bisa membaca pikiran kali ya, pengen cari yang murah dan berkualitas….

Tapi….harganya fix… *kemudian lemes*

Karena barang yang dijual harganya tetap dan tidak dapat ditawar, sang penulis hanya membeli kartupos beserta perangko dan beberapa gantungan kunci untuk dikirim ke beberapa rekan sang penulis di tanah air.

Puas berbelanja, saatnya sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis melanjutkan perjalanan. Kami pun melewati Jembatan Anderson, jembatan yang selesai dibangun pada tahun 1910.

(Melewati Jembatan Anderson sesaat setelah membeli cinderamata)

Setelah melewati Jembatan Anderson, kami beristirahat di Queen Elizabeth Walk yang bisa dikatakan pas untuk melepas penat karena sangat sepi dari lalu lalang orang. Sangat berbanding terbalik dengan Merlion Park yang bagaikan lautan turis.

(Queen Elizabeth Walk, tak jauh dari Esplanade)

walking into esplanade

(Kembali menggunakan jaket angkatannya semasa SMA, sang penulis berpose seakan-akan berjalan menuju Esplanade)

IMG_4463

(Marina Bay Sands dilihat dari Queen Elizabeth Walk)

IMG_4447

(Salah satu lampu hias di Taman Esplanade yang berbatasan langsung dengan Queen Elizabeth Walk. “Kalau malem pasti bagus…,”gumam sang penulis).

Adeeem….

Seharusnya di setiap kota di tanah air diperbanyak taman sebagai ruang terbuka hijau seperti di Kota Singa, bukan mal yang malah diperbanyak.

15 menit sudah kami habiskan di Queen Elizabeth Park, tenaga pun mulai pulih, saatnya melanjutkan perjalanan menuju Singapore Flyer.

Wah, bener-bener menjadi turis yang tidak tertekan oleh waktu. Ini salah satu keuntungan berwisata tanpa menggunakan jasa biro travel.

Tapi kok..rasanya jauh bener ya dari Merlion Park?

Engga jauh-jauh juga sih, sekitar 1,5 km….

*kemudian hening*

Tak ketinggalan, kami pun melewati Esplanade yang cukup kondang karena atapnya yang menyerupai buah durian.

IMG_4513

(Atap gedung Esplanade yang menyerupai buah durian)

Sesaat setelah kami melewati Esplanade, sang penulis seketika bingung dan heran dikarenakan ada tribun yang berdiri cukup kokoh.

“Kok ada tribun sebegitu besarnya berdiri kokoh di sini….ini tribun buat nonton teluk ya?”tutur sang penulis.

Tapi, lapangan yang berada tepat di seberang tribun tersebut langsung membuat sang penulis langsung paham. Ternyata, tribun tersebut merupakan bagian dari The Float @ Marina Bay. Namanya saja sudah float, tak heran jika lapangannya mengapung di Teluk Marina (bukan Pantai Marina di kampung halaman sang penulis lho ya). Lapangan ini pernah digunakan dalam upacara pembukaan dan penutupan Summer Youth Olympic tahun 2010.

IMG_4546

(Tribun yang menjadi satu bagian dengan The Float @ Marina Bay, yang sempat membuat sang penulis heran)

IMG_4550

(The Float @ Marina Bay. Ada yang mau bermain sepak bola di stadion ini? Kayaknya asyik nih….)

Tak jauh dari The Float @ Marina Bay, terdapat Youth Olympic Park, taman seni pertama yang ada di Kota Singa. Taman yang memiliki luas 0,4 hektar ini dibuka pada tahun 2010, bertepatan pula dengan Summer Youth Olympic.

youth olympic park

(Suatu sudut di Youth Olympic Park yang menampilkan hasil karya seni dari anak muda setempat berusia 8-18 tahun. Tentu saja, hasil karya seni tersebut diseleksi terlebih dahulu sebelum dapat ditampilkan di taman ini. Total kurang lebih 27 karya yang ditampilkan)

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 waktu setempat.

Setelah melakukan perjalanan sekitar 1 jam lamanya dengan berjalan kaki dari Merlion Park (waktu tempuhnya sudah termasuk membeli oleh-oleh dan beristirahat di Queen Elizabeth Walk), maka akhirnya kami tiba di Singapore Flyer.Singapore Flyer (black and white)

(Singapore Flyer)

——————

Saatnya sang penulis menceritakan sedikit mengenai Singapore flyer.

Singapore Flyer dibangun di  lahan seluas 33,700m2  dan dibuka secara resmi pada 15 April 2008.

Terdapat 28 kapsul pada kincir wahana Singapore Flyer. Setiap kapsulnya dapat menampung maksimal 28 orang. Tentu saja, setiap kapsulnya sudah ber-AC…ndak usah kipas-kipas. Ukuran kapsulnya sendiri sekitar 4×7 meter.

Kok jumlah kapsul sama jumlah penumpang di setiap kapsul serba 28 ya?

Ternyata, ini sudah dihitung secara feng shui…biar bejo gituu..

Bukan bejo karena minum salah satu produk jamu herbal yang sering muncul di televisi lho ya.

Jika dilihat dengan seksama, kapsul yang terdapat di kincir wahana Singapore Flyer bisa dikatakan exo-capsule, kapsulnya tertempel di luar kincirnya. Jadi saat kapsul berada di posisi puncak, kita dapat menikmati pemandangan tanpa ada halangan oleh kapsul yang lain.

Kalau Bianglala Dufan itu jenisnya endo-capsule, kapsulnya masih menggantung di dalam kincirnya.

Tinggi kincirnya sendiri sekitar 165 m dengan diameter 150m.

Satu putaran durasinya kurang lebih 30 menit, dengan kecepatan 0,24m/s.

Bahkan, salah satu kapsulnya bisa digunakan untuk restoran. Pastinya pake booking dulu ya.

Ada paket dining buat dua orang, harganya 269 SGD..kalo berminat silakan..

Berdua buat siapa ya? *uhuk* *keselek air* *kemudian hening*

Harga tiket masuknya? 33 SGD / orang (dewasa). Anak usia 0-3 tahun masih free~

Jam penjualan tiket Singapore Flyer mulai pukul 8 pagi hingga 10 malam setiap harinya.

Info lebih lanjut mengenai Singapore Flyer dapat diklik di sini

——————

Setelah urusan membeli tiket beres, kami pun menaiki eskalator menuju lantai 2.

Ternyata, di Singapore Flyer tidak hanya ‘jualan’ wahana semata tetapi juga terdapat beberapa kios yang dapat kita sambangi seperti gerai makanan, refleksi ikan, bioskop 4 dimensi, simulator pesawat, hingga penyewaan Ferrari untuk dibawa keliling kota.

Sebelum dapat menikmati wahana, para pengunjung harus melewati pemeriksaan x-ray layaknya di bandara. Oh ya, makanan dan minuman tidak dapat dibawa masuk ke dalam wahana.

Lolos pemeriksaan x-ray, pengunjung disuguhi oleh atraksi Journey of Dreams, sebuah atraksi multimedia di mana pengunjung dapat mengetahui seluk beluk Singapura dan tentu saja Singapore Flyer itu sendiri.

IMG_4580

(Maket Singapore Flyer dengan skala 1 : 500)

IMG_4582

IMG_4585

IMG_4588

IMG_4591

(Beberapa snapshot saat berada di dalam  Journey of Dreams)

Puas dengan suguhan Journey of Dreams, para pengunjung kini mau tidak mau melewati sebuah studio foto yang hasil jepretannya sebenarnya tidak harus dibeli. Namun, jika ingin membeli hasil jepretan studio foto tersebut, siapkan kocek kurang lebih sekitar 60 SGD / 5 foto (hard copy). Selain kita mendapatkan hard copy foto tersebut, kita juga akan mendapatkan sebuah kode unik yang nantinya hasil jepretan tersebut juga dapat didownload di rumah.

Itu fotonya ngapain, Ndan?

Awalnya sih berpose dengan background biru layaknya di studio tivi tetapi nanti hasil jepretan tersebut diedit dan backgroundnya akan berubah menjadi gambar Singapore Flyer dengan angle yang berbeda. Itung-itung sebagai bukti kalau sudah pernah ke Singapore Flyer.

Setelah melewati studio foto, kini saatnya bagi kami mengantri untuk mendapatkan giliran masuk ke dalam kapsul. Namun, sebelum mengantri, bagi yang membawa stroller (kereta bayi) wajib dititipkan pada petugas dan nantinya dapat diambil pada saat berada di toko cinderamata yang merupakan akses keluar setelah turun menikmati wahana.

Antrian pada siang itu bisa dibilang sangat sedikit, mungkin karena masih hari kerja. Tak berapa lama, tibalah giliran kami untuk memasuki kapsul.

Saat akan memasuki kapsul, kita dituntut untuk berhati-hati karena kincir tetap bergerak walaupun dengan kecepatan yang sangat pelan ( berbeda dengan Bianglala Ancol, jika ada pengunjung yang akan naik atau turun dari kapsul maka kincir berhenti sama sekali). Jangan takut, ada petugas yang akan membantu untuk mengarahkan kita masuk ke dalam kapsul dengan lancar.

Ternyata, selain membantu mengarahkan pengunjung untuk masuk ke dalam kapsul dengan lancar, petugas tersebut juga bertugas untuk membuka pintu kapsul karena pintu kapsul tidak dapat dibuka dari dalam. Nah lo. Safety paling utama!

IMG_4594

(Diambil dari platform tempat sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis mengantri menanti giliran masuk ke dalam kapsul. Terlihat salah satu kapsul yang telah dikonfigurasi menjadi restoran)

Bismillahirrahmanirrahim…..mugo-mugo selamet… (semoga selamat).

Hap!

Sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis kini berada di dalam kapsul.

Wah, ada AC-nya, adeeeem *ndeso*

Di dalam kapsul, ternyata selain rombongan sang penulis juga terdapat sepasang kekasih yang berasal dari benua Eropa.

Karena pasangan kekasih tersebut benar-benar hanya berdua, maka otomatis….meminta bantuan sang penulis untuk mengabadikan foto dengan kamera mereka…

Wah mau dong jalan2 berdua ke negeri orang bersama kekasih sambil memadu asmara *duh* *tersedak air minum* *kemudian hening*

Tak ketinggalan, sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis juga mengabadikan diri saat kapsul mulai menuju ketinggian puncak.

IMG_4613

(Sang penulis saat berada di dalam salah satu kapsul kincir wahana Singapore Flyer)

IMG_4646

(Indonesia mana Indonesia..? Batam mana batam…?)

Saat kapsul berada di puncak, kita dapat menikmati pemandangan Singapura. Konon, kita dapat melihat pula Pulau Batam!

Mungkin karena pada saat sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis berada di dalam kapsul, cuaca saat itu mendung dan tidak dapat menyaksikan dengan jelas tanah air, khususnya Pulau Batam.

 

(Pemandangan pusat Kota Singapura terlihat dari Singapore Flyer)

Subhanallah, jebul apik tenan yo pemandangane (Ternyata bagus sekali ya pemandangannya).

Tak terasa, kapsul yang telah membawa sang penulis bersama orang tua dan adik untuk menikmati pemandangan Singapura dari ketinggian 165 meter kembali ke asalnya. Di saat yang bersamaan, perut sudah mulai memberontak. Benar saja, ini sudah memasuki jam makan siang.
Saatnya mencari makan siang!

Namun, saat keluar dari platform kapsul Singapore Flyer, kami tidak langsung keluar begitu saja melainkan masuk ke jebakan betmen. Layaknya di beberapa tempat wisata yang terkenal, pintu keluar dari sebuah wahana ataupun venue juga merupakan toko cinderamata.

Tanpa berpikir panjang, kami pun langsung membeli beberapa cinderamata untuk sanak saudara dan juga membeli foto yang sudah dijepret saat melewati studio foto setelah memasuki Journey of Dreams.

“Iya juga ya, besok kan pulang, takutnya engga sempet beli cinderamata…..Walau harganya fix, yang penting bisa memberikan buah tangan untuk sanak saudara…,”batin sang penulis.

Setelah mendapatkan cinderamata, kini saatnya mencari makan siang. Di dalam kawasan Singapore Flyer cukup banyak rumah makan yang tersedia. Dari sekian banyak rumah makan yang tersedia di Singapore Flyer, rumah makan  yang bersertifikasi halal hanyalah Popeyes.

dah-dah ndakpapa, makan junkfood (lagi ) ya.

Tak berapa lama, perut pun sudah penuh

Saatnya bergerak lagi.

Awalnya, setelah makan siang, kami berencana untuk meluncur ke Universal Studios Singapore (USS). Tiba-tiba, kami teringat ada salah satu hal yang harus kami cicipi mumpung masih berada di kota singa, megingat besok sudah pulang ke tanah air. Apa itu? Mencoba berjalan-jalan dengan bus atap terbuka dengan rute yang cukup mainstream:

Esplanade ->  Chinatown ->  Clarke Quay ->Orchard Road-> Little India

Ini merupakan salah satu cara di tengah keterbatasan waktu untuk berjalan-jalan melihat pemandangan Singapura dengan cepat (meski tidak semua tempat disinggahi). Harga tiketnya 27 SGD untuk sekali jalan. Salah satu operator bus yang melayani perjalanan wisata ini adalah Original Tour Duck & Hippo.

Saat masuk ke dalam bus, alangkah kagetnya sang penulis jika seluruh penumpang yang berada di dalam bus kebanyakan berasal dari Eropa. Mungkin dari Asia, hanya sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis yang menjadi penumpang di bus pada siang itu.

Mari saatnya mengkeksplor kota singa!

IMG_4697

(Suasana di dalam bus atap terbuka Original Tour saat akan melewati Esplanade)

IMG_4706

(Pemandangan gedung di daerah Raffles Place)

IMG_4709

(Lau Pa Sat / Pasar Telok Ayer, sebuah pusat jajajan yang cukup terkenal dengan kerangka besinya yang bergaya Victorian dan menara jamnya yang menjulang di atas)

IMG_4712

(Sebuah tempat parkir, rapi ya….)

IMG_4713

IMG_4714

IMG_4718

IMG_4720(beberapa snaphot saat melewati Jalan South Bridge)

IMG_4731

(Penampakan kantor Kementerian Budaya, Komunitas, dan Kepemudaan serta Kementerian Komunikasi dan Informasi)

IMG_4741

(Ini dia! Sistem Electronic Road Pricing (ERP) yang sangat tersohor. Pengguna jalan yang melewati jalan tertentu yang terdapat sistem ERP di jam tertentu akan dikenakan biaya sesuai jenis kendaraan. ERP merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemacetan di kota singa. Info selengkapnya, klik di sini)

IMG_4747

(Sang penulis saat menikmati bus atap terbuka, benar-benar turis)

IMG_4748

(Mengingat ukuran wilayahnya yang kecil, pemukiman vertikal (flat) menjadi salah satu solusi pemukiman di kota singa)

IMG_4764

(Mal ion Orchard, salah satu mal yang cukup terkenal di Jalan Orchard)

IMG_4770

(Suasana saat bus atap terbuka saat melewati Jalan Orchard)

IMG_4776

(Penampakan gerbang masuk Istana Kepresidenan Singapura yang sekaligus sebagai kantor PM Singapura )

IMG_4779

(Muda-mudi Singapura yang sedang menantre untuk menonton sebuah film Holywood)

IMG_4798(Fountains of Wealth di kawasan Mal Suntec City. Sayangnya, Fountains of Wealth sedang direnovasi saat sang penulis melewati air mancur yang masuk dalam rekor dunia versi Guinness Book of Records tahun 1998 tersebut)

Saat bus melewati Fountains of Wealth, tiba-tiba hujan langsung mengguyur dengan derasnya.

Wah, baru pertama kali kehujanan di negeri orang.

Karena cuaca yang sangat tidak mendukung, bus kemudian langsung melaju dengan kencang untuk sampai kembali ke Singapore Flyer.

Tanpa berpikir panjang, sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis langsung turun dari atap dan menuju ke kabin bus tertutup. Saat turun melalui tangga, bus tiba-tiba berbelok dan tangan sang penulis menghantam tembok cukup keras. Hal ini diperparah dengan aliran air yang meluncur sangat deras di tiap pijakan tangga.

Seperti melakukan outbound, tapi di dalam bus.

10 menit kemudian, bus yang kami tumpangi akhirnya tiba di Singapore Flyer. Hujan pun masih turun dengan derasnya. Sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis tertahan di dalam bus untuk beberapa menit sebelum memutuskan untuk lari tunggang langgang menuju ke dalam Singapore Flyer.

IMG_4799(Suasana di parkir bus di Singapore Flyer. Hujan masih turun dengan derasnya)

Ternyata, hujan juga memaksa Singapore Flyer untuk menghentikan sementara operasional kincirnya. Yang masih beroperasi hanyalah tenant-tenant yang ada di Singapore Flyer

Berhubung  cuaca masih belum bersahabat, maka agenda mengunjungi USS terpaksa diganti dengan berkunjung ke Night Safari.

Night Safari di Cisarua aja belum pernah…

Lha ning USS-e? Sesuk isuk sakdurunge mulih (Terus, ke USSnya? Besok pagi sebelumnya pulang)

Tiket Night Safari sebenarnya berkisar 35 SGD per orang. Mungkin, karena memesan melalui jasa tur dan berangkat bersama dengan rombongan lain yang sudah mendaftar paket wisata ke Night Safari di jasa tur, total untuk 3 orang dewasa menjadi 150 SGD.

IMG-20130409-01049

(Sang penulis berfoto dengan settingan ala penjaga kebun binatang di depan jasa tur. Admit it!)

Setelah beres dengan urusan tiket dan karena waktu keberangkatan masih pukul 6 sore, saatnya kami mencari kudapan hangat. Kami pun memesan beberapa hot chocolate dan teh tarik di sebuah foodcourt.

IMG_4818

(Sembari menunggu pesanan minuman datang, sang penulis mencoba memberikan pakan ikan di kolam ikan yang letaknya persis di bawah kincir Singapore Flyer. Harga pakan ikannya 1 SGD untuk satu genggaman)

Tidak lupa, kami juga mampir ke Sevel untuk mencari air mineral dan cemilan. Pilihan kami tertuju pada salah satu merek air mineral yang sangat kondang di tanah air.

Saat sang penulis membayar dan menerima kembalian, sang penulis diberikan cokelat berbentuk koin dalam jumlah yang cukup lumayan oleh sang kasir. Coklatnya ternyata untuk adik sang penulis.

Waaah makasiiih bapaknya kasiiir

Pukul 17.00, kami pun kembali ke biro tur. Rombongan yang akan menuju ke Singapore Night Safari Zoo siap untuk diberangkatkan Lagi-lagi, anggota rombongan yang akan berwisata malam kebanyakan warga Eropa. Yang dari Asia, hanyalah sang penulis

Setelah persiapan lengkap, 30 menit kemudian, kami mulai meluncur ke Singapore Zoo

Sang pemandu mulai menceritakan secara singkat apa saja hewan dan fasilitas yang terdapat di Singapore Zoo dan apa yang harus dilakukan selama di kebun binatang malam tersebut. Sesekali, sang pemandu menyelipkan pengetahuan singkat mengenai aktivitas masyarakat sehari-hari di Kota Singa.

Di perjalanan, sang penulis melihat bangunan yang cukup megah yang sedang dalam proses pembangunan. Ternyata itu adalah stadion baru kebanggaan masyarakat Kota Singa yang biaya pembuatannya mencapai 14,8 Trilyun Rupiah!

IMG_4826

(Nantinya, stadion megah ini akan menjadi venue dalam pesta olahraga SEA Games 2015)

IMG_4840

(Pemandangannya hampir sama seperti di ibu kota tanah air. Sami mawon!)

Penasaran dengan Night Safari Zoo? Berikut sang penulis berikan penjelasan singkat mengenai kebun binatang malam ini.

————–

Singapore Night Safari Zoo beralamatkan di 80 Mandai Lake Road. Untuk mencapai ke kebun binatang malam ini dapat menggunakan MRT, bus umum, atau jika tidak ingin repot dapat menggunakan biro tur seperti yang sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis gunakan.

Singapore Night Safari Zoo yang dibuka pada 26 Mei 1994 ini ternyata merupakan kebun binatang malam pertama di dunia.

Singapore Night Safari Zoo dikelola oleh suatu badan yang bernama Wildlife Reserves Singapore. Bada ini juga mengelola Jurong Bird Park, River Safari, dan Singapore Zoo.

Kompleks Night Safari Zoo juga tergabung menjadi satu dengan Singapore Zoo dan River Safari.

Kebun binatang malam ini memiliki luas sekitar 35 hektar dan memiliki koleksi hewan sekitar 2500 hewan yang merepresentasikan 130 spesies.

Singapore Night Safari Zoo buka mulai pukul setengah 8 malam dan tutup pada pukul 12 malam.

Konsep yang ditawarkan oleh Singapore Night Safari Zoo ini adalah menjelajahi  7 zona geografi, yang dapat dijangkau baik dengan berjalan kaki melalui jalan setapak maupun dengan tram yang sudah disediakan.

Info selengkapnya mengenai Singapore Night Safari Zoo dapat dilihat di sini.

————–

IMG_4950(Pintu masuk Singapore Night Safari Zoo)

Singkat cerita, sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis beserta rombongan tiba di Singapore Night Safari Zoo. Sebelum memasuki kawasan kebun binatang malam, seluruh anggota rombongan dikumpulkan untuk mendapatkan tiket masuk. Setelah mendapat tiket masuk, seluruh anggota rombongan mulai masuk ke area kebun binatang malam. Masuknya pun seperti di Dufan, tangannya diberi stempel dan kami pun langsung naik tram yang sudah tersedia di stasiun tram.

Oh iya, mengingat tempat ini merupakan kebun binatang malam, maka untuk urusan jepret-menjepret tidak diperkenankan menggunakan lampu blitz dan kecerahan layar di semua gadget diminimalkan.

  IMG_4853(Sang penulis setibanya di kebun binatang malam)

IMG_4862(Suasana di dalam tram)

Selama berada di tram, para anggota rombongan disuguhi berbagai macam hewan. Sebut saja singa

Tetapi, karena sang penulis belum jago dalam urusan foto di malam hari, maka foto dokumentasi saat di kebun binatang malam nyaris tidak ada. Kalaupun ada, hasilnya blur.

Mohon maaf yaa…

Puas dengan melihat hewan yang kebanyakan sudah ngantuk, rombongan kini bergerak menuju pusat pertunjukan utama, bola-bola api.

Berhubung sang penulis beserta orang tua dan adik sang penulis sudah lelah karena berwisata seharian penuh, maka kami memutuskan untuk membeli camilan sembari menunggu panggilan dari tour leader untuk kembali ke bus

Saat menuju parkiran bus, sang penulis hanya bergumam…

Lain kali kayaknya aku harus belajar mengambil foto di malam hari. Selama di kebun binatang, blur semua foto-fotonya….

Ada insiden kecil saat sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis akan kembali ke hotel. Rombongan dari tanah air yang tidak diketahui berasal dari mana tiba-tiba saja meninggalkan bus dan memilih menggunakan taksi untuk kembali ke hotel. Ternyata, mereka sudah tidak sabar dengan tour leader yang masih mencari sisa rombongan untuk kembali ke bus.

Bapak sang penulis dengan santai berkata

“Sudah biarin aja. Toh nanti juga tour leadernya bakalan ke bus. Busnya aja masih nyala.”

Benar juga, kalau sang penulis pikir, mana mungkin sang penulis nyetir bus sendiri, apalagi di negeri orang dan tidak mempunyai SIM khusus bus.

Tak berselang lama, tour leader pun kembali ke bus bersama sisa anggota rombongan yang berasal dari Eropa dan kemudian langsung menanyakan ke sang penulis ke mana perginya rombongan dari tanah air itu.

They’re already back to their hotel by taxi, maam.

Raut wajah tour leader pun seketika langsung bingung bukan kepalang.

Pesan: ojo ngisin-ngisini tanah air ning negorone wong yo. Malah nggawe wong bingung kuwi rak apik.

Sepanjang perjalanan, tour leader dan sang supir bus bercakap-cakap dengan bahasa mandarin. Kalau sang penulis tangkap secara kasar, mereka kurang lebih sepertinya membahas mengenai perginya turis dari tanah air yang menggunakan taksi.

Akhirnya, kami pun tiba di hotel.

Sesampainya di hotel, sang penulis tidak langsung tidur melainkan packing karena besok siang sudah harus kembali ke tanah air dan menyempatkan diri untuk menulis kartu pos yang akan dikirimkan ke rekan-rekan sang penulis di beberapa kota di tanah air.

Coba ya kalau udah punya pasangan, nulis kartu pos rasanya mungkin jadi lebih gimanaa gitu… #eaa *kemudian hening*

Jam 12 waktu kota singa, sang penulis mulai pergi ke pulau kapuk.

Sleep well!

Rabu, 10 April 2013

Hari ini, seperti kemarin, membeli sarapan di Sevel.

Namun, ada yang berbeda… Jika kemarin lauknya adalah roti, maka pagi ini adalah pizza. Selain itu, hari ini merupakan hari terakhir kami di kota singa.

Mumpung ini masih pagi, saatnya menikmati udara pagi di kota singa sebelum pulang ke tanah air.

Seperti yang sudah direncanakan kemarin, venue terakhir sebelum menuju ke bandara Changi adalah Universal Studios Singapore (USS).

Daripada jauh-jauh ke Jepang atau ke Amerika, setidaknya bisa mencicipi Universal Studios di kota singa.

——————

Untuk menuju ke USS, lebih tepatnya di Pulau Sentosa, kami menggunakan moda transportasi MRT dengan stasiun akhir Harbour Front dan langsung menuju ke Mal VivoCity

Di lantai 3 di Mal Vivo City inilah terdapat akses ke Pulau Sentosa dengan menggunakan monorail yang dinamakan Sentosa Express.

Tiket masuk pulau sentosa saat ini 4 SGD. Dapat dibayar dengan cash, kartu kredit, dan juga dapat menggunakan kartu ezlink.

IMG-20130410-01053

(Loket pembelian tiket masuk Pulau Sentosa yang terletak di lantai 3 VivoCity)

IMG-20130410-01051(suasana di luar monorail beberapa saat sebelum memasuki kawasan Resorts World Sentosa)

Kereta pertama dari Sentosa Station / VivoCity (stasiun pertama) menuju ke stasiun akhir Beach Station, dan dari Beach Station menuju ke Sentosa Station sama-sama berangkat pukul 7 pagi dan kereta terakhir berangkat pukul 12 malam.

Stasiun yang dilalui Sentosa Express sebagai berikut:

Sentosa Station (VivoCity) <-> Waterfront Station (bagi yang akan ke USS turun di stasiun ini) <-> Imbiah Station <-> Beach Station

IMG_4959(papan petunjuk rute Sentosa Express di Waterfront Station)

Informasi selengkapnya bisa pembaca buka di sini

——————

Berikut sekilas mengenai USS:

Universal Studios Singapore terletak di dalam kawasan Resorts World Sentosa yang berada di Pulau Sentosa. Taman hiburan yang dibuka secara resmi pada 28 Mei 2011 ini merupakan Universal Studios kedua di Asia (Universal Studio pertama di Asia ada di Osaka, Jepang).

Jam operasional mulai jam 10 pagi hinggal pukul 7 malam. Di hari tertentu bisa hingga pukul 8 malam.

Harga Tiket masuk jenis one day pass untuk satu orang dewasa (umur 13-59) adalah 74 SGD. Anak-anak umur 4-12 54SGD. Lansia di atas 60 tahun 36 SGD.

Di dalam USS, terdapat 7 zona yaitu Hollywood, New York, Sci-Fi City, Ancient Egypt, The Lost World, Far Far Away, dan Madagascar.

Oh iya, untuk urusan makanan halal, pihal USS telah menyediakan restoran makanan halal. Kita cukup mencari restoran yang berlogo halal seperti Restoran Mel’s Drive In, Friar’s, Goldilocks, Oasis Spice Café, dan Marty’s Casa Del Wild.

Info selanjutnya mengenai USS dapat diklik di sini

——————

Sebenarnya, sang penulis sudah puluhan kali melihat foto rekan-rekan sang penulis berpose di depan bola dunia-nya Universal. Sudah sangat mainstream. Kini giliran sang penulis untuk mencoba mainstream.

IMG_4977(Sang Penulis berpose di depan bola dunia Universal)

  IMG_4988(pintu masuk USS. Datang ke USS kepagian, gerbangnya masih belum buka)

IMG_4991(sembari menunggu dibuka, sang penulis diberikan peta dan panduan selama berada di dalam USS)

IMG_5001

(Kung Fu Panda yang mengibur anak-anak sembari menunggu gerbang masuk dibuka)

IMG_5025

(Misi mas, mobilnya kosong….)

Berikut beberapa foto suasana di dalam USS:

IMG_5026

IMG_5028

IMG_5031

IMG_5033

IMG_5034

IMG_5063

IMG_5080

Sayangnya, sang penulis tidak berniat mencoba untuk menaiki salah satu wahana di USS. Satu-satunya wahana yang dikunjungi adalah komidi putar dan itu pun hanya menemani adik sang penulis untuk menaiki komidi putar tersebut.

Ceritanya mau nyenyengin adek aja di sini hehe

——————

Hari sudah semakin siang, kini saatnya kami kembali ke hotel untuk berkemas dan langsung meluncur ke Bandara Changi untuk mengejar penerbangan pulang ke ibukota.

Sang resepsionis langsung menelepon taksi untuk membawa sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju Bandara Changi. Operator taksi yang dipesan adalah Taksi Comfort (semacam burung biru kalau di tanah air).

Kata sang resepsionis, range biaya taksi dari hotel menuju bandara sekitar SGD 25.

Tak berapa lama, taksi pun sudah siap di depan hotel. Sang supir dengan sigap membantu sang penulis memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi. Sang supir tersebut berbicara dengan logat Singlish yang cukup kental

“Tak apa laah…”

Masuk ke dalam taksi, sang supir langsung menanyakan tujuan.

“Where are we going?”

“To airport please, terminal 3”

Sang supir langsung menyalakan argo dan men-set rute tercepat di dalam GPS-nya.

Engga kerasa, cepet banget jalan-jalan di kota singa sudah harus berakhir.

Saat taksi melewati jalan ber-ERP, entah mengapa alat untuk menunjukkan tarif ERP yang harus dibayar penumpang hanya menunjukkan SGD 0 hingga kami tiba di bandara.

Ini lewat jalan ber-ERP kan? Kok engga bayar ERP-nya? Gapapa deh…malah lumayan engga bayar ERP.

IMG_5086(Suasana jalanan dalam perjalanan menuju bandara)

IMG_5092      (Terminal 3 Bandara Changi Singapura)

 Tiba di terminal 3, kami cukup membayar sekitar SGD 18 saja. Setelah semua barang bawaan dikeluarkan dari bagasi, sang penulis langsung menutup kap bagasi dan saat itu pula sang supir langsung memberikan salam selamat tinggal dari kursi kemudinya.

Kayak di pilem-pilem

IMG_5095(Suasana di Terminal 3 keberangkatan Bandara Changi Singapura)

Langsung saja sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju meja check-in.

Check-in berlangsung mulus. Tapi…tunggu dulu. Ada yang mengganjal.

Sang penulis melihat boarding passnya kembali.

“Waaah….dapet kursinya nomor 12 ABC. Ini kursinya ada jendela tapi engga bisa dimundurin. Pas di belakang jendela darurat”

Kekecewaan sang penulis langsung terobati begitu sang penulis melewati pemeriksaan imigrasi. Terminal 3 Bandara Changi kalau boleh sang penulis akui, cocok untuk nongkrong dalam waktu lama. Serasa di mall.

Bahkan ada kolam ikannya. Segeerr…

Sembari menunggu waktu masuk pesawat, sang penulis bersantai sejenak sesekali mampir ke beberapa toko untuk membeli cokelat dan cinderamata.

IMG_5104(Suasana di salah satu sudut di dalam Terminal 3 Bandara Changi)

IMG_5108(Sang penulis minum air mineral sembari melihat pemandangan luar)

IMG_5109(Mencoba bernostalgia. Foto yang dipegang sang penulis adalah foto saat sang penulis bersama tim sedang transit dan akan menuju ke Hong Kong).

Waktu masuk pesawat semakin dekat. Saatnya sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju gate yang sudah ditentukan. Awalnya sang penulis mengira jika penerbangan kembali ke ibukota ini nantinya akan sepi seperti pada saat berangkat ke kota singa. Namun, dugaan sang penulis salah besar. Penerbangan yang membawa sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menuju ke ibu kota justru penuh! Penuhnya bukan disebabkan oleh orang yang telah melakukan wisata/bisnis/berobat di negeri singa, melainkan para rombongan jamaah umroh!

Ha? Kok umroh bisa nyasar di kota singa?

Usut punya usut, penerbangan rombongan jamaah umroh tersebut tidak langsung ke tanah air. Itinerary mereka adalah dari tanah suci menggunakan Saudia kemudian berganti pesawat dengan maskapai plat merah ini di kota singa.

Oooo…mungkin ada promo…

IMG_5111(Gate yang sudah ditentukan untuk penerbangan kembali ke ibukota)

Waktu masuk pesawat pun telah tiba. Sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis masuk lebih awal untuk menghindari antrian yang sangat mengular.

Penerbangan sore itu cukup syahdu. Di tengah penerbangan dapat melihat sunset namun tidak sempat terfoto karena sang penulis duduk di gang dan cuaca saat itu cukup mendung.

—————-

Tidak terasa… pesawat berjenis Boeing 737-800 yang membawa sang penulis bersama orang tua dan adik sang penulis menyentuh landasan Cengkareng.

“Bapak dan Ibu yang terhormat, kita baru saja mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, selamat datang di Jakarta dan selamat datang kembali di tanah air….”

Waaah kembali ke realitaa. Selamat datang maceeeeeet………..

Apa yang di dapat setelah berwisata di negeri singa cukup lumayan, terutama soal ketertiban dan kedisiplinan masyarakat kota singa yang wajib kita tiru.

Pulang dari kota singa jadi lebih sering naik angkutan umum….

Cerita dari kota singa pun berakhir di sebuah rumah makan bakso di sebuah rest area di jalan tol menuju rumah.

—————-

Semoga bisa berkesempatan ke kota singa lagi…

IMG_5120(Suasana jalan tol bandara dalam perjalanan pulang menuju rumah)