Tradisi Makan-Makan

(Saat acara makan-makan hampir selesai)

Tradisi di rumah kedua sang penulis saat SMP setelah upacara bendera memperingati HUT RI adalah makan-makan. Menunya tergantung kesepakatan satu kelas. Setiap kelas tentunya beda menu tapi tentunya dalam bentuk dus. Setiap kelas juga harus mengirimkan 5 dus untuk bakti sosial. Daleman dus (maksudnya lauknya) ada yang berupa nasi kuning, nasi bakar, nasi uduk, dsb.

(Sang penulis menikmati makanan)

Kelas sang penulis memilih nasi uduk. Kalau lauknya makde (baca : McD) itu sudah biasa dan dapat dibeli kapan saja (istilahnya nggak ada maknanya). Betul juga, ya. Setelah berdoa bersama, teman-temanku makan dengan lahap. Mungkin saja ada yang belum sarapan sehingga ada yang dusnya sampai kosong melompong. Makna dari tradisi ini adalah kita mensyukuri atas kemerdekaan bangsa ini. Sayang, sang wali kelas (Bu Rochaeti) tidak ikut makan bersama kami. Ini juga termasuk makan-makan saat 17-an yang terakhir di Espero (sebutan SMPN 2 Semarang) mengingat tahun ajaran 2008 / 2009 adalah tahun terakhir saya hidup di Espero.

Satu pemikiran pada “Tradisi Makan-Makan

  1. lah… kok nasi udug?

    nasi aking aja…

    itung-itung ikut prihatin sama orang2 di papua sono…

    btw blog tetapnya yang mana nih? blogspot apa wordpress?

    mau gw tambain ke blogroll gw…

    btw lam kenal ya…

    anak SMP2 semarang? sblah mana sih tuh SMP? pasti ga terkenal nih…

    hahahahahaha j/k

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s