Menyiasati Ancaman dan Menggali Potensi Lebih Dalam di Kota Lama Semarang

ilustrasi3

Suatu hari, sang penulis sedang berbincang bersama sepupu sang penulis, Mas Iok alias Satrio Adi Wicaksono, yang saat ini bermukim di negeri Paman Sam untuk menuntut ilmu. Meskipun kami berdua tidak lagi tinggal di Semarang, namun pada saat liburan kami menghabiskan banyak waktu di Semarang dan mengikuti secara intensif perkembangan kota ATLAS. Banyak sekali topik mengenai Semarang yang kami diskusikan, salah satunya mengenai kondisi kawasan pesisir Semarang.

Berbicara mengenai Semarang, khususnya kawasan pesisir, tidak lengkap rasanya kalau tidak mengikutsertakan diskusi terkait Kota Lama Semarang. Kawasan kota tua yang dijuluki “Little Netherland” karena kentalnya nuansa arsitektur kolonial Belanda abad ke-19 dan awal abad ke-20 ini terletak tidak sampai 1 km dari sempadan pantai yang sekarang menjadi bagian dari Pelabuhan Tanjung Emas. Persoalan utama kawasan pesisir Semarang, yakni banjir rob oleh pasang surut air laut1, telah lama menghantui Kota Lama dan menyebabkan kawasan ini tidak dapat memanfaatkan potensi ekonomi dan wisatanya yang sesungguhnya ciamik2.

Banjir rob di Kota Lama diperparah tidak hanya oleh turunnya muka tanah karena tingginya aktivitas pembangunan dan pemompaan atau ekstraksi air tanah, tetapi juga oleh perubahan iklim, yang menyebabkan kenaikan muka air laut dan mengakibatkan iklim semakin sulit diprediksi. Akibatnya, ketahanan Kota Lama akan bencana banjir pun semakin terancam.

Banjir yang kerap melanda Kota Lama salah satunya disebabkan oleh lemahnya fungsi retensi Kali Semarang dan Polder Tawang ketika terjadi rob dan saat musim hujan tiba. Rasanya tidak sukar mencari penyebabnya. Area sungai sekitar Jembatan Mberok dan Polder Tawang seringkali tampak kotor, bau, dan banyak dihiasi tumpukan sampah, sehingga menyebabkan aliran air tersumbat. Apalagi sedimentasi di berbagai kali dan sungai di Semarang memang tinggi, sehingga pengerukan harus sering dilakukan untuk memperlancar aliran air sungai3. Terkadang ada juga masalah teknis, seperti rusaknya pompa penyedot air di Polder Tawang4 justru ketika sedang amat diperlukan.

Padahal, tanpa adanya banjir pun, kondisi Kota Lama sudah cukup memprihatinkan. Sebagian besar bangunan di Kota Lama minim aktifitas dan perawatan, karena kebanyakan hanya berfungsi sebagai gudang. Di malam hari, terkecuali di titik-titik tertentu seperti Stasiun Tawang, restoran, kafe, angkringan, dan tempat ibadah, Kota Lama tampak sepi. Terkadang memang ada kegiatan di Taman Srigunting dekat Gereja Blenduk hingga malam hari, tapi rasanya belum bisa membuat Kota Lama semarak.

Pemkot Semarang pun tampaknya masih kesulitan merevitalisasi kawasan ini. Butuh anggaran besar dan komitmen lintas sektoral yang tinggi untuk membeli dan/atau mengalihfungsikan gedung-gedung kuno di kawasan Kota Lama5. Belum lagi biaya yang perlu digelontorkan untuk melakukan konservasi dan merawat gedung-gedung dan fasilitas umum secara berkelanjutan.

Lantas, piye jal? Apakah mungkin kita bisa melihat Kota Lama yang cantik, penuh aktifitas, dan bebas banjir? Kapankah Kota Lama bisa sejajar dengan kota-kota tua di negara-negara lain yang punya gedung-gedung kuno terawat sekaligus kawasan pinggir sungai serta danau urban yang enak dinikmati? Mungkin tak perlu jauh-jauh membandingkan dengan kota-kota di Belanda semisal Amsterdam atau Rotterdam yang punya berbagai kanal dan polder indah. Kita lihat saja dulu bagaimana pemerintah Malaka dan Kuching di Malaysia serta Singapura membenahi kali-kali yang membelah kota mereka dan menciptakan kawasan kota tua yang semarak, kreatif, dan berseni. Tentunya Semarang juga tidak boleh kalah dari ibukota Jakarta, yang tengah jor-joran merevitalisasi kota tuanya6. Sesuai slogan yang sering didengung-dengungkan, bukankah saat ini waktunya Semarang setara?

ilustrasi2(suasana di Taman Srigunting)

Belajar dari kota-kota yang kami sebutkan di atas, usaha merevitalisasi Kota Lama haruslah menjadi proyek bersama, baik pemerintah, pelaku bisnis, maupun masyarakat umum. Misalnya, pemerintah bersama perusahaan swasta melalui program CSR bisa membeli gedung-gedung yang kini mangkrak atau berfungsi hanya sebagai gudang. Lantas, gedung-gedung tersebut bisa disewakan dengan harga terjangkau kepada berbagai perusahaan kecil/start-up. Di berbagai kota di penjuru dunia, saat ini pun tengah marak ide pendirian co-working space. Rasanya gedung-gedung di Kota Lama yang telah direnovasi bisa menjadi tempat co-working space bagi perusahaan-perusahaan kecil yang didominasi generasi muda. Apalagi wilayah Kota Lama di pusat kota adalah wilayah yang strategis karena terletak tak jauh dari kawasan industri dan pusat perbelanjaan, serta terjangkau dengan mudah oleh transportasi umum.

Beberapa bank, BUMN, serta perusahaan/pabrik yang memiliki gedung di kawasan Kota Lama harusnya dapat mengubah beberapa ruangan dalam kantor mereka menjadi museum mini. Hal ini akan memudahkan wisatawan mengapresiasi desain gedung kolonial Kota Lama. Rasanya wisatawan tidak akan keberatan membayar sedikit uang masuk demi mengetahui sejarah gedung serta sejarah perusahaan, di samping menikmati suasana interior gedung yang telah direnovasi. Kami berdua memiliki kenangan indah akan interior beberapa gedung di Kota Lama yang pernah kami kunjungi, termasuk gedung PT Masscom Graphy (dulunya milik Het Noorden, harian berbahasa Belanda) yang dulu sering jadi tempat bermain kami karena merupakan tempat almarhum eyang kakung kami berkantor.

Revitalisasi Kota Lama diharapkan dapat membuat semarak Kota Lama sekaligus menurunkan tindak kejahatan yang sering terdengar di Kota Lama, seperti pembegalan7 yang rawan terjadi di titik-titik sepi Kota Lama.

Masyarakat Semarang sudah terkenal akan berbagai ide kegiatan atau festival yang cespleng dan mampu menarik minat warga dari berbagai lapisan dan penjuru kota untuk datang. Sebut saja misalnya Pasar Semawis di Pecinan atau festival memancing di Polder Tawang8. Harusnya kegiatan-kegiatan seperti ini bisa banyak dan rutin diselenggarakan di kawasan Kota Lama. Misalnya, organisasi masyarakat dan pemerintah bisa bekerja sama menyediakan insentif bagi masyarakat supaya tertarik melakukan kegiatan jalan sehat dan rekreasi setiap Minggu pagi, sebagai alternatif pilihan selain kawasan Simpang Lima. Festival semacam Pasar Malam Sentiling9 harus lebih sering diadakan agar menarik perhatian warga dan wisatawan dalam dan luar negeri . Bus tingkat Semarjawi yang sudah beroperasi mungkin bisa ditambah armada serta frekuensi keberangkatannya sehingga masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk menjelajah Kota Lama dengan nyaman. Di masa mendatang bus tingkat Semarjawi mungkin dapat diganti dengan bis tingkat berenergi listrik sehingga lebih ramah lingkungan.

ilustrasi4(Jembatan Mberok di Kota Lama)

Wisata air dan wisata seni bisa dengan mudah dikombinasikan dengan usaha pencegahan banjir di Kali Semarang dan Polder Tawang. Kali Semarang yang bersih dan tidak berbau, serta dengan bantaran kali yang bebas deretan bangunan kayu/warung namun dihiasi banyak pohon rindang, akan memudahkan warga beristirahat menikmati semilir angin di pinggir kali. Warung makanan dan angkringan bisa saja tetap berada di area bantaran kali, namun jangan sampai menutupi sempadan kali. Akan lebih cantik lagi kalau ada sampan-sampan kecil bercat warna-warni yang bisa membawa wisatawan menjelajahi area Kota Lama dan Pecinan Semarang dari atas air. Di Polder Tawang juga setali tiga uang. Sepeda air dan kayak bisa mejadi salah satu opsi guna meramaikan suasana di sekitar Polder Tawang. Rasanya akan bagus juga kalau Polder Tawang punya air mancur menari. Dengan dukungan tata cahaya dan tata musik yang mumpuni, air mancur tersebut bisa menjadi magnet bagi wisatawan serta penumpang/penjemput yang datang ke Stasiun Tawang. Tentunya ide-ide ini hanya akan berhasil kalau kebersihan kali dan polder terjaga dengan baik. Warga dan pengunjung juga jangan sampai membuang sampah sembarangan ke dalamnya.

Kawasan Kota Lama sudah selayaknya menjadi kebanggaan warga Semarang. Apalagi, saat ini proposal untuk menjadikan Kota Lama salah satu Warisan Dunia telah diteruskan ke UNESCO untuk ditelaah lebih lanjut10. Namun, tanpa ada upaya konkret dari segenap pihak, termasuk pemerintah, kalangan swasta, dan masyarakat umum, upaya menjadikan kawasan Kota Lama setara dengan kawasan-kawasan serupa di kota-kota metropolitan dunia tidak akan pernah tercapai. Yuk, mari bersama menciptakan Kota Lama yang bersih, menarik, bersinar, dan bebas banjir. Mari buktikan bahwa Semarang adalah kota yang tangguh dan mampu memanfaatkan segenap potensinya secara efektif.

REFERENSI :

1)         http://100rcsemarang.org/artikel-3.xhtml#more-75

2)         http://eprints.undip.ac.id/12785/1/2002MH1426.pdf

3)         http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kali-semarang-dikeruk-dua-arah/

4)         http://daerah.sindonews.com/read/964405/151/pompa-penyedot-air-tak-berfungsi-1423889041/

5)         https://protourbanarchitecture.wordpress.com/2014/11/19/mengangkat-kembali-potensi-heritage-kawasan-kota-lama-semarang-kkls/

6)         http://jakartaglobe.beritasatu.com/features/art-rescue-jakartas-kota-tua/

7)         http://news.detik.com/jawatengah/2846936/siang-bolong-begal-di-semarang-serang-wisatawan-pakai-airsoft-gun

8)         http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/pemancing-berebut-dua-ton-ikan/

9)            http://travel.kompas.com/read/2015/09/21/194600527/Pasar.Malam.Sentiling.Menghidupkan.Roh.Kota.Lama

10)       http://whc.unesco.org/en/tentativelists/6011/

Leave a Reply | Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s