(Trans Semarang ketika melintas di Jalan Pemuda)
“Lho, Ndan, kok naik BRT?,”tanya salah seorang rekan saya. Ya. Pertanyaan barusan itu diajukan oleh salah seorang rekan saya yang bernama Darian Verdy. Ia pun merasa terheran-heran mengapa si Ghamdan (sang penulis) tumben-tumbennya naik BRT (karena biasanya sang penulis tidak biasa naik angkutan umum, selalu diantarjemput).
Anda, pembaca yang budiman, bagi yang belum tahu apa itu BRT, ini ada sekilas info
BRT merupakan singkatan dari Bus Rapid Transit,biasa disebut busway. Transportasi massal ini berwujud bus. Di Indonesia, BRT awalnya ada di Jakarta yang kita kenal dengan transjakarta. Gaya pengoperasiannya pada umumnya (menurut yang saya baca) hampir mirip dengan TransMilenio di Bogota, Kolombia (tapi itu pun masih ketinggalan jaaauuuh). Selain transjakarta, ada juga trans Jogja, dan Trans Semarang. Di kuthane dhewe, Trans Semarang merupakan proyek yang digadang-gadang untuk mengurangi kemacetan (nyatanya sama saja). Perkenalan (uji coba) penggunaan BRT dilakukan pada saat hari jadi Kota Semarang, 2 Mei lalu. Animo masyarakat pun tinggi (karena baru uji coba maka tidak dipungut biaya). Uji coba ini pun juga mendapat demo dari supir angkot. Uji coba ini dilakukan selama dua hari. Selanjutnya, sampai kira-kira 4 bulan lamanya, masyarakat terus menunggu kapan BRT digunakan secara resmi. Setelah infrastruktur, SDM, dan peralatannya siap, maka BRT pun dijalankan. Mulai 18 September, Trans Semarang beroperasi penuh. Rute yang dilayani baru Mangkang-Penggaron pp. Terkadang, supir BRT susah ngepaske pintu bis dengan shelter. Jika nggak pas, maka lewatnya dari pintu biasa.
Kembali ke cerita, selepas pulang sekolah karena sang penulis tidak dijemput seperti biasanya maka diputuskan untuk pulang naik Trans Semarang. Aneh juga ya orang Semarang kok baru naik Trans Semarang berbulan-bulan lamanya setelah diresmikan. Karena haltenya ada di SMA 5, samping rumah kedua sang penulis, maka saya pun jalan sebentar ke halte. Wah, untung, itu masih ada bus yang ngetem. Kucepatkan langkahku agar dapat dan sempat naik BRT. Saya tanya jurusannya: “Ke Penggaron, mas.” . Tarifnya pun murah. Untuk jarak jauh dekat, pelajar dikenakan biaya 2000 rupiah, sedangkan umum sebesar 3500. Tarif BRT ini jika kita lihat memang menyaingi tarif angkot Daihatsu, yang hanya dipatok 2000 rupiah bagi umum, dan bus pada jarak jauh umumnya berkisar di atas 5000 rupiah.
(Harga tiket yang menyaingi angkot)
Saya pun masuk sambil berhati-hati dalam berlangkah. Di dalam bus ternyata juga banyak orang yang naik. Tempat duduk pun tak dapat, ya sudah berdiri saja. Tiba-tiba, salah seorang rekan saya, Verdy nyeletuk seperti yang di awal tulisan ini tadi. Bus pun mulai berjalan. Wow..wow…saya pun tergoyang dan hampir jatuh. Langsung saya pegang gagang yang tersedia di atas. Suasana di dalam BRT pun nyaman. Ada AC-nya. Penumpang pun disuguhi musik dari sebuah stasiun radio swasta. Selama perjalanan, saya pun berbincang-bincang dengan Verdy dan Retno-sensei.
(kemudi BRT)
Namanya saja BRT, di setiap halte / shelter pastinya berhenti. Ada yang menarik saat BRT berhenti di halte Pandanaran 1 (depan PermataBank). Karena BRT-nya nggak ngepas sama haltenya, maka sang kondektur menyuruh penumpang tersebut untuk lewat pintu biasa. Dalam hati saya tertawa, baru pertama kali naik BRT sudah ada kejadian unik seperti ini.
Perjalanan dan tentu saja perbincangan pun dilanjutkan. Kami pun berbincang-bincang mengenai kuisoner yang diberikan baru saja oleh salah seorang dosen dari sebuah universitas di Jepang. Isinya mengenai kesadaran untuk berkarir di masa depan. Tak terasa, BRT sudah sampai di depan Hotel Ciputra. Ini artinya saya untuk mengakhiri perjalan dengan BRT dan dilanjutkan naik angkot Daihatsu (karena redaksi CSG tidak dilalui oleh BRT)
. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
Link terkait mengenai Trans Semarang:

