Catatan Si Ghamdan Goes to Dieng

(Sang penulis bersama beberapa rekannya berpose di Telaga Warna, Dieng, Kab. Wonosobo)

L I B U R   B E R S A M A (LAGI). Oh yeah.

Huehehehe *tertawa bahagia

Libur 3 minggu tak lengkap jika tak ada libur bersama rekan-rekan sang penulis

Kali ini, libur bersama yang dialami sang penulis bukan di Jogja, bukan di Semirang, melainkan di Kawasan Dieng dan Gedong Songo.

2 hari sebelum libur bersama, lebih tepatnya saat acara anjangsana di rumah sang penulis, rekan-rekan saya berencana untuk melaksanakan liburan bersama kembali. Tetapi karena keterbatasan transpor dan dana maka hanya 8 dari 17 peserta anjangsana yang bersedia mengikuti liburan ini. Dengan menggunakan mobil dari sang penulis dan akomodasi ditempatkan di rumah neneknya Irham, rasanya liburan ini sangat hemat (saking hematnya makan siang di rumah buliknya Irham dan hanya jajan saat pulang menuju Semarang)

Suatu kehormatan bagi kalian untuk tinggal di rumah neneknya Adi (panggilan akrab Irham di lingkungan keluarganya)

tutur bapaknya Irham.

(Sehari sebelum berangkat, Irham, Ratri, dan Siti datang ke rumah sang penulis untuk menyusun schedule saat hari H)

23 Juni 2010

HARI KEBERANGKATAN

Pukul  08.00, anggota rombongan berkumpul di rumah sang penulis, kecuali Reza Rachman dan Yasinia yang nantinya akan dijemput di tempat yang telah dtentukan. Sebelum berangkat, saatnya berdoa.

Oh iya, saya lupa siapa yang ikut dalam ekspedisi kali ini. Mereka adalah Irham, Mahardika (Slim), Sangaji, Reza ‘Bun’, Ratri, Siti, dan Yasinia.

Saatnya berangkat. Tetapi, si Bun dan Yasin minta mereka agar dijemput di tempat yang telah ditentukan. Si Bun ingin agar dijemput di rumahnya di bilangan Setiabudi, sedangkan si Nisa minta dijemput di pom bensin dekat pertigaan menuju ke Bandungan.

Sesampainya di rumahnya Bun, kesan pertama ketika saya datang ke rumanya adalah: Rumahnya sepi, kayak nggak ada orangnya. Cuma ada mobil Honda Freed.

Akhirnya, Bun pun keluar

Tetapi

Ada yang aneh.

Apa?

Adiknya terus mengikuti si Bun sampai ke mobil sang penulis

(Bun dan adiknya)

“Ini adiknya ngintil (mengikuti) terus, nggak mau ditinggal sama kakaknya”, tutur salah seorang famili si Bun

Karena kasihan sama adiknya, Bun meminta kepada sang penulis agar adiknya diplesirkan keliling satu kompleks.

Biar adiknya nggak nangis paling -,-

Akhirnya perjalanan dilanjutkan. Oh iya, ada yang terlupakan. Apa? Oleh-oleh.

“Di dekat Watugong kan ada yang jualan ubi bakar Cilembu, mampir di situ terlebih dahulu.” tutur Irham. Rencananya oleh-oleh ini diperuntukkan untuk nenek dan buliknya.

Setelah membeli oleh-oleh ternyata kami masih mempunyai satu tugas lagi sebelum menuju ke destinasi yang pertama, menjemput Yasinia.

Karena perjalanan menuju rumah buliknya Irham melewati Bandungan, maka kami tak ada salahnya berpikir untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata yang ada di sekitar Bandungan

Kini saatnya untuk menuju ke destinasi yang pertama

Sidomukti atau Gedong Songo?

Sidomukti jalannya masih rusak, tur ya lumayan mahal

Akhirnya mayoritas memilih Gedong Songo

Tak lama kemudian, kami pun sampai di destinasi pertama kami

GEDONG SONGO

(Gedong Songo, Kabupaten Semarang)

Candi ini merupakan peninggalan pada masa Hindu. Nama “Gedong Songo” berasal dari bahasa Jawa “Gedong” yang berarti bangunan dan “Songo” yang berarti sembilan.  Sudah dapat dibayangkan kan, berarti ada 9 candi. Tetapi, yang masih utuh tinggal 5 buah.  Candi ini terletak 1200 m di atas permukaan dan berjarak sekitar 45km dari Semarang.

Harga tiketnya selama liburan cukup murah lho, 6000 per orang. Kecuali jika Anda adalah seorang WNA, 25.000 per orang. Hmmm…..

Di dalam area Gedong Songo, banyak orang yang menjajakan makanan & minuman hingga persewaan kuda.  Bahkan ada yang menawarkan jasa charge HP, 200o rupiah sekali charge.

(Sang penulis [jaket hijau] bersama rekan-rekannya sebelum memasuki kompleks Gedong Songo)

Oh, iya jalan menuju satu candi ke candi yang lain memang agak menanjak. Jadi, disarankan jika ingin berkunjung ke Gedong Songo harus dalam kondisi yang fit.

Apalagi, beberapa lama kemudian sang penulis merasakan pusing, mungkin dikarenakan penurunan tekanan udara di kompleks ini.

Ada yang menarik nih, di Gedong Songo anda bisa melihat pemandangan yang sangat fresh berupa jajaran pohon pinus dan pegunungan

Seperti biasa, tak lengkap jika tidak berfoto-foto ria

(Melompat & melayang. Ada tekniknya bagi pemilik Nokia N Series di sini)


(Sang penulis & Bun di pohon Pinus -_-  )


(di balik rerumputan)


(di balik batu)

Karena kami sudah kelelahan dan hanya sanggup mengunjungi hingga candi ke-3 apalagi waktu udah mepet, langsung saja kami meluncur ke rumah buliknya Irham untuk makan siang. Perjalanan memakan waktu kira-kira 1,5 jam

(Sang penulis [2 dari kiri] di depan rumah buliknya Irham)

Akhirnya sekitar pukul 13.40, kami sampai di rumah buliknya Irham. Alhamdulillah, udah disiapin makan siang.

(Atas: istirahat sambil bermain PS, bawah: makan siang)

Setelah beristirahat sejenak dan shalat ashar, saatnya kami meluncur ke rumah neneknya Irham, rumah sementara saat kami di Temanggung. Perjalanan memakan waktu 30 menit dari rumah buliknya Irham. Sepanjang perjalanan, rombongan disuguhi pemandangan berupa sawah.

Akhirnya tiba juga di rumah neneknya Irham.

Langsung saja kami menaruh tas dan melepas penat sejenak.

Tetapi bulik & neneknya Irham justru memberikan saran untuk mengunjungi Jumprit setelah menaruh barang bawaan kami.

Menarik juga….

Walau tak jauh dari ‘rumah’,  saran bulik & neneknya Irham kami coba. Walau waktu menunujkkan pukul 16.30, hal itu tak menghalangi kami ke destinasi selanjutnya.

JUMPRIT

(Anggota rombongan berpose di Gerbang Utama Jumprit. Bukan di Bali lho ini)

Terletak sekitar 40 km dari Dieng dan 28 km-an dari Temanggung. Jumprit terkenal akan airnya yang digunakan sebagai air suci umat Buddha yang nantinya  dibawa ke Borobudur saat perayaan Waisak.  Selain digunakan sebagai air suci,  mata air Jumprit ini juga digunakan masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari sehingga masyarakat sekitar tak perlu berlangganan air PDAM.

Oh ya,  perlu diketahui Jumprit terletak di ketinggian 800m dpl.  Harga tiket masuknya 5000 rupiah per kepala.

Ada satu lagi nih, air di Jumprit konon dapat membuat awet muda.

Wallahu’alam

Kami tiba di Jumprit sekutar pukul 16.45, udah hampir waktunya Maghrib. Tapi, tenang, yang penting kami dapat masuk ke Jumprit.

(Berfoto di dekat kolam mata air)

Karena sudah puas akan keindahan Jumprit, saatnya kami pulang dan mempersiapkan diri untuk menuju ke destinasi berikutnya besok.

Saat perjalanan pulang, seperti biasa kami pun berkelakar.

Awalnya saya heran kenapa 5 orang kok duduknya di kursi paling belakang?

Saya mudeng maksudnya

Mau njahili si Ratri sama Aji tho?

Sepanjang perjalanan, terciptalah gosip antara si Aji & Ratri. Mereka pun ‘dipaksa’ bertingkah seperti layaknya orang pacaran. Ada-ada saja……

(Ratri dan Aji(tak nampak)


(Bermain kartu di malam hari untuk mengusir kejenuhan)

24 Juni 2010

(Bermain sepak bola sebagai penyemangat pagi)

Akhirnya, pagi pun datang.  Setelah shalat subuh, aktivitas pagi pun kami lakukan. Mulai dari membantu membersihkan rumah hingga olahraga sebagai penyemangat pagi.

Setelah sarapan dan semua aktivitas pagi sudah kelar, kini tibalah saatnya kami untuk menuju ke tujuan utama kami, KAWASAN DIENG. Kami pun bertolak dari ‘rumah’ sekitar pukul 08.30 WIB

Melewati jalur alternatif Temanggung – Dieng, kami disuguhi pemandangan nan elok berupa hamparan pegunungan ijo royo-royo.  Nggak perlu pake AC lagi.

Tapi, harap waspada, jalan alternatif  ini berupa tanjakan curam dan seringkali ditemui kerusakan.

Sekitar 1 jam, akhirnya kami tiba di kawasan Dieng.  Kami melewati perkebunan teh Tambi (sayangnya tidak mengunjungi). Namun, sebelum memasuki kawasan Dieng, kami harus membayar seperti HTM dan diberikan peta kawasan dieng.

Dan, begitu kami hampir sampai di destinasi pertama kami, kami diwajibkan membayar tiket

Tenang, tiket seharga 12 ribu rupiah ini merupakan tiket terusan yang dapat Anda gunakan di empat destinasi (tetapi kami hanya mengunjungi tiga karena keterbatasan waktu).

(Ini lho tiket terusannya)

Pertama, kami mengunjungi

TELAGA WARNA

(Telaga Warna, Dieng, Kab. Wonosobo)

Tempat ini menurut saya merupakan destinasi utama ketika kita tiba di Kawasan Dieng. Bagaimana tidak, panorama alamnya yang takjub membuat kami terus bersyukur kepada Sang Khalik.

Oh iya, karena Telaga Warna ini juga dikelola oleh dinas kehutanan, maka Anda diwajibkan membayar (lagi) sebesar 2000 rupiah per kepala.

Telaga Warna terletak sekitar 2900 dpl. Bisa dibayangkan dinginnnya seperti apa

Bbrrrrrrrr………………………..

Disarankan memakai jaket atau baju hangat

Begitu Anda di Telaga Warna, Anda akan mencium bau belerang samar-samar, karena Telaga Warna merupakan danau vulkanik yang bercampur dengan belerang.

Menurut legenda, terbentuknya Telaga Warna dikarenakan dahulu ada cincin  milik seorang bangsawan lalu jatuh ke Telaga Warna. Karena cincin tersebut mempunyai kekuatan, jadilah telaga itu muncul berbagai warna.

Seperti biasa, berfoto-foto ria. Memang, di sini banyak sekalo orang melakukan pemotretan hingga penyutingan.

Ada cerita lagi nih -_-

*harap diingat dan jangan ditiru

Setelah berfoto-foto ria, tanpa sengaja pouch kamera digitalnya si Ratri tertinggal di salah satu spot

Untung saja ada bapak-bapak yang baik hati yang memberitahukan jika di spot tersebut ada pouch tertinggal

Awas Rat, jangan teledor!

Karena sudah puas akan keindahan Telaga Warna dan kami juga sudah ‘cukup’ kedinginan, maka saatnya kami untuk melanjutkan perjalanan.

(melihat sejenak tiket terusan dan menentukan destinasi yang akan dikunjungi berikutnya)

DIENG THEATER

Namanya aja DIENG PLATEAU THEATER, pastinya kita MENONTON FILM. Film yang alur ceritanya menitikberatkan pada Kawah Simila ini berdurasi sekitar 40 menit. Saat kami tiba, pemutaran film sudah berlangsung sekitar 5 menit.

Nggak apa-apa, Pak. Masuk aja.

Begitu kami masuk, kami langsung duduk di tempat yang kami suka.

Theater ini menggunakan proyektor DLP lho…..

(ada subtitle Bahasa Inggris juga lho)

Setelah pemutaran film, saatnya mengganjal perut dahulu mengingat ini sudah memasuki jam makan siang.

Ada kisah menarik saudara-saudara…

Si Slim membeli pop mie…

Iya. Lha trus?

Setelah dia makan sampai habis itu popmienya…dia merasakan hal yang ganjil

Lalu

Ia pun melihat expired date

Ternyata

Expired datenya tinggal mengitung hari saja dengan jari

Langsung saja ia datang ke penjual popmie tsb, untungnya karena penjualnya baik hati, uang si Slim dikembalikan utuh

Dan, selama perjalanan ke destinasi berikutnya, kami semua guyon ke si Slim.

Slim, H-3 lho.

*H-3 menuju ke…….

hehehe….

(mengganjal perut setelah menonton film)

Saatnya melanjutkan perjalanan. Destinasi berikutnya adalah kawah Sikidang. Namum, kami sempat kesasar hingga puluhan km dikarenakan kami salah ambil arah setelah keluar dari Dieng Theater, seharusnya ke kanan malah ke kiri -_-

20 menit kemudian, akhirnya kami sampai di destinasi berikutnya

KAWAH SIKIDANG

Inilah akhir dari destinasi kami di Kawasan Dieng.

Kawah Sikidang merupakan salah satu kawah yang masih aktif di kawasan Dieng. Kawah ini ternyata mempunyai kadar belerang yang cukup kecil. Tetapi, karena kawah ini masih menyemburkan gas maka pengunjung tak dapat melihat secara dekat ke dalam kawah ini. Letak semburan gasnya katanya berubah-ubah. Maka tak salah jika dinamakan kawah Sikidang yang berasal dari “kidang” yang berarti kijang, binatang yang suka melompat-lompat

Di kawasan Kawah Sikidang, ada sebuah peringatan untuk tidak menginjak tanah yang basah. Maksudnya saya lupa, hehe….

Seperti biasa dan di setiap obyek wisata, terutama di kawasan Kawah Sikidang ini dijumpai jasa pemotretan, penjaja oleh-oleh, serta penjaja batu dari kawah. Wow.

Karena kami datang ke kawah ini pas hujan gerimis, maka kami mempersingkat kunjungan kami di destinasi yang terakhir ini.

Setelah puas akan keindahan kawah Sikidang dan Kawasan Dieng, maka saatnya kami kembali.

Tetapi….

Sebelum kembali….

Kami berencana untuk beranjangsana di rumahnya si Luthfi Hamid

Maka…

Kami pun menunggu sang putra daerah di sebuah pemandian air panas untuk menjemput kami dan menunjukkan jalan ke rumahnya. Rumahnya di daerah Kerteg, lumayan deket.

Setelah melakukan perjalanan selama hampir 30 menit, kami pun akhirnya tiba di rumah sang putra daerah ini

(Membuntuti si Luthfi untuk menuju ke rumahnya)

ANJANGSANA

(suasana anjangsana di rumah Luthfi Hamid)

Kami tiba sekitar pukul 16.30, apalagi kami BELUM MAKAN SIANG

Ya sudah, ini makan siang sekaligus makan malam.

Untuk dapat ke rumahnya si Luthfi ini kami harus masuk ke sebuah gang dan mobil . Kami pun disambut oleh sekumpulan anak-anak yang sedang asyik bermain sepeda. Salah satunya adalah adiknya si Luthfi.

Begitu kami masuk, kami langsung disuguhkan panganan khas Wonosobo. Yang saya ingat adalah TEMPE KEMUL, jika di Semarang atau Purwokerto lebih dikenal dengan MENDOAN.

Kini, acara inti dari anjangsana yaitu makan-makan, dimulai. Sang tuan rumah menyuguhkan soto yang disisipi jagung, ayam, dan lauk pauk yang lainnya.

Tentunya sangat sedap dan uenak

ditambah perut kami yang sudah merengek pun ikut bahagia hehehe.

Setelah makan, kami pun berbincang-bincang mengenai kunjungan kami di Kawasan Dieng

Waktu menunjukkan pukul 17.30, hampir maghrib. Saatnya kami pulang ke rumahnya neneknya Irham dan mempersiapkan diri untuk pulang ke Semarang besok harinya. Apalagi, saya juga akan ke Jakarta lusanya.

Saatnya berpamitan dan saatnya tulisan ini ditutup.

Sekian.

(Seluruh rombongan berfoto dengan kakek & neneknya Irham. Sang penulis merem -_- )


3 pemikiran pada “Catatan Si Ghamdan Goes to Dieng

  1. wahaa, hanya olim angkatan ini🙂
    keren bangeet dan Yassinia Anisa Purbomurti sangatlah eksis di postingan ini, haha

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s