Si Ghamdan Mulih Kampung

Si Ghamdan di Semarang

 (Sang penulis saat berada di Semarang, dengan latar belakang Tugu Muda dan Lawang Sewu)

“Bapak dan Ibu yang terhormat, kita baru saja mendarat di Bandar Udara Internasional Ahmad Yani. Selamat datang di Semarang!”

Itulah sekilas pengumuman yang disampaikan salah satu pramugari sesaat setelah penerbangan GA 230 mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Ahmad Yani.

Akhirnya..akhirnya……dan akhirnyaaa….Alhamdulillah…. *sujud syukur*

——–

Pada tanggal 28-31 Desember 2012 lalu, sang penulis berkesempatan kembali untuk dapat menjejakkan kakinya di tanah kelahirannya setelah hampir 4 bulan lamanya menyibukkan diri memulai masa perkuliahan di ibukota (walau sebenarnya sang penulis sempat mampir ke Semarang pada bulan November 2012 untuk mengambil buku tahunan angkatannya).

Dalam tulisan ini, sebenarnya sang penulis akan menceritakan sang penulis saat pulang kampung  pada bulan Desember 2012 untuk bertemu dengan para adik kelas di Es Rumpi dan mengunjungi Lawang Sewu serta berkumpul bersama rekan-rekan #FruitFamily dalam Anjangsana ke-11, namun tak ketinggalan, sang penulis juga akan menceritakan saat sang penulis pulang kampung di bulan November 2012 untuk mencicipi kuliner khas yang menjadi highlight di kota Semarang.

JUMAT, 28 Desember 2012

Jam dinding masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Walau masih terkantuk-kantuk, sang penulis harus tetap semangat untuk berangkat menunju ke bandara mengejar penerbangan pertama menuju Semarang. Taksi yang sang penulis pesan kemarin siang pun sudah menunggu di depan rumah. Dalam perjalanan menuju bandara, jalanan yang sang penulis lalui masih sangat sepi, nyaris tidak ada mobil maupun motor yang melintas. Saking sepinya, taksi yang sang penulis tumpangi dapat melaju sangat kencang dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari rumah untuk sampai di Bandara Soekarno-Hatta (biasanya membutuhkan waktu sekitar satu jam atau bahkan lebih).

Setibanya di terminal 2F, sang penulis langsung menuju ke mushala dan saat sang penulis memasuki mushala, adzan subuh baru saja berkumandang.

Wah pas sekali, bisa shalat berjamaah tepat waktu.

Ambil air wudhu, ambil saf di barisan depan. Iqamah mulai berkumandang. Yak, saatnya memenuhi panggilan Ilahi. Menunaikan ibadah shalat Subuh.

Setelah tuntas menunaikan ibadah shalat Subuh, tanpa basa basi sang penulis langsung menuju ke gate. Suasana di dalam terminal 2F pun masih sangat sepi. Semua kios makanan dan pernak-pernik yang ada masih tutup. Bahkan, saat sang penulis sampai di depan gate, gate pun baru saja dibuka.

Enak ya kalo bandara masih sepi gini, engga penuh sesak, nyaman.

Sembari menunggu panggilan boarding, sang penulis mencoba melihat suasana di sekitar gate dan memotret suasana gate, termasuk memotret pesawat Boeing 747-400 milik GA yang kabarnya akan diganti dengan Boeing 777-300ER pada pertengahan 2013.

SAM_3532

(Lorong antara gate F3 dan F2, seperti kembali ke tahun 90-an)

SAM_3534

(Sunyi senyap, seakan-akan hanya sang penulis penumpang dalam penerbangan pertama menuju Semarang)

Saat sang penulis duduk, tiba-tiba ada seorang ibu paruh baya yang menanyakan mengenai boarding pass miliknya kepada sang penulis. Beliau menanyakan apakah destinasi yang berada di dalam boarding pass sama dengan yang ada di ruang tunggu. Setelah sang penulis meyakinkan ibu tersebut, sang penulis langsung mempersilahkan ibu tersebut untuk duduk.

Perbincangan yang lebih mendalam antara ibu tersebut dan sang penulis pun dimulai. Kini, ibu tersebut bertanya mengenai posisi tempat duduk di dalam pesawat. Langsung saja sang penulis memberikan arahan.

“Jadi nanti ibu duduknya di kursi nomor 8C, itu berarti setelah masuk pesawat, ibu duduk di sebelah kanan di sebelah gang persis, cari barisan nomor 8.”

Setelah ibu tersebut paham dengan arahan sang penulis, kini saatnya sang penulis menanyakan asal daerah ibu tersebut. Alangkah terkejutnya sang penulis bahwa ibu tersebut berasal dari Blora. Ibu tersebut ternyata harus melakukan perjalanan darat setibanya di Semarang. Sang ibu tersebut juga menuturkan bahwa beliau harus berangkat pagi-pagi dikarenakan beliau mendapatkan harga promo pada flight ini.

Wah sama dengan saya bu, saya juga dapet promo buat flight ini.

Iya mas, kalo naik singo angop malah mahal. Mendingan ini, promo..dapet snack pula.

Di sela-sela perbincangan, Ibu tersebut sempat menelepon beberapa kali untuk menanyakan kepada travel yang akan membawa ibu tersebut menuju Blora. Namun, sang ibu belum mendapatkan respon alias teleponnya tidak diangkat.

Masih kepagian kali bu, mungkin masih cuci muka hehe.

Iya juga ya, jam segini masih waktunya untuk menyiapkan diri setelah tidur malam

Setelah beberapa kali usaha untuk menelpon travel yang masih dibilang gagal, sang penulis menanyakan kepada ibu paruh baya yang memiliki 3 anak tersebut mengapa sang ibu tidak diantar atau ditemani oleh anak-anaknya.

Kemudian, ibu yang masih mengajar di sebuah sekolah dasar negeri di kampung halamannya pun menjawab…

Wah, gini mas, saya itu modelnya engga pengen dianter siapapun. Takut ngrepotin orang. Asalkan kita masih sehat, masih dapat berjalan, mulut masih bisa digunakan untuk bertanya, tidak ada alasan untuk takut. Kalo mau takut, sama Allah SWT saja, ngapain takut sama yang lain.

Makjleb.

Walau usia saya yang sudah engga muda, harus tetap semangat.

Perbincangan pun berlanjut dan sang ibu pun bercerita mengenai suka duka menjadi guru SD, terutama pada saat proses sertifikasi guru.

——–

Tak terasa, panggilan boarding pun berkumandang. Boarding pun dilakukan dengan menumpangi sebuah bus karena pesawat yang akan sang penulis tumpangi nangkring di remote area, tidak menggunakan aerobridge (garbarata).

Di dalam bus, sang penulis melanjutkan perbincangan bersama ibu tersebut sesekali sambil melihat pemandangan berupa pesawat yang masih parkir dengan manisnya di apron.

——–

Terakhir saya mengantarkan nenek saya dari Semarang ke sini (Jakarta) itu saya request-kan kursi roda. Tapi, beliau tetap ingin berjalan dengan kakinya sendiri begitu akan keluar dari pesawat. Semangatnya masih tinggi.

Kalau nenek masnya usia 70an lebih dan masih semangat, kita seharusnya juga lebih semangat! Yang muda jangan mau kalah semangatnya dengan yang sudah sepuh!

——–

Bebrapa menit kemudian, bus yang menangkut sang penulis dan penumpang lainnya pun akhirnya tiba di depan pesawat ber-registrasi PK-GEH yang siap digunakan dalam penerbangan pertama menuju Semarang.

Saatnya untuk menaiki tangga setapak demi setapak dan sampai pada akhirnya masuk ke dalam pesawat. Seperti biasa, penumpang pun disambut dengan ‘salam khas’ oleh flight crew yang bertugas sambil menawarkan koran pagi. Sang penulis pun kini berpisah dengan ibu yang berasal dari Blora tersebut dikarenakan sang ibu duduk di kursi 8C sedangkan sang penulis duduk di kursi 6A.

Begitu sang penulis duduk di kursinya, sang penulis termenung…

Sometimes, having a good conversation with the people is nicer than having a great IFE (In-Flight Entertainment system)…Pagi ini serasa mendapat siraman rohani, di mana sang penulis bener-bener makjleb.

Tak berapa lama, pintu pun ditutup. Kedua mesin CFM56 yang menggerakkan pesawat Boeing 737-800 mulai dihidupkan. Pesawat mulai ditarik mundur menuju ke landasan. Prosedur keselamatan pun mulai ditayangkan.

Rasanya cepat sekali, tak sabar untuk tiba di Semarang.

SAM_3544

(Barisan pesawat yang akan take-off dengan berbagai tujuan. Soetta di pagi hari pun sudah ramai)

Sekitar pukul 6.00, penerbangan GA230 mulai mengangkasa. Tak berapa lama, lampu tanda kenakan sabuk pengaman dipadamkan. Para pramugari pun mulai menyajikan snack dengan pilihan minuman. Jangan kaget kalau sekarang menu snacknya hanya berupa roti panjang dan gelasnya pun diganti dengan gelas kertas yang biasa ditemui di dispenser.

inflight-snack

(Walau penyajiannya sangat minimalis, rotinya enak lho, lumayan buat ganjelan sebelum sarapan)

——–

SAM_3561

(Memastikan mendarat di bandara yang benar, Bandara Internasional Ahmad Yani)

Pukul 6.50, penerbangan GA230 akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Ahmad Yani. Di bandara masih terlihat genangan seperti bekas guyuran hujan. Setibanya di Bandara Internasional Ahmad Yani, sang penulis langsung disambut dengan supir nenek sang penulis. Namun, sang penulis langsung memberikan isyarat agar sang supir tersebut menunggu terlebih dahulu di mobil dikarenakan sang penulis akan bertemu dengan dek Andy Aulia yang sedang menikmati hot chocolate di sebuah kafe donat asal Amerika. Ternyata, dek Andy datang ke bandara pagi-pagi karena dirinya baru saja mengantarkan bapaknya yang berangkat ke Jakarta dengan flight kedua GA menuju Jakarta.

Dalam pertemuan sang penulis dengan dek Andy yang cukup singkat, kami berdua membicarakan mengenai ekspansi rute dari dan ke Semarang yang sedang gencar dilakukan oleh maskapai dalam dan luar negeri yang baru-baru ini diberitakan di beberapa media. Bayangkan saja, di tahun 2012, GA dan QZ membuka rute ke Surabaya, JT membuka rute ke Banjarmasin dan Balikpapan, dan di tahun 2013 Citilink (anak perusahaan GA)  dan Mandala-Tiger direncanakan masuk ke Semarang, AirAsia akan membuka rute ke Singapura, dan SilkAir (anak perusahaan Singapore Airlines [SQ]) tak mau kalah dengan AirAsia untuk membuka rute ke Singapura.

Lama-lama Ahmad Yani jebol kalo banyak begini…

Dek Andy juga menuturkan bahwa di Semarang sedang gencar-gencarnya pembangunan mal, hotel, convention center, bahkan rumah sakit.

Wew, perkembangan ekonomi di kota ini seakan sangat cepat.

Perbincangan pun kami lakukan sembari mengelilingi landside bandara dan iseng-iseng menanyakan harga tiket ke Surabaya ke seluruh maskapai yang mempunyai rute langsung ke Surabaya karena dek Andy dalam waktu dekat harus menuju ke Surabaya.

Tak terasa, 15 menit sudah kami berbincang. Namun, pada saat akan mengakhiri perbincangan, dek Andy meminta maaf dengan sang penulis karena dirinya tak dapat menghadiri kumpul-kumpul di Es Rumpi pada siang harinya dan menitipkan pesan kepada rekan-rekan yang lain.

Saatnya kami berdua berpamitan dan sang penulis langsung masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju rumah pun dimulai. Sang penulis berbincang bersama sang supir dan menanyakan apa saja perkembangan terbaru di  Semarang. Begitu keluar dari area bandara, alangkah terkejutnya proyek flyover Kalibanteng sudah menunjukan penampilan fisiknya. Sesaat sebelum sampai ke rumah, sang penulis juga kaget bahwa apartemen yang dibangun di dekat Java Supermall pun sudah mulai beroperasi. Disebut-sebut, apartemen ini tertinggi di Jawa Tengah.

Dalam batin, sang penulis hanya berkata…

Ini beneran aku ada di Semarang? Banyak sekali bangunan baru bertebaran..

——–

SAM_3565

(Penampakan sebuah apartemen yang menjulang tinggi di dekat Java Supermall)

30 menit kemudian, sang penulis akhirnya tiba di rumah dan disambut oleh nenek, tante, serta keponakan sang penulis.

Tiba di rumah, sang penulis justru bukan untuk beristirahat namun sekalian minta izin dikarenakan siang harinya sang penulis akan berkumpul bersama adik-adik kelas di Es Rumpi pada pukul 10.

Mengapa di Es Rumpi? Karena pada saat sang penulis pulang kampung bulan November 2012 lalu, saat santap siang di kantin SMAGA, sang penulis dan dek Dewi Nur dkk sudah menyepakati jika sang penulis pulang kampung lagi akan diadakan kumpul bersama yang letaknya tak jauh dari SMAGA. Maka diputuskanlah di Es rumpi, selain asyik buat nongkrong, harganya juga terjangkau.

bosen ke Paragon, bosen ke DP *cielah

Sebelum berangkat ke Semarang, sang penulis selalu menyempatkan diri untuk berkoordinasi melalui sms dengan dek Dewi Nur mengenai kesiapan rekan-rekan yang lain untuk berkumpul.

Oh ya, Es Rumpi ini terletak di gang kecil di sebelah DP Mall, lebih tepatnya di Pujasera Lawang Sewu karena pujasera ini terletak di belakang Lawang Sewu persis. Es Rumpi menyediakan berbagai macam es. Semua es harganya dipatok 7000 rupiah. Wenak bukan?

——–

Sebelum menuju ke Es Rumpi, sang penulis menyempatkan diri untuk nyekar (ziarah) ke makam kakek sang penulis dengan ditemani sepupu sang penulis.

——–

Setelah nyekar, tiba-tiba hujan pun turun. Gerimis. Untungnya, hujan turun hanya sebentar jadi tidak mempengaruhi agenda secara keseluruhan dan kumpul-kumpul tetap berjalan.

Karena sang penulis baru pulang ke rumah sekitar sore hari, sang penulis meminta agar diturunkan saja di DP Mall sembari menunggu adik-adik kelas datang.

Selang tak berapa lama, sang penulis pun akhirnya bertemu dengan dek Hani yang baru saja berbelanja di sebuah hypermarket di DPMall. Dek Hani membeli makanan ringan untuk perbekalan dalam perjalanan ke Magelang pada sore harinya.

Jam di handphone mulai bergerak ke arah jam 10. Sang penulis dan dek Hani juga mulai bergegas menuju ke Es Rumpi. Setibanya di Es Rumpi, Es Rumpi-nya belum buka, masih dasaran (persiapan).

Sembari menunggu yang lain, sang penulis dan dek Hani mencari tempat duduk di dalam Es Rumpi. Walau masih dasaran, staf Es Rumpi langsung memberikan daftar menu kepada kami.

Waktu terus berjalan, akhirnya orang yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Dek Faradiba, dek Riko, dek Dewi, dek Dama, serta dek Johan

Kami semua masih menunggu satu orang lagi, yaitu dek Enggardini. Namun, sang penulis mendapatkan sms bahwa dek Enggar belum bisa menyusul ke Es Rumpi, baru bisa saat akan berjalan-jalan ke Lawang Sewu dikarenakan jalanan dari Kendal menuju Semarang luar biasa padatnya.

Walau agak telat, pertemuan pun tetap berjalan dan baru dimulai pada pukul 10.30. Pertemuan diawali dengan sang penulis menyampaikan permohonan maaf dari dek Andy dikarenakan dek Andy berhalangan hadir. Dalam pertemuan ini, sang penulis melakukan sharing mengenai persiapan ujian nasional dan ujian masuk universitas serta kehidupan perkuliahan. Pada umumnya, adek-adek ini masih dapat dikatakan bimbang mengenai jurusan apa yang akan dipilih nanti. Ada yang sudah yakin, ada pula yang masih galau. Ada yang sudah disarankan orang tua dan ada juga yang ingin mengikuti kata hati.

The choice is yours!

Toh waktu masih ada untuk menimbang-nimbang dalam melilih jurusan. Memilih jurusan bukan sekadar memilih seperti membeli kacang goreng di Gang Bedagan. Memilih jurusan harus sesuai bakat dan minat karena dapat mempengaruhi masa depan dan sisa kehidupan nanti,

Sang penulis sempat bernasihat

Dek, kalo bisa, jauhi semua sosmed (sosial media), WhatsApp, BlackBerry Messenger, LINE pada saat belajar. Waktunya belajar ya belajar, jangan twitteran, fban, apalagi bbm-an, wasapan, line-an. Kalo perlu matiin hape selama belajar. Harus FOKUS! Pengalaman dek soalnya, dulu diriku malah pdkt sama temen sekelas di saat yang seharusnya prihatin buat belajar. Pas belajar, pas les, bbm-an mulu. Jadinya nyesel sih dek sekarang, hasil yang didapat belum optimal.

Seketika, seluruh adek-adek pun berkata EAAA

-_-

SAM_3596 SAM_3599 SAM_3604

(Suasana perbincangan di Es Rumpi)

Adek-adek pun maklum dengan cerita sang penulis, dan sepertinya, setelah mendapat wejangan dari sang penulis, adek-adek ini pun akan mulai berubah sikapnya dalam menggunakan sosmed.

Dalam pertemuan ini pula, adek-adek kelas juga juga menceritakan mengenai perkembangan di dalam intern SMAGA. Sang penulis menangkap gesture jika kondisi di dalam intern SMAGA sangat berubah semenjak pergantian kepala sekolah. Wow.

Lebih ketat di semua aspek mas.

Tak ketinggalan, adek-adek ini juga membicarakan mengenai nasib piagam yang didapatnya selama SMA apakah nantinya bisa untuk mendaftar di perkuliahan nanti.

Yang penting dicoba dulu…

——–

Ada suatu peristiwa yang bisa dibilang lucu saat sang penulis menceritakan suka duka saat di HK.

Dek Andy pas di HK sepatunya rusak, terus kepengen beli sepatu di sana. Ternyata eh ternyata, sepatunya Made In Indonesia, mereknya Reebok pula.

Engga ada hujan engga ada angin, dek Johan dan dek Dewi tiba-tiba berkata….

Reebok…E-nya 2 O-nya satuuuuuuu~ *dengan penekanan bibir yang sangat mantap

Seketika kami semua tertawa terbahak-bahak melihat aksi dek Johan dan dek Dewi.

——–

Sebelum mengakhiri perbincangan dikarenakan waktu shalat Jumat akan tiba, sang penulis berpesan kepada adek-adek kelas ini…

Jangan bertumpu pada SNMPTN saja dek, kalo bisa ya persiapin SBMPTN-nya juga. UN siap, SNMPTN oke, SBMPTN apalagi. Kita engga tau apa yang akan terjadi di hari-H-nya. Semua sudah diatur sama yang diatas. Kita sebagai umatnya sebaiknya berikhtiar dan bertawakal semaksimal mungkin. Keep humble, keep spirit dek..

Jangan lupa, di masa depan, suatu saat kalian bakalan kangen dengan kerasnya perjuangan di semester 2 ini.

——–

Tak terasa, waktu sudah menuntukan pukul setengah 12 siang, itu artinya para ikhwan (laki-laki) harus bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah Shalat Jumat. Sang penulis bersama dek Riko dan dek Johan bergerak menuju ke basement gedung BPD Jateng sedangkan para rombongan akhwat (perempuan) menunggu di DP Mall

——–

SAM_3605

(Tumben gerbangnya dibuka pas libur begini, ada gerangan apa ya..?)

SAM_3606

(Gerbang utama Balaikota Semarang yang akhirnya jadi setelah berbulan-bulan mangkrak)

Setelah shalat Jumat, seluruh anggota rombongan pun sudah lengkap, termasuk dek Enggardini yang baru saja tiba dari Kendal. Saatnya berjalan-jalan ke Lawang Sewu. Namun, dek Faradiba tidak bisa menemani kami lagi dikarenakan ia harus mengikuti les. Kami pun berpamitan dengan dek Faradiba dan kemudian berjalan kaki menuju Lawang Sewu.

Sekilas mengenai Lawang Sewu:

Lawang Sewu merupakan bangunan yang dulunya pada saat jaman kolonial Belanda digunakan sebagai kantor jawatan perkereta-apian. Kini, bangunan ini diambil alih oleh PT. KAI Daop 4 dan dijadikan museum. Bangunan ini memiliki banyak sekali pintu, maka tak heran bangunan ini disebut oleh masyarakat Semarang sebagai lawang sewu, jika diartikan secara harfiah dari bahasa Jawa yaitu Seribu Pintu.

“Mas Ghamdan, sebenarnya pintunya tidak sampai 1000, ada sekitar 600an,” tutur dek Dewi.

Tahun 2009 lalu, sang penulis sempat berkunjung ke Lawang Sewu bersama rekan-rekan sang penulis semasa SMP. Saat itu, Lawang Sewu sama sekali tidak terawat bahkan bisa dikatakan masih terabaikan. Gelap gulita pokoknya! Masuk Lawang Sewu pada saat itu benar-benar uji nyali.

Kini, Lawang Sewu sudah berbenah diri. Sudah lebih cantik pokoknya, enak dipandang mata

Oh ya, masuk ke Lawang Sewu sekarang engga gratis lho. Masyarakat yang ingin masuk ke Lawang Sewu harus membayar tiket sebesar Rp 10.000 (umum), dan Rp 5000 (pelajar/anak berusia 3-12 tahun). Lawang Sewu buka mulai pukul 07.00 – 21.00 WIB.

Begitu kami sampai ke loket, seluruh anggota rombongan pun mengumpulkan kartu pelajar agar dapat dikenakan biaya pelajar sebesar 5000 rupiah, dan kini mau tak mau sang penulis harus menerima kenyataan untuk membayar biaya umum sebesar 10000 rupiah.

Rasanya sudah tua ya ._.

——–

Ada sebuah insiden kecil saat pihak ticketing dan para tour leader agak bersitegang dengan anggota rombongan. Tour leader ‘memaksa’ kami untuk menggunakan jasanya karena anggota rombongan kami berjumlah lebih dari 5.

Sang penulis dan Dek Dewi mencoba bernegosiasi dengan pihak ticketing dan tour leader. Dek Dewi mengatakan bahwa kemarin dirinya sempat ke Lawang Sewu untuk melakukan survey dan memastikan jika tidak menggunakan jasa tour leader tak mengapa. Lalu Sang penulis menimpali “Mana ada aturan lebih dari orang 5 pake tour leader, itu di papannya engga ada tulisannya sama sekali”

Pada akhirnya, pihak ticketing dan pemandu pun mengalah.

——–

Setelah lancar membayar tiket masuk, tiba-tiba dek Hani merasa ada sesuatu yang ganjil saat menerima kembalian dari loket. Dirinya merasa kembalian yang diterimanya kelebihan.

Benar saja, ternyata pada saat pengecekan tiket, tiket sang penulis dihitung tarif PELAJAR.

Langsung saja sang penulis mengucapkan terima kasih kepada anggota rombongan yang lain sambil membungkukkan badan.

Lumayan ngirit lima ribu…

Saat memulai penjelajahan, kami ingin memasuki bangunan utamanya namun bangunan tersebut terkunci rapat, entah apa sebabnya. Padahal di bangunan tersebut terdapat mozaik yang menjadi ciri khas dari Lawang Sewu. Walau begitu, kami masih dapat menikmati keindahan mozaik tersebut dari sisi luar bangunan. Mozaik ini sempat muncul di iklan GA versi bahasa belanda.

Okelah, tak apa kita tak dapat masuk ke dalam bangunan utama.

Ruangan pertama yang kami singgahi di Lawang Sewu adalah ruangan yang berisikan sejarah mengenai pendirian dan pembangunan Lawang Sewu. Dek Dewi pun menjadi guide dadakan. Seluruh anggota rombongan mendengarkan cerita dari dek Dewi dengan seksama.

Jadi keinget quotes yang disampaikan oleh Pak Subiyanto pada saat mengunjungi Museum Aya Sophia di Istanbul…

“Opo bedane turis Kalicari/Mrican/Indonesia karo turis Eropa/asing? (Apa bedanya turis Kalicari/Mrican/Indonesia  [catatan: Kalicari merupakan daerah tempat tinggal si Irham dan Mrican merupakan daerah tempat tinggal sang penulis] dengan turis Eropa/asing?

Kalau turis asing umumnya membaca sejarah mengenai suatu destinasi terlebih dahulu kemudian tertarik untuk mengunjungi destinasi tersebut, sedangkan kalau turis Indonesia umumnya mengunjungi destinasinya terlebih dahulu lalu kemudian membaca sejarah mengenai destinasi yang sudah dikunjungi sebelumnya”

SAM_3616

(Dek Dewi Nur (2 dari kanan) saat menceritakan sejarah mengenai Lawang Sewu)

SAM_3614

SAM_3612

(seklias sejarah mengenai pembangunan Lawang Sewu)

SAM_3617

(kondisi ruangan yang berisikan sejarah pembangunan Lawang Sewu)

Walau kelihatannya sudah dipugar, namun kondisinya bisa dibilang masih belum terawat dengan baik. Sang penulis kemudian berpikir….

Ini kalau semua sejarah mengenai Lawang Sewu disajikan hanya dalam Bahasa Indonesia, sepertinya turis asing emoh kalau mau baca. Sebaiknya disajikan dalam 4 bahasa, Indonesia, Inggris, Belanda, dan Jepang. Alangkah lebih bagus kalau seluruh sejarah ini disajikan dengan perangkat multimedia interaktif, sehingga masyarakat akan lebih tertarik dalam mendalami sejarah.

Perasaan banyak insan kreatif di bidang multimedia kok engga digerakkan ya? Hanya yang diatas yang tahu jawabannya…

Setelah puas dengan cerita sejarah mengenai pembangunan Lawang Sewu, saatnya kami bergerak untuk melihat-lihat ke ruangan yang lain.

SAM_3618 SAM_3620

(Beberapa sudut di Lawang Sewu yang sang penulis rasa masih butuh pemeliharaan ekstra)

02 01

(beberapa snapshot saat bekeliling di Lawang Sewu, diambil dengan menggunakan aplikasi Instagram)

Namun, pada saat sedang asyik-asyiknya berfoto ria, Johan mengatakan sesuatu kepada kami:

Johan:”Temen-temen, kayaknya aku engga bisa lama-lama buat mengeksplor Lawang Sewu. Jam setengah 2 aku mau les soalnya.”

“Lhoooo”

“Tunggu, kamu udah pernah ke Lawang Sewu belum?”

Johan:”Belum sama sekali…….”

“Waah sayang lho, sekolah deket dari sini tapi belum pernah ke Lawang Sewu itu..sesuatu. Masa yang merantau beberapa tahun di sini belum pernah mengeksplor Lawang Sewu. Tinggal jalan kaki dari SMAGA lho.

“Ini si Riko dateng langsung dari Demak aja mau menyempatkan diri, dirimu dari Jepara yang udah menetap berapa taun di Semarang belum pernah ke sini”

“Ayolaah, masa’ si Sevina Putri (Upik) kamu mau ajak jalan-jalan ke Lawang Sewu? Engga leveel, palingan si upik maunya nonton film drama Korea sama nonton Afgan nyanyi. Nah maka dari itu kamu bisa puas mengeksplor Lawang Sewu bersama kami”

*seketika seluruh anggota rombongan tertawa terbahak-bahak

“Ayoo Jo, kapan lagi dirimu mau ke Lawang Sewu, bentar lagi kan dirimu ke Bandung.”

*anggota rombongan yang lain pun termasuk sang penulis berusaha membujuk Johan, namun pada akhirnya, ia tetap pamit meninggalkan kami semua…*

lawangsewu1

(Bangunan utama Lawang Sewu dari sisi belakang)

Perjalanan pun berlanjut tanpa Johan. Anggota rombongan yang kini hanya terdiri dari sang penulis, dek Dewi, dek Riko, dek Hani, dek Dama, dan dek Enggardini bergerak menuju ke lantai 3 bangunan di sayap timur. Di lantai 3 bangunan ini, dulunya digunakan sebagai tempat pengintaian dan berfungsi pula sebagai ventilasi.

——–

Rasanya tak lengkap jika berkunjung ke Lawang Sewu tidak mengunjungi ruangan bawah tanahnya. Maka setelah dari lantai 3, seluruh anggota rombongan bergerak menuju ke pintu masuk ruangan bawah tanah.

Ternyata eh ternyata, untuk masuk ke ruangan bawah tanahnya kita harus membayar 10.000 rupiah per orang, belum termasuk biaya pemandu yang akan menemani selama di ruangan bawah tanah sebesar 20.000 rupiah. Setelah mengisi buku tamu, seluruh anggota rombongan dipersilahkan untuk memakai sepatu but yang telah disiapkan oleh pemandu dan menyimpan sepatu kami di loker. Sebelum memasuki ruangan bawah tanah, kami diberikan 2 buah senter untuk membantu menerangi kami selama penjelajahan di bawah tanah.

Saatnya menjelajahi ruangan bawah tanah Lawang Sewu yang dikenal angker.

Begitu memasuki ruangan, sang pemandu pun mulai menceritakan mengenai kisah yang ada di dalam ruang bawah tanah. Ceritanya lebih menekankan bagaimana Jepang dengan kejamnya membunuh orang yang menjadi tawanannya di ruang bawah tanah ini, bisa dibilang ruang bawah tanah ini sebagai ruang pembantaian. Kata pemandunya, ruang bawah tanah ini saat jaman Belanda cukup digunakan sebagai pendingin ruangan dan ventilasi.

Kalau sang penulis menuliskan di CSG mengenai kekejaman Jepang di ruang bawah tanah ini secara rinci, rasanya engga tega, udah ngeri sendiri. Merinding.

Maka tak heran, sebelum pemugaran, ruang bawah tanah ini sering digunakan untuk acara televisi yang bertajuk Uji Nyali.

SAM_3633  SAM_3635

(snapshot di ruang bawah tanah Lawang Sewu yang cukup gelap dan lembab. Terlihat pula ruang bawah tanah ini becek yang memang segaja dibiarkan becek untuk membantu pendinginan udara di Lawang Sewu pada umumnya. Karena becek, kami pun hampir terpeleset karena ada pijakan yang tak terlihat)

SAM_3634

(Di tempat ini dulunya digunakan sebagai penjara yang sangat gelap di mana para napinya diharuskan untuk membungkukkan badan, dan kemudian dipenggal di ruangan lain)

SAM_3639

(Silahkan membayangkan di tempat yang kami gunakan untuk berfoto ini dulunya penjara untuk 6-8 orang, sesak bukan!)

Puas menjelajahi ruang bawah tanah, kini saatnya untuk beristirahat dan menghirup udara segar di taman yang terletak di bagian belakang bangunan utama Lawang Sewu.

05

03

04

(beberapa snaphshot yang diambil sesaat sebelum mengakhiri kunjungan di Lawang Sewu)

Menjelang pukul 3 sore hari, saatnya kami mengakhiri kunjungan di Lawang Sewu. Dek Dewi dan dek Riko pun berpamitan dikarenakan akan berjalan-jalan ke destinasi lain sedangkan sang penulis bersama dek Enggardini, dek Dama, dan dek Hani makan siang di sebuah warung mi ayam yang terletak di depan Es Rumpi.

Setelah puas makan mi ayam, sang penulis pun pulang kerumah dengan menggunakan moda transportasi umum yaitu BRT Trans Semarang dan kemudian disambung naik daihatsu (angkutan kota) rute C5.

Yang sang penulis agak kaget dan menyesal, kini sang penulis harus membayar tarif umum Trans Semarang sebesar 3500 rupiah, padahal beberapa bulan yang lalu masih bisa membayar dengan tarif pelajar sebesar 2000 rupiah.

Waktu terasa berjalan sangat cepat ya…..

SAM_3644

(Suasana Jalan Pemuda di sore hari, diambil dari dalam BRT Trans Semarang. Macetnya Jakarta seakan-akan pindah ke Semarang)

Sesampainya di rumah, sang penulis memutuskan untuk beristirahat dan memutuskan untuk makan malam di rumah walaupun sepupu sang penulis mengajak makan malam bersama.

Selang tak berapa lama, hujan pun turun dengan cukup deras.

Entah mengapa, bau air hujan yang turun ke tanah selalu membuat orang yang menciumnya seakan-akan memori masa lalunya muncul begitu saja. Entah itu memori yang manis maupun pahit.

SABTU, 29 Desember 2012

Pagi itu, cuaca mulai cerah.

Jendela pun dibuka.

Aahh…udara Semarang di pagi hari, sejuk rasanya.

Lama sekali tak menikmati udara pagi di Semarang.

Pada hari Sabtu ini, sang penulis akan mempersiapkan diri sebagai tuan rumah, seperti biasa, dalam Anjangsana ke-11 #FruitFamily. Anjangsana bersama rekan-rekan #FruitFamily ini terakhir kali diadakan bulan Agustus 2012 lalu. Jadi, anjangsana ini benar-benar ajang untuk temu kangen dengan rekan-rekan #FruitFamily setelah hampir setengah tahun tak bertemu, berpencar ke daerah rantauannya masing-masing demi menggapai cita-cita.

Walau begitu, kami selalu keep-in-contact melalui fasilitas telekomunikasi yang ada untuk mengetahui kabar satu sama lain.

Hampir 6 bulan berjalan, sejak Agustus 2012, banyak sekali peristiwa yang terjadi pada rekan-rekan #FruitFamily. Mulai dari galau akademis di kampusnya masing-masing, rindu rumah bagi yang ngekos di perantauan, hingga masalah percintaan. Baru 3 bulan kuliah ada yang sudah jadian, ada yang melaksanakan LDR (hubungan jarak jauh) baik itu di tanah air maupun mancanegara, ada yang ditinggal dinas militer, ada yang mau ndeketin salah seorang rekan #FruitFamily aja malah ditolak dengan halus melalui twitter, dan bahkan ada yang ‘agak’ menyesal karena pada saat salah seorang rekan #FruitFamily berulang tahun, dia baru menyadari bahwa idamannya sudah diambil orang.

Oke. Cerita tentang galau percintaannya cukup sampai di sini ndan -_-

Di balik semua itu, sejauh ini, kondisi #FruitFamily di daerah rantauannya masing-masing berjalan cukup lancar tanpa halangan berarti.

Kembali ke laptop, eh ke cerita.

Waktu mulai menunjukkan pukul 10 pagi.

Sembari sang penulis menyusun daftar perlengkapan untuk pelaksanaan anjangsana, tiba-tiba, ada sepeda motor masuk ke dalam rumah sang penulis

Yup.

Pengendara sepeda motor tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah rekan #FruitFamily yang pertama hadir dalam Anjangsana ke-11, Darian Verdy

Sudah jadi urang Bandung ternyata. Tak sadar diriku..

Karena sang penulis harus membeli beberapa perlengkapan yang dirasa kurang untuk pelaksanaan anjangsana, maka sang penulis meminta Verdy untuk menemani sang penulis membeli donat di sebuah toko donat asal negeri sendiri dan sekalian makan siang bersama di sebuah warung soto ayam di bilangan Thamrin bersama sepupu sang penulis.

Saat perjalanan menuju warung soto, si Verdy agak terlihat canggung. Mungkin berpergian bersama sepupu sang penulis kali ya. Namun, saat di warung soto, rasa canggung si Verdy pun seakan musnah setelah soto ayam segar dan lauk-pauk pelengkapnya hadir di meja makan.

Sambil menyantap soto ayam yang sangat segar, sang penulis dan si Verdy pun sesekali menyempatkan untuk berbincang, terutama mengenai kehidupan baru di kampusnya si Verdy yang bisa dibilang gudangnya para engineer.

Setelah dirasa kenyang dan perlengkapan untuk pelaksanaan anjangsana sudah lengkap, saatnya kami kembali ke rumah sang penulis.

Begitu kembali ke rumah, si Yaris sudah menunggu di depan rumah sang penulis dengan tunggangannya.

Tak berapa lama, rekan-rekan #FruitFamily yang lain mulai tiba di rumah sang penulis.

Si Dwi Syafiar (Bayu) rambutnya sudah gondrong. Penampilannya sangat berbeda drastis dibandingkat saat masih di SMA.

Buset, bener-bener anak kuliahan.

Rekan-rekan putri #FruitFamily pun sudah mulai banyak yang berhijab. Alhamdulillah…

Tambah cantik-cantik aja ini… #eaaaa

Dalam Anjangsana kali ini, sang penulis memang sengaja tidak menyiapkan kegiatan khusus yang biasa dilakukan dalam anjangsana sebelumnya seperti Kuis dan Menonton Film.

Biarkan anjangsana ini menjadi benar-benar ajang untuk temu kangen, melepas rindu. Perbincangan pun mengalir dengan sendirinya. Canda tawa gembira lebur menjadi satu. Kami pun serasa dipersatukan kembali setelah berjuang beberapa bulan di tanah rantaunya masing-masing.

Dalam Anjangsana kali ini, ada sesuatu yang sangat berbeda. Agenda makan malam tidak dilangsungkan di rumah sang penulis melainkan bertempat di SS (super sambal) di bilangan Lamper Sari. Makan malam di rumah makan tersebut berlangsung sebagai syukuran ulang tahunnya si Verdy.

Terima kasih Ver!

Ada kejadian unik saat sang penulis akan berangkat menuju rumah makan.

Dikarenakan sepeda motor yang dibawa rekan-rekan sang penulis sudah penuh dan tidak dapat digunakan untuk nebeng, maka sang penulis menumpang mobilnya si Yaris bersama si Titak dan si Sita. Berhubung si Yaris dan si Sita pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing, maka sang penulis bersama si Titak meminta untuk di-drop off setibanya di rumah makan.

Sesaat sebelum berangkat, sang penulis samar-samar mendengar bahwa makan malam akan berlangsung di SS yang berlokasi di bilangan Sompok. Atas dasar itulah, sang penulis langsung mengarahkan si Yaris untuk menuju ke rumah makan tersebut yang berlokasi di bilangan Sompok. Sesampainya di rumah makan yang dimaksud, maka sang penulis bersama si Titak turun sedangkan si Yaris dan si Sita melanjutkan perjalanannya.

Mobil si Yaris pun kemudian melaju.

Beberapa saat kemudian, sang penulis merasakan ada hal yang ganjil.

Kok rasanya temen-temen belum dateng ya? Apa kita kesasar ya? Tapi kayaknya engga ding, ini kan SS Sompok.

Si Titak pun juga mulai curiga.

Karena tidak mau berlarut-larut dalam penasaran, sang penulis langsung menelepon si Riko. Alangkah terkejutnya sang penulis dan si Titak dikarenakan rekan-rekan yang lain telah tiba di rumah makan, namun rumah makan tersebut berlokasi di bilangan Lamper Sari. Rekan-rekan yang sudah tiba terlebih dahulu pun juga merasa kaget.

Perasaan tadi ada yang ngomong di Sompok .____.

Sejurus kemudian, si Bayu dan si Yani a.k.a Ciken langsung menjemput kami berdua dan membawa kami ke ‘jalan yang benar’.

Maafkan saya kawan-kawan ._.

Sesampainya di rumah makan yang benar-benar dimaksud, mulailah kami semua memilih menu untuk sajian makan malam dan tentu saja diselingi dengan perbincangan tanpa henti.

Walau rumah makan ini sangat ramai karena malam itu malam minggu, kami justru bersemangat untuk saling bertukar cerita.

IMG_1316

(Suasana makan malam bersama rekan-rekan #FruitFamily di SS Lamper Kidul)

IMG_1317

(Menu sang penulis saat itu: ayam goreng, tempe, jeruk hangat, dan sambal ijo)

Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Kami semua harus berpamitan ke rumah masing-masing. Sebelum meninggalkan rumah makan, kami sempat membahas mengenai agenda Smaga College Expo (SCE) yang diadakan pada awal Januari 2013, apakah kami semua bisa hadir atau tidak. Sebagian besar menjawab bisa, namun sang penulis lagi-lagi harus menahan rindunya dikarenakan sang penulis tidak datang dikarenakan ada suatu hal.

Aaaaa kapan kitaaa berjumpaaa lagiiii………..

Akhirnya, kami semua pun bersalaman dan saling berjanji untuk selalu keep-in-contact apapun yang terjadi.

Jika ada kesempatan, kita pasti bisa re-unite lagi kok!

Seluruh rekan #FruitFamily pun kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali si Irham, si Riko, si Verdy, dan si Bayu yang memang akan kembali ke rumah sang penulis dikarenakan mereka akan menginap bersama sang penulis. Si Ratri dan si Siti pun juga memilih kembali ke rumah sang penulis, namun untuk melanjutkan perbincangan bersama rekan-rekan yang akan menginap di rumah sang penulis.

IMG_1318

(Beberapa rekan #FruitFamily memilih untuk santai sejenak di rumah sang penulis dan melanjutkan perbincangan setelah agenda makan malam)

Malam pun makin larut.

Udara malam masuk ke ruang tamu dengan dinginnya.

Mata seakan-akan sudah ingin terpejam.

Pukul 22.00, si Ratri dan si Siti pun kembali ke rumah masing-masing.

Kini di rumah sang penulis tinggal bersisa si Irham, si Verdy, si Riko, dan si Bayu.

Keempat orang tersebut memilih untuk begadang dikarenakan ada pertandingan sepak bola yang akan disiarkan secara langsung (namun pada akhirnya mereka ketiduran, sudah capai barangkali).

Yak! Selamat tidur!

Minggu, 30 Desember 2012

Weker handphone pun berbunyi dengan cukup kencang

Udara di luar masih cukup dingin

Terlalu dingin

Kantuk pun masih dirasakan

Seakan-akan mata ingin terpejam lagi

Waktu pun telah menunjukkan pukul 5.00. Sang penulis dan seluruh rekannya yang menginap, yakni si Irham, si Bayu, si Verdy, dan si Riko bangun dari tidurnya dan langsung mengambil air wudhu untuk kemudian menunaikan shalat subuh berjamaah.

Setelah tuntas menunaikan shalat subuh, kami semua kembali ke kamar tidur. Ada yang membuka internet, ada yang melanjutkan tidurnya sebentar, dan ada pula yang melanjutkan membaca sebuah novel. Sesekali perbincangan pun kami lakukan untuk mengusir hawa kantuk hingga waktu sarapan pukul 8 pagi.

DSC_0151 DSC_0148

(Kegiatan rekan-rekan sang penulis sembari menanti waktu sarapan)

Saatnya sarapan telah tiba! Kami pun sarapan ala kadarnya dengan menu mi goreng lengkap dengan gorengan berupa tempe mendoan sambil menonton kartu pagi seperti Doraemon.

DSC_0155

(“Menonton film kartun ini tidak pernah merasa bosan, banyak pesan moralnya,” tutur sang penulis)

Tak jarang salah satu dari kami tertawa lepas saat menonton film kartun ini. Benar-benar menikmati minggu pagi.

Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Tak terasa, acara menginap pun selesai. Si Irham, si Bayu, si Verdy, dan si Riko mohon pamit dan mengucapkan terima kasih kepada sang penulis.

Engga kerasa lho udah harus pisah lagi, kapan ya bisa ngadain acara nginep begini…………………..

Satu per satu, motor yang mereka gunakan pun mulai keluar dari kompleks rumah sang penulis.

Rumah pun sepi lagi. Sepi. Sepi……..Padahal kemaren ramainya bukan main. Namanya juga perjuangan…

Hari minggu ini, sang penulis hanya beristirahat di rumah untuk mengembalikan kondisi badannya yang dirasa kurang fit.

Seperti janji sang penulis di awal cerita, maka sang penulis akan menceritakan pengalaman kuliner sang penulis di kampung halaman tercinta.

KULINER

BADAK SAMBEL

Makanan apa itu ndan? daging badak dikasih sambel??

BUKAAAAAN WOOOOOIIII -__________-

Mungkin menu ini terdengar cukup unik bagi yang baru pertama kali mendengarnya. Namun, sesungguhnya menu ini bukanlah menu yang terbuat dari daging badak.

Binatang dilindungi kok dimakan…

Bagi pembaca yang mungkin merupakan ALSTE (Alumni SMA 3 Semarang) atau yang masih duduk di bangku SMA 3 Semarang, pastinya sudah tidak asing lagi dengan makanan yang merupakan signature dish dari SMA 3 Semarang.

Badak Sambel sesungguhnya terbuat dari bakwan goreng yang telah dipotong-potong menjadi kecil, kemudian disiram dengan saus kacang yang biasa ditemui saat menyantap pecel. Badak sambel tentunya disajikan dengan nasi putih yang masih hangat.

——

Pada bulan November 2012 lalu, sang penulis berkesempatan untuk mengunjungi almamaternya yang terletak di bilangan Jalan Pemuda sekaligus untuk menemui dek Andy, dek Hani, dek Enggar, dek Dama, dan dek Dewi untuk memberikan buah tangan dari ibukota.

Saat sang penulis berkunjung  ke almamaternya, atmosfer yang dirasakan saat masuk ke almamaternya agak berbeda. Bagaimana tidak, sang penulis merasa belum menyadari jikalau adek-adek putri kelas X mulai menggunakan rok panjang. Menurut sang penulis pula, atmosfer di sini agak berbeda semenjak pergantian kepala sekolah.

Kayaknya ada sesuatu yang kurang, tapi…entahlah…

Sang penulis janjian dengan dek Andy untuk bertemu di kanopi, dekat dengan ruang kepala sekolah dan ruang wakil kepala sekolah. Saat menapaki tangga di kanopi, sang penulis pun langsung dipanggil oleh seseorang. Tidak bukan dan tidak lain yang memanggil sang penulis adalah Ibu Kusmiyati. Beliau merupakan salah seorang staf yang setiap harinya bertugas menerima tamu sang kepala sekolah. Bu Kus (panggilan akrabnya) langsung menanyakan bagaimana keadaan sang penulis saat sang penulis memulai kehidupan baru di ibukota.

Selang tak berapa lama, Ibu Sri Mulyani, atau yang biasa dipanggil Bu Yani, guru TIK, datang ke kanopi dan langsung menyapa sang penulis. Di belakang Bu Yani, dek Andy pun muncul. Kami bertiga langsung mengambil tempat duduk dan melakukan perbincangan. Sang penulis sempat curhat mengenai program studinya yang diambil di perkuliahan. Berhubung Bu Yani juga dulunya lulusan Sistem Informasi, maka Bu Yani langsung menceritakan dari A hingga Z mengenai Sistem Informasi yang mungkin belum pernah sang penulis bayangkan.

Beberapa menit kemudian, Pak Subiyanto (Pak Bi), guru fisika, sekaligus bapaknya Irham, menyapa kami bertiga dan bergabung untuk melakukan perbincangan. Pak Bi merasa kaget mengapa sang penulis datang ke Semarang saat rekan-rekan lainnya masih melakukan kegiatan perkuliahan. Dalam perbincangan pula, sang penulis juga memohon maaf dikarenakan tidak dapat menjenguk Irham. Pada akhir Oktober 2012 lalu, Irham mengalami kecelakaan pada kakinya pada saat bertanding futsal di Yogyakarta. Atas kecelakaan itulah, si Irham tak dapat mengikuti perkuliahan hampir sebulan lamanya.

Di saat kami sedang melakukan pembicaraan, dek Hani, dek Enggar, dan dek Dama datang menemui sang penulis dan Andy. Pada saat mereka datang, beberapa guru pun juga datang menemui kami dan menyapa sang penulis. Sebut saja Bu Rochyati, Bu Setyawati, Pak Soedianto, dan lain sebagainya. Semua guru yang menemui sang penulis berkata kepada sang penulis mengapa sang penulis mempunyai banyak jerawat di wajahnya.

Sudah punya pacar yaaa?

-______-

Tak terasa, waktu sudah memasuki jam makan siang. Sang penulis dan adek-adek mohon pamit kepada guru-guru yang lain untuk mengisi perut.

Saat memasuki ruangan kantin, sepertinya tak ada yang berubah dengan interior kantin. Hanya saja ada beberapa kios yang sudah tutup dikarenakan saat itu masih dalam suasana ulangan tengah semester sehingga pulang lebih awal.

Tanpa berpikir panjang, sang penulis langsung memesan Badak Sambel di salah satu kios di ruangan kantin.

kantin_sma_3_semarang

(Suasana kantin SMA 3 Semarang, diambil pada akhir bulan Oktober 2011)

badak sambel sma3smg

(Inilah wujud Badak Sambel, signature dish SMA 3 Semarang)

Seporsi badak sambel dibanderol hanya 3500 rupiah. Sangat murah bukan!

Kalau sang penulis boleh jujur, badak sambel merupakan menu tombo kangen, pelepas rindu dengan almamater tercinta. Menu ini juga merupakan menu wajib, fardhu’ain saat temu alumni.

Begitu sesuap badak sambel masuk ke rongga mulut, bakwan yang telah disiram dengan saus kacang beserta nasi yang masih cukup hangat pun menyatu. Agak pedas, namun sangat nikmat. Rasanya sungguh luar biasa.

Sambil menyantap badak sambel, sang penulis sesekali berbincang dengan adek-adek mengenai perkembangan yang ada di almamater dan merancang pertemuan berikutnya jikalau sang penulis pulang kampung lagi.

Badak sambel konon katanya pernah diliput oleh bondan winarno yang kebetulan juga merupakan ALSTE dan badak sambel juga pernah disantap oleh Tina Talisa saat live show di SMA 3 Semarang bulan Mei 2012 silam.

Sebenarnya sih bisa saja memasak Badak Sambel sendiri di rumah…menggoreng bakwannya, meracik saus kacangnya, dan memakannya di rumah, namun rasanya masih tetap enak jika kita menikmati Badak Sambel di tempat asalnya, SMA 3 Semarang.

Sesuap demi sesuap sang penulis menikmati betul. Tidak ingin disia-siakan begitu saja.

Tak terasa, sesuap terakhir badak sambel pun masuk ke dalam mulut sang penulis. Rasanya ingin mengulangi makan badak sambelnya dari awal. Namun, apa dikata, piring pun kini kosong tak bersisa seakan kerinduan akan makan badak sambel sudah tersampaikan.

Seusai menyantap seporsi badak sambel, sang penulis mohon pamit kepada adek-adek kelas yang sudah menemani makan siang sang penulis karena sang penulis akan beristirahat siang di rumah. Lha pulangnya? Naik BRT to ya. Mumpung di kampung halaman!

WEDANG RONDE

Malam itu, hujan mengguyur Semarang dengan derasnya sejak sore hari. Hawa dingin mulai merasuki kalbu. Bau tanah pun tercium dengan cukup kuat. Dalam sekejap, memori masa lalu terlintas dalam pikiran. Kekuatan petrichor memang dahsyat…

Namun di balik itu semua, sang penulis ingin sekali menyantap sesuatu yang dapat membuat raga menjadi hangat. Teh pun sepertinya sudah kurang mempan. sejenak, sang penulis mulai memikirkan menu yang pas untuk disantap.

Aha!

Wedang ronde!

Akhirnyaaaa……

Tapi, tunggu dulu ndan. Apa itu wedang ronde?

Wedang secara harfiah berarti minuman dalam bahasa Jawa.

Wedang ronde, atau biasa disebut dengan ronde,  merupakan sebuah kudapan yang terbuat dari kacang yang sudah dihaluskan/dihancurkan, kemudian digulung seperti bakso dan dibungkus dengan tepung ketan. Kuahnya pun terbuat dari jahe, pas sekali untuk mengembalikan kehangatan tubuh di saat hawa dingin melanda. Wedang ronde biasanya juga dilengkapi dengan kolang kaling.

Untuk menyantap wedang ronde, biasanya sang penulis akan meluncur ke Istana Wedang bersama keluarga.

Istana Wedang merupakan sebuah rumah makan yang terletak di Jalan Pemuda. Letaknya persis di sebelah hotel Novotel. Di sebelah rumah makan ini terdapat gang kecil, di mana gang ini biasa dilalui saat penilaian lagi dalam pelajaran olahraga-atau yang biasa rekan-rekan sang penulis dan sang penulis sendiri sebut dengan MIB (muter [jalan] Imam Bonjol)-bagi yang ingin berjalan pintas dan tidak perlu memutar melewati depan mal Paragon.

*wah dadi kelingan masa SMA

Oke, kembali ke topik!

Seperti namanya, rumah makan ini menyediakan berbagai jenis wedang seperti wedang ronde itu sendiri, wedang jahe, wedang sekoteng, dan sebagainya. Namun, yang dijual tidak hanya wedang saja, sajian lainnya berupa makanan seperti nasi goreng maupun galantine bisa kita jumpai di rumah makan ini.

Rumah makan ini buka mulai pukul  8 pagi hingga pukul 12 malam. Setiap hari Minggu, rumah makan ini tutup.

———–

Beberapa saat setelah hujan reda, sang penulis beserta nenek dan sepupu sang penulis langsung meluncur ke Istana Wedang dengan menggunakan ‘burung biru’. Jangan salah lho, di Semarang sudah ada ‘burung biru’ sejak tahun 2008.

Sepanjang perjalanan, jalan yang sang penulis lalui terasa sangat sepi, mungkin efek dari hujan yang baru saja mengguyur Semarang. Kurang dari 15 menit, akhirnya kami sampai juga di rumah makan yang di mana bangunannya masih sangat asli peninggalan masa kolonial

Malam itu, suasana di rumah makan ini cukup menenangkan, tak begitu banyak orang berlalu lalang. Cocok untuk melepas stress setelah beraktivitas seharian dan mencari kehangatan setelah hujan mengguyur beberapa jam.

Udara dingin pun kian berhembus walau hujan sudah reda.

Kemudian, salah seorang staf rumah makan ini menghampiri kami.

Langsung saja sang penulis memesan wedang ronde dan seporsi galantine. Untuk minumannya, sang penulis menambah jeruk hangat.

Sambil menunggu pesanan sang penulis datang, sang penulis mencoba menikmati arsitektur rumah makan ini yang seakan-akan membawa kembali ke zaman kolonial.

istana_wedang_semarang_depan

istana_wedang_semarang

(Suasana di Istana Wedang, Jalan Pemuda 121)

Tak berapa lama, pesanan sang penulis pun datang. Wedang ronde disajikan terlebih dahulu.

Mumpung masih panas, lebih baik wedang rondenya dihabiskan terlebih dahulu.

Rasanya? Jangan ditanya! Uanget pol~

Ronde yang terbuat dari kacang yang sudah dihaluskan bersama dengan kuah jahe masuk bersamaan ke dalam mulut seketika membuat kerongongan menjadi hangat dan kehangatan tubuh pun kembali. Nikmat rasanya….

wedang_ronde

(Inilah wujud seporsi wedang ronde. Yang bulet-bulet seperti bakso itu rondenya. Yang hijau kecil itu kolang-kalingnya)

Kemudian, main course berupa galantine pun datang ke meja sang penulis. Galantinenya disajikan lengkap dengan kentang, sayur, dan telur. Cocok sekali sebagai main course pelengkap wedang ronde ditambah dengan jeruk hangat. Wah benar-benar menaklukan udara dingin dengan makanan!

06

 (Seporsi galantine yang ditemani dengan jeruk hangat)

Untuk harga seporsi wedang ronde dibanderol 10 ribu rupiah, sedangkan galantine 20 ribu rupiah.

Cukup terjangkau bukan?

Hampir satu jam lamanya sang penulis berada di rumah makan ini. Hidangan yang disajikan pun sudah habis dilahap.Saatnya sang penulis beranjak pulang. Menikmati malam di kampung halaman benar-benar menjadi pelepas rindu. Moodbooster pokoke.

Nikmatilah benar-benar malam di kampung halaman sebelum kembali ke tanah rantauan…

07

(Suasana Jalan Pemuda di malam hari)

SOTO AYAM

Salah satu kuliner khas Semarang yang cukup kondang adalah soto ayam. Sesungguhnya, soto tidak hanya terdapat di Semarang tetapi juga di beberapa daerah di seluruh Nusantara, tentunya dengan ciri khas yang berbeda. Beberapa ciri khas soto Semarangan adalah soto disajikan dalam mangkuk berukuran kecil. Lauk yang ada di dalam soto beserta nasi dicampur menjadi satu, disajikan dengan bihun, dan kuahnya bening kecokelatan. Bahan-bahan yang ada di dalam soto Semarangan secara umum adalah suwiran ayam dan berbagai macam sayuran

Untuk menyantap soto, biasanya sang penulis akan meluncur ke Soto Ayam Pak Darno yang terletak di bilangan MH Thamrin.

Semasa SMA, setiap hari Sabtu, sang penulis menyempatkan diri mampir ke warung soto ini sekedar untuk sarapan dikarenakan rumah makan soto ayam ini mulai buka sekitar pukul 6.30.

Saat memasuki rumah makan soto ini, sang penulis dan tamu lain yang datang ke rumah makan soto ini disambut dengan seluruh staf warung soto ini dengan sapaan khas mereka.

Monggo, pak.. (Silakan, pak..)

soto_ayam_pak_darno_thamrin_semarang

(Suasana di Soto Ayam Pak Darno)

Setelah sang penulis duduk, langsung saja sang penulis memesan soto dan minuman berupa teh hangat.

Kalau di Semarang atau di bagian Jawa Tengah pada umumnya, untuk memesan teh hangat manis cukup katakan saja ‘teh hangat’ karena saat kita mengatakan ‘teh hangat’ maka akan disajikan teh hangat manis. Kalau di jabodetabek dan sekitarnya, kita mengatakan ‘teh hangat’ maka akan disajikan teh hangat tawar.

Tak berselang lama setelah sang penulis duduk, soto beserta lauk pelengkapnya mulai tersaji di meja, begitu juga dengan minuman yang sang penulis pesan.

soto ayam semarangan

(wujud seporsi soto ayam Semarangan dengan teh hangat)

menu_pelengkap_soto

(Berbagai macam lauk pauk pelengkap soto)

Bagi pembaca budiman yang belum mengerti, lauk pauk tambahan ini engga gratis alias bayar di belakang. Jadi, setiap kali mengambil lauk pauk tambahan, jangan lupa untuk menyebutkan lauk apa yang kita ambil saat menyantap soto dan berapa jumlahnya pada saat melakukan pembayaran.

Lauk pauk tambahan yang disajikan umumnya berupa perkedel, tempe, sate kerang, dan sate telur puyuh.

Untuk menambah cita rasa, biasanya sang penulis menambahkan kecap, jeruk nipis, dan sambal ke dalam hidangan soto.

Sesuap pertama soto pun mulai masuk ke kerongkongan. Segeeerrrr…..

Lama sekali rasanya sang penulis tidak menyantap soto ayam Semarangan.

Makan soto Semarangan itu tidak cukup satu! Maka jangan heran jika menemukan sang penulis makan soto ayam Semarangan sebanyak tiga mangkok. Iya. Tiga! Begitu juga dengan perkedelnya. Tidak cukup hanya satu! Minimal tiga (juga)!

Puas dengan sajian soto ayam Semarangan yang membuat kangen  di lidah, maka saatnya sang penulis untuk kembali melanjutkan aktivitasnya.

MINGGU, 31 Desember 2012

Hari terakhir di tahun 2013.

Suasana di rumah sepi, nyaris tak terdengar suara apapun kecuali suara mobil yang berlalu-lalang di jalanan. Padahal, di rumah ini baru saja diadakan temu kangen.

Pagi itu, langit pun cukup mendung, pertanda hujan akan turun sebentar lagi.

Tak terasa, siang nanti sang penulis sudah harus pergi menuju Jakarta untuk menuntut ilmu kembali.

Boarding pass pun sudah tersimpan dengan rapi di dompet

Seluruh barang bawaan sudah siap.

Saatnya menuju ke bandara bersama nenek dan keponakan sang penulis.

Andaikan waktu dapat dipelankan, menikmati suasana di kampung halaman lebih lama lagi.

Berkumpul bersama rekan-rekan dan menyantap semua hidangan khasnya

But, the show must go on.

Kurang dari 40 menit, sang penulis akhirnya tiba di Bandara Ahmad Yani. Setibanya di bandara, sang penulis langsung berpamitan dengan nenek dan sepupu sang penulis. Sebelum sang penulis masuk ke dalam ruang keberangkatan, sang nenek pun berkelakar:

Putu-putuku ora ono sing dadi dokter kabeh…(Para cucuku semuanya tidak ada yang menjadi dokter)

(Catatan: sang nenek mempunyai 6 cucu. 3 cucu pertama berkuliah mengambil jurusan geologi, akuntansi, dan sistem informasi, 3 cucu terakhir masih usia sekolah dan balita).

Sepertinya, nenek sang penulis mempunyai keinginan agar salah satu dari cucunya dapat menjadi dokter seperti halnya dengan adik nenek sang penulis yang di mana mempunyai anak yang menjadi dokter dan cucunya bersekolah di sebuah fakultas kedokteran yang cukup kondang di Semarang.

“Ditunggu aja to eyang ti, kan 3 cucu terakhir masih kecil-kecil, masih usia sekolah,”balasan sang penulis.

Setelah saling berkelakar, maka sang penulis pun akhirnya masuk ke ruang keberangkatan tanpa membayar airport tax sebesar 30 ribu rupiah.

SAM_3652

(Sang penulis [kanan] berfoto bersama nenek sang penulis)

Memasuki ruangan kedatangan, suasana di dalam ruangan sangat padat. Bayangkan, akan ada 3 penerbangan yang akan berangkat siang itu. Penerbangan menuju Jakarta dan Surabaya dengan maskapai plat merah dan penerbangan menuju Jakarta dengan maskapai berlogo singa.

Wah, mau merayakan tahun baru di luar kota ya?

Sembari menunggu panggilan boarding, sang penulis sesekali mengecek telepon genggamnya apakah ada pesan yang masuk. Sesekali, sang penulis iseng melihat calon penumpang satu persatu, kalau-kalau ada yang sang penulis kenali.

SAM_3659

(Suasana di dalam ruang keberangkatan Bandara Ahmad Yani menjelang sang penulis boarding)

Panggilan boarding untuk penerbangan 239 mulai berkumandang. Para penumpang diperiksa boarding passnya kembali dan mengarahkan untuk masuk pesawat melalui pintu di bagian depan atau belakang. Karena tidak ada garbarata, maka untuk memasuki pesawat dengan menaiki tangga yang telah disediakan. Setapak demi setapak anak tangga sang penulsi lalui. Memasuki kabin pesawat, sang penulis mencoba membalikkan badan dan berkata dalam hati.

Kapan ya ke sini lagi? Semoga dalam waktu dekat..

SAM_3662

(Petugas darat mengucapkan selamat jalan sebelum pesawat bergerak menuju ke landasan pacu)

Penerbangan 239 akhirnya take off . Sepanjang penerbangan, pesawat sempat beberapa kali mengalami turbulensi akibat cuaca yang kurang bersahabat. Hal ini sempat membuat sang penulis agak merasa takut dan memegang kursi erat-erat sehingga penumpang di samping sang penulis merasa heran bukan kepalang.

45 menit kemudian, penerbangan 239 tiba di terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta. Berakhirlah sudah perjalanan sang penulis dalam misi pulang kampungnya. Saatnya sang penulis kembali fokus dengan perkuliahan dan usahanya dalam menggapai cita-cita.

Sekali lagi, harapan sang penulis hanya satu. Ingin kembali bercengkerama dengan keluarga dan rekan-rekannya di kampung halaman tercinta. Seperti kata salah seorang rekan sang penulis, biarkanlah rindu mengiringi setiap langkah kristalisasi keringat kita.

Sampai berjumpa kembali, Semarang!

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s