Liburan Bersama menuju Semirang

(Air Terjun Semirang)

Liburan 2 minggu. Ah, enaknya. (Kurang) cukup untuk me-refresh pikiran.  Dalam liburan kali ini, pada tanggal 23 Desember 2009, sang penulis berkesempatan untuk menjelajahi air terjun Semirang (bukan Semarang) yang berjarak sekitar 5 km dari Ungaran, Kabupaten Semarang. Tentunya, sang penulis tidak sendirian. Sang penulis ditemani oleh rekan-rekan sang penulis dari kelas X-Olimpiade.

Sebelumnya, kami sudah sepakat untuk kumpul terlebih dahulu di rumah kedua (baca:sekolah) pada pukul 7.00  WIB. Saat di rumah kedua, masih sedikit yang hadir. Sambil menunggu yang lain datang, beberapa dari kami berbincang-bincang. Topik yang dibicarakan (sedang hangat) tidak lain adalah LHB semester 1 yang dibagikan Sabtu lalu sembari sang penulis mendokumentasi kegiatan liburan ini. Di tengah pembicaraan, ada kabar yang cukup mengagetkan. Verdy ternyata mempunyai hubungan saudara dengan SSM Putri. Wow. Ini tidak kami duga sebelumnya. Mereka berdua mengetahui setelah bapaknya si Verdy dan bapaknya si Siti mengambil LHB semester 1. Mereka pun kaget karena ternyata anak mereka sekolah di sini (dan satu kelas).

Karena ada beberapa dari kami yang ingin menambah bekal dan sambil menunggu yang lain hadir (baca: mengurangi kebosanan), kami langsung menuju ke kantin. Di kantin hanya 2 dari 8 toko yang buka. Itupun seperti aras-arasen (males).

Setelah beberapa menit kemudian, lebih tepatnya satu jam kemudian, seluruh anggota rombongan telah hadir. Untuk urusan transport, diserahkan kepada Lisa, Mahardika (Slim), dan Yasinia. Semuanya sudah siap kecuali si Mahardika karena mobilnya dan si Mahardika sendiri belum kunjung datang. Ratri dan Siti pun merasa was-was.

Tidak mungkin kan anak 17 masuk mobil 2. Apalagi mobilnya itu APV dan Aerio”.

Bela yang saat itu datang di sekolah yang nantinya akan mengikuti latihan Paskibar, mencoba membantu dengan menelepon Slim. Slim pun sedang dalam perjalanan (bahasa kerennya on the way). Dengan sangat terpaksa, Verdy, Yaris, dan Sangaji untuk tetap di tempat hingga mobilnya Slim datang. Sang penulis mau tak mau harus naik mobilnya si Lisa.

Pukul 08.10, rombongan putri ditambah sang penulis dengan mobilnya Yasin dan Lisa akhirnya berangkat. Verdy, Yaris, dan Sangaji masih tetap menunggu. Sang penulis satu kloter dengan Lisa, Tia, Yani, dan Dyan. Selama perjalanan, mereka (yang duduk di belakang) membicarakan gosip dan berita yang sedang ‘memanas’. Tentu saja, karena ini urusan anak putri, sang penulis yang mendengarkan pun geleng-geleng. Lagu yang dibawakan Vierra pun terus mengalun dari tape walaupun sudah bolak-balik ganti side A dan B,

Di tengah perjalanan, Lisa menanyakan sesuatu kepada sang penulis:

“Ndan, kamu sudah pernah pergi ke Ungaran?” (pertanyaan yang saya rasa tak perlu jawaban)

Sering malahan, jika hari Minggu terkadang jalan-jalan sambil beli tahu bakso (makanan khas Ungaran)”tandas sang penulis.

Kemudian, rekan saya yang orangtuanya bekerja sebagai dokter ini mengatakan: “Tapi, lucu ya. Jika orang Semarang liburannya pergi ke Ungaran, maka sebaliknya orang Ungaran liburannya ke Semarang.”

Dalam benak sang penulis berpikir, mungkin orang Semarang bosan dengan daily activity dan kesemrawutan sehingga ingin mencari sesuatu yang dapat menyegarkan dan ingin pergi ke alam terbuka. Sebaliknya, orang Ungaran ingin mencari sesuatu yang baru di kota metropolitan.

Akhirnya, tak lama kemudian, pada pukul 08.55, rombongan putri dan sang penulis tiba di rumah Nisa (panggilan akrab Yasin). Sambil beristirahat, rombongan putri menyantap roti yang disuguhkan sang tuan rumah sambil menonton televisi. Tak lama kemudian, karena penasaran, beberapa dari anggota rombongan putri termasuk sang penulismelongok kamar sang tuan rumah. Kamar si Nisa cukup rapi dan bersih.

(Beristirahat sejenak sambil menikmati kudapan dan menonton televisi)

Di setiap kamar di rumah ini ada karpetnya,”tandas Nisa.

Tiba-tiba kloter terakhir mengabarkan kepada kami  bahwa mereka sudah sampai tujuan.

HA? Cepat sekali nyampenya? Kukira mereka tak tahu arah…

Pukul 9.54, acara singgah di rumah Nisa selesai dan rombongan putri dan sang penulis langsung lari tunggang-langgang menunju air terjun Semirang. Perlu Anda ketahui, jalan menuju air terjun ini bisa dibilang masih bolong-bolong. Sepanjang perjalanan, kami pun disuguhi pemandangan alam yang indah dan pemukiman penduduk sekitar.

(Akses jalan menuju Semirang yang masih belum terawat dan melewati pemukiman penduduk)

10 menit kemudian, kami pun sampai dengan penuh keheranan. Kloter terakhir sudah sampai dengan cepat. Tapi, ada sesuatu yang sangat membuat kami kaget selain hal yang tadi.

Kok di sini ada kuburan? Kuburannya siapa?”

“Saya pun juga tak tahu” (baca: belum bertanya kepada warga sekitar)

Karena mobil tidak dapat memasuki area wanawisata ini, maka kami pun berjalan kaki. Tibalah kami sampai di loket masuk. Harga tiket masuknya pun cukup murah, hanya 5000 rupiah/orang.

(Harga tiket yang cukup terjangkau).

Karena akses menuju air terjun yang sesungguhnya dengan cara berjalan kaki (seperti hiking), sebelum memulai kegiatan itu kami pun meminta kepada petugas jaga untuk mengambil gambar kami.

(Sang Penulis [depan, kaos putih berkacamata] bersama beberapa rekannya sebelum memulai penjelajahan)

Pukul 10.15, penjelajahan pun dimulai. Lagi-lagi, tas ransel menjadi andalan dalam ekspedisi. Bahkan, kami pun juga membawa alas tikar yang nantinya digunakan untuk menaruh ransel kami. Akses jalan setapak menuju air terjun masih berupa tanah (tidak seperti di Grojogan Sewu: pake tangga) dan menanjak. Baru berjalan sekitar 10 menit, sang penulis pun sudah capek duluan. Medan yang kami lalui bisa dibilang cukup menantang, di sebelah kiri kami adalah jurang. Wah..wah…Benar-benar perjalanan yang memacu adrenalin. Karena ini musim hujan, jalan setapak ini cukup licin. Terkadang, seorang dari kami terpeleset hampir masuk jurang. Masya Allah.

Karena pastinya kami butuh istirahat setelah menempuh medan yang cukup menantang,beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah tempat ‘transit’. Ternyata, di sini terdapat WC-nya.

“Wah, suara air terjunnya sudah terdengar…”

“Tapi kok belumkeliatan ya. Masih jauh dong.”

Sambil istirahat, kami pun memakan bekal dengan lahap, seperti orang yang tersesat di negeri-antah-berantah selama satu minggu. Tisu pun kami gunakan (atau bahkan ditempel) untuk meresap keringat kami yang sangat banyak.  Di kawasan wisata ini, udaranya terbilang cukup fresh. Pepohonan pun bisa dikatakan masih ‘perawan’. Sayang, tempat ini pun ternyata tak luput dari vandalisme. Bebatuan dicorat-coret oleh tak-tahu-siapa. Sampah pun berserakan. Maka,dengan kesadaran sendiri, kami menampung sampah dengan kresek dan dimasukkan ke tas sampai nanti selesai acara dibuang di tempatnya.

(Lingkungan yang asri, seperti masih terjaga dengan baik)


(Melewati aliran sungai, walau kecil harus berhati-hati)

Setelah dirasa energi sudah kembali terisi, penjelajahan dilanjutkan kembali. Kami pun juga melewati aliran sungai. Walau tidak besar, jika terpeleset bisa berakibat fatal. Kami berusaha berhati-hati karena kami  membawa electronic devices. Lalu, jalan yang harus kami tempuh setelah ini sepertinya adalah puncak dari penjelajahan. Mengapa? Karena jalan yang kami lalui setelah ini merupakan jalan yang sangat menanjak. Tak sedikit dari kami yang napasnya tersengal-sengal. Sangaji pun menyeletuk:

“Wis dandan ayu-ayu, sobone menyang alas (Sudah dandan cantik-cantik, malah pergi keliling hutan-Red).” Jika saya perhatikan memang betul, banyak diantara rekan-rekan saya yang memakai kostum dan sepatu yang salah.

(Jalan yang sangat menanjak)

Hampir satu seperempat jam lamanya kami mendaki dengan jarak kurang lebih 2 kilometer (apa betul?), penantian panjang kami pun terbayar lunas.

“HOREEEEEEEEEEE, ALHAMDULILLAH. UDAH NYAMPE AIR TERJUN.”

“MASYA ALLAH.”

Langsung saja, beberapa rekan saya mengambil kamera dan bernarsis ria, tak terkecuali sang penulis. Karena Sangaji kakinya kram, maka ia beristirahat sejenak sambil menikmati dinginnya air. Si Gatya pun tak mau ketinggalan. Sepertinya dia ingin kembali ke masa kecil dengan bermain air hingga bajunya basah kuyup. Ada juga beberapa dari kami yang singgah di kios-kios penjual makanan. Kiosnya ada 5, umumnya menjual panganan yang hangat, seperti gorengan, mi, dan tentu saja teh hangat. Para pemilik kios adalah mereka yang tinggal di sekitar Air Terjun Semirang. Karena kami datangnya saat hari kerja (hari Rabu), tidak heran jika pengunjung air terjun ini sedikit.

(Kios dengan beragam makanan )

Lalu, di sela-sela foto, sang penulis beserta Yaris dan Gatya dijadikan kelinci percobaan oleh rekan-rekan sang penulis untuk berfoto layaknya cover novel New Moon yang terkenal itu

(Sang penulis [tengah] berpose layaknya pemain di film New Moon)

Karena cuaca tidak memungkinkan lagi untuk tinggal berlama-lama, kami pun memutuskan untuk pulang dan makan siang terlebih dahulu.

“Kapan-kapan lagi ya.”

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s