CSG Goes to Bali w/ #FruitFamily

(Sang Penulis [tengah depan] berfoto bersama rekan-rekannya dari XI – Olimpiade (#FruitFamily) di kompleks Garuda Wisnu Kencana)

Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan sekian kali bersama rekan-rekan #FruitFamily.

Yup.

Dalam rangka liburan akhir semester 1, OSIS SMA 3 Semarang menyelenggarakan widyawisata ke Pulau Dewata, Bali. Widyawisata yang bertajuk TECHNOBALI ini  dimulai dari tanggal 18 hingga 22 Desember 2010.  Selama 5 hari tersebut, para rombongan  mengunjungi  10 destinasi di Pulau Bali.

Walau sebelum berangkat sempat terjadi ‘kekisruhan’ dan ‘konflik’ mengenai masalah pelaksanaan, namun itu tak menghalangi semangat kami untuk tetap berplesiran ke Pulau Bali.

Sehari sebelum berangkat, para siswa beserta wali kelas dan pendamping melaksanakan istigoshah terlebih dahulu di aula agar perjalanan diridhoi oleh Allah SWT.

Okay, the journey is begin

HARI PERTAMA – SABTU, 18 DESEMBER 2010

(Sang penulis dan rekan-rekannya berfoto bersama sebelum berangkat dengan menggunakan sweater kebangaan #FruitFamily)

Sebelum berangkat, kami sempat diributkan dengan masalah sweater yang tak kunjung jadi hingga H-1 keberangkatan.

“Walau sudah dirancang jauh-jauh hari, namun kita itungannya udah telat pesennya,” tutur salah seorang rekan sang penulis.

Koordinator jaket, si Yoga, juga bingung. Sampai akhirnya, 30 menit sebelum berangkat, jaket yang sudah diidam-idamkan pun datang juga. Sweater bewarna abu-abu ini dibubuhi tulisan ‘Are You Smarter than Us’ sebagai bentuk ciri khas kami dari kelas XI – Olimpiade.

Bahkan, sweater ini menjadi perbincangan hangat di kelas lain karena  tulisan di sweater yang sangat ‘kontroversial’.

Kini, tibalah saatnya kami masuk ke bus. Para rombongan XI – Olimpiade, selanjutnya disebut #FruitFamily, beserta wali kelas tercinta, Ibu Rochyati, dan pendamping, Dra. Setyawati, mulai melakukan persiapan dengan memasukkan bagasi ke dalam bus Blue Star

Bus yang digunakan dalam acara widyawisata ini berjumlah 14 unit, sesuai dengan jumlah kelas yang ikut dalam program ini.

(Inilah suasana bus yang ditumpangi #FruitFamily)

Rombongan mulai meninggalkan SMA 3 Semarang pada pukul 6.45 pagi, telat 15 menit dari jadwal semula, 6.30 pagi.  Di awal perjalanan, diadakan pengenalan tour leader dan pembagian kamar saat menginap di Goodway Hotels & Resorts Nusa Dua nanti.

Perbekalan selama perjalanan dirasa sangat cukup. Bagaimana tidak, sehari sebelum berangkat sang penulis meminta kepada setiap rekan-rekan sang penulis untuk membawa bekal. Sang penulis pun juga membawa bekal dan cemilan yang berjumlah 4 kresek besar.  O iya, katanya, setiap bus akan mendapatkan jatah 4 dus aqua gelas. Namun dalam kenyataannya hal itu tidak berlaku bagi #FruitFamily (kelas lain dapet lho padahal).

Untung sang penulis membawa 2 dus aqua botol, kalau tidak…..

…..

Sebelum rombongan menuju ke Pulau Bali, rombongan melakukan kunjungan studi terlebih dahulu ke pabrik PT Dua Kelinci di Pati. Konon, pabrik ini merupakan pabrik kacang terbersih di Nusantara. Bus #FruitFamily datang urutan ke-2 setelah bus rombongan XI IS 2.

Perjalanan dari Semarang ke Pabrik PT Dua Kelinci membutuhkan waktu 2 jam.

Akhirnya, tibalah kami di pabrik yang tampilan depannya sangat minimalis pada pukul 8.45. Setibanya di pabrik, sang penulis merasa heran karena si Yoga Dwi, salah seorang rekan sang penulis kelas XI IS 2, tak membawa DSLR-nya. Terang saja, ternyata ada papan peringatan yang bertuliskan ‘DILARANG MENGAMBIL GAMBAR MAUPUN VIDEO’ (pada akhirnya sang penulis menyempatkan diri untuk mengambil gambar di pabrik dengan telepon seluler sang penulis secara diam-diam).

7 rombongan pertama yang datang dipersilahkan untuk mengikuti presentasi dari pihak pabrik. Selama presentasi, para rombongan disuguhi berbagai macam pengetahuan mengenai kacang dan tentu saja PT Dua Kelinci. Tak lupa, para rombongan dapat menyaksikan iklan dan film pendek mengenai proses pembuatan kacang.

Setelah puas mengikuti presentasi, para rombongan lagi-lagi dimanjakan dengan suguhan cemilan dan soft drink. Tentu saja gratis.  Selanjutnya, kami diajak berkeliling pabrik sambil mendengarkan penjelasan dari pihak pabrik. Sayangnya, suara dari sang pemandu kurang jelas terdengar karena tercampur oleh suara mesin.

O iya, pabrik PT Dua Kelinci selain memproduksi produk unggulan yang dijual di pasaran, ternyata juga memproduksi kacang mix nut untuk maskapai penerbangan milik pemerintah.

(Jangan salah, kacang ini asli Pati lho)

Akhirnya, perjalanan keliling pabrik selesai sudah. Bagi yang ingin membeli oleh-oleh berupa produk PT Dua Kelinci dapat membeli di kios di depan pabrik. Di depan kios ini terdapat patung kelinci bertanduk (jackapole). Entah itu makhluk nyata atau bukan, saya kurang tahu.

Karena rombongan #FruitFamily ingin segera makan siang, maka hanya sedikit yang membeli oleh-oleh. Kami langsung lari menuju bus dan pergi duluan.

Sepanjang perjalanan, perut kami pun sudah memberontak. Akhrinya, setelah 3 jam perjalanan kami pun tiba di wilayah Tuban untuk makan siang. Ada yang menarik saat kami datang, kami adalah rombongan pertama yang datang di rumah makan ini.

Langsung saja makanan disikat…..

Setelah kenyang, tak lupa kami sempatkan diri untuk sholat. Ada yang menarik dari rumah makan ini. Di belakang rumah makan ini terdapat pantai dengan pasir putih yang bersih. Kami sempatkan untuk berfoto bersama di tempat yang mungkin jarang terjamah orang.

(Snapshot saat di pantai tanpa nama)

Kayak di Pantai Bandengan aja…

Sayang, petualangan singkat ini harus kami akhiri. Saatnya meneruskan perjalanan kembali.

……

O iya, banyak orang berpendapat:

Saat perjalanan piknik itulah saat momen-momen yang seru muncul.

Pendapat itu memang benar adanya.

Sepanjang perjalanan kami pun berkonyol ria. Bahkan, si Yoga pun bernyanyi dangdut. Dia hapal dengan lagu Denpasar Arjosari

Tanggal 30 Oktober dek wingi
SMSmu isih ono Hp iki
Tak simpen ono njero Folder Pribadi
Terus tak woco saben awan saben bengi
Soko terminal arjosari
Kowe pamit budhal nang Mbali
Emboh Denpasar embuh ngendi
Emboh Kecantol cowok australi
Barang saiki kok ngajak bubar

Kurang lebih seperti ini liriknya

(Bermain balon di bus. Balonnya melayang karena terketa hisapan ventilasi)

(Berfoto ala penyanyi)

(Sang penulis dan rekan-rekannya bukan mau turun dari bus, namun berjoget di lorong bus)

Tidak terasa, waktu cepat berlalu dan telah mengantarkan kami ke daerah sekitar Sidoarjo. Kami pun juga melewati lokasi bencana lumpur panas Lapindo.

…..

Hujan pun mulai turun dengan deras. Pukul 19.00, kami pun singgah di rumah makan Gempol Asri untuk makan malam dan sholat maghrib. Karena bus sulit untuk merapat ke pintu masuk, bus pun akhirnya berhenti dan parkir di dekat mushola.

Hujan-hujanan di malam hari…

Sang penulis dan rekan-rekan putra yang lain memilih sholat jama maghrib dan isya terlebih dahulu. Namun, saat mengambil air wudhu, tiba-tiba saja listrik mati. Hal ini diperparah dengan kondisi mushola yang sempit dan bocor. Sang penulis pun sholat dengan tetesan air dari atap.

Setelah sholat, sang penulis bersama rekan-rekan putra makan malam. Walau di dalam ruangan, tetap saja hawa dingin muncul

Ada yang unik saat makan malam, piring si Yasinia pecah. Pecahnya bukan karena jatuh melainkan si Yasinia memotong ayamnya terlalu keras sehingga piringnya pecah dan pecahan piringnya menyebar ke sekeliling.

#FruitFamily pun tampaknya sudah tak betah berlama-lama singgah di rumah makan ini. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang yang jauuhnya kurang lebih 6 jam perjalanan. Sang supir mulai menancap gasnya lebih kencang. Sang kenek menyetel film Punk In Love, dan saat itu pula seluruh anggota rombongan tertidur pulas. Hanya sang penulis yang menyempatkan nonton film sambil melihat pemandangan di sekitar.

….

Sekitar pukur 2 dini hari, akhirnya kami tiba di Pelabuhan Ketapang. Walau kami masih ngantuuk, program harus tetap jalan. Saatnya kami menyeberang ke Pulau Bali

Penyeberangan ke Pelabuhan Gilimanuk dengan menggunakan KMP Trisila Sakti 1 memerlukan waktu sekitar satu jam lamanya. Di dalam kabin, si Verdy dan Mahardika menyempatkan diri untuk membeli Pop Mie. Sedangkan rekan-rekan putri berbincang-bincang bersama sambil melihat panorama laut dini hari.

O iya, hampir lupa. Karena destinasi selanjutnya adalah Pelabuhan Gilimanuk, Bali, waktu di jam tangan maupun di telepon seluler harus dirubah. Karena Bali termasuk wilayah GMT+8 atau WITA (Waktu Indonesia Tengah), satu jam lebih cepat dari WIB.

Si Ricko tampaknya enak tak perlu susah-susah mengganti waktu di telepon selulernya, karena telepon selulernya otomatis mengubah waktu sesuai lokasi.

Blackberryku kalah sama Nokia ExpressMusic -,-

Akhirnya, pukul  4.00 WITA, kami menjejakkan kaki di Pulau Dewata.

Hik, setelah 6 tahun lamanya, kini sang penulis menjejakkan kakinya kembali di sini (Bali).

HARI KEDUA – MINGGU,  19 DESEMBER 2010

Perjalanan dilanjutkan kembali. Kami menyusuri jalanan berliku, di sekeliling hanya ada hutan dan sawah. Betul-betul masih asri. Sebelum mampir ke RM Soka Indah untuk sarapan, kami mampir terlebih dahulu di salah satu masjid untuk melaksanakan sholat subuh

Pukul 6.00 WITA, kami pun tiba di RM Soka Indah. Lagi-lagi #FruitFamily merupakan kelas yang datang awal, kini lebih tepatnya urutan ke-2.  RM ini memang menjadi jujugan bagi para pelancong yang menggunakan bus seperti kami. DI sini terdapat kamar mandi, minimarket, vila kecil, dan tentu saja wisata pantai. Untuk masuk ke kompleks kamar mandi, setiap orang dikenakan retribusi 2000 rupiah.

Rekan-rekan sang penulis mulai membuka kopernya untuk mengambil baju dan peralatan mandi. Hal ini tentu saja merepotkan. Sang penulis lebih memilih untuk tidak mandi. Ada juga rekan-rekan sang penulis yang berpikiran sama.

Mending mandi di hotel sekalian…(walau ke hotelnya pada malam hari)

Sang penulis bersama Sangaji, Yaris, Ricko, langsung masuk ke rumah makan. Dan, Wow, kami adalah orang pertama yang mengambil jatah makanan.

Lumayaaaaan….

Sembari makan, sang penulis men-charge handycamnya. Tentu saja bayar. Sekali charge, 2000 rupiah. Begitu selesai makan, sang penulis menunggu rekan-rekannya yang lain.

(Sang penulis [paling kanan] menunggu teman-temannya yang masih mandi setelah sarapan di Soka Indah)

DESTINASI PERTAMA

TANAH LOT

(Sang penulis [depan, kaos hitam] berfoto bersama di depan pintu masuk kompleks Tanah Lot)

Tibalah kami di Tanah Lot yang kami tempuh sekitar 2 jam perjalanan dari RM Soka Indah. Tanah Lot terletak di Kab. Tabanan. Untuk menuju kompleks pantai, kami harus melewati pasar lokal yang menarik perhatian mata (atau bahkan nafsu shopping) kami.

Begitu kami sampai, terlihat penduduk lokal sedang melakukan prosesi setelah hari raya kuningan.

(Penduduk setempat sedang meletakkan sesajen)

(Suasana di Pantai Tanah Lot)


(Sang penulis beserta rekannya berpose bersama di belakang Pura Tanah Lot)

Namun, di saat semua bahagia menikmati panorama alam, sang penulis justru ‘menangis’.  Bagaimana tidak, handycam sang penulis konslet terkena cipratan air laut. Sehingga, mau tidak mau proses penyutingan untuk dokumentasi menggunakan kamera DSLR. Sang penulis baru menyadari handycamnya konslet saat sang penulis memegang handycamnya dalam keadaan panas dan lampu tanda charge menyala (padahal engga nge-charge lho).

Kualitas videonya memang lebih bagus, sudah High Definition malah. Tetapi kekuatan baterai dan kapasitas memorinya itu yang kurang bagus.

Karena kondisi itulah ditambah celana jeans sang penulis sudah basah kuyup, maka kunjungan ke Tanah Lot diakhiri. Namun, saat akan keluar, sang penulis ‘dihadang’ oleh salah satu pengurus OSIS. Ia meminta untuk difotokan bersama rekan-rekan anggota pengurus yang lain. Setelah itu, sang penulis lari tunggang langgang tanpa pamit menuju bus walau sepertinya ia dan rekan-rekannya dari pengurus OSIS masih ingin difoto oleh sang penulis.

….

Beberapa menit saat akan berangkat, anggota rombongan kami bertambah satu.

Lho? Siapa?

Dia adalah Bli Kadek, pemandu lokal yang akan menemani selama program berlangsung di Pulau Bali. Destinasi berikutnya adalah Bedugul. Selama perjalanan menuju Bedugul, Bli Kadek menceritakan mengenai Pulau Bali beserta adat istiadatnya.

DESTINASI KEDUA

BEDUGUL

(Sang penulis [tengah, memakai ID Card] berfoto dengan rekannya di pinggir Danau Bratan)

Aku pikir ke Bedugul nanti bisa ke Pura Ulun Danu yang kayak di duit pecahan 50ribuan, ternyata tidak. Malah dolanan di Danau Bratan….Ironis…

Bedugul merupakan kawasan yang terletak sekitar 1500 meter dpl.  Perjalanan dari Tanah Lot menuju Bedugul memerlukan waktu sekitar 2 jam lebih. Di Bedugul, para rombongan makan siang di suatu restoran pinggir danau. Namun, #FruitFamily lebih memilih sholat jama dzuhur dan ashar terlebih dahulu.

O iya, saya lupa mengatakan bahwa kita mungkin sangat sulit menemukan mushola yang layak di Pulau Bali. Bahkan, jika kita berwudhu, kita justru dikenai biaya 1000-2000 rupiah. Itu biasa terjadi di tempat umum seperti di terminal, dan bahkan di kawasan wisata seperti ini karena biasanya mushola merupakan bekas ruangan yang tak terpakai alias musholanya tidak berdiri sendiri. Sudah tentu sempit dan (maaf) kotor.

Setelah sholat, kami pun langsung masuk ke restoran. Di restoran sudah terjadi antrian dari seluruh anggota rombongan untuk mengambil tempat. Mencari tempat duduk pun juga susah.

Di kawasan danau ini, sang penulis dan beberapa rekan yang lain lebih memilih menikmati panorama alam ketimbang mencoba menaiki speedboat atau sampan karena cuaca yang tak bersahabat. Namun, si Yasinia, Ratri, Siti dkk lebih mencoba menaiki sampan. Bahkan, mereka sempat terkatung-katung di tengah danau sampai akhirnya mereka mendapat amarah dari seluruh rekan-rekan #FruitFamily dan Bu Rochyati karena datang terlambat ke bus.

(Si Yasinia dkk saat mendayung sampan. Courtesy Rangga Rishar)

“Sebenernya sih ya biasa aja naik sampan gitu. Tapi waktu tau kalo enggak ada instrukturnya dan kita harus mendayung sendiri, ini yang berat. Udah gak pake pelampung, mendayung pun juga belum pernah. Waktu naik aja udah teriak-teriak,” tutur si Yasinia dalam akun facebooknya.

Setelah dari Bedugul, #FruitFamily menuju ke Joger untuk berbelanja dan setelah berbelanja selanjutnya #FruitFamily meneruskan  perjalanan  menuju ke Gianyar untuk menonton pementasan tari Kecak.

TARI KECAK

(Suasana saat pementasan berlangsung)

Tari Kecak merupakan tarian yang sangat unik. Bagaimana tidak, tarian ini diiringi dengan paduan suara beberapa orang pria. Tari Kecak lebih menitikberatkan pada cerita Epos Ramayana.

Rombongan tiba di sebuah sanggar yang terletak di kawasan Gianyar pada pukul 18.00 WITA. Beberapa rekan sang penulis mulai gelisah karena takut tidak dapat menyaksikan laga semifinal leg 2 Piala AFF Indonesia melawan Philipina.

Untungnya, si Luthfi membawa serta laptop dan tv tunernya ke dalam sanggar. Rombongan #FruitFamily pun mengambil tempat di pojok belakang agar aksi ini tak ketahuan kelas lain. Begitu lampu diredupkan yang artinya pertunjukkan dimulai, si Luthfi langsung menyetel tv tunernya ke RCTI. Selama pertunjukkan, rombongan #FruitFamily lebih memilih nonton semifinal Piala AFF ketimbang nonton tari kecak. Bahkan, sang ketua panitia widyawisata, Aryo, juga turut serta menonton semifinal Piala AFF.

Indonesia…Cak..Cak…Cak…Cak..

Hujan pun turun dengan deras. Para penari pun tak kehilangan semangat dalam mempertunjukkan aksinya. Tari kecak ini pun hanya berlangsung sekitar 45 menit.

Setelah pertunjukkan selesai, beberapa rekan putra #FruitFamily bukannya segera masuk ke bus namun memilih untuk ngiup sambil menonton semifinal Piala AFF. Sampai-sampai si Sita dkk marah bukan main.

Begitu Indonesia mencetak gol pertama saat itu pula rekan-rekan yang ngiup langsung masuk ke bus dan melanjutkan perjalanan untuk makan malam di sebuah rumah makan.

…..

Bagi #FruitFamily, masalah makan merupakan masalah krusial. Bagaimana tidak, selama program berlangsung, makanan yang disajikan ternyata dijatah setiap orangnya. Untuk setiap orang hanya mendapatkan ayam sekecil spicy wing, satu sate lilit, kerupuk, kuah garang asem, dan aqua gelas. Bayangkan, program sepadat ini makanannya hanya seupil.

Tiba-tiba, kami pun mempunyai inisiatif. Setiap rekan #FruitFamily mengambil lauk sesuai jatah, atau mengambil agak banyak dari jatah. Setelah mendapatkan makanan, barulah lauk pauk yang terkumpul dijadikan satu, dalam hal ini 5 piring. Nantinya, lauk pauk ini dishare untuk rekan-rekan satu kelas. Akhirnya, setiap dari kami pun saling menyuapi. Sang penulis pun disuapi beberapa kali oleh rekan-rekan putri. Hahaha…

(5 piring untuk satu kelas)

Sebuah satire dalam gemerlap Pulau Dewata.

…..

Setelah makan usai, inilah saat yang paling kami tunggu, istirahat di hotel. Rombongan menginap di  Goodway Resort & Hotels di daerah Nusa Dua. Saat perjalanan menuju hotel, hujan yang sangat deras kembali muncul walau saat makan tadi sempat reda. Begitu  #FruitFamily sampai di hotel, bus tak dapat masuk ke kanopi depan lobi karena sudah banyak rombongan yang lain datang ke hotel.

Untuk mencapai lobi, terpaksa kami harus hujan-hujanan membawa serta barang bawaan berupa koper dan tas-tas yang tentu saja sangat berat. Sang penulis mengandalkan jas hujan dan payung kecil untuk melindungi barang bawaannya.

Sesampainya di lobi, sudah banyak rekan-rekan dari kelas lain yang masih menunggu kunci kamar. Untungnya, sang penulis dan tour leader, Pak Parjo, langsung menghampiri resepsionis dan kurang dari 15 menit kunci kamar telah didapat.

Kasihan banget kelas lain yang masih nunggu kunci kamar.

Setelah menerima kunci kamar, #FruitFamily langsung menuju ke kamarnya masing –masing. Perjalanan menuju kamar tampaknya sangat menegangkan. Kami harus menerjang hujan yang sangat deras ditambah angin yang sangat kencang. Begitu hampir sampai ke dalam kompleks kamar, sang penulis hampir saja tercebur karena kubangan air yang tinggi. Namun, salah seorang rekan sang penulis, si Sangaji bahkan sempat terpeleset dan mengakibatkan seluruh barang bawaannya basah.

……..

Sang penulis mempunyai kisah unik sebelum pembagian kamar, lebih tepatnya sebelum berangkat. Saat akan berangkat, seluruh ketua kelas, termasuk sang penulis, mendapatkan lembar pembagian kamar dari panitia widyawisata. Saat sang penulis membaca daftar tersebut, sang penulis kaget bukan kepalang. Apa pasal? Nama sang penulis tak ada di dalam daftar. Setelah membaca lembaran tersebut berkali-kali, tetap saja nama sang penulis tak ada.

Iki nek rak ana tenan, aku balik ning Jakarta! (Ini kalau kamarnya tidak ada beneran, aku pulang ke Jakarta)

Akhirnya, pada saat kunjungan di Bedugul, Phoa Willy menghampiri sang  penulis dan memberi ralat mengenai daftar pembagian kamar. Ralat tersebut justru menguntungkan karena kamar rekan-rekan putra #FruitFamily, termasuk kamar sang penulis, dijadikan satu dekat dengan parkir bus dan pintu masuk hotel.

……..

Saatnya kami istirahat di hotel berbintang 4 ini. Saatnya kami men-charge peralatan telekomunikasi dan kamera.

(Kondisi kamar umunya terdiri dari ruang TV [atas], ruang makan, dan ruang tidur [bawah]. Dalam hal ini, sofa yang ada di ruang tv disulap menjadi sofa bed)

HARI KETIGA, SENIN – 20 DESEMBER 2010

Saatnya sarapan.

Dalam benak sang penulis, hotel bintang 4 pastinya sarapannya buffet. Bisa ngambil nasi goreng sesuka hati, ngambil berbagai macam lauk, minum susu segar, bakar roti sendiri, pokoknya enak. Eh,ternyata,sarapannya juga DIJATAH -_____-

Rekan-rekan sang penulis merasa heran kenapa sarapan sang penulis tidak habis bahkan hampir utuh.

Wis rak doyan.

Setelah sarapan, #FruitFamily melanjutkan perjalanan menuju ke GWK (Garuda Wisnu Kencana). Namun, karena hujan tak kunjung berhenti sejak tadi malam, makan destinasi dialihkan terlebih dahulu ke Krisna sambil menunggu cuaca reda.

Saat akan masuk ke pintu masuk, ada sebuah insiden kecil. Si Sita terpeleset di lorong pintu masuk. Tangan dan kakinya memar. Wajahnya menahan sakit bahkan hampir meneteskan air mata.

Ini juga aneh, masa engga ada papan ‘Caution, Wet Floor’ atau engga ada petugas yang membersihkan ?

(Bu Rochyati [baju coklat] sedang memilih busana di Krisna)

Di Krisna, sang penulis berbelanja ditemani dengan si Fahri, Ari Wibawa, Fandy Erwinda, dan Bayu Seno. Sang penulis di sini hanya membeli topi khas bali dan  hiasan untuk dipajang di ruang tamu. Tentu saja, harga di sini harga pas dan harganya sedikit agak mahal.

Kalau beli panganan, di rumah engga ada yang makan. Apalagi, orang tua sang penulis juga tahu kalau sang penulis engga seneng shopping (karena ortunya juga engga seneng shopping).

Setelah puas berbelanja, rombongan makan siang di toko ini juga. Ternyata, toko ini juga menyediakan rumah makan untuk rombongan skala besar.

(Suasana makan siang di Krisna)


(Sang penulis [tengah, kaos putih] bersama (kiri-kanan) Bayu Seno, Kun Fahri, Fandy Erwinda, dan Ari Wibawa menunggu makan siang disajikan)

GARUDA WISNU KENCANA

Inilah destinasi yang kami kunjungi setelah makan siang di Krisna. GWK terletak diatas dataran tinggi berkapur padas dan menghadap ke pesisir pantai selatan Pulau Bali.

Seperti yang telah kita ketahui, GWK merupakan megaproyek yang hingga kini belum selesai pengerjaannya. Jika nantinya GWK selesai dikerjakan, maka tinggi patungnya konon katanya hampir setinggi Patung Liberty yang ada di New York, Amerika Serikat. Hingga saat ini, kita hanya dapat menikmati potongan patung berupa badan Dewa Wisnu, kepala Garuda, dan tangan Dewa Wisnu. Patung ini terbuat dari kuningan dan tembaga.

(Inilah maket patung yang patungnya sendiri pengerjaannya belum rampung-rampung)

Di kompleks GWK, terdapat berbagai fasilitas seperti segway, flying fox, bahkan ATV. Namun, karena keterbatasan waktu, kami hanya menikmati pemandangan dan berfoto-foto ria di kompleks GWK, lebih tepatnya di Plaza Garuda.

(Berfoto bersama di depan patung Garuda)

(Sang penulis ‘mencium’ patung Garuda. Tampak beberapa rekan sang penulis menertawai sang penulis karena aksi kocak ini)


(Polah tingkah rekan sang penulis yang tak kalah kocak. Atas: Irham ‘dimakan’ Garuda. Bawah: Yaris ‘mengelus’ paruh Garuda)


(Beberapa sudut di sekitar kompleks GWK)

Waktu berkunjung kami di GWK pun telah usai. Saatnya bermain air di Pantai Dreamland yang jaraknya tak begitu jauh dari GWK. Namun sebelum kembali ke bus, sang penulis menyempatkan diri untuk membeli gantungan kunci di toko yang sekaligus merupakan akses keluar dari kompleks GWK.

PANTAI DREAMLAND

Sang penulis dan rekan-rekan yang lain pun bingung kenapa pantai ini dinamakan Pantai Dreamland.

Kayak di luar negeri aja, emangnya DISNEYLAND?

Asal usul nama pantai yang terletak di daerah Pecatu itu sendiri dikarenakan beberapa tahun lalu di daerah ini terdapat sebuah proyek perumahan dan objek wisata. Namun proyek tersebut terhambat dan terbengkalai. Para penduduk desa Pecatu yang dulunya hidup sebagai petani sangat berharap proyek selesai dan mereka bisa menekuni bisnis lain di bidang pariwisata. Karena itulah lahan disekitar pantai disebut dengan Dreamland (tanah impian).

Akses menuju ke pantai Dreamland pun masih terbengkalai alias masih sangat rusak. Untuk menuju pantai saja kami harus melewati gundukan tanah berbatu. Namun, hal itu terbayarkan dengan keindahan pantai berpasir putih ini.

(Berlarian di bibir pantai layaknya di film hollywood)


(Membuat tulisan ‘#FruitFamily’ di pasir)

Rasanya sangat tidak puas jika kami hanya 30 menit di pantai berpasir putih ini. But, the show must go on. Setelah dari Pantai Dreamland, saatnya kami ke tujuan utama kami di Pulai Bali, Pantai Kuta.

PANTAI KUTA

Pantai ini merupakan destinasi yang WAJIB dikunjungi saat berada di Pulau Dewata. Walau pantai ini menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun internasional, sang penulis justru tidak mendapatkan sensasi saat tiba di pantai ini.  Untuk menuju ke Pantai Kuta, kami harus naik sebuah shuttle yang mirip dengan angkot karena bus tidak dapat melewati jalanan di sekitar Pantai Kuta. Orang setempat menyebutnya Komotra. Cukup murah sih, hanya 3000 rupiah sekali jalan.

(Shuttle yang tersedia bila ingin menuju ke Pantai Kuta dari Central Park)

….

Sang penulis selama di Pantai Kuta tak ingin berbasah-basahan ditambah mood sang penulis saat di Pantai Kuta agak hancur, maka sang penulis hanya duduk termenung. Sesekali mengambil foto untuk dokumentasi. Si Sita pun sama seperti sang penulis. Ia pun hanya duduk termenung sambil menikmati pemandangan. Sesekali, ia memanggil jasa tukang tatoo untuk mentatookan kakinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WITA, saatnya kembali ke bus. Namun, bagi #FruitFamily, masalah mulai muncul. Apa? Kami kesulitan mencari komotra yang biasa mangkal di depan Hard Rock Cafe. Terpaksa, kami menggunakan shuttle lain yang bukan komotra.

Yang penting bisa sampai di Central Park.

Akhirnya, beberapa menit kemudian, kami pun sampai di Central Park. Saat akan turun, sang supir mulai memungut biaya. Kami pun berkata “17 orang,Pak.” namun SANG SUPIR justru berkata “17 orang apanya? Ngawur. 20 orang!”

Ha? 20 orang? 3 orang sisanya siapa Pak? SILUMAN?

Sang penulis dan rekan sang penulis dari XI IA 9, Renda Rachman, sudah jelas dan yakin bahwa yang ikut dalam perjalanan pulang adalah 17 orang. Daripada memperkeruh suasana, kami pun dengan terpaksa tetap iuran untuk ’20 orang’.

Wah, supirnya ngawur. Ini mah bisa memperburuk citra pariwisata Pulau Dewata…

…..

Desitinasi berikutnya setelah dari Pantai Kuta adalah Museum Kartun Indonesia Bali atau lebih terkenal dengan Museum Jangkrik karena di belakang museum terdapat outlet kaos yang bermerek Jangkrik. Museum ini merupakan museum kartun yang bukan hanya pertama di Indonesia, tetapi juga di Asia Tenggara. Museum yang terletak di Sunset Road, Kuta ini menampung sekitar 200an karya kartunis dari seluruh Indonesia.

(Sang penulis menikmati karya para kartunis yang terpajang di dinding)

Setelah puas melihat karya-karya kartunis, saatnya kami makan malam di kafetaria yang terletak belakang museum ini dan disamping kafetaria ini terdapat hamparan sawah hijau. Lagi-lagi, makannya dijatah. Oke.

Para rombongan di museum ini setelah makan malam disuguhi presentasi yang tidak jauh kaitannya dengan kartun. Namun, presentasi ini hanya berlaku untuk kelas XI IA1 sampai dengan XI IA 6. Otomatis, karena #FruitFamily tak ikut presentasi, maka kami setelah makan malam langsung bergegas menuju ke hotel. Karena si Darian akan tampil dengan bandnya, After School, terlebih dahulu sebelum presentasi, maka #FruitFamily dengan setia menontonnya hingga usai.

(Atas: Penampilan Allsize. Bawah: Penampilan After School)

…..

Saatnya pulang. Begitu kami tiba di hotel, kami sangat senang karena kami adalah rombongan pertama yang datang ke hotel. Langsung saja #FruitFamily menuju ke kamar masing-masing. Namun, sang penulis justru nekat menuju ke lobi. Apa pasal? Paman sang penulis, Om Ajus, yang tinggal di dekat hotel datang menjenguk sang penulis. Beliaulah yang nanti akan mengantar sang penulis menuju ke Bandara Ngurah Rai esok harinya.

Sang penulis sudah membuat janji dengan beliau sebelumnya. Tepat jam 10 malam, Om Ajus pun datang dengan mobil warna silvernya. Sang penulis pun langsung masuk ke mobil. Untungnya, hal ini tak banyak diketahui oleh rekan-rekan dari kelas lain karena  #FruitFamily datang pertama ke hotel.

Memang hal ini (keluar hotel) agak melanggar aturan, tapi ya gimana lagi, aku udah laper banget.

Langsung saja, beliau mengajak sang penulis untuk makan bersama. Sang penulis memutuskan untuk ke KFC yang tak jauh dari hotel.  Sesampainya di KFC, sang penulis langsung memesan kolonel yakiniku, french fries, pudding, mirinda, dan chicken fillet.

Inilah pembalasanku karena aku tidak makan dengan layak atau bahkan kenyang selama program berlangsung.

Setelah sang penulis sangat kenyang dengan sajian makanan KFC, sang penulis mampir sebentar ke Circle K guna membeli cemilan untuk rekan-rekan #FruitFamily selama perjalanan pulang karena sang penulis besok tidak pulang ke Semarang bersama #FruitFamily, melainkan langsung ke Jakarta. Sekalian liburan bersama orang tua.

Bengi iki rasane wis lego, wis mangan enak. (Malam ini rasanya sudah lega, sudah makan enak)

Saatnya pulang kembali menuju ke hotel.

….

Sang penulis pun masuk ke kamarnya. Setelah beberapa rekan putra mengetahui kepergian sang penulis tadi ke KFC, si Yaris, Luthfi, Ricko, dan Irham  merasa iri dan langsung saja mereka menelepon room service untuk memesan makanan. Agak mahal memang, tapi mereka tampaknya sangat lapar, apalagi dilihat dari wajah mereka yang ‘agak’ melas.

HARI TERAKHIR SELASA, 21 DESEMBER 2010

Saatnya packing. Saatnya sang penulis mempersiapkan tiket untuk menuju ke Jakarta yang sudah dipesan 3 minggu sebelumnya.

Sang penulis pun menulis status di BBM dan akun twitternya seperti ini. “GA409, wait for me”. Tak pelak, status ini mengundang banyak komentar. Salah seorang rekan sang penulis dari kelas XI IA 10 pun mengirim SMS kepada sang penulis yang isinya kurang lebih seperti ini.

“Ndan, kenapa kamu pulang?”

sang penulis langsung menjawab

“Kan aku mau ketemu sama ortu”

“….”

Sang penulis tiba-tiba menjadi khawatir apakah dengan kepulangan sang penulis nanti ke Jakarta menimbulkan dugaan dari  rekan-rekan kelas lain yang tidak enak bahwa sang penulis tidak betah lagi di Pulau Bali sehingga memutuskan untuk pulang lebih cepat.

….

Atas pertimbangan sang penulis sendiri dan juga rekan-rekan #FruitFamily, sang penulis tetap menemani #FruitFamily ke destinasi terakhir, Tanjung Benoa. Di sinilah sang penulis berpamitan dengan #FruitFamily dan mengambil beberapa foto walau tak sampai puluhan jumlahnya. Sang penulis dengan sangat terpaksa tidak dapat menjajal beberapa permainan air yang ada di Tanjung Benoa atau mengungjungi Pulau Penyu karena keterbatasan waktu.

(Yaris dan Sita saat akan mencoba flying fish)


(Yoga aka Nonog dan Mahardika aka Slim berfoto dengan celana renang barunya)


(Ekspresi para guru saat difoto sang penuls)

….

Jam 11.00 WITA, sang penulis dijemput Om Ajus. Saatnya mengambil koper dan tak lupa berpamitan dengan supir dan kenek bus yang telah mengantarkan #FruitFamily ke tujuan. Selang tak beberapa lama, sang penulis tiba di Bandara Ngurah Rai. Karena Om Ajus ada janji dengan kliennya dan sang penulis juga tak enak untuk meminta Om Ajus menemani sang penulis di bandara maka sang penulis putuskan untuk ditinggal sendirian di bandara walau waktu keberangkatan masih sekitar 3 jam lagi.

….

Hujan pun mulai turun. Tampaknya Pulau Dewata merasa sedih atas kepulangan sang penulis.

….

Walau sudah sampai di bandara, sang penulis belum bisa check in karena check in hanya sesuai nomor penerbangan yang ada.

Ini masih GA407 mas, kalo GA409 nunggu sekitar 1 jam lagi

Sang penulis tetap merasa tenang karena saat reservasi tiket, sang penulis sudah menentukan seat yang akan digunakan. Tinggal nunggu boarding passnya keluar. 1 jam pun berlalu, loket check in GA409 dibuka. Setelah semua bagasi didata dan sang penulis mendapatkan boarding pass, sang penulis makan siang sebentar di sebuah rumah makan.

Sembari makan, sang penulis merenung  sambil melihat air hujan bertetesan dan menanyakan kondisi terkini #FruitFamily kepada Sangaji .

…..

Pukul 14.00 WITA, saatnya boarding.  Begitu sang penulis akan menginjakkan kaki ke dalam kabin pesawat, sang penulis masih belum rela meninggalkan tempat yang memberikan kenangan seumur hidup ini. GA409 pun akhirnya take off. Take off di saat hujan masih turun dengan deras.

…..

14.45 WIB, sang penulis tiba di Jakarta. Sang penulis langsung pulang ke rumah bersama ayah sang penulis.  Handphone sang penulis pun mulai dihidupkan dan langsung menerima SMS dari Sangaji yang memerintahkan sang penulis untuk menjarkom ke #FruitFamily agar segera masuk ke bus.

Jawaban dari rekan-rekan sang penulis setelah sang penulis jarkom:Ini udah di bis, Ghamdan. Hahaha”.

(Sekedar informasi saja, rombongan #FruitFamily baru tiba di Semarang sekitar 24 jam setelah kedatangan sang penulis di Jakarta. Molor sekitar 6 jam dari jadwal semula).

SMS yang lainnya pun berdatangan. Salah seorang rekan sang penulis dari XI IA 8 pun mengirim SMS ke sang penulis sampai 3 kali dengan isi yang sama: “Ndan, u udh di jakarta?”

…..

Walau selama pelaksanaan teknis widyawisata terkesan amburadul, namun ini tetap unforgettable memories bersama #FruitFamily yang kesekian kalinya.

Tiba di Jakarta, sang penulis mulai menyibukkan diri dengan proyek film dokumentasi #FruitFamily yang bertajuk “Eat Pray Sleep” yang insya allah akan tayang beberapa bulan lagi.

Sampai jumpa Bali (6 tahun lagi).

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s