Parade Seni dan Budaya Jateng 2010

SATU KATA: SALUT!


Meski diguyur hujan deras, para peserta parade tetap semangat menunjukkan kebolehan mereka.

Ya.

Pada Sabtu (7/8) siang, sang penulis berkesempatan berkunjung ke Parade Seni & Budaya Jateng. Parade ini digelar setiap tahunnya dan sekaligus acara untuk memperingati HUT Jateng. Bertempat di Jl. Pahlawan, depan Kantor Gubernur Jateng.

Sekitar pukul 13.30, ruas Jl. Pahlawan ditutup, sehingga hal ini menimbulkan macet di sekitar Jl. Sriwijaya dan Jl. Veteran. Hal ini juga menyulitkan sang penulis yang akan mencari parkir sehingga sang penulis parkir di kompleks E-Plaza.

Mlaku saka Simpang 5 tekan Gubernuran -_-

(Spanduk besar ucapan terima kasih)

Acara yang diikuti oleh 34 kabupaten/kota se-Jawa Tengah ini sebenarnya dimulai pukul 14.00, malah dimulai pukul 15.00. Di rentang waktu tersebut diselingi intermezzo berupa nyanyian khas Jateng. Salah satunya Padhang Bulan

Padhang bulan, padhange kaya rina

Rembulane sing awe-awe

Ngilingake aja pada turu sore

(Mungkin di dalam benak mereka adalah senang karena masuk TV, walau sebatas TVRI Jateng)

Setelah nyanyian selesai, tiba-tiba sesuatu terjadi. Tetesan air jatuh.

HUJAAAAAAN

Langsung saja hujan mengguyur areal parade. Duh, iki kamerane piye, rak nggawa bungkuse, muga-muga rak ana apa-apa.

Hujan pun sedikit demi sedikit menyiksa para jurnalis dan juga para penonton.

Untungnya hal itu terbayarkan karena yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Siapa? Beliau adalah Gubernur Jateng Bibit Waluyo beserta jajarannya. Itu artinya, acara sudah siap dimulai.


(Gubernur Jateng Bibit Waluyo [dua dari kiri] beserta jajaran)

(Walikota Semarang yang anyar, Pak Soemarmo [NB: Pak Wali kok seperti nglirik seseorang. Maaf pak!])


(Wakil Gubernur Jateng, Rustriningsih)

Sebelum acara dibuka, terlebih dahulu Kepala Dinas Budpar Jateng memberikan laporan kepada hadirin dan dilanjutkan dengan Pak Gubernur memberikan sambutan. Ada yang unik saat Pak Gubernur memberikan sambutan. Walau hujan turun cukup deras, Pak Bibit menolak mentah-mentah untuk dipayungi. Padahal ajudannya sudah menyiapkan payung untuk beliau. Salut pak!

(Hujan deras tak menghalangi untuk memberikan sambutan)

Secara garis besar, Pak Bibit bangga akan acara ini dan mengharapkan agar acara ini dapat berlangsung setiap tahunnya. Pak Bibit pun nyeletuk “Baru kali ini walikota Semarang hadir dalam acara ini, kemaren-kemaren ke mana yaa…?”. Hadirin pun tertawa dan memberikan applause.

Kini, saatnya Pak Bibit membuka acara. Seperti tradisi di setiap acara, entah itu acara seminar, peresmian, atau apa, pasti membuka acara menggunakan gong.

(Memukul gong 3 kali yang menandakan bahwa acara telah dibuka)

Kini, saatnya acara inti. PARADE.

Masing-masing peserta diberi jatah waktu selama 3 menit untuk unjuk gigi di depan hadirin. Juri kehormatan tidak lain adalah Pak Bibit sendiri.

Beikut merupakan snapshot saat parade berlangsung

Pertanyaan yang masih membekas di benak saya: Apakah mereka tahan dengan terpaan hujan yang deras ini? Jika kita lihat sekilas sepertinya tahan. Mungkin di dalam sudah ndredeg (gemetar), pulang-pulang langsung kerokan.

Tetapi, sayang, sang penulis hanya sampai pukul 17.00 untuk menonton parade ini.

Wis katisen aku (Sudah kedinginan saya).

(Baju sang penulis pun sudah basah kuyup. Sekalian mandi ya…)


Harapan sang penulis: semoga parade tahun depan tidak di saat musim pancaroba wkwk.



4 pemikiran pada “Parade Seni dan Budaya Jateng 2010

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s