Capek
Capek
Capek
Udah hampir 2 minggu masuk sekolah, capeknya luar biasa hebat.
Rasanya butuh liburan
LIBURAN
LAGI!
Wis tugase akeh, beban dadi ketua kelas ya rak sitik
Tetapi, tiba-tiba ada angin sejuk yang mampir ke benak sang penulis. Apa itu?
Mumpung ada saudara sang penulis, Satrio Adi, yang sedang liburan sebelum memulai studi S2-nya, sang penulis nimbrung libur bersama ke Karimunjawa selama 3 hari 2 malam dari tanggal 23 -25 Juli 2010 (tanggalnya sama persis saat sang penulis menuju ke Dieng). Bersama temannya yang berasal dari Singapura, Ng Weixin, rasanya liburan ,eh salah, membolos kali ini terasa ramai.
Walau Weixin berasal dari Singapura, tetapi dia cukup mahir berbahasa Indonesia dan terkadang masih terlihat logat mandarinnya. Tetapi, agar si Weixin mudeng apa yang kami bicarakan, kami tetap berbicara dengan bahasa Inggris
Sang penulis berangkat dari rumah pukul 7.30, dan itu tepat pada jam pelajaran ke-2, saat rekan-rekan sang penulis masih disibukkan dengan KBM, lebih tepatnya masih disibukkan dengan Fisika.
Sebelum menuju ke Karimunjawa, kami mampir sejenak di beberapa destinasi. Diantaranya adalah Klenteng Sam Po Kong, Museum Jamu Nyonya Meneer, Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, dan Pantai Bandengan Jepara.
(Beberapa sudut di Klenteng Sam Po Kong. Foto 3: Rekan saudara sang penulis, Ng Weixin, sedang bersembayang)
(Suasana di dalam Masjid Agung Demak sebelum sholat Jumat)
(Sholat Jumat di Masijid Menara Kudus)
(Makan siang di Soto Kudus Bu Jatmi di Jl. Wahid Hasyim)
O iya saya juga lupa kalau kami akan berangkat ke Karimunjawa pada esok hari menggunakan KMP Muria dari Jepara. Karena itulah kami menginap semalam di Jepara. Sebelum ke tempat penginapan, kami mampir ke rumah teman saudara sang penulis yang berdomisili di sini, mbak Fauziah & mas Margo namanya. Mereka pun yang nantinya akan menemani kami selama di Karimunjawa.
Sekalian sholat ashar sama istirahat
Setelah puas istirahat, kami mencoba mampir ke salah satu destinasi yang menarik di Jepara, Pantai Bandengan. Pantai ini terkenal akan pasir putihnya. Kebetulan karena sang penulis mampir pada malam Sabtu, suasana di pantai agak sepi.
Sayangnya, akses menuju ke pantai ini terlalu berkelok-kelok dan banyak ditemukan jalanan yang berlubang. Ya tak apalah.
Berikut adalah snapshotnya yang diambil dengan menggunakan Canon EOS Rebel T1i, atau di Indonesia kita kenal dengan EOS 500D (pada akhirnya seminggu kemudian sang penulis membeli kamera ini).
(mengamati batu karang. Bahkan, ada CD dan bungkus makanan yang masih kemampul di air lho)
(Sang penulis mengabadikan pemandangan dengan Handycam Sony DCR SX-40E)
Kalau yang ini, sang penulis yang memotret sendiri
(melihat-lihat pemandangan)
(menikmati udara laut)
(sunset di Pantai Bandengan)
Enak juga menikmati keindahan pantai ini, daripada menikmati pantai Marina, ehem. Sembari melihat sunset, kami pun mencicipi jajan pasar yang dibawa Mas Margo dan Mbak Fauziah.
Sedaaaap….
(Ini lho yang namanya Mbak Fauziah (tengah), dan Mas Margo (kanan)
Setelah puas menikmati keindahan alam yang diberikan Sang Khalik, apalagi pas dengan waktu shalat Maghrib, dengan ‘terpaksa’ kami meninggalkan Pantai Bandengan.
Sebelum kembali ke penginapan, Mas Margo & Mbak Fauziah menunjukkan tempat makan yang bisa diibaratkan sebagai kawasan kaki lima di Simpang Lima Semarang, namun kalau di Jepara lebih tertata rapi.
(Nasi uduk ala Jakarta yang disajikan ala sego kucing)
Ada satu hal yang membuat saya ngekek-guling-guling. Saat Mas Iok, panggilan akrab saudara sang penulis, memesan serabi. Pikiran kami ya kalau serabi kan kering dikukus atau apa. Ternyata, setelah serabi disajikan, serabi tersebut disajikan layaknya es campur.
(Baru tahu kalau ada serabi yang disajikan seperti es campur).
Kuahnya? Sepertinya terbuat dari campuran gula jawa dan coklat. Jika dilihat dari serabinya, sepertinya serabinya dibakar dulu baru kemudian dimasukkan ke dalam kuah.
Rasanya? Sama enaknya dengan serabi kering, walau agak sedikit eneg.
Puas dengan semua sajian makanan yang dihidangkan, saatnya pulang ke penginapan. Penginapan kami terletak di kawasan Pantai Kartini. Sebenarnya penginapannya lebih cocok dibilang home stay.
Tarifnya cukup murah, sekitar 85 ribu per malam. Itu kalau yang kamar ber-ac
Karena masih ingin melek, kami menonton TV. Program yang disetel sungguh…’menyenangkan’. Upin dan Ipin
Wong Indonesia kok bangga nonton Upin dan Ipin, nonton kartun dalam negeri piye? wkwkw
Tapi kan Upin dan Ipin juga merefleksikan budaya dan perilaku yang ada di bangsa kita. Hehe
——————————





















