CSG Goes to Turkey (Istanbul Part)

(Sang penulis [kiri] bersama Pak Subiyanto dan Irham di depan Aya Sophia, Istanbul, Turki)

Mulai hari ini ada cerita bersambung

Setelah 4 hari ‘mendekam’ di Ankara, ibukota Turki, untuk mengikuti kompetisi olimpiade ICT tingkat internasional, kini sang penulis bersama salah satu rekan dari #FruitFamily, Irham Rosyadi, dan Pak Subiyanto, guru fisika yang sangat interest dengan dunia programming, yang kebetulan adalah bapaknya Irham sekaligus pembimbing, mengunjungi kota yang mendapat julukan negeri seribu masjid, Istanbul. Di kota inilah sang penulis bersama rombongan ber-refresing ria selama 3 hari.

HARI KEENAM – SELASA, 17 MEI 2011

Pagi yang cerah untuk memulai hari di Ankara. Tetapi, pagi itu kami harus bersiap diri untuk menuju Istanbul, sebuah kota tempat di mana kami akan ber-refresing ria.

Untuk menuju Istanbul, kami bersama salah seorang pendamping dari panitia Indonesian Science Project Olympiad yang juga salah satu petinggi Pasiad Indonesia, Pak Luthfi Guler, menggunakan bus patas. Kami terlebih dahulu menuju ASTİ (Ankara Şehirlerarası Terminal İşletmesi [bahasa inggrisnya] Ankara Intercity Terminal Administration, bahasa kasarnya TERMINAL BIS!)

Kalau naik pesawat, walau jaraknya seperti Semarang-Jakarta, MAHAL. Itulah Eropa.

Pada pagi itu, sang penulis dan seluruh anggota rombongan membeli sarapan, apalagi kalau bukan roti. Sang penulis memilih roti isi keju.

Wis dadi wong londo tenan iki.

Saat Pak Bi akan membayar, sang penjual menolaknya. Kemudian yang membayar roti tersebut adalah Pak Luthfi.

Lho kok?

Sang penjual lalu berkata:“Tamu (dalam hal ini rombongan Smaga) jangan membayar, biarkan yang membayar sang tuan rumah.”

Sontak hal ini mengundang tawa seluruh anggota rombongan.

(Sang penulis bersama rombongan menanti bus)

(Suasana di salah satu sudut terminal bus. Rapi dan bersih)

Setelah kenyang dengan sarapan, kini saatnya kami masuk ke dalam bus. Di dalam busnya saja sudah seperti pesawat. Ada PTV (Portable Television)-nya. Bisa untuk menyetel video, saluran TV, lagu, dan bahkan bisa untuk melihat jalanan melalu kamera yang terpasang di depan bus. Selain itu, para penumpang juga dibagikan snack,  minum, dan tisu basah. Tentunya secara gratis. Snack dan minum pun dibagikan dua kali sepanjang perjalanan. Jika snack tersebut habis, kita bisa meminta lagi asalkan stok snack dan minum masih tersedia.

Naik bus serasa naik pesawat…sesuatu.

(Setiap penumpang bus disuguhi fasilitas PTV lengkap dengan headsetnya serta jamuan snack, minuman, dan tisu basah)

(Pak Bi dan Pak Luthfi tampak menikmati perjalanan dengan bus)

Dalam perjalanan menuju Istanbul, kami melewati jalan tol Ankara-Istanbul yang relatif sepi dan jalananan yang mulus.

Jadi teringat kapan proyek prestisius tol trans Jawa rampung? Kalo rampung kan lumayan, ke Jakarta cukup naik bus, tanpa perlu merogoh kocek lebih dalam untuk numpak pesawat.

(Perjalanan menuju Istanbul ditempuh melalui jalan tol Ankara-Istanbul)

(Beberapa snapshot pemandangan sepanjang perjalanan menuju Istanbul)

Di tengah perjalanan, kami transit terlebih dahulu di tempat yang sang penulis rasa adalah terminal bus milik perusahaan bus tersebut. Sembari transit, sang penulis melihat bus yang sang penulis naiki secara utuh. Sekilas busnya mirip yang ada di tanah air. Ternyata, memang betul. Menurut salah seorang rekan sang penulis, Luthfi Hamid, karoseri yang ada di tanah air kebanyakan berkiblat pada bus ini, Mercedes TraveGo.

(Bus yang sang penulis dan rombongan tumpangi, Mercedes TraveGo)

Setelah kurang lebih 40 menit transit, saatnya melanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, walaupun sang penulis terasa ngantuk, sang penulis memutuskan untuk tidak tidur demi menikmati pemandangan alam yang apik luar biasa. Eman-eman jika dilewatkan begitu saja.

Tiba-tiba, sang penulis mulai berfikir, jika menuju Istanbul tentunya melewati jembatan Bosphorus yang tersohor itu. Ternyata, dugaan sang penulis benar. Kini saatnya rombongan menyusuri jembatan yang memisahkan Turki bagian Asia dengan bagian Eropa.

(Inilah Jembatan Bosphorus yang tersohor itu)

(Pemandangan dari Jembatan Bosphorus)

Begitu kami melewati ujung jembatan, terlihat papan bertuliskan: AVRUPA KITASINA HOŞ GELDİNİZ  yang berarti SELAMAT DATANG DI EROPA

Serasa menjelajah dua benua sekaligus. Sangaaaar

Akhirnya sampailah kami di terminal akhir. Perjalanan dari Ankara menuju Istanbul dengan menggunakan bus membutuhkan waktu sekitar 5 jam lamanya.

Sesampainya di terminal bus, Pak Luthfi mengajak kami ke terminal metro (subway) untuk menuju ke kantor Pasiad pusat.

Mau melancong di Istanbul bisa berkesempatan mampir ke kantor Pasiad, wow.

Di kantor tersebut kami disambut dengan ramah oleh beberapa staf serta dijamu dengan panganan khas Turki serta minuman berupa cay (teh).

(Rehat sejenak di kantor Pasiad Pusat. Sembari rehat, Sang penulis melakukan komunikasi dengan orang tuanya melalui panggilan telepon)

Di kantor inilah kami meng-arrange agenda selama berada di Istanbul dan siapa yang akan menemani kami berjalan-jalan menjelajahi kota ini. Yang akan menemani kami berjalan-jalan adalah para mahasiswa yang menuntut ilmu di kota ini. Hari pertama kami akan ditemani oleh Mas Ongky dan Mas Azwar, sedangkan hari kedua ditemani oleh mas Ajrie dan Mas Norman.

(Sang penulis berfoto bersama dengan para mahasiswa yang menuntut ilmu di Istanbul)

Setelah dari kantor Pasiad, kini saatnya kami menuju hotel tempat kami menginap selama di Istanbul, Dareyn Hotel namanya. Kamarnya standar hotel berbintang, lebih dari cukup untuk beristirahat. Yang lebih penting, ada free hotspotnya. Kecepatannya kecang pula. Maka, setelah menaruh barang bawaan, sang penulis dan Irham langsung melakukan korespondensi dengan rekan-rekannya yang berada di tanah air. Pak Bi ikut menumpang berkorespondensi tentunya berkorespondensi dengan rekan-rekan gurunya yang berada di tanah air.

Sampai-sampai Pak Bi berkelakar:“Kamarnya bagus seperti ini, nanti saya tak bisa tidur malahan.”

(Menjajal free hotspot setibanya di hotel)

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Adzan maghrib di Istanbul baru terdengar pada pukul 8 malam. Berhubung di Turki sedang musim panas dan menganut DST (Daylight Saving Time), maka perbedaan waktunya menjadi 4 jam lebih lambat dari WIB (aslinya 5 jam).

Kini saatnya mencari makan malam. Awalnya, Pak Bi mengira pada malam hari akan ada diner gratis dari hotelnya.

Cuma breakfast (sarapan) saja pak yang free.

Menyusuri pedestian di sekitar hotel, mata kami langsung tertuju pada sebuah kedai kebab yang cukup ramai. Langsung saja kami memsan kebab, nasi, sup khas turki serta memesan minuman berupa orange juice. Saat memesan, kami sempat terganjal masalah bahasa, namun pada akhirnya sang pelayan mengerti maksud kami.

Tak lama kemudian, pesanan pun datang. Namun, kami sempat kaget minuman yang datang bukanlah orange juice, melainkan yogurt. Sang penulis melihat sekeliling, ternyata warga lokal makan kebab ditemani dengan sajian yogurt.

Sang pelayan langsung berkata “It’s good. Try it.”

Setelah dicoba, rasanya plain sekalii.

(Jangan salah, sang penulis bukan minum orange juice, melainkan mengkonsumsi sup)

(Sang penulis menikmati kebab. Untuk menambah citarasa pedas sang penulis membubuhkan merica pada kebab)

Setelah kenyang dengan kebab dan kawan-kawannya, sang penulis mampir sebentar di ATM BNP Paribas untuk mengambil duit dari kartu debetnya. Ini termasuk cara praktis untuk menukarkan uang di negara yang tidak menghargai rupiah. Mengambil duit di ATM otomatis mengikuti kurs yang berlaku pada hari itu. Pak Bi juga mengikuti jejak sang penulis

Kursnya lumayan, 1 TL (Turkish Lira) sama dengan sekitar 5000 rupiah, namun ada biaya admininstrasi saat penarikan tunai, 25 ribu rupiah. Dueeeeeeng.

Saatnya kembali ke hotel untuk menghangatkan badan yang sudah diterpa angin malam Istanbul dan beristirahat karena agenda pada besok hari adalah hari pertama memulai jalan-jalan di kota ini, termasuk mengunjungi Museum Aya Sophia dan Masjid Biru bersama Mas Ongky dan Mas Azwar.

HARI KETUJUH – RABU, 18 MEI 2011

Pagi yang cukup dingin untuk memulai hari di Istanbul. Saking dinginnya, sang penulis sengaja tidak menyalakan pendingin ruangan di kamar. Yak, saatnya kami bergegas untuk sarapan karena pada pukul 8 pagi kami dijemput oleh mas-mas yang akan menemani kami menjelajahi Istanbul.

Sarapan ala londo

Setelah sarapan, sang penulis menyempatkan diri untuk menonton streaming dari beberapa stasiun televisi swasta di tanah air.

Acarane wis Kabar Siang, Sindo Siang, Metro Siang

Tiba-tiba, bel pintu kamar hotel berbunyi. Terang saja, mas-mas yang akan menemani jalan-jalan pun sudah datang. Mas Ongky dan Mas Azwar namanya. Sebelum berangkat, mereka menyarankan agar kami memakai baju hangat karena di luar suhunya sangat dingin.

Tapi kok di luar kayaknya anget-anget saja….

Let’s expore the city!

Sambil melangkah, Mas Ongky dan Mas Azwar memperkenalkan dirinya secara resmi. Keduanya menuntut ilmu di Universitas Istanbul. Mas Ongky mengambil jurusan matematika sedangkan Mas Azwar mengambil jurusan fisika murni. Mereka juga menuturkan bahwa sebelum masuk perkuliahan, mereka harus belajar bahasa Turki selama satu tahun. Buset.

Sesaat, langkah kami sempat terhenti pada sebuah taman dengan patung yang bisa diibaratkan seperti patung Pangeran Diponegoro.

 

Setelah dari taman yang tidak tahu namanya, kami pun mencoba menyusuri sebuah masjid yang cukup sepi. Perlu diketahui saja, banyak sekali masjid bertebaran di Istanbul dan jaraknya pun juga saling berdekatan.

Pedestriannya enak, bersih pula.

Lewat di depan Sciece Faculty Istanbul University. Niat untuk studi banding eh berkunjung pun urung dilaksanakan dikarenakan tidak bisa masuk ke kompleks kampus. Yang dapat masuk ke area kampus hanya mahasiswa dan civitas akademikanya saja yang boleh masuk. Bahkan, mahasiswa yang bukan berasal dari fakultas tersebut tidak diijinkan masuk. Untuk masuk kampusnya saja terdapat pemeriksaan yang cukup ketat, seperti masuk ke area check-in di bandara. Ada pemeriksaan dengan menggunakan x-ray dan metal detector.

Ke sekitaran gerbang utama fakultas hukum universitas istanbul, melihat-lihat burung dara, dan memberi makan burung dara.

Kayak di sinetron-sinetron aja

Bersambung

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s