Malam Minggu Ekspedisi Lawang Sewu


(Lawang Sewu di siang hari, [19/10/2009])


Judulnya nggak salah tulis kok. Bagi Anda yang belum mengetahui apa itu Lawang Sewu ini saya berikan sekilas infonya. Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Semarang yang terletak di seberang Monumen Tugu Muda dan terkenal akan banyaknya pintu di bangunan ini.. Bahkan, hingga kini, belum ada informasi resmi mengenai jumlah pintu yang pasti. Setiap ada orang yang menghitung jumlah pintu, hasilnya akan berbeda satu dengan yang lainnya. Itulah sebabnya bangunan ini disebut Lawang Sewu. Selain itu, bangunan milik PJKA ini terkenal akan keangkerannya. Walau saat pemerintahan kolonial Belanda digunakan untuk kantor kereta api,  konon, di Lawang Sewulah pembantaian para pribumi terjadi selama masa penjajahan Jepang.

Oke, kita beralih ke pokok cerita. Saya bersama teman-teman 9A Rockstar setelah acara berbuka puasa (sekaligus reuni)  saat puasa Ramadhan 1430H yang lalu,  berencana menjelajahi Lawang Sewu. Saya pun dengan senang hati menyanggupi karena saya sudah tidak mengunjungi Lawang Sewu selama 6 tahun. Jujur saja, menjelajahi  Lawang Sewu di malam hari baru kali ini saya lakoni.


(Sang penulis [tengah berkacamata] bersama teman-teman Rockstar saat buka puasa bersama)


Dengan mengendarai sepeda motor dari Waroeng Steak di bilangan Imam Bonjol (belakang rumah kedua sang penulis) menuju Lawang Sewu hanya membutuhkan waktu kurang lebih hanya 3 menit. Sang penulis karena tidak punya kendaraan sendiri (baca: sepeda motor)  terpaksa nebeng.  Otomatis, karena tidak punya sepeda motor, sang penulis tidak mempunyai helm. Alhasil, sang penulis meminjam topi kepada Acong. Untung tidak ada polisi sepanjang jalan.

Akhirnya, sampai juga ke lokasi “penjelajahan”.  Dalam benak saya, Lawang Sewu itu hanya ramai pada musim liburan saja. Ternyata eh ternyata, malam minggu pun juga ramai bak pasar malam. Simpang Lima pun kalah. Selain Lawang Sewu, Monumen Tugu Muda yang ada di seberang Lawang Sewu juga dibilang sangat ramai. Kebanyakan orang-orang (terutama muda-mudi) memanfaatkan waktunya untuk narsis dan nongkrong. Sebelum kami memasuki Lawang Sewu, kami menyempatkan diri untuk berfoto ria.

(Foto-foto dulu sebelum masuk)


Karena Agra sudah janjian dengan pacarnya untuk mengikuti “ekspedisi” ini, maka Agra dengan motornya lari tunggang langgang untuk menjemputnya di sekitar Java Mall. Tak terasa 45 menit telah berlalu. Sebagian dari kami dengan tanda kutip kesal dan berinisiatif melakukan ekspedisi  tanpa Agra. Akhirnya orang yang kami tunggu-tunggu dan yang dirasani datang juga.

Karena masuk Lawang Sewu juga ada HTM-nya (biaya untuk membayar guidenya), maka kami urunan masing-masing 5000 rupiah. Sebelum masuk, saya sempat mendengar cerita (bisa dikatakan mitos) dari salah satu teman saya bahwa jika seseorang yang sedang datang bulan tidak diperkenankan memasuki Lawang Sewu. Beberapa dari kami (tentuntya yang kedatangan si bulan) sempat takut (pada akhirnya mitos tersebut tidak terbukti!). Pukul 20.00 tepat, kami memulai ekspedisi kami.

Guide kami pun menyarankan untuk bergandengan tangan agar tidak kesasar. Begitu masuk ke Lawang Sewu, terlihat perlengkapan tukang. Ya. Karena Lawang Sewu dalam tahap pemugaran dan rencananya akan dijadikan kantor PJKA yang semula berlokasi di Jl. MH Thamrin. Sayang, kami pun tidak dapat melewati bagian Lawang Sewu yang ada kaca mozaiknya yang indah.

(Salah satu sudut di lawang sewu)



(Salah satu ruangan yang tampak “belum” terawat)


PIC_0852

(Romongan selalu stay close agar tidak kesasar)


Kini, guide mulai memberikan pemahaman kami tentang beberapa ruangan dan sudut yang ada di sekitar . Dari sini terlihat agak jelas Tugu Muda (walau hanya pucuknya). Ekspedisi dilanjutkan kembali. Dengan berbekal 2 senter, kami masih merasa takut. Pencahayaan senter tampaknya kurang cukup untuk menemani kami. Bahkan, sang penulis pun juga merasa agak takut. Beberapa dari kami memegang tas sang penulis agar tak kesasar.

PIC_0854

(Sang guide saat sedang menjelaskan sesuatu)


Saat kami melewati sebuah gedung yang luasnya agak sempit dan besar, kami mencoba bertanya apakah itu.  “Itu merupakan gedung WC”. Ya, orang-orang Belanda dulu membangun sebuah bangunan dan WC-nya itu pasti dipisah agar tidak terkesan jorok. Kini, kami mulai putar-putar. Melewati banyak anak tangga. Perasaan bingung dan agak takut pun muncul

“Tunggu, jalannya jangan diseret.”

“Lho, kenapa?”

“Bleduknya itu lho kemana-mana”.

PIC_0855

PIC_0856

(Banyak sekali tangga yang harus kami lalui)


Akhirnya, kami sampai di lantai 3 atau lantai teratas. Kami diajak ke sebuah ruangan. Di sini terdapat fondasi atap yang terbuat dari besi yang terkena peluru saat Pertempuran 5 Hari.

“Coba kalian lihat, di situ ada darah.”

“Mana…?”

“Itu”

“HAAA…AAAAAAAA”

“Tenang, itu darah bo’ongan kok. Itu bekas syuting dulu-dulu. “

Memang, Lawang Sewu sering dijadikan para sineas sebagai setting dalam film mereka. Film yang bersettingkan di Lawang Sewu antara lain Merah Putih, KCB,  dan AAC. Setelah itu, kami pun diajak ke atap pemandangan. Betul. Kami dapat melihat Tugu Muda sangat jelas dan indah. Seketika itu juga, kami menyempatkan untuk berfoto ria.

PIC_0866

(Sang penulis [2 dari kiri] berfoto bersama sebagian teman-teman dengan latar belakan Tugu Muda)


Setelah puas foto-foto, kami diajak ke sebuah ruangan yang sangat besar.

“Dulu, pas jaman Belanda digunakan untuk acara makan-makan. Tapi, di saat Jepang digunakan sebagai kamar pembantaian atau kasarnya disebut kamar penyembelihan.”

Wow. Karena tak ingin lama-lama, selain agak takut juga pengap, maka kami langsung turun. Turunnya dengan tangga yang unik. Gude menyebutnya “tangga titanic”. Tangga semacam ini saya pernah lihat di film Indiana Jones jilid 3 saat Indiana di perpustakaan di Italia.

PIC_0869

(“Tangga titanic” yang tampak karatan)


Ekspedisi dilanjutkan menuju ke sebuah lorong. Tetapi di tengah ekspedisi, guide berkata “Itu kamu bisa lihat Carrefour dengan jelas. Tuh ada orang bawa trolinya.”  Mungkin di Indonesia, tepatnya di Semarang, kita bisa menjumpai Carrefour di sebelah bangunan cagar budaya. Akhirnya kami sampai di lorong tersebut. Lorong ini namanya aku lupa. Tetapi ini bagian lorong yang sangat angker di sini, katanya.

“Coba yang bawa rokok nyalakan rokoknya. Saya akan mempertunjukkan sulap.”

Seketika yang bawa rokok memberikan satu puntung rokok sekaligus korek api kepada guide. Rokok pun dinyalakan.

“Lihat apa yang terjadi. Rokoknya tiba-tiba terhisap dengan sendirinya.”

“Ini, coba kamu rasakan.”

Ragil pun penasaran dan mencobanya. Di tengah-tengah, Ragil batuk-batuk. Apa ini. Ini tadi kan rasa mentol, lalu “diubah” menjadi rokok kretek tanpa filter. Ooo…Ada penunggunya tho...Ya udah, rokoknya diiklaskan aja, ditaruh di sini. Ekspedisi pun dilanjutkan.

PIC_0870

(Lorong yang sempat menimbulkan tanda tanya besar)


Tak lengkap rasanya bila ke Lawang Sewu tidak berkeliling ruang bawah tanahnya. Karena sang penulis ada alasan tertentu yang kuat, maka dengan terpaksa  ia tidak ikut ekspedisi ke bawah tanah. Nineteen dan Vina pun mengikuti jejak sang penulis. Bagi yang mengkuti ekspedisi ke bawah tanah, semua barang bawaan dititipkan dan diwajibkan memakai sepatu but yang telah dipersiapkan. Senternya pun lebih besar. Saatnya bagi mereka untuk ekspedisi. Sembari saya menunggu mereka, saya berbincang-bincang sedikit dengan guidenya. Dia mengatakan:

Lawang Sewu itu menyaingi simpang lima sejak kurang lebih setahun yang lalu. Mungkin karena bosan dengan simpang lima, maka mencari obyek wisata yang menghibur. Tugu muda pun sama. Sehingga di sini (Lawang Sewu dan Tugu Muda) seperti pasar malam pindah

Guide yang namanya saya lupa ini telah melakukan pekerjaannya sebagai guide baru 4 bulan, sebelumnya ia menjadi pengarah parkir di sebuah warnet di dekat rumah kedua penulis saat SMP.

15 menit sudah ekspedisi di ruang bawah tanah berakhir. Kesan mereka yang melakukan ekspedisi di bawah tanah: GELAP dan PENGAP!.  Saat itu juga kami mengakhiri seluruh ekspedisi kami selama 1,5 jam di Lawang Sewu. Kami pun mengucapkan terima kasih kepada guidenya yang setia memandu kami hingga akhir ekspedisi. Jika PJKA bekerjasama dengan Pemkot melalui dinas terkait untuk memperhatikan betul potensi Lawang Sewu dan acara ekspedisi semacam ini dijadikan program wisata, pasti banyak pelancong yang akan datang dan tertarik untuk mencobanya.

3 pemikiran pada “Malam Minggu Ekspedisi Lawang Sewu

  1. Ping balik: Si Ghamdan Mulih Kampung « Catatan Si Ghamdan

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s