One Day Off

Satu hari aja…..

…pengen bebas dari serbuan korespondensi…

…pengen suasana yang bener-bener santai, melupakan beban lomba-lomba sejenak.

———————-

Beberapa jam setelah menyaksikan Pensaga (Pentas Aksi dan Seni SMA 3), pada hari Minggu (31/10), sang penulis melakukan lawatan singkat ke Jakarta guna menghadiri syukuran ulang tahun bapaknya yang ke-44. Sang penulis bertolak dari Semarang menuju Jakarta pada pukul 06.10.

Karena waktu keberangkatan ini sangat pagi dan jam tersebut merupakan penerbangan pertama ke luar Semareng, sang penulis kudu bangun jam 4 pagi, walau jam 12 malam baru tidur.

One Day Off ini sudah sang penulis rencanakan jauh-jauh hari. Tiga minggu yang lalu saja sang penulis memesan tiket pesawat. Wow.

(Suasana jalanan di depan rumah sang penulis saat akan berangkat menuju bandara, sepi banget)

Urusan sarapan adalah urusan gampang. Tinggal masak telur ceplok semua beres. Termasuk untuk urusan check in, sang penulis sudah mendapatkan boarding pass sehari sebelum berangkat, sehingga sesampainya di bandara sang penulis hanya berleha-leha tak perlu mengantri di loket check-in, hanya tinggal membayar boarding pass saja.

Sesampainya di Bandara Ahmad Yani, sang penulis menyeletuk..

“Kenapa ya orang yang mau naik pesawat harus pake yang bagus? Seperti akan mengadiri sebuah hajatan. Pake kaos oblong,ccelana pendek di bawah lutut, dan sendal swallow saja sudah cukup. Pesawat kan juga angkutan umum, sama seperti angkot.”

Huaahahahahaha

Karena sang penulis hanya membawa tas kamera, beban bawaan menjadi enteng…saat security check, tak perlu ribet.

(Pesawat yang digunakan sang penulis dalam lawatannya menuju Jakarta)

Sesampainya di Jakarta, awalnya sang penulis luntang-luntung di terminal kedatangan karena sang penulis belum dijemput oleh orang tua sang penulis. Sembari menunggu, sang penulis hanya melihat-lihat jadwal kedatangan di layar besar.

Kurang kerjaan banget -___-

Akhirnya, setelah menunggu beberapa menit, beliau pun datang juga.

Belum mandi jebule……

Dalam perjalanan, sang penulis mengucapkan ulang tahun ke ayah sang penulis. Beliau sepertinya bangga dan hanya inilah kado terbaik yang sang penulis persembahkan yaitu datang menjenguk ke Jakarta.

Karena acara syukuran masih lama, begitu sampai di rumah, langsung diadakan acara tiup lilin.

Kueeenya enyaaaaak.

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, makan siang sekaligus syukuran. Acara syukuran ulang tahun ayah sang penulis bertempat di salah satu rumah makan italia yang terletak di Mall Pondok Indah 1. Sistem penyajiannya berupa buffet, all you can eat. Hanya 70 ribu saja. Wow.

Sebagai pembuka, sang penulis menyantap makaroni dan spaghetti, disusul iga bakar, pizza, garlic bread, hingga sego goreng bertabur daging sapi lada hitam.

Banyak sekali saudara-saudara yang datang dalam acara ini. Sepertinya mereka juga senang karena sang penulis datang jauh-jauh dari Semarang hanya untuk ini.

(Sang penulis saat menyantap iga panggang di sebuah rumah makan di PIM)

Di sela-sela acara syukuran, sang penulis mencoba menanyakan kondisi di Semarang kepada salah seorang rekan sang penulis yang kebetulan sedang melakukan gladi bersih untuk persiapan Desanov (Demo Satu November) pada dies natalis SMA 3 Semarang ke-133.

“Hujan,ndan.”

Setelah lebih dari 2 jam, sang penulis sangat bersyukur sekaligus kekenyangan. Sampai-sampai, sang penulis ingin tidur di rumah makan ini.

Wooo…lha -,-

Karena waktu sudah sore, saatnya kembali ke rumah untuk mempersiapkan kepulangan sang penulis ke Semarang.

Cepet amaaaaat.

Pukul 16.30, sang penulis menuju ke Bandara Soetta bersama ibu dan adik sang penulis yang baru berusia 4 bulan. Ayah sang penulis tak dapat mengantarkan dikarenakan ada acara sehingga sang penulis menggunakan taksi.

Di tengah-tengah perjalanan, saat di daerah Palmerah sang penulis hanya bisa berkata dalam hati.

“Inilah Jakarta yang sesungguhnya, macet.”

Begitu sampai di bandara, sang penulis musti menunggu satu jam lagi untuk dapat berangkat. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak sang penulis.

“Lho, di remarks-nya ada tulisan STD 19.15, sched 18.55, jangan-jangan delay.”

(Petang di Bandara Soekarno Hatta)

(Suasana terminal keberangkatan 2F Bandara Soetta yang sepi)

Dugaan sang penulis benar. Pesawat yang akan ditumpangi sang penulis terpaksa delay dikarenakan alasan cuaca. Sang penulis pun terpaksa menunggu hingga akhirnya pukul 19.45 pesawat baru bisa diberangkatkan.

Sang penulis tidak makan malam karena sang penulis merasa masih kenyang karena maan-makan dalam acara syukuran tadi.

Para penumpang yang sudah menunggu sejak lama langsung berteriak “Huuuuuu…” saat announce dari bandara  terdengar. Supir dan pembantu sang penulis yang telah menunggu di Bandara Ahmad Yani merasa kecelik karena pesawat datang 1 jam lebih lambat dari jadwal semula.

Ada satu hal yang unik….

Karena sang penulis mendapatkan boarding pass pulang pergi sejak dari Semarang, otomatis kita hanya membayar airport tax sesampainya di bandara. Saat akan memasuki pesawat, boarding passnya di-scan untuk mendata para penumpang.

Namun, boarding pass sang penulis saat di-scan mengalami error

Mas, ini bayar airport taxnya di mana?

Di terminal…

Kenapa tidak bayar di check in counter (dengan nada marah seperti  orang curhat)

Yang penting bisa sampai……

Akhirnya, One Day Off-ku berakhir sampai di sini. Besok Senin pagi sang penulis disibukkan kembali dalam tugas, yaitu tugas mendokumentasikan kegiatan Desanov.

———————————

Aku pengeeen Day Off lagiiii

Satu pemikiran pada “One Day Off

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s