Euforia Pitulasan di Smaga

Lomba untuk memperingati hari kemerdekaan negeri ini biasanya dilakukan mulai H-7 sebelum tanggal 17 Agustus. Namun, karena tahun ini bulan Ramadhan jatuh pada tanggal  11 Agustus, maka lomba pun dimajukan hampir H-14.

Dalam tulisan kali ini saya mengajak Anda untuk melihat serunya lomba pitulasan di rumah kedua sang penulis.

Hari itu, Rabu tanggal 4 Agustus, acara lomba pitulasan sudah dimulai. Namun, tetap diadakan KBM hingga istirahat pertama. Seperti biasa, sang penulis selalu mengabadikan momen-momen yang penting dengan kamera. Karena kamera sang penulis ini anyar, baru beli beberapa hari yang lalu, dan bahkan kamera ini masih nyicil 6 bulan, antusiasme rekan-rekan sang penulis pun cukup heboh untuk menjajal kamera anyar sang penulis

Berikut beberapa komentarnya:

Sabar ya semuanya   -____________-

———————–

Lombanya bermacam-macam. Diantaranya adalah lomba mirip Pak Karno yang bertajuk Soekarno, Why Not? , cerdas cermat, estafet, dan lomba foto nasionalisme

(Sang penulis saat berpura-pura menjadi Pak Karno)

Dalam lomba Soekarno, Why Not, para peserta diajak untuk berpenampilan mirip Pak Karno, entah itu cara bicaranya maupun gaya berpakaiannya. Untuk pidatonya sudah disiapkan oleh panitia, sehingga peserta hanya tinggal berakting layaknya Pak Karno.

Seperti biasa, untuk hal ini,  lagi-lagi sang penulis mendapat mandat untuk mengikuti kontes ini.

Kamu kan yang pantes jadi Pak Karno ndan.

Emang yang lain nggak ada ya? Hahaha *tertawa sinis

Begitu sang penulis mendapatkan sms dari panitia, kebetulan juga sang penulis juga menjadi CP untuk panitia, yang isinya kurang lebih peserta lomba Pak Karno diharap berkumpul di depan koperasi. Ya saya manut. Lalu, rekan-rekan sang penulis ‘mengiringi’ sang penulis menuju ke koperasi.

O iya, sebelumnya ada yang kelupaan. Karena sang penulis ini dikenal ndesit, jas aja nggak punya, dengan terpaksa Sangaji dengan berbaik hati meminjami saya jas hahaha. Peci pun juga ketinggalan.

Cah iki lalinan opo piye tho???

Saat perjalanan menuju ke koperasi, sang penulis bertemu dengan Johan R yang baru saja ‘akting’ sebagai Pak Karno. Melihat ada peci di kepalanya, langsung saja saya pinjam. Hahahaha. Jika Anda mengamati dengan seksama, baju berkerah itu sebenarnya adalah seragam smaga, dan dasi bewarna biru tua itu sebenarnya dasi seragam SMP.  Bawahannya? Jeans.

Tak disangka…dan sudah diduga…

Saat sang penulis maju ke atas ‘panggung’, tepuk tangan bergemuruh. Kaki sang penulis mulai gemetaran.

Cuma baca kertas aja gemeteran

Dengan logat jawanya yang agak kental, sang penulis langsung saja ceplas ceplos ala Pak Karno. Alhamdulillah, semua berjalan lancar walau agak deg-degan.

———————–

Sekarang, kita berbicara mengenai lomba GSC (Ganesha Smart Competition), bahasa gampangnya CERDAS CERMAT

Sebelum berhak maju ke babak final, seluruh kelas wajib mengirimkan 2 peserta untuk diseleksi. Materi yang diujikan adalah semua yang berbau Indonesia, entah itu geografi, sejarah, dsb.

Ada yang unik nih…

Menurut si Safira, jika si Dyan menjawab salah, maka impian lolos ke babak final tinggal angan-angan belaka.

Emangnya jawab pertanyaan apaan?

Jadi gini, aku cepet-cepetan mengacungkan tangan. Lalu si Dyan menjawab pertanyaan ” Siapakah Ontowiryo itu? “. Dijawab olehnya “Diponegoro”. Berkat si Dyan-lah kelas kita lolos ke babak final. Coba kalau dia lupa, wah, gawat.

Wow.

(Inilah si Safira [kiri] dan Dyan, tim cerdas cermat mewakili kelas sang penuls)

Pada babak final, setiap kelas yang lolos ke babak ini wajib mengirimkan tim yel-yel yang beranggotakan maksimal 10 orang.

Perasaan kelasnya sang penulis lebih dari 10 orang -____-

Ada yang lucu juga dari hal ini, si  Enggar turut serta meramaikan jalannya final dengan masuk ke tim yel-yel kelas sang penulis. Wah…wah….Di tengah-tengah acara, si Abda juga mendukung kelas sang penulis. Dia adalah rekan sang penulis yang duduk di kelas X-Olimpiade.

Juri pada babak final kali ini adalah Pak Ratman dan mas mbak PPL. Sesi 1 pada babak final adalah menjawab pertanyaan tertulis.  Saat sesi 1 berlangsung, suasana di kanopi, tempat babak final dilangsungkan, menjadi sunyi senap. Deg-degan…cemas…ritme jantung menjadi lebih cepat.

(Dengan setia, suporter menunggu…)

Akhirnya, sesi 1 selesai. Apa komentar si Safira dan Dyan? Dari raut wajahnya sudah bisa ditebak….(baca: soalnya lumayan susah)

Berikutnya, sesi 2, yaitu menjawab pertanyaan lisan yang soalnya dibacakan oleh dewan juri. Jurinya? Setiap peserta akan memperoleh undian siapakah juri yang akan membacakan soalnya bagi kelas tersebut. Saat giliran kelas sang penulis, si Safira dan Dyan ‘mendapatkan’ Pak Ratman yang nantinya akan membacakan soal bagi mereka berdua.

Applause dari hadirin pun meriah…

“Di manakah jaksa agung mencanangkan KANTIN KEJUJURAN untuk pertama kalinya?”

“Pencanangannya di SMAGA, Pak

(Nih…kuberikan nilai padamu… [NB: tulisannya mana keliatan, pake bolpen sih])

Sebenarnya berapa sih nilainya? Jika dilihat dengan seksama, para juri memberikan nilai 8,5 – 8 – 9.

Langsung saja, kami pun berbahagia, karena nilainya, untuk sementara, mengungguli tim yang lain. Sontak, suasana di kanopi menjadi riuh bergembira. Hahhaha..

(Kebahagiaan menyelimuti supporter #FruitFamily)

Pada sesi ke-2 ini, kelasnya sang penulis unggul dari tim yang lain. Berikutnya adalah sesi 3, yaitu sesi rebutan. Peserta harus menjawab pertanyaan yang dibacakan oleh MC dengan mengangkat bendera merah putih secepat mungkin.

Namun, saat sang MC membacakan soal, suara sang MC ternyata agak kurang jelas. Setelah sang penulis berbincang dengan sang MC, ternyata tenggorokan sang MC masih sakit. Pulang-pulang suaranya hilang.

Suaraku ilang total malah…

Parah…

Wah..wah..saking semangatnya ya, semangat pitulasan.

Saat babak rebutan, kelas sang penulis pun perang yel-yel dengan tim yang lain. Suasana menjadi tambah panas. Pada babak rebutan ini dimenangkan oleh tim kelas XII IA 9 dengan skor 50, selisih 10 poin dengan kelasnya sang penulis

Karena kelas X2 tidak mendapat skor, tim kelas tersebut mendapatkan yel-yel bernada ngece

Mana-mana suaranya sepuluh dua….

———————–

O iya, bagaimana dengan estafet?

(Peserta berusaha menggiring kaleng menuju ke pos berikutnya)

Estafet yang ada di lomba kali ini bukanlah estafet dengan membawa tongkat dari satu pos ke pos berikutnya, namun melakukan suatu tantangan terlebih dahulu baru menuju ke pos berikutnya. Ada 4 pos dalam lomba estafet ini. Pos pertama adalah memecahkan plastik berisi air dengan pelepah pisang dalam mata tertutup. Kedua, memasukkan pensil ke dalam botol. Ketiga, menggiring kaleng. Yang terakhir, memasukkan benang ke dalam jarum.

Kelihatannya pos-pos tersebut tantangannya adalah permainan yang umum dilakukan saat lomba pitulasan, namun dikemas secara apik dalam balutan estafet. Kelas sang penulis mendapat giliran yang agak siang. Namun, itu tak menghilangkan semangat kami.

Walau pada awalnya pertandingan sempat diulang gara-gara ada yang tidak fair, kami tetap menerima dan berharap semoga dapat menang.

Siapakah yang menjadi ‘penjaga’ pos? Mereka adalah si Gatya (pos 1), Luthfi (pos 2), Ricko (pos 3), dan Bela (pos 4). Saat Gatya menyelesaikan pos satu, suasana menjadi mencekam saat si Luthfi tak kebagian botol untuk dimasuki pensil. Panitia langsung memerintahkan semua peserta yang berada di pos tersebut langsung lari saat menerima bendera merah putih. Ritme permainan berjalan sangat cepat. Berlanjut ke pos menggiring kaleng, si Ricko harus menyeimbangkan ayunan batu agar mengenai kaleng. Suasana di pos ini sangat panas di mana pos ini menjadi salah satu penentu. Di tengah-tengah permainan, tiba-tiba batu yang diikatkan di si Ricko hilang.

Permainan pun dihentikan sebentar.

Lalu, setelah permainan dilanjutkan kembali, si Ricko tak sanggup mengejar ketertinggalannya dengan kelas XI – Akselerasi. Si Bela yang sudah siap dan ancang-ancang merasa isin.

Sabar ya Bel………..

———————–

Jum’at.

Hari di mana semua dibawa santai. Apalagi, masih dalam euforia lomba pitulasan, rumah kedua sang penulis menggelar jalan sehat. Walau agak mendung, tetapi sudah cukup bagi kami yang sangat menghindari berpanas-panasan.

Rutenya? MIB (Muteri Imam Bonjol)

Biasanya rute ini dijadikan untuk penilaian lari saat pelajaran olahraga. Jadi, jalan sehat ini tak ada ubahnya seperti penilaian lari.

(Jalan Pemuda menjadi lautan ‘kaos putih’)


(sang penulis di depan mal Paragon, mal teranyar di Kota Semarang)

Mengapa sang penulis tiba-tiba tercetus idenya untuk berfoto di depan mal anyar ini. Alasannya karena sang penulis belum pernah sekalipun masuk ke mal ini. Sang penulis hanya ingin masuk setelah grand opening mall tersebut. Jalan sehat pun dilanjutkan kembali.  Saat di Jl. Imam Bonjol, para peserta jalan sehat menghindari genangan air yang berada di pinggir jalan. Praktis, jalan ini macet walau hanya sesaat.

Ada yang menarik saat kami melintasi Jl. Imam Bonjol. Si Verdy menggendong SI Ricko walau si Verdy hanya sanggup menggendong si Ricko beberapa meter saja. Hal ini menjadi pusat perhatian sementara bagi peserta jalan sehat yang lain.

(Si Verdy dengan gagah perkasa menggendong si Ricko)

Di tengah-tengah jalan sehat, sang penulis berkata dalam benaknya,

Ini jalan sehat apa jalan sakit? Jalan sehat kok terpapar polusi kendaraan bermotor?

Sabar ya….

Saat melintasi bundaran Tugu Muda, beberapa rekan sang penulis berfoto dengan background Tugu Muda. Tanpa sengaja, hal ini menarik Pak Panjang Umur untuk ikut berfoto bersama..

(rekan-rekan sang penulis berfoto bersama ‘Pak Panjang Umur’ )

Sesampainya di rumah kedua, semua rekan-rekan sang penulis merasa lapar. Apalagi, kami tambah lapar saat guru-guru makan soto gerobak bersama.

Ini nggak ada doorprizenya sekalian ya?

———————–

Oh iya, sang penulis berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan serta dalam jalannya semua acara lomba pitulasan, terutama panitia lomba pitulasan.

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s