Catatan Si Ghamdan Goes to HK

(Sang penulis [3 dari kiri] berfoto bersama rombongan di suatu sudut di Victoria Harbour, HK)

Jreng……

Akhirnya sang penulis kembali memposting cerita terkininya, kini dengan suasana berbeda.

5 bulan setelah sang penulis berkelana ke negeri kebab, tiba-tiba saja sang penulis mendapat panggilan untuk berkelana ke luar negeri kembali. Kali ini sang penulis, tentu saja bersama salah seorang rekan dari #FruitFamily, Irham Rosyadi, mengunjungi salah satu negara yang terletak di benua Asia, Hong Kong.

Wow.

Selain kami berdua, ada si Andy Aulia, Hani Mufidah, dan Enggardini yang ikut bersama kami. Guru pendamping yang ikut dalam rombongan adalah Pak Khanif, guru komputer. Misi ke Hong Kong kali ini bukan liburan semata tetapi juga untuk mengikuti Hong Kong International Science Fair (HKISF) yang berlangsung dari tanggal 16-18 Oktober 2011.

Persiapan untuk Goes to Hong Kong ini sebenarnya sangat mendadak.

Saat penerbangan menuju Semarang setelah libur lebaran, sang penulis membaca sampul inflight magazine sebuah maskapai, kalau tidak salah headlinenya Rediscovering Hong Kong dengan latar belakang perahu tradisional HK. Awalnya sih biasa saja. Namun, beberapa hari kemudian, sang penulis bersama yang lain mendapat mandat mendadak untuk mengikuti HKISF. Sebuah kebetulan.

Awalnya orang tua sang penulis kurang setuju kalau sang penulis pergi ke HK untuk lomba, namun akhirnya diijinkan asalkan ini adalah lomba yang terakhir sebelum fokus untuk persiapan Ujian Nasional dan masuk PTN.

Persiapan yang dilakukan bukan hanya untuk persiapan lomba seperti persiapan makalah, presentasi, dll. tetapi juga mempersiapkan tarian yang harus ditampilkan dalam upacara pembukaan HKISF. Maka dari itu, kami harus sinau kilat ke guru tari, Pak Dian dan Bu Umi.

Urusan memesan tiket pada awalnya ada ganjalan. Awalnya seluruh anggota rombongan ingin mengguankan GA karena ada GA Travel Fair di Java Mall yang diskonnya gila-gilaan, tetapi karena sesuatu hal, impian numpak GA ke HK pun pupus sudah. Beberapa hari kemudian sampai pada akhirnya, pilihan kami jatuh pada SQ yang harga tiketnya juga promo.

Sekalian mencicipi Changi Airport untuk pertama kalinya

HARI PERTAMA – JUMAT, 14 OKTOBER 2011

Semua rekan-rekan sang penulis di sekolah sedang disibukkan diri dengan ulangan tengah semester gasal. Namun, sang penulis justru pergi ke Bandara Ahmad Yani untuk flight ke Jakarta.

Sang penulis datang pertama di bandara bersama nenek dan paman sang penulis sekitar pukul 6 pagi. Tak lama berselang, Irham bersama keluarga besarnya termasuk bapaknya datang di bandara, disusul oleh kedatangan Pak Khanif yang menggunakan taksi dan si Hani beserta Enggar yang baru saja tiba dari kos. Namun, si Andy belum datang. Karena cemas, sang penulis mencoba menghubungi si Andy melalui BlackBerry Messenger maupun telepon.

Setelah dihubungi oleh sang penulis, si Andy menuturkan bahwa Ia masih berada di daerah sekitar rumah sang penulis. Hal itu seketika membuat semua anggota rombongan beserta pengantar panik bukan main. Apa pasal? Semua boarding pass masih dibawa oleh si Andy (kecuali milik sang penulis) dan bahkan belum memasukkan bagasi, padahal waktu sudah hampir menunjukkan pukul 07.00, 30 menit sebelum penerbangan.

Nyaris pukul 07.00, si Andy tiba bersama bapaknya. Tanpa pikir panjang, semua anggota rombongan menuju ke check-in desk dan berpamitan (tentunya dengan terburu-buru).

(Harap-harap cemas menanti si Andy karena dia memegang semua boarding pass anggota rombongan (kecuali milik sang penulis)

Untungnya, urusan bagasi beres dalam sekejap. Kini saatnya menanti panggilan boarding.

“Penumpang GA233 dipersilahkan masuk ke pesawat udara”

Let’s start the journey….

(berfoto bersama sebelum masuk pesawat Boeing 737-800)

Jujur, penerbangan Semarang-Jakarta adalah penerbangan yang tidak terasa, tahu-tahu sudah sampe tujuan. Snack mulai dibagikan oleh pramugari kemudian dimakan dan ludes dalam sekejap. Karena menonton film percuma, maka sang penulis memutuskan untuk menyetel lagu melalui AVOD yang didendangkan oleh salah satu band kondang, GIGI.

(Suasana penerbangan pagi yang penuh. Tak heran, kami mendapatkan kursi di nomor 30 (paling belakang)

Pukul 8.30, akhirnya kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan langsung saja kami mengambil bagasi dan check-in di terminal 2D. Sebelum menuju ke meja check-in, barang bawaan kami diperiksa kembali oleh petugas keamanan dari pihak SQ yang seragamnya mirip seragam petugas anti teror dan berwajah sangar tetapi enak diajak ngobrol (lho).

(sang penulis di depan meja check-in SQ)

Saat check-in, sang penulis menyempatkan bertanya kepada mas-mas petugasnya di mana kami bisa menunaikan shalat Jum’at. Ternyata, masjidnya berada di luar lingkungan terminal 2. Masnya menyarankan agar kami menunaikan shalat jamak saja di mushala yang terletak di gate. Urusan check-in beres, saatnya sang penulis bertemu dengan kedua orang tua sang penulis yang sudah menanti di sebuah rumah makan cepat saji yang terletak di terminal 2F.  Anggota rombongan yang lain juga ikut ke rumah makan tersebut untuk makan siang.

Setelah berpamitan dengan orang tua sang penulis (dan tentunya meminta sangu duit), saatnya mengantri imigrasi. Buset gila, antrinya lumayan banyak. Padahal, saat akan melakukan flight ke negeri kebab, sang penulis hanya membutuhkan waktu di imigrasi kurang dari 1,5 menit (maklum, pos imigrasinya sepi, udah tengah malam). Setelah melewati proses imigrasi, kami diperiksa dengan x-ray untuk yang kedua kalinya. Kali ini,  Si Enggar ketahuan masih menyimpan fruit tea sisa snack dari penerbangan GA. Dengan terpaksa, si Enggar harus menghabiskan fruit tea tersebut.

Kenyang dengan fruit tea, saatnya berjalan menuju gate, dan hand baggage diperiksa (lagi) oleh petugas keamanan SQ. Masuk gate, peasawatnya belum dateng. Karena ini hari Jum’at dan kami tidak dapat melaksanakan shalat jumat maka kami shalat jamak terlebih dahulu di mushala. Setelah shalat, kami pun berbincang-bincang dengan bapak-bapak asli wong Jogja yang mau ke India untuk urusan engineering.

Keluar dari mushala, pesawatnya udah nongol dengan sendirinya. Saatnya nge-tweet dan berfoto bersama sebelum boarding.

(Si Irham dan sang penulis dengan menggunakan baju polo smaga dan kaos ganesha biru dengan background pesawat SQ)

Pukul 14.00 WIB, saatnya boarding dan itu artinya menikmati langganan BB untuk yang terakhir kalinya. Masuk pesawat milik SQ Boeing 777-200, kesan pertama kursinya walau desainnya lawas dan tivinya bapuk, saat diduduki sangat uempuk, seat pitch-nya longgar, panganannya enak.

Saatnya meninggalkan tanah air, untuk sejenak…

Kira-kira 1 seperempat jam kemudian, pukul 16.15 WIB (17.15 LT) tibalah kami di Changi Airport for the first time. Karena flight ke HK ada di T3, kami numpak Skytrain (kereta penghubung antar terminal).

(Numpak Skytrain masbroo…)

Begitu tiba di Terminal 3 Changi Airport, kesan pertama adalah: INI BANDARA APA KEBUN YA??? Banyak sekali tanaman di sini. Sangat berbanding terbalik dengan Soeta. Lantainya aja karpet semua. Edan

(FYI: di Changi Airport T3 juga terdapat kebun kupu-kupu. Wow).

Lupakan itu dan saatnya menjajal internet gratis. Sang penulis langsung membuka twitter dan berkorespondensi dengan rekan-rekan yang ada di tanah air.

(Si Irham membuka twitter dan berkorespondensi dengan salah satu rekan dari #FruitFamily)

(Sang penulis melihat pesawat penumpang terbesar di dunia, Airbus A380 milik SQ)

(berfoto bersama sebelum masuk ke gate)

Puas mengeksplor Changi Airport T3 (walau hanya secuil), saatnnya masuk ke gate. Saat screening, ada mbak-mbak petugas yang menanyakan ke sang penulis.

Indonesianya mana mas?” (dengan logat bahasa Indonesia yang lumayan fasih

“Jawa tengah…”

“O yo wis monggo…”

“…..”  dalam batin sang penulis berkata: “Kok sangar ya mbak-mbak petugasnya bisa berbahasa Jawa?”

Lagi-lagi, Si Enggar bermasalah dengan screening. Kini ia tertangkap basah membawa jangka di tempat pensilnya dan si Enggar langsung dibawa oleh petugas keamanan untuk membuat surat pernyataan.

Tidak lama berselang, panggilan boarding menuju SQ870 berkumandang….

Ada yang menarik saat penerbangan menuju ke HK:

Menurut salah seorang rekan sang penulis yang pernah ke HK numpak SQ, menu panganannya kebanyakan mengandung ham atau bacon (intinya mengandung babi). Dengan alasan itulah, beberapa hari sebelumnya, sang penulis me-request MOML (moslem meal) melalui web SQ. Saat MOML dihidangkan, bukanlah menu internasional yang disajikan (baca: omelet, daging ayam dsb) tapi lebih ke panganan India. Walau rasanya agak asing di lidah, tapi sang penulis tetap berusaha makan untuk mengganjal perut.

Setelah makan, sang penulis tertidur pulas. Film Cars 2 menjadi hiburan sejenak sebelum tidur.

3 jam kemudian, pukul 23.15 LT akhirnya kami menjejakkan kaki di Hong Kong International Airport.

(Pertama kali yang dilakukan setelah dari toilet adalah mengecek sinyal dan sms yang masuk)

Imigrasi di HKIA buset gila antri panjang seperti ular. Si Irham sempat terkena ganjalan saat proses imigrasi karena ada salah satu bagian di form kedatangan yang tak terisi. Namun, lancar setelahnya setelah sang penulis membantu dari belakang.

Paspor telah dicap dan itu artinya, Welcome to HK!

(FYI: masuk HK tidak memerlukan visa sama sekali, tinggal cap paspor, beres! Masa kunjungan di HK untuk WNI maksimal 30 hari. Jika ingin ke daratan RRC, maka harus membuat visa tersendiri terlebih dahulu)

Ke baggage claim, meratapi kenyataan bahwa bagasi yang ada di belt tinggal milik rombongan kami. 2 dus dan karton yang diwrapping sudah ditaruh di troli tanpa disadari entah siapa yang menaruh.

(bagasi pun sudah keluar semua)

Keluar dari baggage claim tepat pukul 00.30  (23.30 WIB)

Edan….

(Suasana Hong Kong International Airport pada tengah malam)

Sontak, kami disambut oleh supir KJRI yang asli orang Aceh. Kami menyebutnya Solmet karena wajahnya yang mirip dengan seorang ustad yang kondang di televisi. Untung saja pak supirnya cepat mengenali kami (dari bajunya aja udah keliatan).

Pak supir ini curhat sedikit kepada kami bahwa sangat lama menunggu kedatangan kami dan pak supirnya akhirnya maklum karena proses imigrasi yang edan antrinya. Tanpa berpikir panjang, kami langsung diantar ke KJRI HK yang terletak di Causeway Bay, tentunya dengan mata terkantuk-kantuk.

Sepanjang perjalanan, sang penulis awalnya heran kenapa semua mobil di HK platnya berwarna kuning.

Lho? Kok mobilnya angkot semua? (catatan: di tanah air, plat kuning diidentikkan dengan angkot).

Setelah melihat dari depan dan dengan seksama….lho platnya yang di depan putih warnanya?

Kemudian sang supir menjelaskan bahwa mobil di HK memang begitu platnya, di depan putih, di belakang kuning, jadi intinya jangan men-judge kalau semua mobil di HK adalah angkot.

Seisi mobil pun tertawa…

Gedung-gedung pencakar langit mengiasi HK menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Sambil menikmati keindahan lampu-lampu pencakar langit, sang penulis kaget ada kantor bertuliskan ‘BANK NEGARA INDONESIA’. Sang penulis lalu sadar kalau bank ini juga buka cabang di HK.

Akhirnya, kami tiba di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong. Pintu depan terkunci rapat, terpaksa lewat samping

(berpose di depan gedung KJRI HK)

Masuk gedung KJRI, rasa heran kami semakin bertambah. Apa pasal? Lift yang ada di gedung ini sistemnya ganjil genap. Satu lift melayani lantai ganjil dan lift yang lain melayani lantai genap. Karena kamar kami ada di lantai 5, kami pun menggunakan lift ganjil. Anehnya, lift ganjil ini tidak ada tombol lantai 13. Lantai 13 tergantikan oleh lantai 12A.

Sampai di kamar, kami langsung merebahkan badan kami dan tidur setelah perjalanan yang cukup panjang. Untungnya sang penulis tidak merasakan jetlag karena perbedaan waktunya hanya 1 jam lebih cepat dari WIB dan cuacanya mirip seperti di daerah Bandungan.

HARI KEDUA – SABTU, 15 OKTOBER 2011

Sang penulis mulai bangun dari tidurnya. Namun, sang penulis mulai heran kenapa saat bangun suasana di sekitar sudah terang benderang. Pantas saja, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi waktu setempat. Langsung saja beranjak dari tempat tidur dan membangunkan yang lainnya, walau masih terkantuk-kantuk. Ada yang unik saat sang penulis melihat pemandangan dari lantai 5 KJRI HK, banyak TKW yang mengantri di depan bank BNI dan Mandiri untuk mengirimkan duit yang pastinya untuk keluarga di tanah air.

Saatnya mandi. Walau tersedia shower, sang penulis tetap menggunakan gayung.

Maklum, ini Indonesia di HK.

Untuk urusan sarapan, kami sarapan dengan popmie dari persediaan bekal sang penulis sambil membuat teh celup dan menonton Dahsyat RCTI. Pak Khanif  meminta stok penyegar cap kaki tiga dikarenakan beliau agak kurang fit, dan kelihatan dari matanya, beliau sepertinya terjangkit beleken.

(Perbekalan melimpah yang ludes dalam 5 hari kedepan)

(Memasak air untuk membuat indomie. Serasa nge-kos)

Setelah puas dan kenyang dengan popmie, kami pun mempersiapkan dan menyusun display board yang akan digunakan dalam perlombaan.

(Menyusun display board yang berisi ringkasan karya masing-masing tim)

Tak terasa, waktu sudang menunjukkan pukul setengah 1 siang. Perut sudah mulai memberontak. Menyusun display board kebetulan juga telah selesai. Tanpa pikir panjang, kami langsung makan siang di Warung Chandra yang terletak di seberang KJRI HK. Toko ini menyediakan panganan negeri sendiri dan beragam produk-produk bahan baku langsung dari negeri sendiri seperti penyedap, mi instan, dsb.  Langsung saja kami memesan nasi goreng dan kwetiau dengan minum teh hangat serta membeli beberapa kue basah dan gorengan.

Tak lupa membeli kartu SIM nomor lokal yang telah terisi pulsa 50 HKD.  Katanya, biaya menelepon ke tanah air mencapai 1 HKD (1200 rupiah) per menit, dan itu betul terbukti! Langsung saja sang penulis mengabari orang tua sang penulis. Saat ditelepon, orang tua sang penulis sempat merasa khawatir karena sang penulis tidak memberi kabar sejak take off dari bandara Soekarno Hatta.

(Suasana santap siang di Warung Chandra)

(Menu makan siang sang penulis, nasi goreng dan mendoan)

Kenyang dengan santapan makan siang negeri sendiri, saatnya kami mencoba mengeksplor Causeway Bay sekalian untuk refreshing.

(Di setiap anak tangganya tertulis tahun pelaksanaan Olimpiade)

(sang penulis bersama Irham  di sebuah jembatan)

(Sebuah trem yang tidak jadi ditumpangi karena tidak tahu cara membayarnya)

(Jangan salah, ini jembatan penyeberangan lho)

(BCA ternyata juga buka cabang di Causeway Bay)

Saat di atas jembatan penyeberangan yang tak tahu namanya, sang penulis menemukan ruko bertuliskan BCA dan WARUNG MALANG.

Buset, ini Causeway Bay bagaikan Little Indonesia .__.

Turun dari jembatan penyeberangan kami dikejutkan dengan banyaknya TKW yang leyeh-leyeh di anak tangga jembatan penyeberangan tersebut dan bahkan kami juga menemukan Warung Chandra (lagi). Beberapa saat kemudian, si Andy tiba-tiba ingin membeli sepatu karena sepatu yang ia gunakan saat berangkat kemarin rusak dan sudah tak nyaman. Maka dari itu, kami menyambangi sebuah mal yang bernama Windsor House. Interiornya apik bukan main seperti di Pacific Place, SCBD. Di mal ini pula kami sekaligus mencari oleh-oleh khas HK

Adoh-adoh menyang HK sobone tetep wae ning mall (Jauh-jauh ke HK tetap saja mengunjungi mall)

Sampailah kami di sebuah toko sepatu yang menawarkan diskon yang lumayan. Si Andy tertarik dengan sepatu merek ternama yang juga didiskon. Namun, kami semua kaget bahwa sepatu tersebut MADE IN INDONESIA. Wooow.

Made In Indonesia kok lebih murah di sini ya, em am em.

SI Andy dkk curhat ke petugas tokonya kalau harga sepatu yang ia beli  jauh lebih murah dibandingkan dengan beli di dalam negeri. Petugas toko  menanggapinya dengan senyum.

Si Irham juga tak ketinggalan untuk membeli sepatu merek ternama tersebut, namun dia mendapat sepatu MADE IN VIETNAM. Sang penulis justru membeli buku bergambar ‘Thomas and Friends’ untuk adik sang penulis.

Satu jam kemudian, karena kami tak menemukan oleh-oleh khas HK, kami kembali ke KJRI dan berniat melanjutkan misi mencari oleh-oleh khas HK pada malam harinya.

Kembali ke KJRI, sang penulis baru menyadari bahwa di KJRI HK, lebih tepatnya di kamar sang penulis tempati, tidak ada hotspotnya. Padahal, sang penulis sangat ingin sekali berinteraksi dengan rekan-rekannya dari tanah air.

Malam nanti, aku mau cari warnet!

————————-

Malam harinya, lebih tepatnya pukul 18.00, kami beranjak keluar dari KJRI untuk melanjutkan misi mencari oleh-oleh. Sebelum itu, kami juga mencari makan malam. Meratapi kenyataan bahwa Warung Chandra di depan KJRI sudah tutup, maka kami makan malam di sebuah restoran cepat saji dan memesan Mega McPepper (burger double berbumbu lada hitam) dengan bonus Shake Fries dan berharap jika di restoran cepat saji ini mempunyai akses internet gratis (tapi ternyata tidak).

(menu yang tidak ada di tanah air)

Setelah puas makan malam, saatnya sang penulis bersama yang lainnya mencari warnet. Namun, sejauh mata memandang, tidak ada satupun warnet di sekitar Causeway Bay.

Apa ini gara-gara masyarakat HK sudah mobile sehingga tak butuh warnet ya?

Untungnya, sang penulis menemukan sebuah toko handphone dan mampir ke dalamnya sambil menjajal Samsung Galaxy Tab untuk mengecek akun email dan mentionan twitter Saat itu pula, si Hani dan Enggar kembali ke KJRI untuk beristirahat.

Kini, yang tersisa tinggal sang penulis, si Irham, si Andy, dan Pak Khanif. Saatnya melanjutkan misi mencari oleh-oleh. Awalnya, kami bingung harus memulai dari mana, masa harus masuk ke mal lagi?  Pak Khanif akhirnya memberanikan diri bertanya ke salah satu TKW yang sedang nongkrong di suatu sudut di sebuah mal. Namanya mbak Kartika.

Di mana kami bisa mendapatkan oleh-oleh khas HK (seperti kaos bertuliskan HK) di sekitaran Causeway Bay?

Di sini jarang mas, adanya di daerah Mong Kok dan itu murah-murah. Kalau mau ke Mong Kok harus naik MTR terlebih dahulu (catatan: MTR adalah moda transportasi sejenis subway / KRL)

Mendengar hal itu, kami tiba-tiba lemas. Pertama, kami pun belum tahu cara numpak MTR. Kedua, jarak Causeway Bay – Mong Kok sepertinya jatuh (dan memang jauh).

Namun, mbak Kartika yang asli Wonosobo ini tiba-tiba berkata: “Di deket sini kayaknya ada pasar yang jualan oleh-oleh kayak gantungan kunci mas, kalo mau ayo saya antar.”

Wah, mbaknya apikan. Langsung saja kami dianta ke sebuah pasar yang letaknya agak mblusuk masuk ke gang, namun bersih dan rapi. Akhirnya, kami menemukan kios yang menjual cinderamata khas HK. Tetapi, Pak Khanif berpesan agar membeli oleh-olehnya sedikit dulu, nanti jika sempat ke Mong Kok baru beli yang banyak. Nasihat Pak Khanif kemudian di-iyakan oleh sang penulis, Irham, dan Andy. Sang penulis membeli beberapa cinderamata untuk sanak saudara sang penulis.

Setelah puas membeli cinderamata, kami dikejutkan dengan hadirnya si Hani dan Enggar ke kios tempat kami membeli cinderamata barusan.

Lho, katanya pulang? Kok ke sini?

Seluruh anggota rombongan menahan tawa. Selang beberapa saat, ternyata si Hani dan Enggar hanya melihat-lihat saja di kios tersebut.

————————-

Setelah dari pasar yang tak tau namanya, sang penulis tiba-tiba ingin ke sebuah tempat yang tergambar seperti di nomor kartu prabayar yang sang penulis beli tadi saat makan siang. Di tempat tersebut kita bisa melihat-lihat gedung pencakar langit dan ada background lautnya. Tempat itu jadi salah satu ikon HK.

Itu namanya Victoria Harbour mas..

Tanpa pikir panjang, seluruh anggota rombongan setuju dengan ide sang penulis. Kami pun pergi ke Victoria Harbour bersama mbaknya tentunya dengan naik MTR. Asiiiiiiik. Karena kami belum tahu cara menumpak MTR sama sekali, kami pun diajarkan cara membeli tiket dan memasukkan karcis. Harga rata-rata tiket MTR berkisar 11 HKD sekali jalan, cukup murah ya.

(Pak Khanif (kanan) saat diajari cara memesan tiket MTR. Dengan mesin ini, bisa untuk membeli ke seluruh rute, kecuali ke bandara)

(Inilah wujud karcis MTR yang nantinya akan ditelan oleh mesin setelah selesai menggunakan MTR)

(Suasana di peron saat menanti kereta datang. Calon penumpangnya rapi.)

Setelah mendapat tiket, tiketnya dijaga betul, jika hilang, tak bisa keluar stasiun MTR.

Masuk ke dalam MTR, rasanya seperti nostalgia saat numpak subway di Istanbul….

Stasiun Tsim Tsa Shui menjadi stasiun akhir kami. Perjalanan kini berlanjut. Di tengah-tengah perjalanan, sang penulis melihat bangunan yang megah di dekat sebuah taman dan atapnya berbentuk kubah. Ternyata, itu adalah Masjid Kowloon, yang konon katanya merupakan masjid terbesar di HK. Sayangnya, kami tak berkesempatan ke masjid yang katanya baru dibuka beberapa bulan lalu.

Kalau ke sana, sekalian wisata religi….

Perjalanan dilanjutkan kembali, tentunya dengan berjalan kaki. Udara laut yang amis mulai terasa. Benar saja. Perjalanan jalan kaki yang sangat melelahkan kini terbayar. Tujuan sang penulis kini tercapai, ke Victoria Harbour, tempat yang sang penulis idam-idamkan sejak membeli nomor perdana.

(Inilah pemandangan pencakar langit yang dilihat dari Victoria Harbour)

(Sang penulis di Victoria Harbour)

(Clock Tower-nya HK)

(menggalau bersama)

Setelah puas jeprat-jepret, kini saatnya kami leyeh-leyeh di depan Hong Kong Cultural Centre sambil berbincang-bincang bersama mbak Kartika yang sudah bekerja sebagai TKW di HK selama 3 tahun. Sharing cerita antara antar anggota rombongan dan mbak Kartika pun cukup hangat, tentunya diselingi dengan minum air mineral. Sang penulis menyempatkan diri membuka UberTwitter dan menguptade status twitternya karena di tempat ini ada free hotspot-nya.

Malam makin larut. Mata mulai tak kuasa menahan kantuk. Kami kembali ke KJRI HK, tentunya dengan numpak MTR.

(di lorong menuju MTR, pejalan kaki diatur bagaikan mobil, terlihat dengan adanya lampu rambu)

Sesampainya di stasiun Causeway Bay, kami berpisah dengan mbak Kartika dan saling mengucapkan terima kasih. Mbak Kartika merasa senang karena bisa menemani kami jalan-jalan di waktu liburnya.

Pukul 11 malam, kami tiba kembali ke KJRI dan langsung latihan menari untuk opening ceremony HKISF yang akan diadakan besok malamnya. Pada saat latihan menari, sang penulis kentut secara tak sengaja (lebih ke sengaja sebenarnya) dan mengeluarkan bunyi yang cukup keras. Hal ini menjadikan latihan menari tidak fokus dan konsentrasi buyar karena bunyi kentut. Semua anggota rombongan tetap melanjutkan latihan menari meski sambil menahan tawa.

Jam sudah menunjukkan pukul 2 dinihari, saatnya packing dan tidur karena besok pagi hari kami harus ke Regal Riverside Hotel yang terletak di daerah Sha Tin untuk menginap bersama peserta-peserta HKISF dari berbagai negara.

HARI KETIGA – MINGGU, 16 OKTOBER 2011

Pagi yang cukup cerah untuk memulai hari di HK. Saatnya kami menunju ke Regal Riverside Hotel yang terletak di daerah Sha Tin. Namun, sebelum kami berangkat, ternyata ada insiden kecil. Pihak KJRI tidak dapat mengantarkan kami ke Regal Riverside Hotel dikarenakan banyak sekali tamu yang juga harus dilayani oleh driver KJRI HK.

Sebenarnya ini juga kelalaian kami karena kami belum memberitahukan pihak KJRI HK jauh-jauh hari untuk mengantarkan kami ke Regal Riverside Hotel.

Berarti sistemnya engga bisa mendadak, harus dijadwalkan beberapa hari sebelumnya….

Sebagai gantinya, KJRI HK meminta kami untuk numpak taksi. Untung saja di depan KJRI HK ada 1 taksi, tinggal nyari 1 taksi lagi karena tak mungkin seluruh anggota rombongan Smaga naik dalam 1 taksi. Pak Ujang, salah satu staf KJRI HK, meminta kami untuk menuliskan alamat hotel dan nantinya alamat hotel akan ditranslate oleh beliau dalam huruf lokal. Kok ditranslate segala? Supir taksi di HK kebanyakan juga belum fasih berbahasa inggris. Driver taksi yang melayani sang penulis bersama rombongan untungnya lancar berbahasa Inggris.

——-

FYI: Taksi di Hong Kong hanya ada satu jenis mobil, jenis sedan buatan Toyota. Setiap armada taksi di HK umumnya dapat mengangkut 4-5 penumpang. Namun, yang membedakan taksi di HK adalah warna pada armadanya. Jika taksi tersebut berwarna merah, taksi tersebut dapat melayani ke hampir semua wilayah di HK, taksi yang berwarna biru umumnya hanya beroperasi di daerah New Territories, dan taksi berwarna biru hanya beroperasi di Pulau Lantau.

Lucu juga ya.

Lha kalau mau ke bandara? Ketiga warna taksi dapat melayani ke bandara, termasuk ke Disneyland.

Hebatnya, kita bisa meminta struk bukti biaya kepada sang supir apabila kita membutuhkan.

——-

Taksi yang pertama dinaiki oleh sang penulis bersama si Hani dan Enggar. Sepanjang perjalanan, sang supir taksi menceritakan kepada sang penulis bahwa banyak sekali terowongan di HK. Mengapa? Terowongan di HK merupakan tulang punggung transportasi di HK karena terowongan di HK merupakan penghubung antar wilayah yang dipisahkan oleh laut. Selain itu, terowongan di HK juga berfungsi sebagai penghubung daerah pegunungan, cara kasarnya membelah gunung.

(Salah satu terowongan yang sang penulis lewati, Lion Rock Tunnel)

Sekitar 45 menit kemudian, akhirnya kami tiba di Regal Riverside Hotel. Biaya taksi dari KJRI HK ke Regal Riverside Hotel mencapai sekitar 156 HKD.

Tak lama berselang, taksi kedua yang ditumpangi si Irham, Pak Khanif, dan Andy tiba di depan lobi hotel. Kini saatnya masuk  ke dalam lobi hotel. Tiba di lobi hotel, kami pun disambut oleh Julitta Mang, presiden (ketua panitia) HKISF. Tampak banyak sekali para tamu undangan dan peserta dari negara yang lain sedang berbincang bersama di lobi. Tak ketinggalan, beberapa dari anggota rombongan SMA 3 Semarang berbincang-bincang dengan salah satu tamu undangan dari Italia.

Sesaat kemudian, Jullita Mang segera membagikan buku panduan HKISF dan memberikan kunci kamar kami.

(Sang penulis [paling kanan] bersama anggota rombongan yang lain memegang buku panduan HKISF)

Saatnya menaruh tas di dalam kamar dan kini saatnya mempersiapkan stan yang akan digunakan dalam perlombaan. Venue pameran HKISF berada di Hong Kong Design Institute yang terletak di daerah Tiu Keng Leng. Awalnya, untuk menuju ke venue, para peserta menggunakan bus. Namun, para peserta justru diajak untuk numpak MTR menuju venue, dan bahkan memakai duit sendiri. Menuju ke stasiun MTR terdekat bersama peserta yang lain pun menggunakan shuttle yang disediakan pihak hotel secara gratis.

Untung saja kemarin saat jalan-jalan di Victoria Harbour sudah diajarkan cara numpak MTR. Mbaknya dapet pahala gede tuh…

Sesampainya di stasiun MTR, banyak peserta lain yang kebingungan cara memasukkan tiket dan bingung harus menuju ke peron yang mana. Lagi-lagi, rombongan Smaga pun mengucap syukur karena sudah diberitahu cara numpak MTR.

Perjalanan menuju venue dengan MTR membutuhkan waktu sekitar 30 menitan. Sesampainya di venue, kami langsung menempati stan yang sudah diatur oleh pihak panitia.


(Atas: Sang penulis dan Irham sedang menata stannya. Tengah: Si Andy yang menata stannya dibantu oleh si Enggar. Bawah: Si Hani dan Enggar dengan stannya)

O iya, saya lupa mengatakan jika Hong Kong International Science Fair ini diikuti oleh sekitar 17 negara. Tim dari Indonesia satu-satunya berasal dari SMA 3 Semarang. SMA 3 Semarang mengirimkan 3 tim

———————–

Pertama, sang penulis dan Irham dengan proyeknya ‘SMS Gateway sebagai Alternatif Lembar Jawab Komputer’. Karya sang penulis dan Irham ini memungkinkan menjawab soal pilihan ganda hanya dengan mengirimkan SMS ke sebuah server, tidak perlu melingkari bulatan di lembar jawab komputer. Cara kerjanya adalah siswa mengirim jawaban ke nomor yang tersimpan di dalam modem khusus SMS Gateway dengan format yang telah ditentukan. Setelah terkirim, SMS akan ditampung di server/laptop. Nantinya, jawaban akan diproses secara otomatis hanya dengan menggunakan Microsoft Excel. Waktu untuk mendapatkan hasil akhir pun lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan scanner LJK. Karya ini diilhami dari teknologi SMS Gateway yang biasa digunakan dalam dunia entertainment untuk memilih penyanyi favorit dan jajak pendapat.

Kedua, si Andy Aulia dengan proyeknya ‘Sensor Banjir Landasan Pacu Efektif dan Ramah Lingkungan. Karyanya didasari dari kepeduliannya banyaknya pesawat yang tergelincir akibat landasan pacu (runway) yang tergenang oleh air atau banjir. Alat ini nantinya mengirimkan data apakah air yang berada di runway dapat dilalui atau tidak. Nantinya, pengawas bandara dapat melaporkan data tersebut kepada sang pilot.

Ketiga, si Hani Mufidah dan Enggardini Rachma dengan proyeknya ‘Pemanfaatan Minyak Biji Ketapang sebagai Bahan Pembuatan Margarin’. Biji ketapang mengandung minyak yang bisa digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan margarin.

———————–

Di sela-sela menyiapkan stan, beberapa dari kami mulai berkenalan dengan peserta yang lain sambil membagikan cinderamata. Rombongan Smaga membagikan cinderamata kepada seluruh peserta yang lain berupa wayang mini. Sementara, rombongan dari Amerika juga membagikan cinderamata berupa pin, dan rombongan Italia membagikan cinderamata berupa blocknotes dan pulpen.

(Si Enggardini dan Irham bersama Morgan Sinko [tengah] peserta dari Amerika Serikat)

(Berbincang dengan peserta dari Tunisia)

Namun, saat asyik-asiknya berinteraksi dengan peserta yang lain, kami baru teringat untuk mempersiapkan diri menampilkan tarian Semarangan dalam opening ceremony HKISF pada malam harinya. Maka dari itu, setelah selesai menata stan, pukul 15.00, rombongan Smaga memutuskan untuk langsung menuju hotel tanpa bersama peserta yang lain, tentunya naik MTR (lagi). Peserta yang lain justru kembali ke hotel pukul 16.00

Sesampainya di hotel, kami langsung melakukan rehearsal di ballroom hotel tempat opening ceremony akan digelar. Saat rehearsal berlangsung, kami dibantu beberapa panitia dalam menyetel lagu dan memberikan arahan panggung,

(Snapshot saat melakukan rehearsal Tari Semarangan di ballroom Regal Riverside Hotel)

Pukul 17.30, rehearsal pun selesai. Saatnya ganti baju. Untuk memakai baju nari dibutuhkan kerjasama satu sama lain mengingat untuk memakai baju tersebut sulit untuk dilakukan secara sendirian.

(Si Andy membantu Irham dalam menggunakan baju)

Setelah beres dengan urusan kostum, tepat pukul 18.30 kami masuk ke ballroom tempat opening ceremony akan digelar. Masuk ballrom pun dengan cekeran (bahasa jawanya tidak menggunakan alas kaki).

(Berfoto bersama sebelum masuk ballroom)

Begitu masuk ke ballroom, kami pun terkejut karena kami mendapatkan meja nomer satu, semeja dengan 3 peserta dari Itali. Wow. Setelah duduk, rombongan Smaga pun berbincang-bincang bersama para peserta dari Italia sesekali berbincang mengenai acara upacara pembukaaan. Karena bosan untuk duduk, rombongan Smaga pun berfoto dengan peserta lain dan para penduduk lokal.

(Berkumpul dalam ragam busana antar budaya)

(Berfoto bersama pengisi acara dari penduduk lokal)

(Berfoto bersama seluruh peserta menjelang acara dimulai)

Beberapa menit kemudian, sang MC pun menyampaikan informasi bahwa upacara pembukaan akan segera dimulai. Seluruh hadirin pun kembali ke tempat duduknya. Sang MC pun kini membuka acara dan menyampaikan susunan acara dalam dua bahasa, Kanton dan Inggris.

Rangkaian acara pertama adalah sang ketua panitia, Julitta Mang, menyampaikan sambutannya, tentunya dengan bahasa Kanton. Sontak, hal ini membuat rombongan Smaga termasuk rekan semeja dari Italia hanya bisa mangap karena tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh sang ketua panitia. Setelah sang ketua panitia menyampaikan sambutannya, beberapa tamu undangan pun juga tak mau ketinggalan dalam menyampaikan sambutan, sesekali sambil mempresentasikan tentang pendidikan di negara asal sang pembicara.

Setelah acara pemberian sambutan, kini para hadirin disuguhkan kesenian lokal.

(Pementasan atraksi barongsai dalam upacara pembukaan)

(Musikalisasi puisi)

Puas dengan hiburan kesenian lokal, kini saatnya rombongan Smaga unjuk gigi dalam menampilkan tarian tradisional. Saat MC memanggil kami, detak jantung pun berdetak kencang. Dalam hati sang penulis berfikir “Ini nanti kalau sampai memalukan bisa gawat, mau di bawawa ke mana wajah kami“. Begitu sampai panggung, sang penulis mulai menyusun rencana untuk improvisasi. Teringat dengan kalimat yang diutarakan oleh Pak Dian selama latihan: “Jangan berhenti, yang penting tetap bergerak.”

Now, it’s showtime.

(Snapshot saat menampilkan tari tradisional)

Akhirnya, selesailah sudah kami menampilkan tari tradisional yang berdurasi sekitar 6 menit. Tepuk tangan para hadirin pun bergemuruh. Banyak diantara hadirin yang mengucapkan selamat kepada kami. Great, very good, dan excellent adalah kata-kata yang keluar dari hadirin.

Alhamdulillah dapat tanggapan positif dari para hadirin.

Tiba-tiba, sang ketua panitia menyambangi meja kami dan meminta kami untuk berfoto bersama dengannya.

(Rombongan Smaga berfoto bersama sang ketua panitia, Julitta Mang)

Setelah berfoto bersama, rekan semeja kami yang berasal dari Italia pun tak mau ketinggalan unjuk gigi menampilkan tarian yang katanya sangat populer di negaranya. Sang penulis mengibaratkan tarian ini semacam komunikata. Sebagai contoh, jika ada suara comb (sisir), maka para menari melakukan gerakan menyisir rambut.

(Penampilan dari tim Italia)

Dengan berakhirnya perform dari tim Italia, maka selesailah sudah rangkaian acara berupa hiburan dalam opening ceremony ini. Para penampil hiburan pun diberikan penghargaan oleh sang ketua panitia berupa plakat.

Kini, saatnya membuka HKISF secara simbolis oleh ketua panitia dan tamu undangan. Tak ketinggalan, para pendamping tim juga ikut dalam prosesi ini, termasuk Pak Khanif.  Jika di tanah air membuka acara secara simbolis dilakukan dengan menabuh gong, di HK ini sendiri dilakukan dengan memecahkan balon.

(Prosesi pembukaan HKISF secara simbolis dengan memecahkan balon)

Tepat pukul 21.15, opening ceremony HKISF pun selesai dan para hadirin dipersilahkan untuk makan malam.

Akhirnyaaa makan malam juga, buseeeet lapeer bangeeet, mana belum makan siang, cuma minum seteguk air putih.

Makan malam pun layaknya di tanah air, dilakukan dengan buffet (prasmanan). Saat mengambil makanan, mata sang penulis pun langsung tertuju pada sebuah makanan, yaitu nasi goreng (maklum, sang penulis ini beraliran nasi, kalau belum makan nasi belum kenyang rasanya). Sang penulis tanpa pikir panjang langsung mengambil nasi goreng tersebut hingga memenuhi piring. Pak Khanif pun juga mengikuti aksi sang penulis ini.

Namun, tiba-tiba si Andy berkata:

“Mas, ini nasi gorengnya ada hamnya.”

“WHAT???? Tau dari mana kalau ada hamnya?”

“Itu ada tulisannya….kecil di bawah nampan”

DUEEEEENG.

Sang penulis dan Pak Khanif pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Nasi goreng yang kami ambil pun langsung menjadi mubazir dan sang penulis pun langsung mengambil piring baru untuk mengambil menu yang pastinya tidak mengandung babi. Petugas hotel pun sempat heran saat sang penulis meyuruh si petugas untuk menyingkirkan nasi goreng yang sang penulis dan Pak Khanif ambil tadi. Untung saja si petugas hotel paham dengan maksud kami. Setelah mengambil menu baru, sang penulis akhirnya bisa makan bersama seluruh anggota rombongan sambil minum teh bermerek Twinings.

(Suasana makan malam bersama rombongan Smaga)

Kenyang dengan sajian makan malam, saatnya kami kembali ke kamar. Namun, sebelum tidur, seluruh anggota rombongan Smaga berkumpul di kamar Pak Khanif & Andy untuk briefing dalam mempersiapkan esok hari pada hari exhibition. Si Irham sempat merasa lemas dan pusing akibat efek tidak makansiang, makan malam telat, dan kedinginan.

Saat briefing, ada hal yang sangat mengagetkan. Si Hani dan Enggar tanpa sengaja meninggalkan margarin buatannya di kulkas guest house KJRI. Padahal, margarin tersebut akan digunakan dalam exhibition besok pagi hari. Setelah diskusi yang cukup lama dan alot, maka diputuskan untuk mengambil margarin malam itu juga dengan numpak MTR.

Tidak mungkin meminta driver KJRI ke hotel malam-malam gini….

Hani dan Enggar mengambil margarinnya bersama si Andy. Begitu mereka meninggalkan kamar, sang penulis dan Irham melakukan persiapan terakhir dengan proyeknya. Tentu saja menyiapkan makalah dan melipat brosur. Karena si Andy, Hani, dan Enggar belum pulang dari misinya, maka sang penulis dan Irham tidur di kamarnya si Andy dan Pak Khanif. Si Irham tidur di kasur dan sang penulis tidur di sofa.

Tengah malam, si Andy, Hani, dan Enggar selesai melakukan misinya. Hani dan Enggar kembali ke kamarnya, dan si Andy segera tidur. Karena tak kebagian kasur, maka si Andy tidur di beranda dekat jendela, tentunya beranda tersebut sudah beralaskan sofa.

HARI KEEMPAT – SENIN, 17 OKTOBER 2011

Waktu menunjukkan pukul 5 pagi, namun matahari masih malu untuk menampakkan dirinya. Sang penulis mulai terbangun dari tidurnya dan membangunkan yang lain untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh, sang penulis dan Irham kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengepak barang yang akan dibawa pada saat exhibition.

Pukul 7.30, seluruh anggota rombongan menuju ke restoran hotel untuk sarapan. Akibat kejadian semalam saat opening ceremony, kini sang penulis lebih hati-hati dalam mengambil makanan. Sang penulis sarapan dengan kentang goreng, roti bakar, omelet sayuran, dan teh panas.

Di restoran juga ada sego gorengnya, dan itu JUGA mengandung ham….

Saat sedang menikmati sarapan, sang ketua panitia menyambangi meja rombongan Smaga hanya untuk memberikan peta HK dan suvenir berupa pulpen.

Lumayan ini petanya kalau mau buat jalan-jalan.

Sang penulis mencoba membaca peta HK. Namun, saat sang penulis selesai membaca peta, sang penulis kesulitan untuk melipat kembali peta tersebut dan sempat ditertawakan oleh mbak-mbak rombongan dari Tunisia. Isin aku..

Kenyang dengan sarapan, kini seluruh anggota rombongan Smaga kembali ke kamar untuk mengambil barang dan segera bergegas menuju ke lobi hotel untuk menanti shuttle bus yang akan membawa kami menuju ke venue.

Pukul 9.30 peserta menuju ke venue. Sepanjang perjalanan, bus yang membawa kami masuk ke jalan tol dan pemandangan jalan raya pun cukup sepi. Si Andy tertidur pulas dan sang penulis menikmati pemandangan sekitar sesekali menjepret.

(Inilah venue HKISF, Hong Kong Design Institute)

Akhirnya, tiba juga rombongan di venue. Langsung saja menuju ke ruangan exhibition. Lagi-lagi, lift yang ada di sini menggunakan sistem ganjil genap.

Setelah sampai di ruangan exhibiton, seluruh peserta mulai mempersiapkan diri di stand proyeknya masing masing. 1 jam kemudian, proses penjurian pun dimulai.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan karena sang penulis dan Irham sibuk mengurusi dan melayani para juri, tamu undangan, dan pengunjung.

Alhamdulillah, project kami mendapat tanggapan yang sangat positif. Banyak diantara pengunjung yang mencoba project sang penulis dan Irham.

(Rombongan SMAGA berfoto bersama peserta lain di sela-sela penjurian)

(Pak Khanif berkenalan dengan peserta dari Amerika Serikat)

Dalam HKISF ini, bisa dibilang, karya-karya yang ditampilkan lebih wah. Bayangkan saja, ada peserta dari Rumania yang membuat robot yang bisa menyeimbangkan dirinya sendiri. Ada juga peserta dari Argentina yang membuat mesin jahit khusus untuk orang difabel. Edyan. Pengunjung yang datang kebanyakan adalah akademisi lokal dan juga siswa lokal, tapi orang-orang asing juga tak ketinggalan untuk menyaksikan pameran sains ini. Bisa dibilang keramaian pengunjung seperti dalam Indonesian Science Olympiad.

Pukul 14.00 seluruh peserta menghentikan aktivitasnya sejenak untuk makan siang. Khusus rombongan Smaga, kami pun makan di McD lagi karena sudah pasti takut akan makanan yang disajikan. Bisa dibilang masih trauma akan peristiwa nasi goreng ber-ham. Untuk menuju McD, kami harus ke sebuah mal yang terletak di depan venue. Menuju ke malnya saja harus menuruni eskalator yang setinggi 6 lantai.

(Edyan, eskalator setinggi 6 lantai. Nyaris mabuk)

Di McD, rombongan Smaga memesan McPepper, kentang Shake Fries, Coca-cola, dan air mineral (lagi).

(Seperti tidak bosan untuk makan siang dengan McD)

Setelah kenyang dengan makan siang, kami memutuskan untuk kembali ke venue dan bertanya kepada salah satu panitia dimana kami bisa menunaikan shalat. Ternyata kami diajak oleh salah satu panitia ke sebuah ruang rapat yang terletak tak jauh dari ruang exhibiton.

Karpetan dan resik

Untuk urusan berwudhu, kami numpang di wc yang hanya khusus diperuntukkan untuk staf. Karena WC ini khusus untuk staf, maka untuk membuka WC tersebut harus menggunakan id card. Sembari berwudhu, anggota rombongan yang lain menahan pintu.

Selesai shalat, kami pun mengucapkan terima kasih kepada panitia. Panitia tersebut kemudian mengucapkan ‘Sampai jumpa’.

This is the first time I speak Indonesia.

Waaah, salut deh…

(Suasana exhibition menjelang penutupan)

Setibanya di ruang exhibition, kami meratapi kenyataan bahwa pameran telah dibuka kembali dan pengunjung semakin banyak. Kami langsung bergegas ke stan masing-masing dan siap untuk melayani para pengunjung menjawab pertanyaannya. Tepat pukul 16.30, sesi pameran ditutup. Kini saatnya resik-resik dan tentu saja berfoto bersama dengan peserta lain. Di sela-sela bersih-bersih stan, rombongan dari Turki membagikan Turkish Delight kepada seluruh peserta. Rasanya lumayan.

Pertama kali makan turkish delight. Pas ke negeri kebab beberapa bulan silam engga sempet nyicipin ini.

Pukul 18.30 seluruh peserta diajak ke ruang pertemuan yang tak jauh dari tempat exhibition untuk melangsungkan malam budaya. Karena rombongan Smaga dan tim Italia sudah menampilkan budayanya saat opening ceremony, maka dalam malam budaya ini kami tidak menampilkan sesuatu, cukup sebagai penonton saja.

Dalam malam budaya, para peserta dari negara lain menampilkan apa yang khas dari negaranya.

Seperti contohnya, rombongan dari Turki menampilkan videoo pariwisata di Istanbul dan Izmir (sebuah kota pesisir) dan tarian tradisional mereka. Rombongan dari Korea Selatan mendendangkan lagu yang dipopulerkan oleh CN Blue (engga sekalian SHINee ato SUJU ??). Rombongan dari Argentina mendendangkan lagu khas negerinya sembari menyetel video tentang alam rimba di Argentina. Rombongan Amerika menampilkan tarian koboi. Bahkan, seorang tamu undangan yang berasal dari Rusia juga tak mau ketinggalan. Dia justru menyanyikan lagu sambil mengibarkan bendera negerinya,

(Rombongan dari Argentina saat mendendangkan lagu yang khas dari negerinya)

(Rombongan dari Tunisia saat menampilkan tarian)

(Saling bertukar cinderamata)

(Malam budaya ditutup dengan berfoto bersama seluruh peserta sambil membawa bendera negerinya)

Malam budaya pun selesai, kini sang ketua panitia mengajak seluruh peserta untuk pizza party. Karena rombongan Smaga takut gara-gara ke-halal-an belum terjamin, maka rombongan Smaga pun kembali ke hotel tanpa ikut pizza party. Rombongan dari Tunisia juga mengikuti jejak kami.

Setibanya di hotel, si Hani dan Enggar langsung kembali ke kamarnya dan tertidur pulas. Padahal belum makan malam.

Pengen pesen room service, makanannya mahal semua.

Pukul 22.00, sang penulis, Irham, Andy, dan Pak Khanif mencari angin di luar sekaligus mencari makan. Sepanjang pencarian makanan, kami hanya menemukan chinese food. Sampai-sampai kami disamperin oleh salah satu pelayan restoran untuk makan di restorannya. Kebanyakan restoran chinese food menu utamanya bebek peking.

(Menyusuri jalan sembari mencari makan)

Menurut salah seorang rekan sang penulis, bebek peking yang ada di restoran di HK umumnya dimasak dengan keadaan tidak disembilih melainkan dicekik terlebih dahulu. Darah yang ada di bebek meresap di tubuh sang bebek. Itulah yang membuat mengapa bebek peking nikmat

Setelah berkeliling di sektiaran hotel sampai capek luar biasa, kami pun menemukan Pizza Hut. Ternyata, sudah tutup. Nyesek sekaliiiii. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk ke 7Eleven membeli roti muffin.

Kembali ke hotel, kami pun berniat untuk memberikan muffin yang kami beli barusan kepada si Hani dan Enggar. Namun, sayang, mereka sudah benar-benar tidur. Ketuk pintu saja tidak ada responnya. Karena tidak merespon, sang penulis dan yang lainnya kembali ke kamar. Malam ini, sang penulis dan Irham tidur di kamarnya si Andy dan Pak Khanif. Kini, formasi tidurnya berubah, sang penulis tidur di karpet, sementara si Irham tidur di sofa, si Andy akhirnya tidur di tempat tidurnya. Sebelum tidur, Pak Khanif menelepon Pak Aprildo, salah seorang staf KJRI, untuk memastikan kami dijemput pada esok pagi.

HARI KELIMA – SELASA, 18 OKTOBER 2011

(Suasana pagi di sekitaran hotel)

Alarm pun berbunyi. Sang penulis bangun dari tidur nyenyaknya. Seperti biasa, walau matahari masih malu menampaakkan dirinya, sang penulis membangunkan yang lain untuk menunaikan shalat subuh dan sarapan.

Sarapan terakhir di hotel berbintang 4 yang gratis.

(Suasana sarapan terakhir di Regal Riverside Hotel)

Setelah sarapan, saatnya ber-packing barang dan menunggu jemputan di lobi hotel. Saat kami menunggu jemputan, peserta yang lain justru melakukan city tour bersama anggota rombongan yang lain.

Lho? Kenapa engga ikutan city tour?

Takut engga bisa beli oleh-oleh. Waktunya mepet, besok pulang. Walaupun kami engga ikutan ke city tour, malam nanti kami tetap menuju ke venue lomba untuk menghadiri closing & award ceremony yang akan dimulai pukul 17.00.

Pukul 9.35 tepat, mobil Toyota Alphard dengan plat CC (Corps Consulate) tiba di depan lobi hotel. Benar saja, mobil yang datang baru saja adalah mobil yang dibawa pak ‘Solmet’ untuk menjemput kami. Segera saja kami memasukkan barang bawaan dan langsung meluncur menuju KJRI. Setibanya di KJRI, rombongan Smaga disambut oleh pak konjen, pak Teguh Wardoyo, dan salah satu stafnya yang mengurusi kami selama di HK, Pak Aprildo. Ada yang unik dari Pak Aprildo. Pak Aprildo yang asli orang Jakarta ini tidak mau dipanggil dengan sapaan pak, maunya dipanggil mas. keliatan wajahnya masih muda soalnya haha.

Dalam perbincangan yang berlangsung antara pak konjen dengan rombongan Smaga pada intinya menyanyakan bagaimana suasana pameran sains yang diadakan kemarin dan kapan acara award ceremonynya berlangsung. Pada saat yang bersamaan, sang penulis ingin mengutarakan ide untuk berfoto bersama pak konjen. Namun, sebelum sang penulis mengutarakan idenya, pak Teguh berpamitan dengan kami karena karena beliau juga kedatangan tamu pada saat bersamaan.

(Rombongan Smaga berfoto bersama Pak Aprildo)

Engga sempet foto sama pak Teguh, pak eh mas Aprildo pun jadi.

Setelah berfoto bersama , kami pun berpamitan sejenak dengan pak Mas Aprildo dan staf front office yang berasal dari Sumowono (dekat daerah Bantir) karena kami akan mengunjungi The Peak dan menjajal saran mbak Kartika yang sudah diutakan beberapa hari sebelumnya untuk membeli oleh-oleh di daerah Mong Kok.Sebelum menuju ke The Peak, Pak Khanif menyempatkan diri menukarkan uang di Warung Chandra, sementara kami menunngu beliau dengan berfoto-foto.

(Lagi tuker duit ini bos…)

(Bernarsis ria di depan cermin)

Setelah menukarkan rupiahnya dengan HKD, Pak Khanif ingin mengambil uang dari akun rekening BNI-nya. Karena tak ada BNI di sekitaran Causeway Bay, beliau mengambil duit di ATM Citibank. Sampai-sampai sang penulis membantu beliau untuk mengambil duit di ATM tersebut karena ATM tersebut ternyata menggunakan touch screen.

Lega sudah Pak Khanif mengambil duit dari ATM. Namun, tiba-tiba kami melihat Pak ‘Solmet’ yang sedang menyeberang jalan sendirian di sebuah sudut di Causeway Bay. Sedang apa yaa??

Untuk menuju ke halte bus tujuan The Peak, kami harus numpak MTR terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, kami pun tiba di halte bus dengan tujuan The Peak. Alangkah terkejutnya sang penulis saat melihat di seberang jalan ada BNI. Langsung saja sang penulis menyeletuk ke Pak Khanif.

Pak, itu di seberang jalan ada BNI

Duenng…..(Pak Khanif pun sampai tak berkomentar sepatah katapun)

(Impian Pak Khanif untuk mengambil duit di bank ini pupus sudah)

Waktu di jam tangan sudah menunjukkan pukul 12.00. Itu artinya sangat tidak mungkin bagi kami untuk menunggu bus lebih lama lagi yang akan membawa kami menuju ke The Peak. Agenda menuju The Peak dengan sangat terpaksa dibatalkan dan kami langsung menuju ke Mong Kok dengan nunpak MTR (lagi). Sebelum itu, sang penulis dan Irham menyempatkan diri berfoto di depan Bank of China Tower, dimana bangunan ini juga menjadi salah satu ikon HK yang kondang.

(Sang penulis dan Irham berfoto bersama di depan Bank of China Tower)

Sesampainya di Mong Kok, kami tidak langsung berburu oleh-oleh, tetapi makan siang terlebih dahulu. Apalagi kalau bukan di MCD. Karena si Andy sudah bosan dengan Mega McPepper, dia memesan burger ikan.

Kenyang dengan makan siang, saatnya kami siap bertempur dengan pedagang-pedangang Mong Kok.

(Salah satu sudut di Mong Kok. Rata-rata para pedagang membuka lapaknya pada pukul 1 siang)

Dalam misi di Mong Kok ini, kami membeli oleh-oleh untuk para guru dan kolega.

Pertama, kami datang ke sebuah toko yang menjual pernak-pernik khas barang. Setelah melihat barang yang diinginkan dan dirasa cocok, maka kami mulai untuk menawar. Untuk menawar barang yang diinginkan, kami langsung menyebutkan harga yaitu separuh dari harga awal. Tak lupa, kami memasang wajah anak kecil yang memelas.

Hati sang pedagang pun luluh. Bahkan kami dapat menawar harga lebih dari separuh harga.

Gantungan kunci 1 set isi 6 yang semula seharga 120 HKD bisa dibanderol hanya seharga 40 HKD. WOW!

Tak puas dengan satu kios, kami mulai menyambangi beberapa kios untuk berharap bisa mendapatkan barang serupa yang lebih murah. Saat kami berkunjung ke salah satu kios, kami mendapati pedagang yang sangat fasih berbahasa Indonesia.

“Ayo sini-sini beli barangnya,”teriak sang pedagang.

Namun, saat kami mulai menawar dengan separuh harga, nampaknya sang pedagang tersebut tidak setuju. Bahkan, sang pedagang justru menawarkan harga yang selisihnya hanya 5-10 HKD dari harga awal.

“OOOO….tidak bisa….,”teriak rombongan Smaga.

Kami pun pergi meninggalkan kios tersebut dan mencari kios lagi.

Sepertinya, Mong Kok juga menjadi salah satu jujugan wisatawan karena di Mong Kok banyak sekali kios yang menjual pernak-pernik khas HK.

Di tengah-tengah shopping, sang penulis menelepon ke tanah air untuk memastikan sang penulis dijemput pada esok siang hari. Waktu di jam tangan sudah menunjukkan pukul 14.30. Rasanya puas sekali memborong oleh-oleh. Tanpa pikir panjang kami langsung ke venue untuk closing & award ceremony, tentunya naik MTR.

Sesampainya di venue, kami bertemu dengan seorang ibu yang tak lain adalah orang tua dari salah satu peserta HKISF. Ibu ini ternyata tidak ikut city tourdan beliau tiba di venue lebih awal dari rombongan yang lain hanya untuk menunggu anaknya yang kebetulan juga menjadi peserta dalam HKISF yang tengah mengikuti city tour.

Ibu  yang berasal dari Amerika Serikat ini ternyata tak tahu dimana letak indonesia berada.

 Is it in Africa or Europe?

 Dueeeeeng. (dalam batin: Masa ibunya engga tau di mana Indonesia? Padahal di peta gedenya segaban lho.)

Kami pun berusaha menjelaskan…….

Indonesia itu diantara Singapura dan Australia ma’am.

Di Pulau Bali, Indonesia, itu pernah jadi tempat syuting Eat Pray Love-nya Julia Roberts. Presidenmu, Barrak Obama, menghabiskan masa kecilnya di INDONESIA.

Sang ibu tersebut pun heran….dan berkata WOW. Dari raut wajahnya, sepertinya ibu tersebut sudah mulai mengerti mengenai Indonesia.

Alhamdulillah….

Pukul 17.00 tepat, seluruh peserta yang telah melakukan city tour tiba di venue. Sang penulis mencoba bertanya kepada rombongan Italia ke manakah destinasi mereka dalam city tour. Ternyata, destinasi mereka dalam city tour adalah mengunjungi The Peak dan melihat patung buddha di Pulau Lantau.

“Kalau ikut city tour bisa ke The Peak, tapi kalo engga ikut city tour bisa memborong oleh-oleh. Pilihan dilematis,”kelakar sang penulis.

Tak berselang lama, seluruh peserta diajak ke dalam auditorium yang sama seperti saat berlangsungnya malam budaya. Di audiorium inilah tempat di mana closing & award ceremony akan berlangsung.

Pukul 18.00, mundur 30 menit dari jadwal, acara pun dimulai. Acara dibuka oleh pementasan drum band dan pembacaan puisi yang dilakukan oleh anak-anak TK. Tak lupa, sambutan dari sang ketua panitia turut memeriahkan pembukaan acara. Kini, sang ketua panitia menyampaikan sambutannya dalam bahasa Inggris.

(Acara closing & award ceremony dibuka oleh pembacaan puisi anak-anak TK)

Setelah sang ketua panitia menyampaikan pidatonya, kini hal yang ditunggu-tunggu pun tiba juga, pembacaan penghargaan. Sang MC mulai menyebutkan daftar penerima penghargaan, dimulai dari penerima penghargaan honorable mantion (bahasa kasarnya juara harapan)

….

Yang sangat mengejutkan adalah, rombongan Smaga berhasil memborong medali. Sang penulis bersama Irham memboyong medali perak. Si Andy memboyong medali perunggu, sementara si Hani dan Enggar memboyong penghargaan honorable mantion.

Wah, suatu anugerah. Alhamdulillah… Kejayaan di Indonesian Science Project Olympiad terulang lagi….

 

 (Sang penulis bersama Irham secara simbolis menerima penghargaan medali perak yang diberikan oleh sang ketua panitia)

(Si Andy saat menerima penghargaan)

 

(Si Hani dan Enggar saat menerima penghargaan)

(Berfoto bersama usai closing & award ceremony)

Acara pun ditutup dengan berfoto bersama dan jamuan makan malam di ruangan serbaguna yang terletak di sebelah auditorium. Jamuan makan malam kali ini dilakukan dengan berdiri. Sembari jamuan makan malam, rombongan Smaga mengucapkan sayonara kepada seluruh peserta, termasuk rombongan Italia yang sepertinya sudah akrab sekali dengan rombongan Smaga.

Faktor semeja saat upacara pembukaan kali ya…

(Rombongan Smaga berfoto bersama rombongan Italia)

(Rombongan Smaga [minus Andy] berfoto bersama setelah acara usai)

Akhirnya, lega sudah perasaan ini, flight SQ001 besok nyaman deeh.

Sebelum pulang dan sambil menunggu jemputan dari KJRI, Irham dan Andy berfoto dengan mbak-mbak Tunisia yang ditaksirnya. Itung-itung sebagai kenang-kenangan. Setelah berfoto bersama, seluruh rombongan Smaga memberitahukan kabar baik kepada seluruh kolega yang berada di tanah air. Salah satu rekan si Irham saat menerima SMS darinya sempat tak percaya jika rombongan Smaga memboyong medali.

(Rombongan Smaga saat menunggu jemputan)

Beberapa saat kemudian, kami melihat mobil plat CC datang melewati venue dan langsung masuk ke area parkir. Sontak hal itu membuat kami heran. Kami pun langsung mengejar mobil tersebut dan ternyata mobil tersebut memang tumpangan kami. Kali ini, drivernya bukan Pak Solmet. Tapi digantikan oleh driver lain yang sang penulis lupa namanya.

Sepanjang perjalanan, alunan shalawatan dan qasidah menemani kami dalam perjalanan pulang menuju KJRI. Sang penulis, Irham, dan Andy menirukan alunan shalawatan sekaligus untuk mengusir kantuk.

Serasa lebaran

Perut masih terasa sangat lapar walau tadi di venue berlangsung jamuan makan malam. Maka, setibanya di KJRI, kami menanyakan ke sang driver apakah ada resto indonesia yang masih buka pada malam begini. Ternyata ada. Warung Malang namanya. Buka sampai jam 22.00.

Langsung saja rombongan Smaga memesan nasi rames. Sang penulis memilih nasi rames dengan isi rendang dan 2 perkedel, minumnya apalagi kalau bukan teh hangat.

Sembari makan malam, rombongan Smaga berbincang dengan sang empunya warung.

Yang punya orang Jombang lho.

Malam terakhir di HK ditutup dengan makan sego rames itu….sesuatu.

(Menu makan malam sang penulis yang terakhir di HK, sego rames)

(Suasana makan malam di Warung Malang)

Sebelum pulang ke KJRI, seluruh anggota rombongan Smaga diberikan kartu nama oleh sang empunya warung jika nanti kembali ke HK jangan lupa untuk mengunjungi warungnya .

Kembali ke KJRI, saatnya mengepak seluruh barang bawaan dan melihat bersama hasil jepretan selama berada di HK.

“Kok akeh sing nge-blur ya…?,”kelakar Pak Khanif.

HARI KEENAM – RABU, 19 OKTOBER 2011

(Suasana Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Hong Kong pada pagi hari)

Matahari belum terbit betul, namun pagi itu, pukul 5.30 kami bergegas ke HKIA untuk pulang ke tanah air.

Dalam perjalanan menuju bandara, kami melewati jembatan Tsing Ma, salah satu jembatan suspensi terpanjang di dunia.

(Inilah wujud salah satu jembatan suspensi terpanjang di dunia)

Selama perjalanan, kami berbincang dengan driver yang beda lagi orangnya dan sang penulis lupa namanya. Beliau berasal dari Cirebon dan mempunyai istri yang berasal dari Semarang.

Beliau menuturkan, untuk mendapatkan driving license (Surat Ijin Mengemudi) di HK sangat susah. Kurang lebih 5 tahun mas untuk dapet SIM baru, nanti kalo masa berlakunya udah habis, harus mengulangi dari awal, alias ikutan tes lagi.

Sang penulis berkelakar: Kalau di tanah air mungkin membuat SIM atau perpanjangan SIM cukup dengan hanya merogoh kocek saja #ups

Namun ternyata dibalik susahnya mendapatkan SIM ternyata menurut sang penulis ada hikmahnya….

Pantesan mobil di sini apik-apik, lha wong yang punya mobil orang kaya betulan. Parkir aja mahal, perjamnya bisa sampe 100 HKD.

Pemerintahnya pinter ya, rakyatnya disuruh untuk memanfaatkan moda transportasi yang tersedia, MTR, Bus, trem, dkk. Ini juga salah satu upaya untuk mengurangi polusi dari kendaraan pribadi tuh.

Di akhir percakapan, beliau heran dengan kami kenapa kami kembali ke Indonesia tidak menggunakan GA melainkan naik SQ. Walau kata sang driver naik SQ itu mahal, kami pun hanya menanggapinya dengan senyum.

Mumpung ada promo pak..

Akhirnya, sampailah juga kami di terminal keberangkatan HKIA. Saatnya berpanitan dengan sang driver. Setelah berpamitan, langsung saja kami menuju check-in desk SQ. Boarding pass pun akhirnya didapat, didapat 20 menit sebelum panggilan boarding. Edyaaaan.

SQ001 itu ternyata penerbangan lanjutan dari San Fransisco dengan tujuan akhir Singapura.

 

(Berfoto di depan iklan SQ. SQ identik dengan pramugarinya yang dijuluki Singapore Girl)

(Salah satu sudut di bagian keberangkatan Hong Kong International Airport)

(Tumpangan rombongan Smaga pagi itu, Singapore Airlines Boeing 777-300ER)

Panggilan boarding eh final call pun berkumandang…

Sedih rasanya udah harus ninggalin HK, kapan ya aku bisa ke sini lagi?

SQ001 akhirnya take off menuju Singapore.

Beberapa menit kemudian, MOML pun dibagikan. Lauknya sangat tak karuan. Panganan India dengan daging cacah lengkap dengan roti cane beserta bumbunya.

Nafsu sarapan langsung drop. Daripada kena sakit maag, mending makan, walau secuil.

(Sang penulis berusaha mencoba memakan MOML yang telah disajikan)

Sesampainya di Changi Airport, kami harus berlarian untuk mengejar flight SQ958 yang akan membawa kami menuju Jakarta. Flight kami ternyata ada di T2, itu artinya kami harus numpak skytrain. Di skytrain, kami bertemu dengan seorang bapak yang ternyata adalah Alste (Alumni SMA 3 Semarang) angkatan 1987. Percakapan tak banyak berlangsung karena kami harus berlari menuju gate.

Ngos-ngosan? Pastinya.

Akhirnya setelah berlari estafet, akhirnya kami tiba juga di gate. Memasuki kabin SQ958, aroma minyak kayu putih pun menyambut kami.

Pukul 13.00 waktu Singapura, SQ958 take off menuju Jakarta.

Makanan di SQ958 akhirnya sesuai dengan selera, nasi dengan lauk ayam dan sayur terong.

“Iki ndan, SEGO! ,“ tutur pak khanif.

Penerbangan SQ958 bisa dibilang sangat menegangkan. Pesawat mengalami turbulensi beberapa kali. Saat akan mendarat di Jakarta, pesawat pun seolah-olah tertiup angin. Maklum, cuaca saat itu amat sangat tak bersahabat.

Akhirnya, setelah perjalanan total kurang lebih 5,5 jam lamanya, tibalah juga kami di terminal 2D Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Rombongan Smaga keluar dari pesawat terakhir sampai-sampai petugas kebersihan dan petugas keamanan mulai masuk ke pesawat untuk menyiapkan flight kembali ke Singapura.

Disambut dengan antrian imigrasi yang super duper panjang, isine TKW tok.

Menunggu bagasi, dan ternyata bagasi kami datang terakhir.

Lakon metu keri

(Rombongan Smaga berfoto bersama usai mendarat di Bandara Soekarno Hatta)

Sang penulis langsung dijemput oleh ayah sang penulis dan anggota rombongan yang lain langsung menuju ke terminal 2F Soekarno Hatta untuk mengejar flight ke Semarang. Sebelum itu, berpamitan dengan sang penulis dan ayah sang penulis serta saling mengucapkan terima kasih.

Sang penulis baru pulang pada hari Minggu karena sang penulis ingin istirahat terlebih dahulu dan berkumpul bersama keluarga.

Alhamdulillah, pulang dalam keadaan sehat walafiat, tidak seperti saat pulang dari negeri kebab dalam keadaan kondisi badan yang sudah sangat drop….

Malam harinya, sebagai syukuran, sang penulis bersama ibu dan ayah sang penulis makan malam di sebuah rumah makan steak di Pondok Indah Mall 1.

—————–

End of the journey.

4 pemikiran pada “Catatan Si Ghamdan Goes to HK

  1. Selamat ya Ghamdan, luar biasa, saya senang menbaca catatan kamu yang runtut dan enak dibaca. Oh ya, saya minta ijin, ambil foto kamu dan teman2mu waktu di Hongkong, unt saya pasang di katalog. Sukses buatmu dan teman2mu dan saya yakin kamu pasti sukses. salam buat keluarga. Amin.

    • Amiiin…..
      Terima kasih pak atas supportnya serta terima kasih atas kunjungan bapak ke blog saya.
      Iya pak, silakan kalo fotonya mau digunakan. Siap pak, nanti akan saya sampaikan salam bapak…

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s