Liburan Singkat di Yogyakarta

Bosan.

Stress.

Galau.

Mumet ndase.

4 kata itulah yang menggambarkan suasana hati sang penulis belakangan ini.

EEEH, SI GHAMDAN GALAU? TIDAK MUNGKIN!

Namun, semua itu hilang karena beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya 16 hari sebelum sang penulis mengikuti sebuah ajang tingkat nasional, sang penulis berkesempatan melancong ke Kota Gudeg, Yogyakarta. Selama di kota ini, selain sang penulis berkunjung ke sanak saudara yang sedang punya hajatan, sang penulis juga mengunjungi beberapa tempat yang bisa dibilang membuat perut kenyang dan menyejukkan mata.

(Salah satu sudut di Jalan Malioboro, Yogyakarta)

Malam hari, lebih tepatnya malam minggu, di sebuah jalan bernama Malioboro, suasana cukup ramai. Begitu toko-toko mulai tutup, lajur pejalan kaki di jalan ini pun disulap menjadi sebuah tempat yang menarik para turis, tak peduli itu hujan, tak peduli itu dingin. Sang penulis bersama orang tua sang penulis ingin mencoba apa yang khas dan yang menarik di Malioboro pada malam hari. Apalagi, hal ini sudah diidam-idamkan berbulan-bulan lamanya. Apa itu? Lesehan.

Ya.

(Suasana di sebuah warung lesehan di Malioboro)

Lesehan biasanya mulai buka pada pukul 9 malam lebih. Mengapa memilih lesehan? Karena pada saat lebaran lalu, dalam perjalanan menuju Malang, sang penulis bersama orang tua sang penulis ingin mencicipi bagaimana rasanya lesehan di Malioboro, namun hal itu tak kesampaian karena tidak adanya waktu. Sebenarnya, sang penulis dan orang tua sang penulis bukan hanya ingin mencoba lesehan tapi ingin mencicipi burung dara goreng. Namun, sang penulis belum pernah mencicipi burung dara goreng seumur hidup. Kata salah seorang rekan sang penulis, rasanya seperti ayam.  Sampai pada akhirnya, sang penulis mulai mencicipi burung dara goreng untuk yang pertama kalinya.

Begitu kami datang, kami langsung memesan burung dara goreng lengkap dengan lalapan serta teh hangat karena udara begitu dingin setelah Jogja diguyur hujan yang cukup deras.

(Burung dara goreng dan teh hangat menemani malam minggu yang dingin)

Uenaak tenan. Sakjoseeee. Rasane kaya ayam (Enak sekali. Mantaap. Rasanya seperti ayam). Benar-benar mengembalikan kondisi tubuh menjadi semangat. Suasana yang ada di lesehan ini benar-benar mantap, tak dapat tergantikan oleh uang.

Sambil makan, para pengunjung juga dihibur oleh musisi jalanan.

Seperti yang tergambarkan dalam lagu KLA Project berjudul Yogyakarta saja…

(Sang penulis meneguk segelas teh hangat untuk mengusir hawa dingin)

(Daftar makanan dan minuman beserta harganya di salah satu warung lesehan. Cukup murah bukan?)

Harga burung dara goreng beserta lalapan dan teh manis hangat ini cukup terjangkau, sekitar dua puluh lima ribu rupiah. Karena suasananya yang hangat dan ramah, maka tak heran jika lesehan Malioboro selalu ramai, bahkan semakin malam lesehan justru semakin ramai.

(Di sinilah para penjual menata barang dagangannya dan menyiapkan makanan)

———–

Besok paginya, sang penulis mengunjungi tempat wisata bersejarah yaitu Tamansari. Sebagaimana kita tahu, Tamansari merupakan kompleks yang terdiri dari beberapa gedung, kolam pemandian, hingga danau buatan. Menurut cerita,  kolam pemandian yang berada di Tamansari merupakan tempat di mana para sultan bersama para istri dan putrinya mandi. Tamansari konon dibangun sekitar abad ke-18 oleh salah seorang arsitek dari Portugis yang dikenal dengan sebutan Demang Tegis. Secara harfiah, Tamansari berasal dari kata taman, yang berarti kebun dan sari yang berarti indah atau bunga.

Sebelum memasuki kompleks Tamansari, terlebih dahulu sang penulis membayar tiket. Di kompleks ini pula ada jasa pemandunya lho. Para pemandu ini umumnya bertugas menceritakan sejarah Tamansari. Kata salah seorang pemandu, Tamansari pada awalnya terdiri dari 4 bagian.

(Pintu masuk utama kompleks Tamansari, Gedhong Temanten)

Memasuki Tamansari diawali dengan melewati sebuah pintu masuk yang dinamakan Gedhong Temanten. Dulu, gerbang ini digunakan sebagai basecamp-nya para petugas keamanan.

Setelah melewati Gedhong Temanten, kini saatnya mata tertuju pada objek yang sangat digandrungi di Tamansari, kolam pemandian Umbul Pasiraman (namun ada pula yang menyebutnya Umbul Binangun).

(Sang penulis berada di dalam Umbul Pasiraman)

(Suatu sudut di kompleks Umbul Pasiraman)

Umbul Pasiraman merupakan kolam pemandian bagi sang Sultan, para istri dan putrinya. Untuk mencapai kolam pemandian ini terdapat dua buah gerbang yang dapat diakses. Di dalam Umbul Pasiraman terdapat dua buah kolam yang di dalam kolamnya terdapat beberapa hiasan yang berbentuk seperti jamur (konon merupakan tempat sebagai keluarnya mata air). Di sekeliling kolam pemandian juga terdapat pot bunga berukuran besar. Selain itu, terdapat bangunan di sisi utara dan di tengah sebelah selatan kolam pemandian.

Bangunan di sisi paling utara kolam berfungsi sebagai tempat istirahat dan berganti pakaian untuk para istri dan putri sang Sultan.

(Di dalam bangunan sisi kolam paling utara, sebagai tempat beristirahat)

Jika kita memasuki Umbul Pasiraman, mungkin mata kita tertuju pada sebuah menara yang terletak di bagian tengah. Menara ini dulunya digunakan sang Sultan untuk melihat para istri dan putrinya yang sedang mandi.

Wow

(Pemandangan kolam dilihat dari menara)

Setelah puas mengekspor Umbul Pasiraman, saatnya kami menuju ke sebuah halaman. Di halaman ini kita dapat menemui sebuah gapura yang dinamakan Gedhong Gapura Panggung. Konon katanya, gapura ini melambangkan tahun dibangunnya Tamansari pada abad ke-18. Sebelum melanjutkan perjalanan untuk melihat Tamansari lebih jauh, sang penulis menyempatkan untuk membeli es dawet.

(Gedhong Gapura Panggung)

(Penjual dawet di sekitaran kebun dekat Gedhong Gapura Panggung)

Oke, saatnya melanjutkan perjalanan.

Namun sayang, saat akan menuju ke bagian dari Tamansari yang lain, di dalam Tamansari itu sendiri sudah berdiri banyak pemukiman warga. Jika belum ada pemukiman yang berdiri mungkin kita dapat melihat Tamansari secara utuh.

Setelah berjalan beberapa menit, sang penulis pun tiba di sebuah bangunan, ternyata ini merupakan pintu masuk untuk menuju ke terowongan bawah tanah. Ternyata, bangunan ini konon katanya difungsikan sebagai ventilasi udara.

(Melintasi terowongan menuju bawah tanah)

Tak lama berselang, sang penulis pun tiba di sebuah bangunan berbentuk lingkaran  yang disebut Sumur GumulingSumur Gumuling pada masanya difungsikan juga sebagai masjid (pantas saja saat melintasi terowongan, atap-atap terowongan tersebut berbentuk mirip seperti kubah masjid). Di bagian tengah bangunan yang outdoor, terdapat empat buah tangga yang ujungnya bertemu di bagian tengah. Nah, dari bagian tengah tersebut terdapat satu tangga lagi yang dapat membawa kita ke lantai dua.

(Inilah tangga yang cukup unik, menjadi pusat perhatian)

Setelah puas mengekspor Tamansari, kini saatnya sang penulis beristirahat karena pada malam harinya sang penulis akan kembali berjalan-jalan menelusuri kota Yogyakarta.

———–

Malam harinya, sang penulis bersama keluarga makan malam di sebuah rumah makan bakmi jawa yang bernama Bakmi Kadin. Dinamakan Bakmi Kadin karena letak rumah makan bakmi jawa ini berdekatan dengan kantor Kamar Dagang dan Industri Yogyakarta.

(Suasana di Bakmi Kadin, banyak sekali gerobak masaknya)

(Seporsi bakmi jawa dengan minuman berupa teh hangat)

Untuk penyajian seporsi bakmi jawa beserta minumannya tak perlu memakan waktu lama. Ditemani dengan alunan live music, rasanya seakan-akan kita terbawa suasana semangat untuk menikmati santapan yang telah disajikan. Malam itu, live music-nya membawakan lagu keroncong, pas sekali dengan menunya. Benar-benar suasana yang njawani.

Kenyang dengan santapan bakmi jawa, agenda malam berlanjut ke Alun-Alun Kidul Keraton. Di pinggur alun-alun, sang penulis mencicipi wedang ronde. Sangat pas di kala angin malam mulai menyerang dengan dinginnya. Wedang ronde telah membuat tenggorokan lebih plong dan segar, sekaligus menyegargan hidung yang mulai mampet karena flu.

(Suasana di pinggir alun-alun. Ramai!)

(Seporsi wedang ronde.  Anget-anget seger)

(Sebuah lampu di pinggir Alun-Alun Kidul Keraton)

Setelah mencicipi wedang ronde yang hangat, kini sang penulis mencoba menaiki kereta sepeda berlampu hias yang sudah menarik perhatian sang penulis sejak tiba di Alun-Alun Kidul Keraton. Kereta sepeda berlampu hias ini banyak motifnya. Ada yang bermotif lumba-lumba hingga tokoh kartun Doraemon. Biaya untuk menyewa kereta sepeda berlampu hias ini tarifnya (kalau tidak salah) sekitar sepuluh rubu rupiah sekali keliling alun-alun.

Ayo genjot pedalnya…

(Jajaran kereta sepeda berlampu hias menghiasi Alun-Alun Kidul Keraton)

(Seakan-akan membawa kereta sepeda berlampu hias ini memasuki jalan tol)

(Sang penulis duduk di kereta sepeda berlampu hias setelah selesai mencoba mengelilingi Alun-Alun Kidul Keraton)

(Pohon Beringin Alun-Alun Kidul Keraton yang melegenda)

Dengan berakhirnya mengelilingi Alun-Alun Kidul Keraton dengan kereta sepeda berlampu hias, selesailah sudah liburan singkat sang penulis di Yogyakarta. Besok paginya, sang penulis kembali ke Semarang dan mulai menyiapkan materi untuk mengikuti sebuah event tingkat nasional.

Wah, bakalan kangen Yogyakarta nih, seperti yang tergambarkan di lagu Kla Project yang berjudul Yogyakarta

Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi

Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama

Suasana Jogja 

Satu pemikiran pada “Liburan Singkat di Yogyakarta

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s