Yangkung…In Memory

(Foto terakhir sang penulis dengan kakek sang penulis)

Pembaca yang budiman….

Hari ini, 27 September 2010, tepat satu tahun yang lalu kakek sang penulis, H. Soetarso berpulang ke Rahmatullah….

Dalam tulisan kali ini, sang penulis mencoba flashback peristiwa ini…

———————————–

Hari itu…Jum’at, 18 September malam, Semarang diguyur hujan deras. Sang penulis bersama anggota keluarga yang lain bergegas menuju ke rumah sakit yang berada di bilangan K.H. Ahmad Dahlan. Lho? Ada apa? Mengantar kakeknya sang penulis untuk kontrol rutin. Sebulan belakangan, beliau sering mengeluh sakit, mungkin disebabkan karena usia beliau yang sudah cukup sepuh.

Ketika diperiksa oleh internis, internis tersebut menyarankan agar kakek sang penulis mondok selama beberapa hari. Kami pun terima usulan itu…

Semoga agak sehat dan lekas sembuh…

Namun, saat dibawa oleh perawat dengan kursi roda, kakek sang penulis merasa jengkel karena beliau tidak ingin mondok (opname).

Apa karena mau Idul Fitri ya, mengingat ini H-2 Idul Fitri, ingin berkumpul dengan sanak saudara…

Setelah dirawat kurang lebih 2 hari, internis mengatakan bahwa saat Idul Fitri kakek dapat dibawa pulang karena kondisinya sudah memungkinkan. Namun, entah mengapa kondisi kakek sang penulis kembali drop dan impian untuk pulang ke rumah saat Idul Fitri pun pupus sudah.

Kami pikir hanya dirawat selama 3 hari saja sudah cukup…sampai akhirnya pada Kamis malam tanggal 24, kondisi kakek sangat menurun drastis. Pukul 10 malam kami ditelpon dokter untuk segera menuju ke rumah sakit. Begitu sampai ke kamar rawat inap, dokter pun berkata…

Apakah semuanya sudah siap & ikhlas…

Insya Allah sudah…

Beberapa menit kemudian, kondisinya berangsur-angsur normal. Sang penulis untuk sementara lega dan ijin pulang ke rumah. Namun besok paginya pukul 6, kondisi kakek mulai memburuk dan dokter memerintahkan agar kakek sang penulis langsung dimasukkan ke ICU.

Sampai pada akhirnya, Minggu, 27 September……..

Sang penulis berencana pergi ke gramed untuk membeli alat tulis mengingat besoknya sudah KBM seperti biasa setelah libur lebaran. Saat akan parkir, sang penulis menerima sms

Ke rmh skt skrg, kondisi eyang drop bgt. Eyang sdg dipacu jantung.

Deg.

Sang penulis bersama anggota keluarga yang lain langsung bergegas menuju rumha sakit. Rasa gelisah, khawatir, dan takut campur jadi satu. Begitu sampai, kami pun lari pontang-panting menuju ICU seperti mengejar maling motor. Di ICU, dokter dan perawat sedang berjuang mengembalikan kondisi…..

Semua anggota keluarga langsung membaca surah Yasin dan membisikkan kalimat La Ilaha Illallah ke telinga kakek sang penulis…

Tepat pukul 19.25…

monitor ECG sudah tak memperlihatkan gerak-gerik jantung.

Ini bapak sudah tak ada, tutur sang dokter…

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN

Air mata pun tumpah….sang penulis merasa bingung, kaget, sedih…entahlah..tak dapat diungkapkan dengan kata-kata

Kabar meninggalnya kakek sang penulis langsung tersebar sampai ke telinga saudara sang penulis yang sedang menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Saat ditelpon, tak ada kata-kata yang terdengar darinya, hanya suara sedih dan pilu….

Besoknya, kabar duka ini diterbitkan di  koran perekat komunitas Jawa Tengah

———————————–

Selamat jalan yangkung…

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s