Intermezzo : “Kalau Kita Malas, Mau Jadi Apa Anak Kita?”

(ilustrasi)

Halo pembaca yang budiman. Senang sekali rasanya sang penulis mulai menulis kembali di Catatan Si Ghamdan. Kini sang penulis kembali menyapa pembaca dalam rubrik Intermezzo. Mengapa sang penulis dalam rubrik Intermezzo kali ini mengambil tema ‘Kalau kita malas, mau jadi apa anak kita?’

Mari kita simak ceritanya.

Di suatu malam, sang penulis berada dalam sebuah perbincangan dengan salah seorang rekan sang penulis yang kini melanjutkan studinya di sebuah universitas di Semarang. Rekan sang penulis ini mengambil jurusan arsitektur. Setiap harinya, rekan sang penulis ini selalu penuh dengan tugas, tugas menggambar pastinya.

Walau kami dulunya dalam satu SMA, namun kami jarang bertemu tatap muka dan berbincang secara empat mata. Maka dari itu, sang penulis sering berkomunikasi dengan rekan sang penulis ini melalui sosial media. Sang penulis terkadang meminta advice dari rekan sang penulis ini jika sang penulis menemui masalah.

Perbincangan diawali oleh terherannya rekan sang penulis setelah melihat display picture di BlackBerry Messenger sang penulis karena wajah sang penulis yang dirasa rekan sang penulis sudah sangat berubah.

Kemudian, perbincangan pun berlanjut mengenai sharing kegiatan perkuliahan. Rekan sang penulis ini saat sang penulis berbincang dengannya sedang dalam masa-masa mid semester.

Beberapa menit kemudian, sang penulis menyeletuk

Itu di DP (display picture)-mu seperti di Madinah. Betulkah itu?

Iya, raudhatul jannah (rumah surga)

Dirimu tidak ingin ke sana? Katanya nanti libur 3 bulan, lumayan lho

Inginnya sih, ayah juga ngajakin og

Tapi kalau pas ke sana (Arab Saudi) enaknya pas bulan Ramadhan lho…suasananya lebih terasa.

I agree with you, itu senilai berumrah dengan Sayyidina Rasulullah. Tapi… rabiul awal juga gapapa

[Tiba-tiba rekan sang penulis ini mengungkapkan sebuah ide yang cukup jarang didengar]

Aku mau beli tanah 2 x 1 di Madinah

*dalam batin sang penulis, beli tanah kok kecil bener…jauh pula tempatnya. Ini mau bikin rumah tikus kali ya

Beli tanahnya buat apaan?

Buat rumah to ya. Rumah abadi (baca: kuburan). Tapi itu muahaaaaaaaaaaal. Maka dari itu, menabung.  Apa yang kita jalani Ini baru hidup untuk mati

[Selanjutnya, perbincangan pun mulai masuk ke sebuah pembahasan yang cukup mendalam]

Mulai dari sekarang, tiap habis shalat doain leluhur nasab kita sampai Nabiyullah Adam alaihissalam agar anak keturunan Si Ghamdan dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar dan menjadi keturunan yang kelak tidak berhenti mendoakan dirimu

Mari berpikir lebih jauh….

Sesungguhnya, sebelum menjadi manusia, anak adalah nur (cahaya) di sulbi-sulbi ayahnya. Jadi, tingkah laku seorang laki-laki kelak akan banyak turun ke anaknya. Menjadi laki-laki yang baik itu penting

Intinya, anak sbagian besar sifatnya dari bapaknya. Waah brarti diriku harus berusaha menjadi lebih baik dums…

Iya. Makanya, ‘harusnya’ laki-laki itu lebih banyak berdoa dan berusaha dan memilih perempuan bukan untuk dirinya saja, melainkan untuk cahaya-cahaya yang ada pada sulbinya

Cari perempuan yang mampu bukan hanya memunculkan cahaya ke dunia, tapi menjaganya. Maka dari itu, anak itu titipan

Wah aku udah diajarin ini lho ndan. Masa’ dirimu belum?

Kayaknya belum deh. Makasih banyaaaaak *emot nangis

Lho, nangis kenapa? Ya biar ngerti tanggung jawabnya aja

Aaaa masih merasa belum banyak berusaha

Sekarang kan tau, mau anak yang bagaimana. Si Ghamdan harusnya sudah bisa menyesuaikan diri. Alkisah, seorang nabi selalu lahir dari nasab yang baik. Seorang nabi, biasanya anak laki-lakinya juga nabi. Bener kan? That’s one of the proof!

Allah titipkan orang-orang baik pada nasab yang baik.

Ini bukanlah masalah harta seperti raja-raja lho Si Ghamdan, namun ini masalah akhlak.

Ya, itulah beratnya menjadi seorang laki-laki. Bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang dia dan apa yang dibawanya. Perempuan mikir besok anaknya makan apa, belajar apa. Sedangkan laki-laki mikir besok anaknya JADI APA.

#pelajaran akidah

Kadang diriku berpikir, buseeet bapaaak…ini pelajaran buat anak cowook.

O iya. Saat diriku sedang dilanda malas, Ibuku sering bilang “Kalau kamu berjuang keras sekarang, itu bukan untuk kamu tetapi untuk pengorbanan tampa pamrih pada anak-anakmu”

[Sang penulis seketika merasa hatinya mak jleb. Mulai bercermin dan merefleksi diri ke belakang. Kemudian sang penulis langsung membalas]

“…mau jadi apa anakmu kalau dirimu sendiri saja sudah malas??”

Wah pikiranku mulai bener-bener terbuka

Yup. Betul ndan.

Yak saatnya diriku untuk berubah

Harus itu. Perempuan-perempuan baik untuk laki-laki baik. Vice versa.

Intinya, perempuan itu harus pinter dan menjadi contoh yang baik. Laki-laki itu harus akhlakul karimah dan amanah.

Wokee…terima kasih banyak ya buat knowledgenya *emot senyum

Ingat Si Ghamdan, Ilmu itu hanya milik Allah dan rasulnya. Kalau aku menyampaikan, karena itu wajib hukumnya. Tanpa Rasulullah sholallahu alaihiwassalam, ilmu hanyalah berhitung ndan. Banyakin cintanya ke Rasulullah ya. Shalawatnya diindahkan *emot senyum

[Karena saking menghayati perbincangan ini, sang penulis kemudian merenung lagi dan hampir lupa untuk membalas bbm dari rekan sang penulis ini. Tiba-tiba, rekan sang penulis ini mulai menyeletuk]

Ngantuk ya? Atau nonton Spiderman? *emot tertawa

Kalau ngantuknya sih dikit hehe. Aku engga nonton..kasian satu rumah udah pada tidur semua.

Nah, tidur aja deh. Ntar malem bangun tahajud sm qiro’ah. Malem jumat lho ini.

Wah…iya juga ya..

[Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. Perbincangan antara sang penulis dan rekan sang penulis pun ditutup dengan sebuah advice dari rekan sang penulis tersebut]

Sebelum tidur, wudhu terlebih dahulu  ya biar telinganya engga dikencingi syaiton. Setelah itu, bacalah Surah Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Nas kemudian diusapin ke sekujur tubuh.

*beberapa menit kemudian

Barusan wudhu lho aku

Good good…

Perbincangan pun berakhir saat sang penulis pamit untuk tidur. Rekan sang penulis ini justru begadang untuk melanjutkan mengerjakan tugasnya. Ternyata, rekan sang penulis ini selepas shalat Isya tidur sejenak lalu bangun di malam hari.

—————

Pembaca yang budiman, dengan percakapan di atas tadi semoga pembaca mulai menyadari diri bahwa kita berjuang keras ini bukan untuk diri sendiri melainkan untuk pengorbanan tanpa pamrih pada anak-anak kita. Dari percakapan ini pula, sang penulis kembali lebih mensyukuri nikmat dan mengucap terima kasih atas apa yang telah diberikan oleh orang tua selama ini. Buatlah orang tua bangga. Semoga intermezzo ini bermanfaat bagi pembaca untuk ke depan.

KEEP HUMBLE. STAY QANA’AH. SAY ALHAMDULILLAH

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s